My Boss, Hot And Cool

My Boss, Hot And Cool
59. Gaya Nungg!n9



Sampai di rumah Riana, ibu Sarmi dan Nino di tempatkan di kamar tamu. Riana sudah menyuruh pembantu membereskan dua kamar di rumah untuk ibu dan adiknya tidur. Memang rencananya hanya satu minggi saja keduanya berlibur di rumah Riana.


"Rumah kamu bagus ya, Riana. Suamimu kaya banget ya." kata ibunya.


Ibu Riana seperti lupa dengan menantunya yang kaya dan punya perusahaan besar. Meski perusahaan warisan papanya, tapi Ethan pandai juga mengelolanya. Hingga banyak perusahaan lain mau bekerja sama dengan perusahaannya, di tambah lagi sang sekretaris istrinya itu juga pandai melobi dan membuat banyak proposal. Yang seringnya banyak di setujui oleh klien.


"Iya bu, oh ya. Kamar ibu di sebelah Nino itu, ibu kalau capek bisa langsung istirahat. Nanti malam makan malam bersama, mbok Sri sengaja masak banyak buat ibu dan Nino." kata Riana.


"Kak, rumahnya besar." kata Nino masih takjub dengan rumah Riana yang besar itu.


"Ya, namanya bos punya rumah ya harus besar dan lengkap isinya." timpal ibunya.


"Tapi sepi kak." kata Nino.


"Ya sepi, lha kakakmu itu kerja juga kok." kata ibunya lagi.


"Bukan itu, sepi ngga ada suara anak kecil." kata Nino.


Riana diam, dia tertegun dengan ucapan adiknya itu. Sudah empat bulan dia menikah dengan Ethan masih belum ada tanda-tanda hamil. Atau karena dia juga sibuk bekerja? Sehingga kelelahan dan akhirnya belum bisa hamil.


Tapi suaminya tidak menuntut dia segera hamil, apa lagi kedua mertuanya masih sibuk mengurus kebun di belakang rumahnya.


"Ish, nanti juga kakakmu punya anak. Ini juga belum setahun menikah kan, jadi tenang saja." kata bu Sarmi, membuat Riana lega lalu tersenyum tipis.


"Ya sudah, ibu istirahat aja. Nino, kamu juga harus istirahat. Besok kita akan jalan-jalan." kata Riana.


"Kemana kak?" tanya Nino.


"Besok kita pikirkan, kamu istirahat saja sana." kata Riana.


Nino pun menurut, dia masuk ke dalam kamar yang sudah di siapkan Riana untuknya. Juga ibunya masuk ke dalam kamarnya.


Sedangkan Riana naik tangga, dia memikirkan apa yang di katakan oleh Nino. Benar juga, rumah besar seperti itu terasa sepi jika belum ada tangisan bayi atau teriakan anak-anak berlarian.


Sampai di kamar, Riana masih termenung. Membuat suaminya heran kenapa istrinya itu jadi berubah sendu wajahnya. Ethan mendekat dan duduk di samping Riana.


"Sayang, kamu kenapa? Kok murung sih?" tanya Ethan mengelap rambutnya yang basah dengan handuk.


"Mas, kamu pengen punya anak ngga?" tanya Riana.


"Tentu saja sayang, memang kenapa?" tanya Riana.


"Kita menikah sudah empat bulan, kok aku belum ada tanda-tanda hamil ya?" tanya Riana heran, dia memegangi perutnya.


"Kan baru empat bulan. Aku aja masih pengen senang-senang sama kamu. Aku dan kamu kan ngga ada proses pacaran, ya udah ngga masalah kalau kamu belum punya anak." kata Ethan.


Riana diam, wajahnya masih tampak sedih memikirkan apa yang di katakan adiknya Nino. Ethan memperhatikan wajah Riana, masih tampak murung.


"Apa lagi yang kamu pikirkan? Bukannya senang ibu dan adikmu datang, kenapa jadi sedih begitu sih? Kamu memikirkan apa?" tanya Ethan penasaran.


