
Riana kembali memeluk ibunya, Nino baru datang setelah dia ada tambahan pelajaran di sekolahnya. Dia melihat kakaknya akan berangkat lagi ke kota.
"Kakak berangkat lagi?" tanya Nino.
"Iya Nino, kakak harus kerja lagi. Kamu jaga ibu ya, kakak nanti kirim uang untuk bayar ujian kamu." kata Riana.
"Iya kak." jawab Nino.
Riana memeluk adiknya, dia sangat bangga pada Nino yang berusaha membelanya dan menyelamatkannya sewaktu penculikan oleh pak Parjo. Adiknya meski kecil, tapi dia berani melawan pak Parjo hingga dia sendiri yang babak belur. Sekarang pun masih memar-memar di wajahnya, tapi dia memaksa pergi sekolah hari ini.
"Ya udah, kakak pergi dulu. Kalau ada apa-apa telepon kakak." kata Riana.
"Iya kak."
Riana melambaikan tangannya pada ibunya dan adiknya. Lalu masuk ke dalam mobil Ethan yang sudah siap berangkat sejak tadi. Para tetangga dekat rumah Riana melihat Riana masuk ke dalam mobil mahal itu.
"Beruntung ya Riana, punya bos baik banget." kata tetangga sebelah.
"Iya. Anakku bosnya tidak begitu. Bos Riana udah ganteng, baik lagi." kata tetangga satunya.
"Waah, aku lagi hamil nih, boleh ngga ya perutku minta di elus sama bos ganteng itu?" tanya satu tetangga lagi.
"Ish, meraka sudah jalan. Tuh mobilnya sudah pergi."
"Yaah, telat. Saya kira besok lagi mereka pergi ke kota."
"Kita ke rumah bu Sarmi yuk? Tanya-tanya siapa tahu ada lowongan pekerjaan buat anak kita di kota. Heheh."
"Ayok!"
Mereka pun pergi ke rumah bu Sarmi beramai-ramai untuk menanyakan tentang bos Riana yang ganteng dan baik hati itu.
_
Di dalam mobil, Riana dan Ethan saling diam. Entah apa yang mereka pikirkan, Ethan menoleh pada Riana yang terlihat kesal. Dia tersenyum tipis.
"Kenapa kamu cemberut?" tanya Ethan melajukan mobilnya pelan.
"Ngga apa-apa." jawab Riana datar.
"Kamu marah karena waktu di kamar mandi?" tanya Ethan.
"Jangan tanyakan itu!" ucap Riana ketus.
"Hahah! Kamu seksi sekali ya di kamar mandi." kata Ethan meledek Riana.
"Bisa diam ngga?!" ucap Riana kesal tapi wajahnya memerah karena malu.
Ethan masih tertawa senang, rasanya dia senang bisa menggoda Riana lagi. Tiga hari tidak ada Riana di kantor, terasa sunyi. Makanya sengaja menyusul Riana ke kampungnya.
"Apa yang anda pikirkan tentang aku?" tanya Riana.
"Emm, banyak." jawab Ethan.
"Jangan bilang pikiranmu mesum karena stres memikirkan putus dari pacar anda pak Ethan!" ucap Riana.
"Kenapa aku harus stres memikirkan mantan pacar yang selingkuh. Dia sudah bukan pacarku, kamu ingat ya. Mantan." kata Ethan menegaskan.
"Siapa yang bilang pacar?" kata Riana lagi.
"Sudahlah, aku sudah move on. Jangan bicarakan yang sudah lalu, lebih baik denganmu." kata Ethan..
Riana menoleh ke arah bosnya, menatap tajam karena ucapannya itu ambigu. Tapi dia mencerna, Ethan menoleh juga ke arah Riana yang masih menatapnya tajam.
"Jangan marah, aku suka kerja denganmu. Daan ...." kata Ethan.
Ucapan Ethan menggantung, Riana masih diam. Menunggu lanjutan ucapan sang bos. Tapi Ethan tidak melanjutkannya, dia menghentikan mobilnya. Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah kontrakan Riana.
