My Angel Valeria

My Angel Valeria
BUNDA VALE



"Dia tidak ingat siapa namanya atau hal apapun mengenai dirinya, Jo! Apa sebaiknya aku membawanya ke rumah sakit saja?" Arga sedang menelepon Paman Jo dan mengabarkan tentang kondisi Vale yang akhirnya bangun dari pingsannya.


"Dokter juga tak akan bisa berbuat apa-apa, Arga! Biasanya hanya keluarga yang bisa mengembalikan ingatan psien amnesia seperti yang dialami gadis malang itu. Sedangkan tidak ada identitas apapun yang dibawa gadis itu. Bagaimana kita akan mencari keluarganya?"


"Lalu aku harus bagaimana?" Arga menatap pada Vale yang sudah setengah duduk di sofa rumahnya dan sedang mengobrol akrab bersama Vaia.


Mereka langsung akrab sejak tadi Vale membuka matanya.


"Kau rawat saja gadis itu atau kau jadikan istri saja! Sepertinya Vaia senang dengan kehadirannya tadi." Paman Jo terkekeh.


"Ya! Mereka berdua sedang mengobrol sekarang dan terlihat akrab sekali!" Arga masih menatap pada Vale dan Vaia yang kini tertawa bersama.


"Lalu bagaiamana dengan keluarganya?" Arga masih merasa ragu.


Sebenarnya Arga tak keberatan menampung gadis asing itu di rumah sederhananya. Tapi gadis itu pasti punya kekuarga yang sekarang sedang kalang kabut mencarinya.


"Kita tidak tahu keluarganya tinggal di mana? Jadi kau tampung saja dulu sambil kita cari info orang hilang. Jika keluarganya peduli, pasti mereka akan mencari gadis itu dan menyebarkan informasi serta foto gadis itu."


"Bagaimana kalau aku saja yang menyebarkan fotonya. Mungkin ada yang mengenak mengenal gadis itu," Arga mebdadak punya ide.


"Kau gila, Arga! Gadis itu tidak ingat siapa dirinya dan siapa keluarganya! Bagaimana kalau ada orang jahat yang mengaku-ngaku sebagai keluarganya? Kau ingin membuat nyawa gadis itu dalam bahaya?" Cecar Paman Jo panjang lebar yang langsung membuat Arga merutuki kebodohannya sendiri.


"Kau benar. Baiklah, aku dan Vaia akan merawatnya saja di rumah. Kau kapan kembali kesini?" Tanya Arga selanjutnya.


"Minggu depan! Bukankah aku sudah bilang tadi."


"Baiklah, terserah! Dasar menyebalkan!" Arga mengakhiri teleponnya pada Paman Jo. Langit di luar rumah sudah berubah gelap. Arga menghampiri Vale dan Vaia yang masib mengobrol akrab.


"Ayah akan menutup toko sebentar. Kau temani-" Arga merasa bingung harus memanggil gadis amnesia ini dengan panggilan apa.


"Bunda! Ini bunda Vaia, Ayah!" Vaia sudah bergelayut di tangan Vale yang masih bengkak.


"Vaia!" Tegur Arga cepat pada sang putri yang sudah membuat Vale meringis kesakitan.


"Tangan Bunda masih sakit. Jadi jangan menggelayutinya dulu, oke! Dan jangan minta pangku apalagi pecicilan di dekat bunda!" Ujar Arga panjang lebar memberikan pesan pada sang putri.


"Iya, Ayah bawel! Katanya tadi mau menutup toko?" Vaia kembali mengingatkan sang ayah.


"Iya! Ingat pesan Ayah tadi!" Arga sudah menghilang dengan cepat ke arah pintu utama.


"Vaia umur berapa?" Tanya Vale pada Vaia yang kembali asyik dengan kertas gambarnya.


"Lima tahun!" Jawab Vaia tanpa menatap ke arah Vale.


"Sedang menggambar apa?" Tanya Vale lagi yang begitu suka mendengar suara cadel khas anak-anak saat Vaia berbicara atau bercerita.


Vaia bangkit berdiri dan menunjukkan kertas gambarnya pada Vale.


"Ini Vaia, ini Ayah, trus ini Bunda," ujar Vaia seraya menunjuk satu persatu gambar yang mungkin menurut orang lain terlihat abstrak tersebut.


