
Valeria memeluk hangat wanita ramah bernama Bibi May yang kini sedang menyambut kedatangannya bersama Arga dan juga Vaia.
Wanita itu terlihat cantik dan benar-benar serasi dengan Paman Jo.
"Jadi, ini yang namanya Vale? Dia benar-benar cantik!" Puji Bibi May seraya tersenyum hangat pada Vale.
"Bibi May juga cantik," Vale balik melempar pujian pada Bibi May.
"Oh, jangan memanggilku Bibi, Sayang! Aku jadi merasa tua," Bibi May dan semua orang tertawa kecil.
"Panggil May saja!"
"Rasanya sungkan," Vale meringis.
"Bagaimana jika kakak saja? Kakak May!" Usul Paman Jo memberikan ide.
"Itu lebih baik. Kakak May dan Abang Jo!" Ucap Vale yang langsung membuat Paman Jo menepuk dadanya.
"Aku jadi merasa sepuluh tahun lebih muda sekarang!" Celetuk Paman Jo yang langsung mengundang tawa semua orang.
"Abang Jo!" Vaia ikut-ikutan memanggil Abang sekarang pada Paman Jo.
"Kau tetap harus memanggil Paman, Gadis kecil!" Paman Jo menuding ke arah Vaia dan putri kecil Arga itu langsung melompat ke pangkuan sang Paman.
"Kalian menginap, kan nanti?" Tanya Bibi May penuh harap.
"Tidak!" Tolak Arga cepat.
"Iya!" Jawab Vaia dan Paman Jo serempak.
"Bagaimana dengan tokoku?" Arga masih saja keberatan.
"Tutup satu sampai dua hari tidak akan membuat tokomu bangkrut, Arga! Kau juga harus me-refresh otakmu sesekali!" Ujar Bibi May memberikan nasehat untuk Arga.
"Kami baru saja ke pantai kemarin lusa." Arga membuat pengakuan.
"Bertiga?" Tebak Bibi May tak percaya.
"Mereka sekarang keluarga cemara!" Timpal Paman Jo yang langsung membuat wajah Arga dan Vale bersemu merah.
"Vale sedikit bosan di rumah jadi aku membawanya berjalan-jalan ke pantai," Arga memberikan alasan.
"Dan aku hanya menemani Vaia yang ingin mencari kerang untuk membuat kalung," timpal Vale ikut-ikutan memberi alasan.
"Mereka kompak ternyata," ujar Bibi May yang kini tertawa renyah.
"Bukankah aku sudah bilang?" Sahut Paman Jo menatap pada sang istri.
"Vaia membawakan gambar untuk Bibi May!" Vaia menunjukkan buku gambarnya pada Bibi May.
"Wah, gambar Vaia sudah semakin bagus dan cantik!" Puji Bibi May pada keponakannya tersebut.
"Siapa yang mengajari menggambar sebagus ini?" Tanya Bibi May lagi.
Tak mungkin Arga yang mengajari Vaia menggambar, karena pria itu selalu saja berseteru dengan Vaia saat mereka membahas soal gambar Vaia.
"Bunda yang ngajarin," jawab Vaia seraya tersenyum pada Vale yang duduk tak jauh dari bibi May yang sedang memangku Vaia.
"Itu bundanya Vaia?" Tanya Bibi May sedikit menggoda putri Arga tersebut.
"Iya, Bibi! Itu bundanya Vaia yang dikirim tuhan sebagai hadiah karena Vaia sudah menjadi anak yang baik selama ini!" Celoteh Vaia yang langsung membuat semua orang di dalam ruangan tersebug terdiam.
"Bunda pinter masak, Bibi! Setiap hari Bunda selalu memasak menu yang beda-beda buat Vale dan buat ayah," cerita Vaia lagi pada sang bibi yang masih menyimak dengan antusias.
"Jadi Vaia udah nggak pernah sarapan nasi goreng Ayah terus setiap pagi, ya?" Tanya Bibi May yang langsung dijawab Vaia dengan gelengan kepala.
"Sarapan nasi goreng?" Tanya Vale tak mengerti.
Arga dan Paman Jo sudah berpindah ke teras dan melanjutkan obrolan mereka di sana sembari bermain catur.
Kini di ruangan ini hanya tinggal Bibi May, Vale, dan Vaia.
"Jadi sebelum kamu datang ke rumah Arga, Vaia sarapannya hanya nasi goreng buatan Arga setiap pagi. Kadang juga hanya roti pakai selai," jelas Bibi May pada Vale.
"Kenapa Bibi May tidak tinggal di dekat mereka saja, agar bisa merawat Vaia?" Tanya Vale penasaran.
Bibi May juga kelihatannya tidak punya anak dan hanya berdua dengan Paman Jo di rumah ini. Tapi rumah Bibi May ini memang berada di kawasan pemukiman dan dekat ddnagn tetangga. Tidak seperti rumah Arga yang menyendiri dan jauh dari rumah warga yang lain.