"Ya, tadi Nino bilang rumah sebesar ini terasa sepi karena belum ada suara anak-anak. Jadi kupikir itu benar juga, mas." kata Riana.


"Iya sih."


"Ya udah, jangan di pikirka. Setiap malam kita berjuang kan untuk menghasilkan embrio? Kalau kamu kebanyakan pikiran dan pusing memikirkan belum punya anak, nanti tambah lama lho. Bisa stres dan itu tidak baik buat kesehatanmu, nanti lama lagi dapat anaknya. Harus santai dan tidak memikirkan masalah anak." kata Ethan lagi.


Riana menatap suaminya, dia pun tersenyum senang. Memang dia tidak perlu pusing, suaminya saja masih santai dan masih ingin senang-senang dengannya. Dan dia pun sama, meski dia sering malu-malu mau jika di goda oleh suaminya itu.


"Iya mas, terima kasih ya kamu masih sabar dengan masalah anak." kata Riana.


"Jika kamu di takdirkan sampai tua juga belum punya anak, aku akan tetap mencintaimu dan tidak akan menuntutmu untuk punya anak. Kita wajib kok berusaha, misalnya program hamil atau apa pun yang tersulit sekali pun. Akan aku lakukan, jadi jangan bersedih. Oke, sayang?" kata Ethan.


"Iya mas, aku tahu."


"Ya, mending kita coba lagi gaya baru. Siapa tahu gaya baru itu bisa menumbuhkan benih-benih cintaku di rahimmu." kata Ethan lagi.


"Gaya baru apa lagi sih mas, kamu tuh selalu saja pengen gaya baru terus." kata Riana.


"Ya, sayang. Yang ini pasti di jamin seru, coba deh ya nanti malam. Kalau sekarang ngga enak ada ibu, takutnya lagi enak-enak kamu di panggil sama ibu."


"Ck, memangnya mau gaya baru bagaimana lagi?" tanya Riana.


"Yang nungging sayang, atau kamu duduk deh di pangkuanku." kata Ethan menjelaskan.


"Itu kan selalu di lakukan, itu bukan gaya baru mas." kata Riana.


"Ada lagi gaya nungging baru sayang, nanti deh aku tunjukin videonya. Kamu pasti suka, katanya gaya baru nungging itu kamu pasti keenakan kok." kata Ethan lagi.


"Haish! Tahulah mas, kenapa kamu tuh ya ada aja otak mesumnya." kata Riana menggeleng kepala heran dengan ucapan suaminya.


"Eh, beneran sayang. Aku tunjukin videonya ya sekarang." kata Ethan bersemangat.


"Ngga! Apaan nonton begitu, ngga nonton video begitu juga kamu setiap hari selalu menggodaku terus mas." kata Riana menolak.


"Yaah, sayang banget lo. Eh, tapi nanti malam aja ya aku tunjukin. Biar terasa aja suasana romantis dan bergairahnya. Heheh." ucap Ethan dengan tawa kecilnya.


Riana malas meladeni ucapan suaminya. Dia mending di kantor karena di sana Ethan akan bersikap serius dan tegas. Tapi ya tetap saja jika jika dia masuk ke dalam kantor mesumnya keluar lagi.


"Sayang, kenapa pergi?!"


"Malas ladeni kamu!" ucap Riana.


Dia masuk ke dalam kamar mandi, tubuhnya sangat lengket karena sejak pulang dia belum masuk ke dalam kamar. Bahkan dia tadi rencananya ingin merebahkan tubuhnya sejenak. Tapi karena memikirkan ucapan Nino dan tadi di ajak bicara soal gaya baru lagi, jadi batal tiduran. Dia akan langsung mandi dan tubuhnya ingin santai.


Jadi, Riana akan berendam lebih lama di bethup dengan aroma terapi yang akan dia tuangkan ke dalam bethup.


_


_


*********************