My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
65. Sepasang Suami Istri



Beberapa hari pencarian pak Juli suami bu Sarmi dari musibah tanah longsor itu masih belum membuahkan hasil. Petugas BNPT sudah berkali-kali menggali dengan alat berat tetap tidak juga di temukan.


Ada lima orang yang belum di temukan termasuk pak Juli bapaknya Riana. Bu Sarmi selalu melihat ke tempat kejadian longsor itu, dia berharap petugas itu menemukan suaminya meski dalam keadaan jasadnya saja.


"Bu Sarmi yang sabar ya, petugas itu pasti menemukan suami bu Sarmi." kata tetangga yang ikut melihat evakuasi longsor itu oleh petugas BNPT.


"Setidaknya jika suamiku itu meninggal, aku ingin melihat jasadnya saja. Tidak seperti ini, aku sangat khawatir sekali." kata bu Sarmi menatap ke depan dengan tatapan nanar.


Riana yang masih kecil saat itu belum terlalu mengerti dengan keadaan bapaknya yang hilang terkena longsor. Nino yang ada di gendongan bu Sarmi pun begitu tenang dalam dekapan ibunya yang sedang bersedih.


"Bu, bapak kok belum pulang-pulang sih." kata Riana kecil yang ikut melihat evakuasi korban longsor.


"Doakan saja nak, bapakmu selamat." begitu ucapan bu Sarmi setiap kali Riana menanyakan kemana bapaknya itu.


Riana kecil hanya mengangguk saja, hingga beberapa hari tetap tidak di temukan pak Juli di gundukan tanah longsor itu. Satu minggu sudah, semuanya sudah di cari kemana-mana. Dan lima orang tertimbun di nyatakan oleh petugas BNPT.


Pencarian pun di hentikan, karena tanah itu kembali akan turun. Jadi, pencarian di hentikan agar tidak ada korban susulan nantinya. Bu Sarmi menangis karena suaminya tidak di temukan. Perempuan dua anak itu menangis dan tidak tahu harus bagaimana menghadapi hidup dengan dua anak yang masih kecil dan balita.


Sepanjang malam, bu Sarmi menangis mengingat suaminya. Hingga satu bulan tidak juga ada kabar baik dari suaminya itu. Karena setiap waktu bu Sarmi berharap ada keajaiban dari Tuhan kalau suaminya terselamatkan.


_


Sementara itu, saat terjadi longsor itu, laki-laki yang sepanjang hari di tunggu kedatangannya atau di temukan oleh petugas BNPT sekarang sedang tergeletak di pinggir sungai. Dari kejadian itu, ternyata dia berlari dengan kencang menghindari longsoran tanah yang bergerak cepat.


Pak Juli, dia berlari menyelamatkan diri dari tanah longsor itu dengan cepat. Hingga dia terjatuh berkali-kali dan terantuk batu, sampai dia berlari ke pinggir sungai dan tersandung batu besar hingga mengenai kepala bagian belakang sampai mengeluarkan darah.


Pak Juli pun jatuh ke sungai, dia terbawa arus sungai sampai beberapa kilo meter jarak dari longsor itu. Dan ada seorang yang sedang berada di perahu sungai, dia sepasang suami istri yang sedang berlibur. Melihat ada seseorang yang mengambang di sungai, sang suami pun menyelamatkannya.


Membawanya ke dalam perahu, ada darah yang membeku di kepala belakangnya. Pak Juli di selamatkan oleh dua pasang suami istri itu.


"Bu, dia masih hidup sepertinya." kata suaminya.


"Iya pak, kita bawa pulang saja dan ke rumah sakit. Kasihan dia, ayo kita tolong." kata istrinya.


"Iya bu."


Suami istri itu pun kembali ke daratan dan akan membawa pak Juli ke rumah sakit. Beruntung sekali pak Juli di selamatkan oleh suami istri itu, hingga beberapa hari berada di rumah sakit.


Sang istri terus mengurus pak Juli hingga dia sadar dari pingsannya. Ibu itu pun senang, dia memberitahu suaminya kalau orang yang di tolongnya telah sadar.


Tentu saja suaminya itu senang, dia langsung ke rumah sakit untuk mengetahui keadaan pak Juli. Dan menanyakan keadaan serta identitasnya.


"Siapa ibu?" tanya pak Juli pada perempuan itu.


"Oh, syukurlah. Kamu sudah sadar ya, apa kamu kenal dirimu?" tanya ibu itu.


"Saya, tidak tahu." kata pak Juli.


"Oh, jadi kamu hilang ingatan?" tanya ibunya lagi.


"Saya tidak tahu, kepala saya sakit. Aaauw!" teriaknya memegangi kepala belakangnya.


Ibu yang menyelamatkan pak Juli pun panik, dia pun memberitahu suster kalau pasien yang dia tunggui kesakitan karena tadi di ajak bicara olehnya.


Pak Juli pun di periksa oleh dokter, karena keadaannya tidak seperti awal. Dokter pun memindahkan pak Juli ke ruang laboratorium untuk di periksa dan di scan bagian kepalanya.


Suaminya pun datang, dia sangat senang orang yang dia tolong itu sudah sadar. Menghampiri istrinya yang terlihat cemas itu.


"Bu, kenapa panik begitu?" tanya suaminya.


"Itu pak, tadi laki-laki yang kita tolong itu sadar dan ibu tanya dia siapa. Apa mengenal dirinya sendiri, tapi malah kepalanya kesakitan. Jadi ibu panggil dokter, lalu di bawa ke ruang laboratorium. Sampai sekarang belum keluar lagi pak." kata ibunya masih cemas.


"Ya sudah, kita tunggu saja keterangan dari dokter nanti." kata suaminya.


Kedua suami istri itu menunggu dokter yang memeriksa pak Juli di dalam lab dan akan di pindahkan ke ruang operasi. Setelah dokter selesai memeriksa pak Juli, kini dokter keluar dari ruang lab dan menghampiri pasangan suami istri yang sedang menunggu di depan ruang lab.


"Pak Sanusi dan ibu Rifa, anda yang menemukan pasien itu ya?" tanya dokter.


"Iya pak dokter, kami menemukannya di sungai yang sudah hampir mengambang. Saya ambil dan di bawa kemari, saya juga melihat kepala belakangnya ada darah membeku karena lama di dalam air." kata pak Sanusi.


"Hemm, jadi begitu ya. Emm, bapak dan ibu ke ruanganku saja. Kita bicarakan di dalam, karena ini masalahnya sangat serius sekali." kata dokternya."


Pak Sanusi dan ibu Rifa saling pandang, lalu mereka pun mengikuti kemana dokter pergi. Di dalam benak mereka kemungkinan memang laki-laki yang dia tolong itu pasti hilang ingatan.


_


_


********************