
Ethan bersikap acuh pada Riana, bahkan Riana pun juga semakin bersikap sebatas pekerjaan saja. Sejak pertemuan dengan Natasya itu, Ethan sengaja membuat Riana cemburu. Tapi dia salah membuat sekretarisnya cemburu, malah dia sendiri yang jadi bingung dengan sikap Riana itu.
Tapi dia mencoba lagi bersikap acuh pada Riana, seperti sekarang dia bertemu kembali dengan Natasya. Tapi dia tidak mengajak Riana bertemu dengan kliennya itu.
"Riana, aku akan bertemu dengan Natasya lagi. Dan kamu tetap di kantor, jika ada yang datang kamu tangani saja." kata Ethan.
"Baik pak." jawab Riana.
"Emm, pertemuan dengan Natasya ini agak lama Riana. Kamu bisa pulang lebih dulu jika sudah waktunya pulang." kata Ethan lagi.
"Iya pak." jawab Riana.
Ethan diam, dia menatap dingin pada gadis itu. Mendengus kasar, kenapa dia menciptakan sesuatu yang membuat Riana jadi membatasi diri. Ethan pun mendekat, dia menatap Riana dan berdiri di depan meja Riana. Tapi Riana justru diam saja dan santai duduk di kursi kerjanya.
"Riana!"
Riana mendongak, dia menatap aneh pada sang bos yang sedang menatapnya dingin.
"Ada apa pak?" tanya Riana.
"Apa kamu tahu?"
"Tidak."
"Ck, belum aku tanya. Tapi kamu malah langsung jawab." kata Riana.
"Heh, sudahlah. Siapkan berkas perjanjian kontrak dengan Natasya." kata Ethan.
"Saya sudah menyiapkannya sejak kemarin." jawab Riana.
"Ouh, baguslah. Dan kamu jangan dulu pulang sebelum aku selesai rapat dengan Natasya." kata Ethan lagi.
"Ya, baik pak." jawab Riana.
Ethan mendengus karas lagi, kenapa Riana jadi berubah datar seperti itu. Pikiran Ethan jadi tidak karuan, dia melangkah pergi meninggalkan Riana yang masih sibuk atau bahkan pura-pura sibuk.
Setelah Ethan masuk ke dalam lift, Riana menghentikan ketikan di keyboardnya. Menarik nafas karas dan menatap ke arah lift.
"Selalu saja membuat orang susah. Apa karena bos jadi seenaknya saja mempermainkan seseorang?" ucap Riana kesal.
Dia diam, hanya memperhatikan layar di laptopnya saja. Bingung dengan sikap Ethan yang sekarang, dia memang tidak suka Ethan sering bertemu dengan Natasya. Tapi, justru Ethan malah sering bertemu dengan perempuan itu.
_
Pukul enam tiga puluh, Riana masih menunggu Ethan di kantornya. Dia menunggu laki-laki itu, karena dia tadi di suruh menunggunya dan jangan pulang lebih dulu. Agak kesal juga Riana karena sudah hampir dua jam dia menunggu.
Seharusnya jika memang pertemuan dengan Natasya dari jam satu siang, dan pertemuan itu hanya butuh satu jam lebih. Pulang ke kantor paling tidak itu jam empat sore jika mereka mengobrol lebih dulu. Itu pun banyak waktu untuk mengobrol.
"Ck, kemana dia? Kenapa menyuruhku untuk menunggunya di kantor. Sedangkan dia tidak juga pulang." ucap Riana kesal.
Dia memainkan ponselnya, bermain game ular melingkar cari makanan di ponselnya. Hingga malam menjelang, pukul tujuh dia masih menunggu Ethan pulang.
Riana melirik jam di tangannya, sudah pukul tujuh. Perutnya juga sudah lapar, jadi dia pun mengambil tasnya dan segera pulang. Tidak perlu menunggu bosnya yang dia sudah pastikan sudah ingkar janji.
Berbagai pikiran dalam benak Riana, dia kesal, marah dan cemburu jadi satu. Dia berjalan cepat untuk segera pergi dari kantor Ethan. Kenapa dia jadi seperti itu, cengeng dan sering merasa kesal pada laki-laki itu.
Hingga dia keluar dari lift, pikirannya semakin kacau. Berjalan lebih cepat dan segera pulang.
"Kenapa laki-laki itu selalu membuat jengkel." ucap Riana.
Dia keluar gedung, pak satpam melihat Riana yang raut mukanya tampak kecewa dan marah. Dia menunggu ojek online yang sudah dia pesan sejak tadi. Tak lama ojol pun datang, dia naik motor ojol itu. Tapi ada mobil berhenti, kemudian pemilik mobil itu keluar dan memanggil Riana.
