My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
57. Gaya Baru



Riana mendapat telepon dari ibunya kalau dia akan datang berkunjung ke rumahnya yang baru. Setelah menikah memang Ethan sudah menyiapkan rumah dan langsung di tempati. Makanya ibunya ingin tahu rumah Riana yang fi belikan oleh suaminya itu.


"Jadi ibu mau datang?" tanya Riana.


"Iya Riana, ibu sama Nino. Dan Nino minta liburan ke rumah kamu, katanya ingin tahu rumah baru kamu itu sekalian libur sekolah. Bulan depan dia sudah mau masuk sekolah SMA." kata ibunya.


"Ya, nanti Riana kirim uang untuk daftar sekolah Nino." kata Riana.


"Ngga usah, nak Ethan sudah kirim buat ibu. Banyak lho kasihnya, jadi cukup untuk daftar sekolah Nino. Sisanya buat beli motor baru, motornya sering mogok. Jadi nanti sekalian masuk sekolah Nino motornya baru, jauh sekolahnya di kota." kata bu Sarmi.


"Ya udah, ngga apa-apa. Jual aja motor lamanya, nanti tambahannya kan dari hasil jual motor. Di bilangin Ninonya jangan sampai main ugal-ugalan naik motor." kata Riana.


Sedang asyik menelepon ibunya, tampak Ethan selesai mandi. Dia melihat istrinya sedang menelepon, Ethan masuk ke dalam ruang ganti baju. Riana menoleh pada suaminya yang masuk ke dalam ruang ganti.


"Ya sudah bu, teleponnya di tutup dulu ya. Mau menyiapkan makan malam buat mas Ethan." kata Riana.


"Iya, nanti ibu kabari kamu kalau sudah berangkat naik kereta. Biar kamu jemput ibu ya." kata bu Rasmi lagi.


"Iya bu."


Klik!


Riana menutup teleponnya, dia bergegas menuju ruang ganti. Pasti suaminya bingung karena posisi baju-bajunya berubah. Dan benar saja, Ethan sedang mencari kaos polosnya juga celana pendeknya.


"Kamu cari apa mas?" tanya Riana.


"Kaosku kemana sayang?" tanya Ethan.


"Aku pindahkan di pojok itu, soalnya di sebelahnya sudah penuh. Jadi aku pisahkan dengan celana itu." kata Riana.


"Hemm jadi biar rapi begitu."


"Ya, kan kamu kalau ambil baju suka asal. Jadinya ngga rapi lagi."


"Baiklah, sekarang istriku yang mengatur semuanya."


"Tentu saja, semua urusan rumah tangga yang penting-penting itu urusan istri. Yang lain di bantu sama pembantu."


Ethan sudah mengenakan kaos polosnya, dia lalu ikut keluar dari ruang ganti. Mereka turun ke bawah untuk makan malam.


"Kamu tadi menelepon siapa sayang?" tanya Ethan.


"Ibu. Katanya minggu depan mau datang ke rumah, lihat rumah kita katanya. Dan Nino juga libur sekolah, bulan depan sudah masuk SMA." jawab Riana.


"Kenapa tidak sekolah di sini saja?" tanya Ethan.


"Nino maunya begitu, tapi ibu melarangnya karena nanti sendirian di kampung." kata Riana lagi.


"Ya, ibu juga bisa kan tinggal di sini."


"Mana mau ibu meninggalkan rumah kesayangannya itu. Dulu pernah aku ajak ibu untuk tinggal di kontrakanku dengan Nino juga. Tapi ngga mau, alasannya sayang rumahnya harus kosonh. Itu peninggalan ayah katanya." kata Riana.


"Kata ibu, ayah meninggal karena kena longsor ya?"


"Iya. Dulu waktu aku masih kecil dan Nino masih bayi baru lahir. Ayah meninggal karena tertimbun longsor, tapi mayatnya tidak di temukan. Dan ibu mengikhlaskannya setelah satu bulan di cari tidak ketemu, ayah di anggap sudah meninggal dengan korban lainnya." ucap Riana menceritakan kisah ayahnya itu.


