
Ethan selesai mengenakan ****** ***** dan kolornya, dia keluar dari ruang penyimpanan pakaian menuju ke depan. Di sana dia melihat Riana sedang melihat buku-buku di mejanya. Dia pun mendekat dan berdiri di belakang Riana.
"Sedang apa kamu?" tanya Ethan yang begitu dekat dengan Riana.
Riana menoleh ke belakang, dia terlonjak kaget melihat penampilan bosnya yang hanya memakai celana kolor saja. Dia mundur, tapi kakinya terantuk kaki kursi di bawah. Hingga dia kesakitan dan berjongkok.
Tapi ujung kepalanya menyentuh bagian kenyal di sela paha milik Ethan dengan kencang, membuat laki-laki itu meringis dan memegangi dengan kedua tangannya.
Rasa nyeri bagian vitalnya itu membuat dia menahan agar tidak menjerit. Hanya bisa menggigit bibirnya, dan Riana menunduk mengelus kakinya yang sakit karena terantuk kaki kursi. Dia juga meringis kesakitan, lalu berdiri. Menatap tajam pada bosnya yang sedang meringis karena nyeri di bagian vitalnya.
"Kenapa mengagetkanku?!" tanya Riana berjingkat memegangi kakinya.
"Kamu juga mengagetkanku, lihat. Bagian senjataku tumpul karena di tabrak sama kepalamu dengan kencang!" ucap Ethan.
"Cih! Siapa yang lebih dulu mengangetkan?!"
"Sudahlah, cepat pakaikan bajuku. Ini sudah siang, lagi pula kenapa kamu malah marah padaku. Seharusnya aku yang marah, aku bosmu." kata Ethan pura-pura kesal.
Riana menatap tajam bosnya, mulutnya komat kamit. Dia melihat tangan Ethan mengelus bagian vitalnya, mungkin masih nyeri. Riana pun hanya tersenyum sinis, dia lalu mengambil baju Ethan di ranjangnya. Menyerahkannya dengan celananya.
Ethan memakai celana lebih dulu, kemudian bajunya. Di kancingnya dengan cepat, Riana menyiapkan dasinya.
"Pakaikan dasiku." kata Ethan.
"Iya." ucap Riana ketus.
Dia pun mendekat, Ethan mengancingkan bagian lengan dan Riana memakaikan dasi pada bosnya. Kedekatan itu membuat Riana canggung, dua kali dia salah memakaikan dasi. Ethan menatap lekat pada wajah Riana yang terlihat kaku dan tegang, dia tersenyum.
"Jika seperti ini, aku seperti memiliki istri yang melayani suaminya." kata Ethan.
"Jangan menghayal, aku hanya seorang asisten pribadi." kata Riana menyelesaikan memasang dasi.
"Memang salah jika asisten jadi istri?" tanya Ethan.
Riana diam, dia melengos mendengar ucapan bosnya. Belum ada niat ingin berpacaran saat ini, dia hanya ingin fokus untuk membiayai sekolah Nino yang sebentar lagi memasuki sekolah menengah.
Belum lagi membiayai kuliah Nino. Dia bertekad akan membiayai Nino sampai lulus kuliah. Baru dia memikirkan dirinya sendiri, tidak peduli banyak yang mengatakan perawan tua.
Ethan memang tidak mudah meluluhkan hati Riana, tapi dia juga bertekad akan terus mendekat pada sang sekretarisnya itu. Hingga Riana mau dengannya, setidaknya menikah dengannya tanpa pacaran. Bukankah itu yang di inginkan Riana?
_
Keduanya sudah berangkat ke kantor, banyak urusan dan pekerjaan menunggu untuk segera di selesaikan. Riana bekerja dengan profesional, menemani sang bos yang sangat sibuk.
Seperti saat ini, mereka sedang berkunjung ke lokasi proyek. Riana di suruh ikut dengannya, dia pun menurut. Kemudian mereka bertemu klien dan rapat sebentar lalu akan berkunjung ke proyek kedua di ujung kota.
"Seharusnya bertemu dengan nona Natasya. Tapi dia membatalkannya, katanya dia harus pergi melayat ke luar negeri karena ada urusan." jawab Riana.
"Hemm, dia membatalkannya? Sayang sekali." kata Ethan.
"Kenapa sayang? Anda menyesal tidak bertemu sekarang?" tanya Riana heran.
"Ya, sepertinya. Aku ingin semuanya selesai, jadi tidak ada urusan lagi dengannya." jawab Ethan melirik ke arah Riana.
"Tapi kenapa dia tidak memberitahuku ya?" ucap Ethan lagi.
Riana menoleh pada Ethan, mengerutkan dahinya tanda heran. Kemudian mendengus kasar, Ethan melirik lalu tersenyum.
"Apakah di Bali dia punya banyak proyek? Aku ingin tahu di sana ada lahan kosong yang strategis untuk bisnis baruku." kata Ethan lagi.
"Untuk apa anda membuat bisnis baru di sana? Tidak efektif." kata Riana.
"Kenapa tidak efektif? Kan enak kita bisa berlibur di Bali, dan bisa juga dengan bekerja. Aku ingin fleksibel saja, bisa bekerja dan berlibur." kata Ethan lagi.
"Membuang waktu menurutku, kenapa harus di Bali. Di wilayah Bogor pun banyak, tempat wisata juga ada. Atau di daerah pantai misalnya, tidak perlu ke Bali." kata Riana seperti tidak suka dengan rencana Ethan itu.
"Sepertinya kamu tidak suka aku melebarkan sayapku ke Bali. Bukankah di sana sangat strategis untuk membuat hotel atau villa? Kupikir kamu akan setuju."
"Itu terserah anda tuan, tapi saran saya di tempat yang terdekat dan strategis juga ada di sekitar kota ini. Tidak harus ke Bali, pak Wijaya juga tidak pernah mempunyai rencana mambuat villa atau hotel di sana." kata Riana lagi.
Ethan tertawa kecil, sangat lucu sebenarnya dia mendengar alasan Riana yang kurang masuk akal. Ada unsur kecemburuan di ucapan Riana.
"Kenapa tertawa? Apa usulku ini terlalu kuno?"
"Tidak. Hanya saja aku menangkap ada sesuatu yang tidak suka dari ucapanmu itu." kata Ethan.
Riana diam, dia membuang muka ke arah jendela lalu menarik nafas panjang. Ethan melirik, dia melihat tangan Riana memainkan ponselnya tanpa di lihat. Hingga ponsel itu jatuh ke bawah kaki Ethan.
Riana menunduk, dia hendak mengambil ponselnya yang jatuh. Wajahnya menghadap ke perut Ethan, dan tanpa di sengaja matanya melihat ke bagian restleting celana Ethan yang terbuka. Tampak kolor tadi pagi terlihat dengan isinya yang menyembul keluar. Riana menjerit keras.
"Aaaaargha! Kolornya!"
_
_
*********************