My Angel Valeria

My Angel Valeria
CERITA ARGA



Acara makan malam sudah selesai. Vaia yang sudah terlihat mengantuk langsung dibawa oleh Vale ke kamarnya untuk di ajak tidur. Vale sepertinya juga sudah lelah dan mengantuk.


Arga masih duduk bersama Kyle, Papa Theo, dan Ben di teras belakang rumah.


"Jadi, dimana kau menemukan Valeria?" Kyle membuka obrolan dan melempar pertanyaan pada Arga.


"Di pinggiran hutan. Sebenarnya Vaia yang mrnemukan Valeria saat kami sedang berkemah," jawab Arga sedikit bercerita.


Kyle dan Papa Theo saking melempar pandang.


"Valeria kabur dari rumah Bu Leni. Jadi mungkin dia tersesat di hutan dan Arga tak sengaja menemukannya," papa Theo mencoba menerka-nerka kronologi kejadian yang menimpa Vale.


"Maaf, Om! Tapi apa Valeria menjadi korban penculikan sebelumnya?" Tanya Arga akhirnya yang sudah sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Valeria.


Kondisi Valeria saat pertama kali ditemukan oleh Arga, benar-benar memprihatinkan.


"Ya! Ada orang jahat yang menculik Valeria dan hendak menjadikan Valeria sebagai penebus hutang," jawab Papa Theo tanpa menyebutkan orang jahat yang ia maksud.


Toh orang jahat itu sudah menuai karma mereka.


"Jadi mimpi Valeria itu benar adanya," gumam Arga yang akhirnya bisa menemukan jawaban atas pertanyaannya siang ini.


"Valeria mimpi apa memangnya?" Tanya Kyle penasaran.


"Valeria mengira kalau keluarganya benci kepadanya dan hendak menjadikan vale sebagai penebus hhutang kekuarga. Jadi saat Valeria mengetahui rencanaku yang akan mengantarnya pulang, Valeria sempat menolak," tutur Arga bercerita.


"Lalu kau berhasil meyakinkannya?" Tebak Kyle yang langsung diambut Arga dengan sebuah anggukan kepala.


"Kalian terlihat akrab," Kyle sedikit terkekeh.


"Aku hanya memberi Vale tempat berteduh sebulan kemarin. Vale banyak membantu juga di rumah dan di toko. Dia gadis yang baik dan rajin," jawab Arga balas tersenyum pada Kyle.


Ayah kandung dari Vaia itu menguap lebar.


"Istirahatlah, Arga! Kau pasti lelah karena mengemudi cukup jauh kesini tadi," titah Papa Theo pada Arga.


"Baik, Om! Saya dan Vaia mungkin akan pulang besok," jawab Arga merasa sungkan.


"Tidak perlu buru-buru, Bang! Mau menginap seminggu disini juga tidak masalah! Vaia sepertinya betah tinggal disini," sahut Ben yang sejak tadi hanya diam menyimak.


Arga hanya tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ada toko yang harus di urus, Ben! Jadi aku dan Vaia tak bisa terlalu lama disini."


"Sayang sekali! Ben masih ingin mengajak Vaia keliling kota padahal," ucap Ben sedikit kecewa.


Arga kembali berpamitan pada Papa Theo dan Kyle sebelum melangkah masuk ke dalam rumah dan menuju ke arah kamarnya yang bersebelahan denagn ruang tengah. Ben mengikuti langkah ayah kandung Vaia tersebut dan masih mengajak mengobrol.


"Mungkin kau bisa gantian main ke tempat kami jika ada waktu," tawar Arga pada Ben sedikit berbasa-basi.


"Wah! Boleh itu, Bang! Nanti abang kasih alamat lengkapnya, ya! Ben paling suka menjelajah tempat-tempat baru," jaeab Ben antusias.


"Kata Abang Kyle juga tempat tinggal Bang arga dekat pesisir, ya?" Tanya Ben selanjutnya.


"Iya. Ke pantai hanya lima belas menit. Vale juga suka kalau diajak ke pantai," jawab Arga yang malah bercerita tentang Vale.


"Ben juga suka ke pantai," timpal Ben sedikit terkekeh.


"Aku istirahat dulu, Ben!" Kyle sudah tiba di depan kamarnya. Ben hanya menanggguk dan membiarkan ayah kandung Vaia tersebut masuk ke kamarnya untuk beristirahat.


