
Hari masih pagi dan matahari belum bersinar sepenuhnya, saat Arga sudah sibuk di halaman rumah Valeria dan sedang memeriksa ban serta mesin mobil pick up nya.
"Kenapa pagi-pagi sudah memeriksa mobil?" Tanya Vale yang juga sudah bangun dan kinj menghampiri Arga.
"Aku dan Vaia akan pulang pagi ini. Jadi aku harus memastikan mobilku baik-baik saja," jawab Arga tanpa sedikitpun menatap pada Valeria.
"Vaia belum bangun, Arga! Tunggulah sampai Vaia bangun dulu baru kau bisa mengajaknya pulang," saran Vale sedikit memohon.
"Vaia tidak akan mau pulang jika dia sudah bangun!" Jawab Arga seraya berlalu meninggalkan Vale yang masih mematung di halaman.
Arga sudah selesai memeriksa kondisi mobilnya.
"Jadi pulang pagi ini, Arga?" Tanya Papa Theo yang sudah berada di teras dan sepertinya hendak berolahraga pagi.
"Jadi, Om! Arga akan bersiap-siap dulu," jawab Arga mengulas senyum di bibirnya.
"Jangan lupa untuk sarapan dulu, Arga!" Pesan Papa Theo sebelum Arga masuk ke rumah dan langsung menuju ke kamarnya untuk menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa pulang.
Sebenarnya sudah sejak semalam Arga mengemasi barang-barang yang kebanyakan adalah milik Vaia yang dibelikan oleh Kyle, Ben, dan Papa Theo.
Mereka semua adalah orang-orang baik!
Valeria beruntung sekali memiliki keluarga dan calon suami yang baik. Gadis itu akan hidup bahagia setelah menikah dengan Kyle nanti. Jadi Arga dan Vaia tidak perlu lagi mengganggu hidup Vale.
Arga membawa barang-barang yang sudah ia kemasi ke dalam mobil pick up nya, dan menata semuanya di sana. Vale menyusul dan membawakan satu tas ransel yang sepertinya berisi baju-baju Vaia.
"Semuanya sudah bersih dan dicuci," ucap Vale seraya memasukkan tas ransel tersebut ke mobil Arga.
"Tadinya aku pikir, kau mungkin bisa disini barang seminggu atau dua minggu lagi bersama Vaia," gumam Vale sedikit berharap.
"Ada toko yang harus aku urus, Vale! Rasanya tidak enak jika aku pergi lama-lama dan merepotkan Paman Jo," jawab Arga memberikan alasan.
Vale mengangguk paham.
"Lagipula, kau sudah bersama keluargamu sekarang dan ingatanmu juga sudah kembali. Jadi tugasku disini sudah selesai," sambung Arga lagi memaksa untuk tersenyum pada Vale.
Wajah Vale mendadak berubah menjadi raut sendu.
"Kau akan membawa Vaia ke rumah ini lagi kapan-kapan? Vaia terlihat senang berada disini" Tanya Vale sedikit berharap.
"Aku tidak janji. Akau akan sibuk di toko setelah kami pulang nanti, jadi mungkin aku tidak akan ada waktu untuk pergi jauh lagi," jawab Arga mengendikkan bahunya dengan ragu.
Vale hanya mendesah kecewa, dan dua orang itu sama-sama diam sekarang.
"Kau harus sarapan dulu sebelum berangkat. Ayo!" Ucap Vale akhirnya memecah keheningan. Gadis itu menarik tangan Arga dan membawa ayah kandung Vaia itu masuk ke dalam rumah dan langsung menuju ke meja makan.
Vale juga menemani Arga menyantap sarapannya meskipun mereka berdua tak mengobrol apapun.
"Tante sudah menyiapkan bekal untukmu dan juga untuk Vaia, Arga!" Mama Airin datang dari arah dapur membawa dua kotak makanan susun.
"Kenapa harus repot-repot, Tante," jawab Arga merasa sungkan.
"Tidak repot, kok! Ada kue coklat kesukaan Vaia juga di dalam," tutur Mama Airin lagi seraya tersenyum pada Arga.
"Kau adalah keluarga, Arga! Kami benar-benar berterima kasih kepadamu karena sudah mau menampung dan merawat Vale saat dia hilang ingatan," yang ini adalah suara papa Theo.
Pria paruh baya itu kini sudah ikut duduk di meja makan bersama Arga, Valeria, dan juga mama Airin. Bekal yang tadi disiapkan oleh mama Airin juga sudah dibawa oleh salah seorang maid ke dalam mobil Arga.
"Saya senang karena akhirnya Vale bisa bertemu dengan keluarganya lagi dan menemukan ingatannya kembali," jawab Arga mengangguk dan tersenyum pada semua anggota keluarga Vale yang begitu ramah ini.
Arga melihat arloji yang melingkar di tangannya.
"Sebaiknya saya bergegas, Om, Tante," ucap Arga selanjutnya berpamitan pada Papa Theo dan Mama Airin.
"Vaia belum bangun?" Tanya Mama Airin yang sejak tadi belum melihat Vaia.
"Tidak apa! Saya akan membawanya," jawab Arga cepat yang sudah menuju ke arah tangga dan naik ke lantai dua menuju ke kamar Vale.
Vale mengekori Arga ke kamarnya,dan menatap pada Vaia yang masih terlelap.
"Tunggulah sampai Vaia bangun, Arga!" Pinta Vale sekali lagi, mengusap punggung Vaia yang sudah dibawa Arga ke dalam gendongannya.
"Aku tidak mau kesorean sampai di rumah," jawab Arga memaksa tersenyum pada Vale.
Arga kembali menuruni tangga dan Vale masih terus mengekori pria itu sambil menatap wajah Vaia yang tetap terlelap di gendongan sang ayah.
Vale merasa masih berat berpisah dari Vaia.
Arga kembali berpamitan pada Papa Theo dan Mama Airin, sebelum membawa Vaia naik ke mobilnya. Meletakkan bocah lima tahun yang masih terlelap tersebut ke atas carseat dan memasangkan sabuk pengaman.
Vale mengecup wajah Vaia berulang kali dan menyelimuti tubuh mungil itu agar tak kedinginan.
"Terima kasih untuk semuanya, Arga!" Ucap Vale yang menatap Arga dengan mata berkaca-kaca.
Arga hanya mengangguk, tersenyum tipis dan segera masuk ke mobilnya.
"Hati-hati mengemudi, dan istirahat jika merasa lelah," pesan Vale sekali lagi pada Arga yang sudah duduk di belakang kursi pengemudi.
"Ya! Semoga pernikahanmu dengan Kyle berjalan lancar. Bye!" Arga melambaikan tangan pada Vale. Dan Vale balas melambaikan tangan pada mobil Arga yang kini sudah melaju perlahan meninggalkan halaman rumah kediaman Rainer.
Vale masih menatap pada mobil pick up double kabin milik Arga tersebut, hingga mobil menghilang dan pintu gerbang kembali tertutup rapat.
Hati Vale mendadak terasa kosong.
.
.
.
Arga udah pergi gaees.
Vale nikah sama Kyle.
Trus tamat, lanjut ngerjain Audrey.
Wokeh!
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.