
Mobil pick up Arga masih melaju dengan kecepatan sedang membelah jalanan beraspal yang tak lagi berkelok-kelok seperti sebelumnya. Pemandangan yang ada di kiri kanan jalan juga sudah berbeda sekarang, dan Vale masih asyik menikmati semua pemandangan yang dilalui oleh mobil Arga.
Vaia sudah tertidur di jok belakang mobil. Mungkin karena tadi mereka berangkat pagi-pagi, Vaia jadi sudah mengantuk lagi sekarang.
"Apa masih jauh, Arga? Kita mau kemana?" Tanya Vale karena Arga tak kunjung memberitahunya sejak tadi mereka mau kemana.
Dan ini sudah hampir tengah hari.
"Kita isi bahan bakar dulu sekalian makan siang dan istirahat," ujar Arga seraya membelokkan mobilnya ke sebuah pom bensin.
****
Arga mengangsurkan kertas selebaran tentang Vale, yang ia temukan di kantor polisi kemarin pada Vale.
Saat ini, Arga dan Vale baru selesai makan siang, dan Vaia yang masih mengantui, masih bergelayut di pangkuan Arga.
"Ini apa?" Tanya Vale bingung.
"Bacalah!" Titah Arga seraya mengendikkan dagunya ke arah kertas yang tadi terlipat dan sekarang sudah dibuka oleh Vale.
Vale membaca tulisan demi tulisan di dalam kertas tersebut dan raut wajah Vale hanya datar.
Aneh sekali!
"Kau ingat sesuatu?" Tanya Arga penuh harap. Namun Vale hanya menggeleng dan lanjut menyesap minumannya.
"Apa ini artinya, kau akan mengantarku pulang dan aku tidak akan tinggal bersamamu dan Vaia lagi?" Tanya Vale menatap Arga dengan tatapan sendu.
Arga tidak tahu, kenapa Vale mdnjadi sedih hanya karena Arga mengantarnya pulang. Bukankah seharusnya Vale bahagia, karena akan bertemu keluarganya tak lama lagi? Dan mungkin juga Vale akan menemukan kembali ingatannya nanti.
"Kau akan kembali pada keluargamu, Vale!" Ucap Arga ddnagn nada lebit, seraya menggenggam tangan Vale yang ada di atas meja.
"Mereka mau menjodohkanku dengan seseorang yang tidak aku kenal dan menjadikan aku penebus hutang!" Tutur Vale tiba-tiba yang sontak membuat Arga terkejut.
"Apa?"
"Setelah kau bertanya kepadaku tempo hari tentang siapa Valeria Rainer, aku mendapatkan mimpi yang sama selama dua malam."
"Dalam mimpiku, ada seorang wanita tua. Iya, wanita tua yang mengatakan kalau aku ini hanya anak hasil pemerkosaan, aku anak pembawa sial karena aku sudah membuat bangkrut perusahaan keluarga. Jadi, aku harus bertanggung jawab dan menikah dengan seseorang demi melunasi hutang," cerita Vale dengan airmata yang sudah bercucuran.
"Aku tidak mau pulang, Arga! Aku tidak mau pulang!" Ucap Vale memohon pada Arga.
"Ayo kita pulang ke rumahmu saja!" Pinta Vale sekali lagi yang masih menggenggam erat tangan Arga.
Arga masih diam dan mendadak menjadi dilema.
Apa benar keluarga Vale sekejam itu?
Arga berpindah tempat dan ganti duduk di samping Vale. Pria itu menghela nafs panjang sebelum berusaha menenangkan Vale yang masih menangis.
"Bunda kenapa menangis?" Tanya Vaia yang sudah turun dari pangkuan Arga dan ganti minta pangku pada Vale.
"Enggak, Sayang! Bunda hanya kepedasan tadi karena kebanyakan makan sambal," jawab Vale memberi alasan.
"Vaia mau makan?" Tawar Vale lada putri Arga tersebut.
Vaia hanya mengangguk-angguk, dan Vale segera mendudukkan Vaia di kursi tersendiri, lalu membiarkan Vaia menikmati makan siangnya sendiri karena Vaia menolak untuk disuapi.
"Begini!" Arga akhirnya buka suara setealah Vaia fokus pada makanannya dan Vale berhenti menangis.
Arga mendekatkan kursinya pada Vale, lau meraih tangan gadis itu.
"Aku akan mengantarmu sampai ke rumah, lalu kita cari tahu apa benar keluargamu memang sekejam itu."
Vale hendak protes, namun Arga sudah kembali melanjutkan kalimatnya.
"Aku tidak akan meninggalkanmu begitu saja, Vale!" Arga mengusap lembut pipi Vale dan merapikan anak rambut yang berserakan di wajah Vale.
"Kau harus bertemu keluargamu dulu, oke!" Bujuk Arga sekali lagi pada Vale.
Vale akhirnya mengangguk-angguk dan menyandarkan kepalanya ke pelukan Arga.
"Tapi kau harus berjanji, kalau kau akan menemaniku sekama aku menejui keluargaku," pinta Vale mengajukan syarat.
"Iya, aku berjanji," jawab Arga seraya mengusap lembut kepala Vale yang masih bersandar di pelukannya.
Hati Arga rasanya menghangat, memeluk Vale seperti ini.