Tak berselang lama, Kyle juga sudah menyusul masuk ke dalam rumah.


"Abang nggak nginep?" Tanya Ben pada Kyle yang sepertinya akan bersiap-siap untuk pulang.


"Abang mau pulang dulu ke rumah Mom dan Dad. Memberi kabar kalau Vale sudah pulang dan mungkin pernikahan kami akan dipercepat," jawab Kyle seraya menepuk punggung Ben.


"Hmmm. Itu lebih baik," gumam Ben menanggapi rencana pernikahan Kyle dan Vale yang akan dipercepat.


"Aku pulang dulu! Bye!" Pamit Kyle pada Ben seraya berlalu menuju ke pintu utama kediaman Rainer.


"Oke, Bye!" Ben melambaikan tangan ke arah calon kakak iparnya tersebut.


Suasana rumah sudah sepi. Mungkin sebaiknya Ben juga masuk ke kamar dan beristirahat.


****


"Bangun, Ayah!" Suara Vaia yang berulang kali mengguncang tubuhnya, membuat Arga sdikit tersentak dan segera membuka mata.


Arga merasa asing dengan pemandangan yang ada di depannya saat bangun. Arga tidak sedang di rumahnya sekarang. Arga sedang menginap di rumah Vale.


Astaga!


Sekarang jam berapa?


Bukankah Arga berencana untuk pulang pagi-pagi?


Arga menatap pada jam dinding yang tergantung di kamar tersebut. Hampir pukul delapan pagi!


Ya ampun!


Arga mengusap wajahnya sendiri dengan kasar dan berdecak berulang kali.


"Ayah kenapa?" Tanya Vaia bingung karena melihat tingkah aneh sang ayah yang terus saja mengusap wajahnya.


"Ayah kesiangan, Sayang! Kenapa tidak membangunkan Ayah sejak tadi?" Arga sudah mendekap Vaia dan menggelitiki putri kecilnya tersebut hinga Vaia terkikik geli.


"Geli, Ayah!"


"Kau sudah bangun dari tadi?" Tanya Arga yang masih mebdekap sang putri.


"Iya! Vaia juga sudah mandi dan sarapan bareng bunda," jawab Vaia yang kini berusaha melepaskan diri dari dekapan Arga.


"Arga!" Pintu kamar Arga yang tadi terbuka sedikit, kini dibuka dengan lebih lebar.


Vale terlihat segar pagi ini mengenakan gaun terusan warna maroon tanpa lengan.


"Maaf, aku bangun terlambat," ucap Arga menatap pada Vale yang terlihat begitu cantik dan mempesona.


Sayang sekali, kau sedang mengagumi calon istri pria lain, Arga!


Dasar bodoh!


Arga membatin dan merutuki dirinya sendiri.


"Kau sepertinya benar-benar lelah, jadi kami juga tidak mau mengganggu tidur nyenyakmu!" Ujar Vale yang kini sudah mendekat ke arah tempat tidur Arga.


Arga tentu saja langsung salah tingkah. Namun saat Vale mengulurkan kedua lengannya ke arah Vaia, Arga mendadak ingin menenggelamkan dirinya ke dasar bumi yang paling dalam.


Ternyata Vale mau mengambil Vaia.


Kenapa Arga geer sekali?


"Itu ada beberapa baju ganti, kau bisa mandi dulu lalu ke ruang makan untuk sarapan," ucap Vale yang kini sudah menggendong Vaia.


Dagu Vale menunjuk ke arah meja rias di kamar Arga yang di atasnya terdapat beberapa kemeja, kaus, dan celana.


"Aku akan membawa Vaia ke halaman belakang untuk menggambar pemandangan," sambung Vale lagi seraya berlalu keluar dari kamar Arga.


"Horee! Vaia menggambar pemandangan!" Samar-samar masih terdengar sorak gembira dari Vaia.


Arga menggaruk tengkuknya sendiri yang tak gatal dan segera beranjak dari atas tempat tidur. Pria itu menutup pintu kamar, dan segera pergi mandi dan mjngkin Arga tak perlu sarapan karena ia bangun kesiangan.


Memalukan sekali, Arga!


Sudah menginap di rumah orang, malah kesiangan!


.


.


.


Emily UP siang.


Mau rapat dan rapotan dulu othornya 😄


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.