My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
53. Seretaris Itu, Istriku



Riana duduk tenang di kursi kerjanya, suaminya Ethan dia izinkan pergi makan siang dengan Natasya yang memaksa Ethan itu. Dia berusaha untuk tidak bersikap posesif pada suaminya yang sedang bekerja. Apa lagi bertemu klien perempuan.


Dia bekerja dengan baik, membuat proposal beberapa pengajuan kerja sama dengan perusahaan lain. Ada tiga proposal yang harus dia kerjakan, di antaranya dengan perusahaan asing yang mau bekerja sama dengan perusahaan Ethan.


Saat sedang serius mengetik, Riana di kejutkan dengan kedatangan papa dan mama mertuanya. Mereka datang ke kantor tanpa memberitahu lebih dulu.


"Riana, Ethan ada di dalam?" tanya nyonya Hana.


"Eh, mama. Mas Ethan tidak ada ma, sedang bertemu klien." jawab Riana.


"Klien siapa?" tanya pak Wijaya.


"Emm, bu Natasya pa." jawab Riana.


"Lho, dia belum selesai juga?" tanya pak Wijaya lagi.


"Belum pa, kata mas Ethan jika masih saja mengulur waktu terus akan di batalkan kerja samanya." jawab Riana.


"Natasya siapa sih pa?" tanya istrinya.


"Dia yang punya perusahaan di Bali. Mau bekerja sama dengan perusahan di sini, waktu sama papa hampir itu deal kerja samanya. Tapi entah kenapa dia mau dengan Ethan saja, rela menunggu meski papa katakan sedang berlibur. Tapi papa ngga bilang Ethan liburan bulan madu." kata pak Wijaya.


"Hemm, pantas saja dia mengejar Ethan pa. Dia berpikir Ethan masih lajang? Dan kamu, kenapa tidak ikut dengan Ethan sayang?" tanya nyonya Hana.


"Emm, Natasya minta makan siang hanya berdua saja ma dengan mas Ethan." ucap Riana lagi.


"Ya ampuun, dia itu benar-benar ya. Baru juga menikah, kenapa mau makan siang berdua dengan perempuan lain? Kenapa juga kamu tidak melarangnya Riana?" tanya nyonya Hana.


"Saya percaya sama mas Ethan ma. Dia tidak akan macam-macam." ucap Riana membela suaminya.


"Sudahlah ma, benar apa yang di katakan Riana. Ethan tidak akan berbuat macam-macam. Lagi pula dia juga tahu jika Natasya itu hanya mau main-main saja, dia akan menolaknya. Buat apa kerja sama dengan orang seperti itu, pekerjaan hanya di jadikan alasan untuk mendekati anakku." kata pak Wijaya lagi.


"Ya, mama khawatir aja pa. Perempuan suka nekad kalau ada maunya, seperti mantan Ethan itu. Dia tidak tahu diri, sudah bagus di cintai anakku malah selingkuh dengan sahabatnya juga. Perempuan macam apa dia." ucap nyonya Hana jadi emosi.


Riana diam, dia hanya mendengarkan kekesalan mertuanya itu. Dia yakin Ethan tidak menyesal ketika putus dengan pacarnya, meski dulu pernah mencintainya.


"Emm, papa dan mama mau apa datang kemari dan mencari mas Ethan?" tanya Riana mengalihkan pikiran mertuanya.


"Kita hanya berkunjung saja Riana. Mama tuh memaksa ingin datang kemari, kenapa juga seperti anak kecil memaksa papa datang kemari." kata pak Wijaya.


"Tapi firasat mama benarkan pa. Ethan malah meninggalkan istrinya sendirian di sini." kata nyonya Hana.


"Ya sudahlah, Ethan tidak ada. Terus mama mau kemana?" tanya pak Wijaya.


"Ajak Riana makan siang bareng aja pa. Riana, kamu sudah makan siang?" tanya nyonya Hana.


"Belum ma." jawab Riana.


"Ya sudah, tinggalkan pekerjaanmu. Ini juga sudah jam berapa, sudah waktunya makan siang. Ayo ikut mama saja makan siang bareng." kata nyonya Hana.


"Oh, iya ma. Tunggu sebentar." ucap Riana.


