
Riana masih di dalam kamar mandi, dia belum berani keluar dari kamar mandi. Dia sedang mencari alasan agar tidak malam ini dia dan Ethan belah duren. Dia ingat kalau pagi tadi dia marah pada Ethan dan ingin mendampratnya.
"Hemm, aku belum memarahinya sejak pagi. Baiklah, aku ingin marah padanya karena memberiku kejutan yang memang aku sangat terkejut." kata Riana.
Dia memakai handuk kimono, di kamar mandi tidak ada baju gantinya. Yang ada hanya handuk kimono putih yang di sediakan oleh pihak hotel. Riana pun keluar, dia membuka pintu kamar mandi secara perlahan.
Berharap Ethan sudah tertidur dan tidak menyerangnya kembali. Dia melangkah pelan menuju ranjang pengantinnya. Melihat Ethan sepertinya masih bersandar dan matanya terpejam. Dia mendekat, memastikan Ethan benar-benar tidur.
Tapi posisinya tidak enak untuk tidur, sedangkan suaminya itu bertelanjang dada dan hanya memakai handuk sepinggang saja. Riana bingung, apakah dia akan membangunkan suaminya atau membiarkannya saja.
"Dia benar-benar tidur atau pura-pura ya?" ucap Riana.
Dia menyelidiki wajah Ethan yang terpejam. Menusuk pipinya berkali-kali, tapi tidaknada respon dari laki-laki yang kini sudah jadi suaminya. Riana tersenyum menatap wajah tampan bos sekaligus suaminya. Memegang hidungnya yang mancung.
"Tampan." bisik Riana.
Ethan tidak terusik, dia masih diam seperti awalnya. Sesungguhnya dia tidak tidur, ingin mendengar apa yang di katakan Riana ketika dia memejamkan matanya. Dan benar saja, Riana duduk di sebelahnya.
Dengan hati berdebar menatap wajah sampai ke tubuh Ethan yang terpampang jelas di depannya. Menelan ludahnya ketika matanya menelusuri bagian yang tertutup handuk. Dia berbalik, kemudian menatap wajah suaminya kembali.
Tangannya menjulur ke wajah Ethan, menempel di pipinya. Rasanya baru kali ini dia bisa memegang wajah bosnya. Meski Riana itu kadang suka ketus pada Ethan, tapi sebenarnya dia sering melirik secara diam-diam pada Ethan. Hanya saja Ethan tidak menyadarinya, dari wajah ketus Riana menatapnya. Di sana Riana sedang mengaguminya.
"Wajah yang tampan, tapi sayang suka seenaknya." kata Riana dengan pelan.
Tangan Riana masih di pipi Ethan, dan tangan itu di oegang cepat oleh Ethan. Mata Ethan terbuka, dia menatap Riana. Riana pun membuang wajahnya ke arah lain dan hendak bangkit dari duduknya karena malu telah di pergoki oleh Ethan sedang mengagumi suaminya.
Sebelum Riana bangun, Ethan sudah menarik tubuh Riana dengan cepat dan di angkat lalu di baringkan di atas ranjang. Di tatapnya Riana dengan lembut, wajahnya mendekat. Bibirnya langsung meraup bibir mungil Riana.
Mereka hendak bergumul sore menjelang malam itu. Riana terdiam, dia hanyut dengan ciuman mendalam dari suaminya. Tangan Ethan pun sudah membuka handuk kimono yang di pakai Riana dan bergerilya kemana-mana, lenguhan demi lenguhan keluar dari mulut Riana.
Ethan semakin bersemangat untuk terus mencumbu istrinya itu. Ternyata sungguh berbeda ketika menggauli seorang perempuan yang sudah menikah dan belum. Dulu dia sangat waswas ketika bermain dengan Daby, karena ada perasaan bersalah.
Tapi kini dia merasa tenang telah menikmati pergumulan panas di ranjang pengantinnya. Riana dengan penuh kepasrahan dan mengerti akan hasrat kelelakian seorang suami.
Beberapa kali dessahan panjang dan nikmat keluar dari mulut keduanya. Ketika Ethan sudah membobol masuk miliknya ke dalam intisari milik Riana. Beberapa kali juga Ethan menyebut nama Riana dan mengekspresikan rasa yang dia miliki.