Riana tampak sedih menceritakan kisah meninggalnya ayahnya itu, Ethan memeluk erat istrinya. Memberi kekuatan dan agar istrinya tida bersedih. Kisah pilu yang di alami Riana sungguh membuat Ethan merasa dirinya terlalu banyak mendapatkan keberuntungan.


Mengingat dulu di kampung Riana, ibunya memaksanya untuk segera menikah dan meminta doa dari dukun cabul. Mungkin jika sudah ada yang menjaga Riana, ibu Sarmi akan merasa tenang. Dan Ethan yang akan menggantikan ibu mertuanya menjaga Riana.


"Ya, sekarang aku yang akan menggantikan ibu untuk menjagamu. Melindungimu dan membahagiakanmu, jadi jangan khawatir aku akan selingkuh dengan perempuan lain." kata Ethan.


"Tentu saja, jika kamu selingkuh. Aku akan pergi, dan tidak akan mempercayaimu lagi. Meski kamu meminta maaf berkali-kali, karena hidupku untuk kebahagiaan keluargaku." kata Riana.


"Oh ya?"


"Ya, aku tidak peduli dengan orang yang menghianatiku dalam hal cinta." kata Riana.


"Kenapa tidak memberikan kesempatan? Mungkin saja karena khilaf untuk melakukan perselingkuhan." kata Ethan mengetes istrinya.


"Ketika suami berselingkuh, meski itu khilaf. Kurasa dia harus ingat, dulu mencintai dan menikahi istrinya karena apa? Apa untuk membuatnya sedih? Berselingkuh itu sebuah tabiat buruk mas, jika tidak menjaga diri dan iman maka akan tergoda karena sifat perempuan itu menggoda." kata Riana.


"Kamu banyak tahu ya." kata Ethan.


"Ya, karena aku banyak melihat klien papa itu dulu banyak lho yang perempuan. Papa masih gagah dan kaya, jabatannya saja CEO. Lalu banyak perempuan yang mendekati, aku tahu itu. Pelayan di restoran juga kadang lho ada yang sengaja menggoda papa. Tapi aku salutnya papa teguh imannya dan sama sekali tidak melirik perempuan-perempuan itu." kata Riana.


"Hemm, jadi kenapa papa sangat dekat sama kamu?"


"Emm, bisa juga. Karena kurasa papamu juga menjaga aku, entah ya itu perasaanku. Dan nyatanya aku jadi menantunya." kata Riana.


"Uuh, memang istriku itu pintar ya. Kok aku jadi makin cinta sih?"


"Hahah, jangan gombal mas."


"Siapa yang menggombal? Aku serius. Kamu itu bukan hanya cantik, manis tapi juga smart. Dan bisa apa saja di rumah, termasuk di atas ranjang. Heheh."


"Haish, mesum terus ya otakmu."


"Wajar sayang, kan sudah suami istri. Nanti habis makan malam kita coba gaya baru yuk?" kata Ethan.


"Apa sih maas." ucap Riana dengan pipi memerah, senyum malu-malunya membuat Ethan tertawa senang.


"Hahah! Rasanya ngga sabar nih pengen merasakan gaya baru."


"Udah ah, ngomongnya itu terus deh."


Riana menuangkan nasi ke dalam piring suaminya. Rasanya menyenangkan bercanda dengan suaminya, membuat hubungan makin hangat. Ethan menatap Riana tanpa berkedip, dia benar-benar terpesona dengan dandanan natural istrinya.


"Kamu mau lauk apa mas?" tanya Riana.


"Ayam kecap boleh, aku ngga mau makan banyak." kata Ethan.


"Lho, kenapa?"


"Ya, nanti malam mau mencoba gaya baru. Takutnya aku ngga bisa bergerak bebas dengan gaya barunya. Heheh."


"Ya ampun, maas."


"Heheh."


_


_


*********************