
"Bapak?!"
Teriakan Riana membuat semua yang hadir itu kaget. Apa lagi Ethan yang baru saja masuk ke dalam masjid itu. Pak Rudy atau pak Juli ternyata yang akan menikahi ibunya.
Riana pun hanya diam membisu, menatap ibunya lalu bergantian dengan bapaknya. Ketiganya saling tatap-tatapan. Riana mendengus kesal.
"Bagaimana pak Juli? Apa di lanjutkan menikahnya?" tanya penghulu.
"Ya, lanjutkan." kata pak Juli.
Dia berpikir harus menikah lebih dulu dengan istrinya, baru nanti dia jelaskan pada Riana yang selama ini dia sembunyikan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Sarmi binti Sarip dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"
"Bagaimana saksi?"
"Saah!"
Semua menjawab sah, hanya Riana yang masih terpaku lalu menatap tajam pada ibunya. Ethan menghampiri istrinya itu, dan dia pun ikut terkejut siapa yang menikah dengan mertuanya itu.
Ada rasa kesal dan juga penasaran, kenapa pak Juli tidak memberitahu pada mereka. Riana masih kesal, dia pergi begitu saja. Pulang ke rumah ibunya, pikirannya masih kaget dengan pernikahan ibunya dan bapaknya itu.
"Sayang, kamu jangan buru-buru dong jalannya. Kasihan Emir." kata Ethan pada istrinya.
"Aku kesel mas, kenapa bapak tidak bilang sama aku. Dan kenapa ibu menyembunyikannya? Bukankah wajar mereka menikah dan memberitahuku?" kata Riana.
"Mungkin mereka punya alasan sayang, dan mungkin juga bapak yang memintanya." kata Ethan.
"Apa bapak sudah ingat lagi? Bukankah dulu ibu Naimah bilang ingatannya tidak bisa kembali?" tanya Riana.
"Ingatan bapak mungkin bisa saja kembali sayang, mungkin waktu itu beliau mengalami sesuatu dan akhirnya mengingat kembali." kata Ethan.
"Tapi, bagaimana dengan bu Naimah? Apa beliau tahu bapak menikah lagi dengan ibu?" tanya Riana lagi.
"Kita tunggu bapak dan ibu pulang. Jika hari ini beliau masih sibuk dengan para tamu, maka kita tunggu besok untuk bertanya pada bapak. Karena aku yakin ibu diam karena di suruh bapak juga." kata Ethan.
Riana diam, dia membenarkan ucapan suaminya. Kini mereka sudah ada di rumah, menunggu ibu dan bapaknya pulang. Nino juga tidak ada, mungkin saja Nino di suruh diam oleh ibu juga.
_
Sejak kedatangan pengantin ibu dan bapaknya dari masjid itu, para tamu yang penasaran datang ingin mengucapkan selamat dan ingin tahu cerita dari pak Juli semasa dulu. Apakah memang dia masih hilang ingatan atau tidak.
Hingga malam hari, Ethan dan Riana menunggu. Tapi keduanya masih meladeni tamu-tamu tersebut.
"Nino! Kamu kenapa ngga bilang sama kakak?" tanya Riana menatap tajam pada adiknya itu.
"Nino di suruh ibu, jadi kalau kakak mau marah. Marah saja sama ibu. Aku ngga tahu apa-apa kok." kata Nino.
Riana kesal, dia ingin memanggil ibunya tapi di tahan oleh suaminya. Marni masuk ke dalam rumah Riana, dia ikut sibuk membantu pernikahan ibunya. Lalu Riana pun pergi ke dapur untuk menemui Marni, siapa tahu Marni tahu tentang pernikahan ibunya dan bapaknya.
"Marni, kamu membantu di rumah sejak kapan?" tanya Riana.
"Sejak pagi tadi. Kenapa?" tanya Marni.
"Jadi kamu tahu ibuku mau menikah lagi?" tanya Riana.
"Tahu."
"Kalau mau menikah dengan bapakmu ya aku ngga tahu. Lha, wajah bapakmu sewaktu aku kecil aja ngga tahu. Aku kan masih kecil juga sama seperti kamu dulu." kata Marni.
Riana diam, dia membenarkan ucapan Marni. Tapi setidaknya dia pasti tahu dari ibunya.
"Ibumu pasti tahu, Marni." kata Riana.
"Ibu tahu kalau ibumu mau menikah lagi dengan bapakmu. Aku pikir itu maksudnya bapak sambung kamu, yang melamar ibumu. Dan waktu liburan itu, bisa saja ibu dan bapakmu ketemu. Lalu mereka berencana menikah." kata Marni.
"Bukan itu maksud aku, aku tahu bapakku saja dari ibu sewaktu bapak ke rumahku. Dan memang ada ibu, ibu kaget di kira bapak. Duh gimana ceritanya ya." kata Riana semakin bingung menceritakan pada Marni.
"Sudah, aku juga pusing. Kamu tanya saja sama ibumu. Beliau yang tahu semuanya." kata Marni.
"Sejak tadi aku menunggu ibu cerita, tapi tamunya semakin banyak. Aku heran tamu dari mana lagi itu?" tanya Riana.
"Itu katanya tamu yang dulu pernah terkena longsor semua. Mereka saling cerita, dan bapakmu juga bersemangat bercerita tentang pengalamannya sewaktu kena longsor." kata Marni.
"Ya udah, aku mau panggil ibu dulu." kata Riana.
"Iya."
Riana pun kembali ke depan. Dia pun menuju ruang tamu memanggil ibunya untuk segera masuk dan menyudahi obrolannya dengan tamunya.
Bu Sarmi pun menurut, Riana membawa ibunya ke ruang makan. Di sana tidak ada siapa pun, tapi enak untuk bicara masalah penting itu.
"Bu, ceritakan padaku kenapa ibu mendadak menikah dengan bapak?" tanya Riana.
Ibu Sarmi menghela napas panjang, dia menatap anaknya. Lalu wajahnya juga tiba-tiba kesal.
"Kamu kenapa menyembunyikan dari ibu kalau bapakmu memang dia?" tanya ibunya.
"Itu, karena Riana sedang hamil bu. Dan saya tidak mau ibu kepikiran, makanya aku sengaja tidak langsung memberitahu ibu tentang hasil DNA itu." kata Riana dengan gugup.
Benar juga, pada akhirnya dia sendiri yang merasa bersalah menutupi hasil tes DNA itu.
"Ibu sebenarnya kesal sama kamu, tapi bapakmu datang sendiri ke rumah. Awalnya memang ibu tidak tahu dan tidak menyangka kalau bapakmu datang ke rumah. Heran kenapa bapakmu sampai tahu dan masih ingat dengan rumah ibu ini." kata bu Sarmi.
"Lalu, apa ibu menjerit atau menangis dengan kedatangan bapak? Kapan bapak datang?" tanya Riana.
"Ya ibu kaget, malah ibu pergi dan masuk ke dalam kamar. Tapi bapak terus mengejar ibu dan menunggu di depan pintu, katanya mau menjelaskan semuanya." kata bu Sarmi.
"Sejak kapan bapak datang bu? Berarti bapak datang itu sudah ingat semuanya?" tanya Riana.
"Iya Riana. Bapak datang sebelum kamu melahirkan." kata pak Juli yang ikut gabung dengan anak dan istrinya.
Riana menoleh ke arah bapaknya, di susul Ethan ikut duduk di samping Riana.
"Ceritakan semuanya pak, sejak kapan bapak ingat semuanya."
_
_
******************