"Lalu ini siapa?" Vale menunjuk ke satu gambar di sudut kertas gambar. Seperti gambar seorang bidadari atau mungkin malaikat, karena ada sayap yang digambar oleh Vaia.


"Itu Bunda yang sudah melahirkan Vale ke dunia ini. Kata Ayah, Bunda sudah di surga dan selalu melihat Vaia dari atas sana!" Jari kecil Vaia menunjuk ke jendela besar di ruangan tersebut yang mengarah ke langit hitam di luar rumah.


Hati Vale terasa mencelos.


Ternyata Vaia adalah gadis kecil malang yang tak mendapat kasih sayang seorang bunda.


Arga sudah kembali masuk ke dalam rumah.


Vale menatap sejenak pada pria berperawakan tinggi tegap tersebut dan sesaat terselip rasa kagum di hati Vale pada Arga yang ternyata adalah seorang ayah tunggal bagi Vaia.


Arga pasti seorang pria yang hebat, karena benar-benar bisa mengambil peran sebagai ayah sekaligus bunda untuk Vaia.


"Kalau malam hawa disini akan terasa dingin. Sebaiknya kau tidur di kamar malam ini," ucap Arga pada Vale yang masih setengah berbaring.


"Tak apa! Aku akan memindahkanmu nanti. Aku siapkan dulu kamarnya," ujar Arga memberikan solusi.


"Bunda tidur di kamar Vaia, Ayah?" Tanya Vaia antusias.


"Tidak, Sayang! Kasur di kamar Vaia terlalu kecil. Jadi, Bunda akan tidur di kamar di sebelahnya," jawab Arga cepat.


"Di kamar Ayah? Apa Vaia boleh menemani Bunda malam ini?" Tanya Vaia lagi penuh harap.


"Ti-"


"Boleh, Vaia!" Vale menyela kalimat Arga dengan cepat.


"Vaia tidurnya pecicilan, Nona. Bagaimana kalau dia menyakitimu malam ini?" Arga sedikit keberatan.


"Aku yakin Vaia akan jadi anak baik malam ini. Aku akan baik-baik saja-" Vale mengerutkan kedua alisnya karena ia belum tahu nama ayah tunggal Vaia ini sejak tadi.


"Arga! Kau bisa memanggilku Arga!" Ujar Arga cepat yang sepertinya tanggap dengan kebingungan Vale.


"Aku akan baik-baik saja, Arga!" Vale mengulas senyum pada pria baik hati tersebut.


"Dan bisakah kau tidak memanggilku Nona? Aku sedikit kurang nyaman," pinta Vale lagi yang kali ini sudah menundukkan wajahnya


"Aku tidak tahu siapa namamu. Mungkin kita harus mencari nama panggilan baru untukmu," cerus Arga yang langsung membuat Vale mengangguk.


"Hei, Vaia! Kau punya ide nama panggilan untuk Bunda?" Arga meminta pendapat pada Vaia sembari menunjuk ke arah Vale.


"Panggil saja Bunda!" Jawab Vaia enteng.


"Iya, kau mungkin bisa memanggilnya Bunda. Tapi Ayah dan Paman Jo tak mungkin ikut memanggil bunda juga," tukas Arga merasa gemas pada sang putri.


"Bunda Vale?" Celetuk Vaia memberikan ide.


"Itu namamu!"


"Vaia nggak keberatan, bunda pakai nama Vaia." Jawab Vaia lagi yang justru menbuat Vale semakin mengernyit tak mengerti.


"Vale?" Tanya Vale bingung.


"Nama panjang Vaia adalah Valeria Adiba," jelas Arga menjawab kebingungan Vale.


"Terdengar tidak asing!"


"Valeria?" Vale berusaha mengingat-ingat. Tapi tetap saja Vale tak bisa mengingatnya. Dan kepala Vale malah terasa sakit sekarang.


"Jangan memaksa untuk mengingat jika memang belum ingat!" Nasehat Arga pada Vale.


"Kita panggil Bunda Vale saja, Ayah!" Usul Vaia sekali lagi sedikit memaksa.


"Kau keberatan jika aku memanggilmu Vale?" Arga minta persetujuan Vale. Dan gadis itu menggeleng dengan cepat.


"Baiklah! Kita akan memanggilmu Vale mulai sekarang!" Ujar Arga pada akhirnya. Vale hanya mengangguk dan tersenyum pada Arga.


"Aku rapikan kamarnya sebentar!" Arga sudah menghilang ke arah kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Vaia.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.