Vaia yang sedang menikmati makanannya, melirik sekilas pada ayah dan bundanya yang sedang berpelukan dan tersenyum senang. Gadis kecil itu memejamkan mata dan bibir mungilnya komat-kamit merapalkan doa serta harapan agar ayah dan bundanya tak lagi berpisah, dan mereka akan pulang lagi bertiga nanti.
****
Setelah makan dan beristirahat, Arga, Vale, dan Vaia kembali melanjutkan perjalanan mereka. Vale tertidur di samping Arga saat mobil mulai memasuki kawasan kota metropolitan.
"Wow! Gedungnya tinggi-tinggi, Ayah!" Ucap Vaia kagum dari jok belakang.
Sejak bayi, Vaia memang tak pernah melihat pemandangan gedung-gedung pencakar langit.
"Apa rumah orang tua Bunda masih jauh, Ayah?" Tanya Vaia lagi yang sejak tadi tak berhenti bertanya banyak hal pada Arga.
"Sebentar lagi sampai sepertinya. Ayah akan bertanya dulu pada seseorang agar kita tidak tersesat, oke!" Jawab Arga seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling jalan. Mencari orang yang sekiranya bisa ditanyai letak perumahan tempat orang tua Vale tinggal.
Netra Arga tak sengaja menangkap sebuah bangunan resto di seberang jalan yang berdiri kokoh dan terlihat mewah dengan papan besar bertuliskan "Rainer's Resto".
"Kau tahu siapa Valeria Rainer?"
"Mungkin putri dari pemilik Rainer's Resto yang terkenal itu."
Mungkinkah itu resto mewah milik keluarga Vale?
Arga turun dari mobilnya dan bertanya pada seorang pedagang kaki lima di pinggir jalan. Setelah mendapatkan petunjuk, Arga kembali melajukan mobilnya. Vale masih terlelap di samping Arga, dan Vaia sedang sibuk denagn keripik kentangnya di jok belakang mobil.
Mobil Arga berbelok ke sebuah perumahan. Sesuai petunjuk di selebaran, Arga menghentikan mobilnya tepat di depan rumah nomor sepuluh. Pagar besi yang tertutup rapat, berdiri kokoh melindungi rumah tersebut.
"Apa itu rumah orang tua bunda, Ayah?" Tanya Vaia masih sambil mengunyah keripik kentangnya.
"Entahlah! Ayah akan turun dan bertanya. Kau tetap disini menemani bunda, ya!" Pesan Arga seraya mengusap kepala sang putri.
"Siap, Ayah!" Tangan Vaia membentuk tanda hormat.
Arga turun dari mobil, dan segera menuju ke arah pos satpam yang ada di depan rumah besar tersebut.
"Ada yang bisa dibantu, Pak?" Tanya seorang satpam yang berjaga.
"Apa benar ini kediaman Rainer?" Tanya Arga to the point.
"Iya, benar. Ini memang kediaman Rainer. Bapak ingin bertemu dengan siapa?"
Bim bim!
Arga belum jadi menjawab pertanyaan dari Pak Satpam, saat sebuah klakson mobil yang hendak masuk ke halaman, membuat satpam bergegas membuka lebar pagar besi di depan kediaman Rainer.
Mobil berhenti sejenak di depan pos satpam dan kaca pengemudi diturunkan.
Arga bisa melihat pria paruh baya yang duduk di kursi pengemudi dan sedang berbicara pada satpam. Sebelum akhirnya satpam tadi memanggil Arga dan minta Arga untuk mendekat ke arah mobil yang baru masuk.
Dan rupanya, pria paruh baya itu tak sendiri. Ada seorang wanita paruh baya juga di sebelahnya yang wajahnya mirip Vale.
Apa itu ibunya Vale?
Arga masih mematung di tempatnya, saat tiba-tiba pertanyaan dari pria paruh baya yang duduk di dalam mobil tadi, menyentak lamunan Arga.
"Mencari siapa?" Tanya pria paruh baya tersebut.
"An-anda Tuan Rainer?" Tanya Arga sedikit tergagap.
"Iya! Apa ada sesuatu?" Tanya pria yang merupakan Papa Theo tersebut dengan nada ramah.
Arga menatap sejenak ke arah mobilnya yang masih terparkir di luar pagar, sebelum pria itu mengeluarkan selebaran yang berusi info tentang Vale dan menunjukkannya pada Papa Theo.
"Saya mengantar Valeria pulang, Tuan," ucap Arga seraya menatap pada Papa Theo, yang kini menatapnya dengan tajam.
Mama Airin yang duduk di sebelah Papa Theo langsung ikut menatap pada Arga.
"Dimana Valeria?" Tanya Mama Airin tak sabar.
Wanita paruh baya tersebut juga sudah turun dari mobil mengikuti Papa Theo yang sudah terlebih dahulu turun dan mencengkeram kerah kemeja Arga
"Jangan bercanda kamu!" Gertak Papa Theo antara percaya dan tidak percaya.
"Valeria mengalami amnesia," ucap Arga memberikan laporan pada papa Theo.
"Dan dia ada di dalam mobil di sana!" Arga menunjuk ke arah mobil pick up miliknya yang masih terparkir di luar pagar.
Mama Airin dan Papa Theo langsung bergegas menghampiri mobil Arga untuk memastikan bahwa Arga tidak sedang berbohong.
Seorang gadis berambut sebahu, sudah berdiri di luar mobil seraya menggendong seorang anak berusia lima tahun.
"Valeria!"
.
.
.
Ada yang digantung tapi bukan jemuran 😂😂
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.