
Tiga hari di rawat di rumah sakit pasca melahirkan, kini Riana sudah pulang. Pak Rudy alias pak Juli menjenguk dengan istrinya di rumah. Mereka sangat senang dengan kehadiran cucu pertama itu, apa lagi laki-laki jenis kelaminnya.
Ibu Naimah sangat antusias menggendong anak dari Riana dan Ethan tersebut. Dia senang sekali, Riana sendiri juga ikut senang jika ibu Naimah bahagia dengan menggendong anaknya.
"Namanya siapa?" tanya bu Naimah.
"Emir Syahban Wijaya bu." jawab Riana.
"Waah, bagus juga namanya. Apa lagi wajah cucuku ini, dia tampan sekali." kata bu Naimah.
Riana tertegun, lalu tersenyum mendengar ucapan bu Naimah yang memanggil anaknya adalah cucunya.
Sedangkan Ethan sedang mengobrol dengan mertuanya itu. Dia sangat akrab sekali dengan pak Juli, dia juga merasa pak Juli seperti orang yang tidak memiliki penyakit amnesia. Mengalir begitu saja.
Tapi karena Ethan tidak tahu dulunya seperti apa pak Juli di masa lalunya, jadi dia biasa saja dan sangat santai mengobrol dengan pak Juli.
"Kamu sudah memberitahu ibu Riana?" tanya pak Juli.
"Sudah pak, sewaktu di rumah sakit." jawab Ethan.
"Bagaimana tanggapannya? Apa dia akan kemari?" tanya pak Juli lagi.
"Katanya nanti setelah Nino libur, baru bisa datang kemari." jawab Ethan lagi.
"Begitu ya." ucap pak Juli.
Ethan dan pak Juli masuk ke dalam kamar, mereka kembali menjenguk Emir yang sedang di gendong oleh ibu Naimah. Pak Juli tersenyum melihat wajah istrinya yang bahagia menggendong cucunya.
"Riana, kamu sudah lebih baik?" tanya pak Juli.
"Sudah pak, tapi ya tidak boleh ke kantor lagi sama mas Ethan." kata Riana.
"Kan kamu harus mengurus anakmu, sebaiknya juga kamu tidak usah kerja kantoran lagi. Kasihan anakmu nanti jika harus di tinggal terus." kata pak Juli.
"Iya pak." jawab Riana.
Lama pak Juli dan ibu Naimah berkunjung di rumah Ethan, hingga sore hari mereka baru pulang. Rasanya menyenangkan bisa berkumpul dengan mereka, Riana juga senang. Tapi dia jadi bersalah karena bahagia dengan istri baru bapaknya itu.
"Mas, aku merasa bersalah sama ibu." kata Riana.
"Kenapa? Apa kamu sedang bahagia bisa berkumpul dengan bapak?" tanya Ethan.
"Iya mas, aku jadi seperti anak durhaka. Nino sendiri belum pernah tahu wajah bapak bagaimana, tapi aku malah menyembunyikan bapak dari mereka." kata Riana.
"Sabarlah sayang, nanti jika ibu kemari kita bisa jelaskan pada ibu dan Nino. Aku juga merasa bersalah sama ibu dan Nino." kata Ethan.
"Oh ya, apa ibu sudah menelepon?" tanya Riana.
"Aku tidak tahu sayang, sejak tadi aku main sama Emir." jawab Ethan.
Riana mengambil ponselnya, dia melihat riwayat panggilan. Tidak ada panggilan masuk dari ibunya.
"Apa aku telepon ibu saja mas?" tanya Riana.
"Telepon saja, kamu pasti kangen kan sama ibu." kata Ethan.
"Iya, tapi kenapa ya kok ibu tidak antusias aku melahirkan cucunya?"
"Jangan berprasangka buruk, mungkin ibu sedang sibuk. Kan kebun ladangnya juga perlu di perhatikan juga, katanya kan lagi menanam jagung di ladang." kata Ethan.
"Iya, tapi masa ngga telepon-telepon aku sih?"
"Ya kalau kamu penasaran, telepon ibu aja." kata Ethan.
Dia sedang asyik memperhatikan wajah anaknya yang sedang tidur nyenyak. Dia sangat bahagia dengan kehadiran Emir itu, dia tidak menyangka akan mempunyai anak dari Riana. Sekretarisnya yang jutek dan cuek serta kurang peka itu.
Riana menoleh ke arah Ethan, dia mengerutkan dahinya karena sejak tadi suaminya hanya menatapnya. Lalu tersenyum tipis dan berbisik.
"I love you."
Riana diam, lalu tersenyum. Sambungan telepon pun masuk, bukan ibunya yang menjawab. Tapi adiknya Nino.
"Halo?"
"Halo kak, ibu lagi ke ladang." kata Nino di seberang sana.
"Kalian kapan kesini?" tanya Riana.
"Nanti kak, minggu depan. Nino mau ada ujian semester dulu minggu ininya." jawab Nino.
"Oh, kamu lagi ujian?"
"Iya, makanya tunggu aku libur. Atau bebas sekolah, karena biasanya kalau selesai ujian akan bebas tidak belajar. Jadi nanti aku bisa liburan di sana sepuaanya selama seminggu." kata Nino lagi menjelaskan.
"Ya baiklah, tapi nanti kalau ibu pulang dari ladang suruh telepon balik ya. Kakak kangen sama ibu." kata Riana.
"Iya kak."
"Baiklah, kakak tutup dulu teleponnya."
"Iya kak. Tapi eh, tunggu dulu." Nino menahan kakaknya.
"Kenapa Nino, ada apa?" tanya Riana.
"Eh, ngga jadi kak. Nanti aja." kata Nino.
"Ya udah. Salam buat ibu, jangan lupa kasih tahu ibu untuk telepon kakak."
"Iya."
Klik!
Riana menutup sambungan telepon dengan Nino. Dia kecewa karena ibunya tidak ada di rumah.
"Kenapa sayang?" tanya Ethan.
"Ibu ngga ada di rumah. Lagi ke ladang." kata Riana.
"Ya sudah, nanti kamu telepon lagi saja." kata Ethan.
"Tadi sudah aku suruh Nino beritahu ibu kalau datang telepon aku. Kalau aku telepon ibu, takutnya ibu ngga ada lagi." kata Riana.
"Ya, mending begitu."
"Tapi kapan coba ibu telepon aku. Aku telepon ibu waktu itu, kok sepertinya ibu ngga antusias deh. Saat kukasih tahu aku sudah melahirkan, ibu hanya bilang Alhamdulillah saja. Ibu kenapa ya mas?" tanya Riana heran.
"Sayang, jangan berpikiran buruk sama ibu. Mungkin ibu sedang lelah saat kamu menelepon, waktu aku kasih tahu ibu di rumah sakit sih tanggapannya senang dan bahagia kok." kata Ethan.
"Tapi, aku takut ibu punya firasat kalau aku menyembunyikan sesuatu yang penting." kata Riana.
"Sudah sayang, jangan di pikirkan. Pokoknya kalau ibu datang kesini, kita langsung beritahu ibu. Dan nanti aku yang akan tanggung jawab sama ibu kalau aku yang memintanya kamu menyembunyikan kebenaran itu." kata Ethan.
Riana diam dia lalu mengangguk, rasanya memang tidak enak menyembunyikan kebenaran. Apa lagi pada ibunya sendiri, dan nanti jika dia memberitahunya. Dia akan menerima resikonya jika ibunya marah padanya.
_
_
********************