Dia tidak melihat keluar karena suasana gelap, waktu sudah malam. Perut Riana berbunyi, terdengar oleh Ethan. Dan laki-laki itu pun tertawa menutupi mulutnya dengan tangan. Riana malu, dan mobil Ethan pun kembali dia jalankan dan memutar.
"Hahah!"
Mencari makanan di warung makan yang masih buka. Riana diam, dia memang lapar sejak tadi. Tapi tidak berani mengatakannya karena dia pikir makan di rumah kontrakan, meski hanya makan mie instan.
"Kalau lapar bilang. Jangan diam saja, sampai perutmu protes begitu." kata Ethan mencibir.
"Kupikir lebih baik makan di rumah saja." kata Riana.
"Memang ada makanan di rumahmu? Kamu baru datang, capek kalau harus memasak." kata Ethan.
"Aki bisa makan mie instan."
"Tidak baik malam-malam makan mie instan, mending di warung makan." kata Ethan.
Riana diam lagi, dia malas berdebat dengan bosnya itu. Tidak akan menang meski alasan masuk akal yang dia ucapkan. Mobil Ethan berhenti di warung makan tenda pinggir jalan. Sejak makan dengan Riana, dia sangat suka sekali makan di warung tenda.
Mereka masuk ke dalam, memesan makanan yang ada. Mencari duduk lesehan dan menikmati angin malam yang sepoi-sepoi. Melihat mobil-mobil dan motor lalu lalang di jalan.
Ethan menatap Riana lagi, sejak dari rumah Riana. Ethan sangat senang menatap wajah gadis manis itu, apa lagi penampilannya berbeda seperti biasanya di kantor.
"Kamu cantik Riana." ucap Ethan pelan.
"Eh, apa?" tanya Riana bingung.
"Cantik."
"Siapa yang cantik?"
"Tuh penjual warung makannya." kata Ethan mengalihkan matanya ke arah penjual warung makan yang sudah berusia ibunya Riana.
Riana tersenyum sinis, dia merasa lucu kenapa Ethan menganggap pemilik warung yang sudah berusia paruh baya itu di bilang cantik. Meski dia juga merasa aneh, apa mungkin Ethan mengatakan pada yang lain?
"Riana, apa kamu tidak berniat untuk mencari pacar?" tanya Ethan.
"Untuk apa?" tanya Riana balik.
"Agar ada yang bisa melindungimu dan menyayangimu." kata Ethan.
"Aku bisa menjaga diri, untuk apa pacar. Jika waktunya punya jodoh, aku langsung menikah saja, buat apa pacaran. Terlalu buang waktu." jawab Riana.
Ethan diam, dia menatap gadis itu dalam-dalam. Memastikan hatinya seperti apa pada Riana. Riana menoleh, Ethan membuang ke arah lain.
Dia merasa aneh sendiri dengan dirinya itu. Kenapa merasa canggung pada Riana jika membicarakan soal hati dan pacar. Apa dia takut di tolak jika mengatakan pada Riana kalau dia suka padanya?
Ups!
Suka?
Oh tidak, Ethan ternyata menyukai Riana. Tapi dia bingung bagaimana mengatakannya. Ethan masih diam, meyakinkan hatinya apa benar menyukai sekretarisnya itu.
"Silakan mas, mbak makananya." kata pelayan yang datang membuyarkan lamunan Ethan.
"Oh ya mbak, terima kasih." ucap Riana.
Riana ikut memindahkan piring-piring berisi menu makanan. Dia melihat ke arah bosnya yang masih diam, entah melamunkan apa.
Mereka makan malam dalam diam, tanpa bersuara. Hanya suara kecapan mulut keduanya dalam mengunyah makanan. Sampai makanan habis di piring, keduanya masih tampak diam. Ethan pun pergi ke bagian pembayaran, dan setelah membayar dia segera masuk ke dalam mobilnya. Melajukannya setelah Riana sudah masuk ke mobil.
_
_
**********************