"Riana, tunggu." teriak seorang laki-laki yang tak lain adalah Ethan.
Riana menyuruh abang ojol langsung pergi tanpa mempedulikan teriakan Ethan memanggilnya. Dia benar-benar kesal sekali pada Ethan.
Ethan pun diam saja di tempatnya, dia masuk kembali ke mobilnya dan mengejar Riana. Di lajukan mobilnya agar bisa terkejar motor ojol dan menghadangnya, lalu menarik paksa Riana turun dari motornya..
"Bang cepat motornya, itu ada yang ngejar. Aku ngga mau dia nanti menabrak abang lho." kata Riana menoleh ke belakang.
Mobil Ethan pun tak mau kalah ketika dia melihat motor melaju kencang, hingga di jalan sepi mobil Ethan segera mencegat motor tersebut. Motor ojol pun berhenti dengan mendadak, dia kesal juga. Tapi apa boleh buat, jalannya di tutup oleh mobil Ethan..
Ethan keluar dari mobilnya segera mendekat pada Riana yang mencoba menghindar darinya. Setelah membayar ongkos ojek itu, Riana berjalan cepat. Tapi Ethan tidak tinggal diam, dia berlari dan menarik tangan Riana agar ikut dengannya.
"Kenapa sih maksa banget?!" ucap Riana mencoba berontak dari cengkeraman tanga Ethan.
"Kamu sudah aku bilang janga pulang dulu, kenapa kamu pulang hah?!" ucap Ethan.
"Aku sudah menunggu lama, capek aku menunggu terus. Sebenarnya apa sih mau kamu?!" ucap Riana menumpahkan kekesalannya karena Ethan berbuat seenaknya saja.
Ethan belum menjawab, dia memaksa Riana masuk ke dalam mobilnya. Dan dia dengan cepat masuk juga ke dalam mobil, motor ojol tadi sudah pergi sejak Riana menghindari Ethan.
Riana bersedekap, menatap ke depan tanpa mau melihat ke arah bosnya. Ethan duduk, dia menarik nafas panjang dan menatap Riana.
"Kenapa kamu pulang?" tanya Ethan.
"Aku lapar, aku ingin pulang dan tidur." kata Riana.
"Oke, sekarang kamu harus jawab dulu." kata Ethan.
"Jawab apa?!"
"Kamu menungguku?" tanya Ethan.
"Heh! Bukankah tadi siang kamu menyuruhku untuk menunggumu?" kata Riana sinis.
"Ya, benar. Tapi kan kamu tidak tahu apa yang aku lakukan kan?" tanya Ethan.
"Aku tidak peduli. Kamu mau berkencan dengan Natasya juga aku tidak peduli, bahkan mau tidur dengannya juga aku tidak peduli!" ucap Riana ketus.
Ethan menunduk, dengan cepat tangannya menarik kepala Riana dan dengan cepat pula dia mencium bibir Riana. Sontak saja Riana kaget dan kesal, kenapa bosnya itu justru menciumnya.
Dia pun mendorong dada Ethan dengan kasar, lalu ingin menampar pipi laki-laki itu. Tapi dengan gesit Ethan menarik lagi tangan Riana kemudian dia menarik tubuh Riana dan memeluknya erat. Riana memberontak, tapi semakin Riana bergerak untuk lepas. Ethan malah mengapitnya dengan kencang.
"Kenapa jadi begini?!" teriak Riana.
"Biar kamu tahu kalau aku suka sama kamu!" ucap Ethan dengan keras.
Riana diam, dia melemah. Lalu segera melepaskan pelukan Ethan yang mulai renggang. Riana menarik dirinya duduk tegak menatap ke depan menarik nafas kasar.
Ethan menatap Riana yang sudah tenang itu. Dia mengambil tangan Riana dan mencium tangan gadis itu, Riana diam saja. Tapi pandangannya tetap tidak berubah, masih menatap ke depan.
"Aku mencintaimu Riana." kata Ethan lagi.
"Bahkan untuk mencintai orang lain kamu memperlakukan kasar padanya." kata Riana dengan sinis.
"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" tanya Ethan.
"Tidak ada, dan tidak perlu melakukan apa-apa. Aku sudah bilang kan beberapa kali, kalau aku tidak mau punya pacar." kata Riana dengan kekehnya.
"Baik, aku tahu itu. Aku akan langsung melamarmu." ucap Ethan.
Dia lalu segera melajukan mobilnya dengan kencang, dia tidak langsung mengantar Riana pulang. Tapi memutar-mutar jalan mengendarai mobilnya dengan kencang, tentu saja Riana kaget. Dia bergerak kesana kemari untuk menyeimbangkan tubuhnya.
"Ethaaaan!"
Ciiiiiit!
_
_
*********************