
Valeria bangkit dari duduknya meskipun masih sedikit kepayahan. Gadis itu memeriksa Vaia yang tertidur di atas kertas gambarnya. Padahal tadi Vaia masih sibuk berceloteh tentang gambarnya, tapi sekarang gadis kecil itu sudah terlelap.
"Vaia mana, Vale?" Tanya Arga yang baru tiba di rumah.
Vale langsung memberi kode pada Arga untuk merendahkan suaranya, dan menunjuk pada Vaia yang sudah terlelap.
"Dia ketiduran?" Tebak Arga seraya memeriksa sang putri.
"Ya. Sepertinya lelah menggambar," Vale menunjukkan beberapa kertas yang berisi gambar Vaia pada Arga.
"Aku akan memindahkannya ke kamar," Arga sudah mengangkat tubuh Vaia dan segera membawa putri kecilnya tersebut masuk ke dalam kamar.
Sementara Vale memilih untuk membereskan peralatan menggambar milik Vaia.
"Kakimu sudah baikan?" Tanya Arga yang sudah keluar dari kamar dan menutup pintu.
Vale juga baru selesai membereskan peralatan menggambar Vaia.
"Sudah bisa dipakai berjalan meskipun masih tertatih," jelas Vale seraya tertawa kecil.
"Sudah ingat sesuatu tentang dirimu atau keluargamu mungkin?" Tanya Arga penuh harap.
Vale hanya menggeleng dan raut wajahnya berubah murung.
"Aku belum ingat apapun."
Arga menepuk punggung Vale dan mengukir senyuman tipis di bibirnya.
"Tidak apa! Kau akan segera ingat nanti!" Hibur Arga yang kini ganti mengusap punggung Vale, yang sontak membuat Vale sedikit berjenggit.
"Oh, maaf! Aku tidak bermaksud," Arga buru-buru mengangkat tangannya dari punggung Vale dan minta maaf Karena sudah membuat Vale menjadi tidak nyaman.
Mendadak suasana menjadi canggung dan Arga serta Vale hanya saling diam.
"Aku boleh memasak untuk makan siang?" Tanya Vale yang mencoba mencairkan suasana.
"Kau bisa memasak?" Tanya Arga memastikan.
"Seingatku bisa jika hanya masakan rumah biasa," jawab Vale yakin.
"Tapi kakimu," Arga merasa ragu karena Vale jalannya memang masih terpincang-pincang.
"Tapi baiklah jika kau memaksa! Aku akan membantu menyiapkan bahannya," ucap Arga lagi sebelum Vale sempat menjawab.
Arga membantu Vale untuk berdiri dan membimbing gadis itu masuk ke dapur.
Arga menyiapkan bahan-bahan yang akan dimasak oleh Vale serta peralatannya dan membawanya ke dekat kompor, agar Vale tak perlu lagi mondar-mandir.
"Dapat ikan dan sayuran segar darimana? Tempat ini kan sepi sekali?" Tanya Vale membuka obrolan.
Tapi Vale memang tidak melihat ada rumah lain selain rumah Arga di kawasan ini.
"Ada pemukiman penduduk di balik bukit kecil itu," Arga menunjuk ke arah bukit kecil yang tak jauh dari rumahnya.
Vale hanya membulatkan bibirnya.
"Kalau ikan, disini stoknya berlimpah karena memang dekat pantai," ujar Arga lagi menyambung penjelasannya pada Vale.
"Ada pantai disini?" Tanya Vale dengan raut wajah tak percaya.
"Kenapa? Kau suka ke pantai? Hanya perlu naik mobil 15 menit kalau dari sini," jawab Arga sedikit menjelaskan.
"Tentu saja. Tapi tunggu kakimu dan luka-luka di badanmu sembuh dulu!" Jawab Arga seraya tersenyum pada Vale.
Vale ikut tersenyum pada Arga sebelum lanjut memotong wortel dan entang untuk sup.
"Auw!" Rintih Vale saat pergelangan tangannya yang kemarin membiru dan bengkak ternyata masih nyeri jika dipakai memotong sayur.
"Kenapa? Kau terluka?" Tanya Arga khawatir yang langsung memeriksa tangan Vale.
"Tanganku masih sakit," krluh Vale seraya menunjuk pada pergelangan tangannya.
"Jangan dipaksakan! Biar aku yang memotong semua sayurnya. Kau bisa mengupas bawang!" Arga mengangsur bawang merah dan putih pada Vale.
"Buat bumbunya pakai blender saja!" Arga juga sekalian mendekatkan blender ke arah Vale.
Vale hanya terkekeh dengan semua perhatian dari Arga.
"Biasanya kau memasak sendiri untuk makan bersama Vaia?" Tanya Vale yang kembali membuka obrolan.
"Ya! Tapi hanya masakan sederhana karena aku bukan koki," jawab Arga yang masih berkutat dengan sayuran di depannya.
"Kenapa tidak mencarikan bunda baru untuk Vaia?" Pertanyaan dari Vale langsung membuat Arga menghentikan aktivitasnya.
Pria itu berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Vale.
"Entahlah! Aku belum berpikir sejauh itu. Yang aku pikirkan saat ini hanyalah merawat dan membesarkan Vaia," jawab Arga sedikit melirik pada Vale yang sudah mulai menyalakan kompor dan memanasakan minyak untuk menggoreng ikan.
"Vaia juga butuh kasih sayang seorang bunda, Arga?" Ujar Vale berpendapat.
"Ya, kau benar! Tapi aku juga tidak mau egois dan kau tahu sendiri, mencari seorang wanita yang benar-benar tulus dan mau menerma diriku serta Vaia apa adanya itu tidak mudah."
"Bukan maksudku pilih-pilih pasangan. Tapi bukankah aku, tetap harus menomorsatukan perasaan Vaia? Vaia adalah segalanya bagiku," tutur Arga panjang lebar yang langsung membuat Vale menatap pada ayah kandung Vaia tersebut.
"Kau orang baik. Jadi pasti kau akan mendapatkan istri dan bunda yang baik untuk Vaia!" Ujar Vale penuh harap.
Arga hanya mengangguk dan balas menatap pada Vale yang cantik dan dewasa.
Berapa sebenarnya usia gadis ini?
Kenapa pikirannya begitu dewasa?
Jiwa keibuannya pada Vaia juga kuat sekali.
Mungkinkah, Vale memang sudah menjadi seorang ibu dan seorang istri?
Kekuarganya pasti sedang bingung mencari keberadaan gadis malang ini.
Andai Arga tahu siapa keluarganya serta alamat rumah gadis ini, Arga pasti akan langsung mengantarnya pulang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.