
Rumah Arga.
"Bunda! Bunda dimana?"
"Vaia mau ketemu bunda!"
Arga yang belum tidur dan masih berbaring di sofa ruang tengah, samar-samar me dengar igauan dari Vaia yang tidur di dalam kamarnya.
"Bunda! Vaia kangen sama bunda! Vaia mau ikut bunda!" Racau Vaia sekali lagi.
Arga beranjak dari tempatnya dan membuka pintu kamar Vaia perlahan. Putri Arga itu terlihat menggigil di atas tempat tidurnya dan tak berhenti meracau memanggil-manggil sang bunda. Entah bunda kandungnya yang ia panggil, atau bunda Vale.
"Vaia!" Panggil Arga lembut setaya memeriksa kening Vaia.
Arga langsung terlonjak kaget mendapati Vaia yang tubuhnya terasa panas sekali.
"Vaia!" Arga berusaha membangunkan Vaia yang masih menggigil dan mengigau.
"Bunda mana, Ayah? Vaia mau Bunda Vale," racau Vaia masih sambil menggigil.
"Vaia mau bobok sama bunda Vale," cicit Vaia sekali lagi sambil merintih.
Arga membenarkan posisi Vaia dan keluar kamar sebebtar untuk mengambil air, kompres, serta obat penurun panas.
"Minum dulu, Sayang!" Bujuk Arga lembut pada sang putri yang wajahnya begitu pucat.
"Minum obat, ya! Biar panasnya Vaia turun," bujuk Arga selanjutnya.
Vaia menggeleng.
"Vaia mau minum obat sama bunda."
"Bunda datang besok. Sekarang Vaia minum obat dulu!" ujar Arga yang terpaksa berdusta pada Vaia.
Arga tidak mau hal buruk terjadi pada Vaia. Putrinya ini harus minum obat agar panasnya bisa turun.
Vaia sudah selesai minum obat. Arga lanjut mengompres putrinya tersebut dan terus memantau suhu badannya. Semalaman Arga terjaga demi merawat sang putri.
****
Butik
Vale menatap bayangannya sendiri di cermin. Gaun pengantin simpel sesuai kemauan Vale kini melekat dan sudah pas dengan postur tubuh Vale yang semampai.
"Bagaimana? Gaunnya terlalu longgar atau kekecilan?" Tanya Audrey memastikan dan ikut melihat penampilan Vale sekarang.
"Tidak! Gaunnya sudah pas, Audrey!" Jawab Vale lirih.
"Wajahmu pucat, Vale! Apa kau sakit?" Tanya Audrey khawatir seraya meletakkan punggung tangannya di dahi Vale.
Sedikit hangat.
"Kepalaku hanya sedikit pusing dari pagi," jawab Vale seraya memegangi kepalanya yang terasa berdentum-dentum dan kini mata Vale sedikit berkunang-kunang.
Audrey segera membimbing Vale untuk duduk di sofa yang ada di dalam butik.
"Kau tadi sudah makan siang belum?" Tanya Audrey khawatir.
"Sudah!" Jawab Vale lirih.
"Ayo kita ganti bajumu dan aku akan mengantarmu pulang," ujar Audrey selanjutnya yang kembali membimbing Vale untuk bangkit berdiri dan mengganti gaun pengantin yang masih dipakai oleh Vale dengan baju yang tadi Vale pakai saat datang ke butik. Setelah semuanya beres, Audrey segera mengantar Vale pulang ke kediaman Rainer.
****
Audrey menuntun Vale yang terus menegangi kepalany amasuk ke dalam rumah. Suhu badan Vale juga terasa panas sekarang. Sepertinya gadis ini memang sedang sakit.
"Vale kenapa, Audrey?" Tanya mama Airin yang menyambut kedatangan Vale dan Audrey.
"Badannya demam, Tante! Kepalanya juga sakit katanya," jawab Audrey menjelaskan pada Mama Airin.
Dua wanita itu segera membawa Vale ke kamarnya yang ada di lantai dua.
"Kamu tadi sudah makan siang, Vale? Kenapa bisa mendadak demam begini?" Cecar Mama Airin khawatir pada Vale yang kini sudah berbaring di atas tempat tidurnya.
"Vale sudah makan, Ma! Vale juga nggak tahu kenapa bisa tiba-tiba sakit kepala begini," jawab Vale seraya menggigil.
"Mama akan ke bawah mengambil air untuk mengompres," Mama Airin sudah akan beranjak, namin Audrey mencegah dengan cepat.
"Biar Audrey saja, Tante! Sekalian Audrey pamit pulang," Audrey mencium punggung tangan mama Airin dan berpamitan pada Valeria.
Wanita itu keluar dari kamar dan segera menuju ke lantai bawah, menemui salah seorang maid di kediaman Rainer dan meminta membawakan air untuk mengompres ke kamar Valeria.
Audrey lanjut berjalan ke pintu utama kediaman Rainer saat ia tak sengaja berpapasan dengan Kyle yang baru tiba.
"Aku tadi menyusul ke butik, dan kata pemilik butik kau dan Vale sudah pulang. Vale kenapa?" Tanya Kyle yang membuat Audrey menghentikan langkahnya.
"Vale demam dan sakit kepala. Jadi aku cepat-cepat mengantarnya pulang. Maaf karena tidak menghubungimu terlebih dahulu," jawab Audrey dengan nada menyesal.
Kyle hanya manggut-manggut paham.
"Terima kasih karena sudah mengantar Vale pulang," ucap Kyle tulus seraya menepuk pundak Audrey.
"Ya!"
"Oh, ya! Ngomong-ngomong kau tadi sudah mencoba jas pernikahanmu?" Tanya Audrey yang kembali berbalik dan tak jadi keluar dari rumah Vale.
"Sudah! Sudah pas!" Jawab Kyle mengangguk yakin.
"Syukurlah kalau begitu! Aku hanya tinggal mengurus dekorasinya saja," ujar Audrey bernafas lega.
"Kau akan langsung pulang?" Gantian Kyle yang bertanya pada Audrey.
"Tidak! Aku masih harus ke kantor mengurus beberapa hal. Aku duluan. Bye!" Pamit Audrey seraya tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Kyle.
Kyle balas melambaikan tangan ke arah Audrey dan segera menuju ke lantai dua kediaman Rainer untuk melihat kondisi Valeria.
.
.
.
😌😌😌😌
Kapan nikahnya, sih?
Lama banget.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.