Dia menyimpan ketikan proposalnya di file yang biasa di gunakan. Setelah itu mengambil tasnya dan ikut dengan kedua mertuanya itu makan siang di restoran.


_


"Kita pesan makan siang saja bu Natasya. Ini sudah waktunya makan siang juga." kata Ethan.


"Emm, sebentar lagi pak. Ini harus ada perbaikan lni juga seharusnya jangan menggunakan kalimat seperti ini, nanti tidak bisa di mengerti." kata Natasya.


"Harus seperti apa lagi bu? Itu sudah di perbaiki dan di revisi lima kali oleh sekretaris saya." kata Ethan masih sabar dengan ucapan Natasya.


"Ya, menurutku ini ada yang kurang. Lagi pula, dari mana pak Ethan mendapatkan sekretaris tidak kompeten seperti dia. Apa tidak ada sekretaris lainnya yang bisa di pekerjakan? Sudah lima kali perbaikan tapi masih saja salah." kata Natasya.


Ethan diam, giginya menggeretak karena kesal Natasya menyalahkan Riana. Tapi dia masih sabar, apa saja yang akan Natasya katakan tentang pekerjaan istrinya itu.


"Kalau begitu, sekretaris ibu saja yang membuatnya jika tidak mau menggunakan jasa sekretaris saya itu. Silakan ibu buat berkas kerja samanya pada sekretaris ibu, arahkan dia sesuai apa yang bu Natasya inginkan. Nanti saya tunggu laporannya saja dari ibu. Tidak perlu membuang waktu begini." kata Ethan.


"Eh, maksud saya hanya perbaikan sedikit pak. Ya, maklum kan pekerjaan sekretaris itu memang banyak. Tapi kan harus teliti juga pak, lagi pula saya lihat sekretaris pak Ethan itu kok dekat sekali ya sama bapak. Apa jangan-jangan dia mau menggoda bosnya?" tanya Natasya.


"Maaf sebelumnya bu Natasya. Ini mengenai pekerjaan lebih dulu, karena klien saya bukan hanya bu Natasya. Saya banyak menemui klien tapi tidak sering sekali bertemu dengan anda bu Natasya. Ini sudah keberapa kali saya bertemu, tapi tidak pernah ada hasil kesepakatan. Jika bu Natasya masih saja mengulur waktu hanya karena masalah cara penulisan kalimat di berkas perjanjian, lebih baik saya batalkan kerja sama ini." kata Ethan dengan tegas.


"Eh, maksud pak Ethan tidak jadi kerja sama?" tanya Natasya gusar.


"Ya, karena percuma saja. Anda selalu mengulur waktu untuk penanda tanganan kontrak, ada saja alasan anda untuk mengulurnya. Dan ujung-ujungnya anda meminta makan siang berdua. Pekerjaan dan pribadi di campur adukkan, maaf. Itu bukan sifat saya bu Natasya." kata Ethan lagi.


"Tapi, benar lho pak Ethan. Setelah ini selesai kok." kata Natasya.


"Maaf bu, saya tidak bisa dan aaya membatalkannya. Dan satu lagi, sekretaris saya itu profesional kalau bekerja. Tidak pernah mencampur adukkan pekerjaan dengan pribadi, jadi jangan pernah menyalahkan sekretaris saya itu. Dia bagus dalam bekerja. Dan dia itu sekretarisku, dia adalah istriku. Aku sudah menikah dengannya sebulan yang lalu. Jangan lagi menyalahkan sekretarisku, dia istriku juga. Permisi." ucap Ethan dengan tegasnya.


Dia lalu pergi dari hadapan Natasya yang diam terpaku mendengar ucapan Ethan itu. Dia tidak percaya apa yang di ucapkan Ethan itu.


Sedangkan Ethan melangkah keluar dari restoran tersebut, menelepon Riana. Dia sangat gelisah ketika Riana hanya menatapnya saja ketika dia pergi.


Tuut.


Tersambung tapi belum di jawab, tak lama Riana menjawabnya.


"Halo sayang, kamu masih di kantor?" tanya Ethan.


"Dia sama mama, Ethan. Kamu cepat menyusul kami di restoran Sunda Nusantara!"


Klik!


Sambungan telepon terputus, dia heran kenapa ponsel Riana ada pada mamanya.


"Apa mama datang ke kantor?"


_


_


******************