Sedangkan Riana, dia benar-benar hanyut oleh sentuhan Ethan yang membuatnya melayang tinggi. Ingatannya beralih pada pertama kali dia mengenal Ethan, dia menatap wajah di depannya yang sedang bergairah. Dia tersenyum di sela-sela nikmatnya bercinta.
"Kenapa tersenyum?" tanya Ethan.
"Kamu nakal." kata Riana dengan manjanya.
"Oh ya? Aku bahkan lebih nakal dari sekarang ini." kata Ethan meraup kembali bibir Riana.
"Aaauw! Jangan gigit aku!" teriak Riana.
"Aku gemas sayang." kata Ethan.
Percintaan mereka bukan hanya menyalurkan gairah yang terpendam, tapi juga rasa kasih sayang dan cinta yang tumbuh seiring waktu. Lama melakukan percintaan, hingga rasa lelah dan merasa bahagia mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Cup.
Ethan mengecup bibir dan kening Riana berkali-kali. Dia bahagia dengan sekretaris yang kini jadi istrinya.
_
"Jam berapa ini?" tanya Riana.
"Jam sebelas malam. Apa kamu tidak lapar sayang?" tanya Ethan.
"Emm, aku lapar. Memang mau makan apa malam-malam begini?" tanya Riana mendusel kepalanya di ketiak Ethan.
"Pesan saja sama bagian dapur, lalu di bawa kemari." kata Ethan.
"Ya, terserah kamu saja." ucap Riana.
Dia memejamkan matanya kembali, rasa kantuknya belum hilang. Ethan melihat istrinya kembali terpejam, dia pun meniup-niup mata Riana beberapa kali.
"Apa sih, kenapa mengangguku. Aku masih ngantuk." kata Riana berbalik.
"Hei, katanya lapar. Kamu mau makan apa?" tanya Ethan menarik tubuh Riana untuk menghadapnya.
"Kan sudah kubilang, terserah saja. Kenapa harus ganggu sih." ucap Riana kesal.
Mulai kini sifat juteknya, membuat Ethan semakin jahil padanya. Dia kini menindih lagi tubuh Riana dan menciumi bibirnya lagi. Dengan rakus dan kembali bergairah, Riana terkejut. Dia ingin menghindar tapi Ethan justru menahannya. Dan tetjadilah pergumulan kembali di antara mereka.
Riana pasrah, suaminya kembali bercocok tanam padanya. Hingga satu jam akhirnya mereka mendapatkan kenikmatan bersama. Riana kesal sekali, dia duduk bersandar di kepala ranjang dengan bantal di belakangnya.
"Jangan cemberut saja, aku semakin tidak tahan melihat bibirmu yang manyun itu." kata Ethan.
"Aku capek, kenapa juga harus di ulangi lagi. Memang tidak capek dan bosan apa?!" ucap Riana menatap tajam pada suaminya.
"Kamu tahu, hal yang paling membahagiakan adalah bercinta bagi pasangan suami istri. Dan aku yakin kamu juga suka, kamu mendapatkan beberapa kali. Aku tahu itu." kata Ethan.
"Jangam di ucapkan!" ucap Riana memerah pipinya.
Meski ucapan Ethan itu benar, tapi dia malu jika harus di bicarakan dan di buat bercanda.
"Hahah! Tapi aku suka, kamu menikmatinya dan aku juga sangat menikmatinya. Melihatmu mendesah nikmat itu rasanya sangat lucu dan menggemaskan, sayang. Ingin aku mengulanginya lagi." ucap Ethan.
Bug!
Bantal melayang ke tangan Ethan secara cepat, membuat laki-laki itu kaget. Lalu tertawa senang, senang bisa menggoda Riana yang malu tapi mau itu. Riana semakin kesal, dia kembali menyerang Ethan melempar bantal padanya.
Ethan menghindar, dia turun dari ranjangnya dengan telanjang bulat. Riana diam, dia melihat pusaka Ethan itu tiba-tiba berbalik. Menutupi tubuhnya dengan selimut karena merasa geli dan malu.
Ethan melihat tubuhnya, dia pun tersenyum. Lalu pergi menuju kamar mandi untuk buang air kecil, Riana. Dia masih berselimutan, menutupi tubuhnya yang juga masih telanjang bulat.
_
_
**********************