"Aku tidak bisa banyak bergerak, Vale! Kau lihat!" Bibi May menunjuk kecarah kursi roda yang tidak tidak Vale sadari keberadaannya di dekat Bibi May sejak tadi.
Oh, ya ampun!
Ternyata Bibi May tidak bisa berjalan. Pantas saja sejak Vale datang tadi wanita ini terus duduk di kursi.
Kenapa Vale tak menyadarinya?
"Bibi May sendirian saat Paman Jo ke toko?" Tanya Vale sedikit bingung.
Vale hanya membulatkan bibirnya.
"Dulu saat Vaia belum genap setahun, aku yang merawatnya disini, lalu setelah Vaia umur setahun dan sudah bisa berjalan, Arga membawanya pulang dan merawatnya sendiri."
"Biasanya sebulan dua kali Arga mengajak Vaia menginap disini," Bibi May mengusap lembut kepala Vaia yang sudah sibuk dengan kertas gambarnya.
"Vaia tidak pernah merasakan kasih sayang bundanya sejak baru lahir," Bibi May mengusap air mata yang menggenang di pelupuk matanya.
"Arga seperti tak pernah ada niat mencari bunda pengganti untuk Vaia," cerita Bibi May dengan raut wajah sedih.
"Padahal kalau dipikir-pikir, Arga itu masih muda. Usianya baru genap tiga puluh tahun. Dan Vaia juga butuh kehadiran seorang bunda. Meskipun Arga memberinya kasih sayang berlimpah, tetap saja tidak akan sama," sambung Bibi May lagi.
"Bibi! Ini Vaia, ini bunda Vale dan ayah, dan ini Paman dan Bibi," Vaia menunjukkan gambarnya pada Bibi May.
Vale ikut melihat gambar gadis kecil itu.
"Dan ini?"
"Bunda yang di surga!" Sama persis dengan jawaban Vaia tempo hari saat Vale bertanya kepada gadis kecil ini. Jelas sudah, kalau Vaia memang rindu kehadiran seorang bunda di sampingnya.
"Boleh buat Bibi gambarnya?" Tanya Bibi May merayu Vaia.
"Ya! Vaia akan menempelkannya di-" netra kecil itu berkeliling ruangan mencari temlat yanb pas untuk menempelkan gambarnya.
"Di sana!" Bibi May menunjuk ke sisi dinding di bawah foto pernikahan Paman Jo dan Bibi May.
"Bunda akan bantu menempelkannya," Vale sudah beranjak dari duduknya.
"Selotipnya di dalam laci, Vale!" Ucap bibi May menunjuk pada meja kecil di sudut ruangan.
Segera Vale mengambil selotip untuk menempelkan gambar hasil karya Vaia ke dinding.
"Gambar abstrak lagi?" Celetuk Arga yang baru masuk ke dalam rumah di sudul oleh Paman Jo.
"Bukan gambar abstrak, Ayah!" Cebik Vaia merengut pada Arga.
"Ini bukan gambar abstrak, Arga! Bisakah kau menghargai karya putrimu?" Vale ikut mengomeli Arga.
"Ayah menyebalkan!" Vaia masih merengut.
"Ck! Ada yang ngambek! Besok Paman Jo dan Bibi May mau pergi jalan-jalan. Vaia mau ikut?" Arga merayu sang putri.
"Ayah dan bunda nggak ikut?" Tanya Vaia menyelidik.
"Ayah ada urusan sedikit bersama bunda," Arga berbisik di telinga Vaia.
Gadis kecil itu langsung tersenyum seolah paham dengan rencana sang ayah.
"Vaia mau ikut Paman dan Bibi besok!" Sorak Vaia bersemangat.
"Kalau begitu, Vaia harus tidur cepat malam ini, agar besok tidak kesiangan dan tidak ditinggal oleh Paman dan Bibi!" Arga membopong tubuh Valeria dan membawa gadis kecil itu masuk ke salah satu kamar.
"Vaia mau tidur sama bunda!"
"Istirahatlah, Vale!" Titah Bibi May pada Vale yang hanya mengangguk.
Vale segera menyusul Arga dan Vaia masuk ke dalam kamar.
Arga sudah mengganti baju Vaia denagn piyama dan kini pria itu sedang membenarkan posisi Vaia.
"Bunda!" Panggil Vaia pada Vale yang baru masuk ke dalam kamar.
"Tidurlah bersama Vale disini!" Arga sudah bangkit berdiri.
"Kau tidur dimana?" Tanya Vale menatap pada Arga yang juga tengah menatapnya.
Tatapan mereka berdua bertemu.
"Di sofa depan," jawab Arga cepat.
"Jangan lupa pakai selimut, hawanya dingin!" Pesan Vale yang langsung membuat Arga tersenyum dan mengangguk.
"Dan pakai jaket!" Imbuh Vale lagi yang membuat senyuman di bibir Arga kian lebar.
"Ya! Aku tidak akan lupa," jawab Arga sebelum pamit keluar dan menutup pintu.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.