
Kediaman Rainer.
"Vale, kau sudah siap?" Tanya Mama Airin pada Valeria yang melamun di kamarnya.
"Sudah, Ma! Kita berangkat sekarang?" Tanya Vale tergagap menjawab pertanyaan sang mama.
"Iya! Ayo!" Mama Airin merangkul Valeria dan dua wanita itu keluar bersamaan dari kamar Valeria, menuruni tangga, lalu langsung menuju ke pintu utama kediaman Rainer.
Malam ini rencananya keluarga Rainer akan mengadakan acara makan malam bersama keluarga Arthur sekalian membahas pernikahan Valeria dan Kyle yang sempat ditunda karena Vale hilang.
Mobil yang membawa Valeria dan kedua orang tuanya sudah meluncur meninggalkan kediaman Rainer dan menuju ke Rainer's Resto, dimana makan malam akan berlangsung.
****
Rainer's Resto.
"Jadi, pernikahan Valeria dan Kyle akan dilaksanakan satu minggu lagi," ucap Dad Nick setelah berdiskusi dengan Papa Theo dan juga Kyle.
Valeria sendiri lebih banyak diam sejak tiba di tempat ini. Pikiran Valeria seperti tidak sedang berada di tempatnya.
"Untuk Wedding Organizer-nya bagaimana, Theo?" Tanya Dad Nick meminta persetujuan papa Theo.
"Rencananya kami akan menakai WO milik Audrey lagi, seperti rencana sebelumnya." Jawab Papa Theo.
"Baiklah! Aku juga setuju. WO-nya Audrey memang yang terbaik sejauh ini." Ujar Dad Nick yang langsung manggut-manggut setuju.
Obrolan para orang tua masih terus berlanjut.
"Kau kenapa?" Tanya Kyle merasa khawatir pada Valeria.
"Tidak apa-apa. Aku hanya sedang sariawan. Jadi sedikit malas bicara," jawab Valeria berdusta.
Valeria tidak benar-benar sariawan. Valeria hanya merasa bingung pada hatinya sekarang.
Seharusnya Valeria bahagia karena pernikahannya dengan Kyle akan digelar sebentar lagi. Tapi hati Valeria tidak merasa demikian. Hati Valeria terasa hampa dan kosong sejak Arga membawa pulang Vaia beberapa hari yang lalu. Dan sekarang Valeria merindukan Vaia.
Valeria ingin memeluk gadis kecil itu, menghirup aroma tubuhnya, dan menciumi wajah Vaia yang menggemaskan.
Ada apa dengan Valeria?
"Sudah ke dokter? Besok aku antar ke dokter, ya!" Tawar Kyle yang langsung membuat lamunan Valeria tentang Vaia menjadi buyar.
"Aku sudah minum obat dan vitamin, Bang! Jadi aku rasa tidak perlu ke dokter," jawab Valeria sedikit tergagap.
"Baiklah kalau menurutmu begitu!" Kyle merangkul Valeria dan sesekali ikut menimpali obrolan para orang tua yang masih sibuk membahas tentang pernikahan Kyle dan Valeria.
****
Rumah Arga
Sudah beberapa hari berlalu sejak kepulangan Arga dan Vaia dari kediaman Rainer. Vaia masih mendiamkan Arga dan tidak berbicara lagi pada Ayahnya tersebut.
Sekarang gadis itu sedang menggambar di teras rumah. Menggambar rumah Arga dan pohon besar di depannya. Lalu ada Vaia, Arga dan Vale yang saling bergandengan tangan.
Vaia menatap marah pada gambarnya sendiri, sebelum bocah lima tahun itu mulai mencoret-coret gambarnya dengan tak terkendali, lalu lanjut menusuk-nusuk kertas gambar tersebut hingga koyak tak berbentuk dan meremasnya dengan penuh emosi.
"Hei, Vaia! Kenapa kertasnya dirobek begitu?" Tegur Paman Jo yang langsung menghentikan tingkah Vaia yang masih menusuk-nusuk kertas gambarnya dengan pensil.
"Vaia mau bunda!" Cicit Vaia seraya menghambur ke pelukan sang Paman dan menangis terisak.
"Kapan Vaia bisa bertemu bunda, Paman? Vaia nggak nakal! Kenapa bunda Vale nggak mau lagi menjadi bundanya Vaia?" Isak Vaia sekali lagi dengan airmata yang sudah memenuhi wajahnya.
"Vaia pasti akan mendapatkan bunda lain yang baik satu hari nanti. Vaia berdoa terus pada Tuhan, ya!" Paman Jo menyeka airmata di kedua pipi keponakannya tersebut sambil membujuknya dengan lembut.
Namun Vaia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Vaia maunya bunda Vale yang jadi bundanya Vaia! Vaia cuma mau sama bunda Vale!" Cicit Vaia sekali lagi yang masih terus berurai airmata.
Arga yang menyaksikan semua adegan itu dari dalam rumah hanya bisa diam dan tidak tahu harus membujuk Vaia bagaimana lagi. Vale sudah tak mungkin kembali ke rumah ini. Bahkan mungkin Vale sudah menikah dengan Kyle sekarang.
"Kita makan dulu, ya, Vaia!" Bujuk Paman Jo seraya membawa Vaia ake dalam gendongan.
Namun Vaia menggeleng sekali lagi.
"Vaia mau makan sama bunda. Vaia mau makan ayam goreng buatan bunda. Vaia mau makan sup sayur sama kue brownies buatan bunda. Vaia mau bunda, Paman! Vaia mau ketemu bunda!" Ucap Vaia yang kembali menangis tersedu-sedu.
"Vaia nggak mau! Vaia maunya sama bunda! Vaia mau bunda!" Vaia meronta dan memaksa untuk turun dari gendongan sang paman.
Gadis kecil itu berlari masuk ke dalam rumah, menabrak Arga, lalu bangkit dan berlari lagi masuk ke dalam kamar.
Pintu kamar dibanting dari dalam, menandakan Vaia yang sedang marah dan tak mau dibujuk.
Arga masih mematung di tempatnya.
Paman Jo menghampiri Arga dan menepuk pundak sepupunya tersebut.
"Boleh aku memberi satu saran? Telepon Vale dan minta gadis itu membujuk Vaia!" Ujar paman Jo menuturkan sarannya.
"Tidak! Vaia akan terus bergantung pada Vale jika aku meneleponnya sekarang. Lagipula, aku juga tidak menyimpan nomor Vale maupun nomor keluarga Rainer. Vaia pasti akan lupa pada Vale tak lama lagi!" Jawab Arga tegas dan enggan dibantah.
"Kau sama keras kepalanya dengan Vaia, Arga! Putrimu menangis setiap hari dan tak mau makan! Sampai kapan kau akan menjadi ayah yang kejam seperti ini!" Paman Jo mulai emosi dengan sikap keras kepala Arga.
"Vaia akan makan jika dia lapar! Bukankah biasanya juga begitu?" Sergah Arga masih pada pendiriannya.
"Baiklah terserah! Aku akan pulang hari ini dan mungkin lusa baru kembali," paman Jo berlalu pergi ke arah toko dan sepertinya akan bersiap-siap untuk pulang.
****
Kantor Wedding Organizer milik Audrey
"Hai, pasangan calon pengantin!" Sapa Audrey pada Vale dan Kyle yang datang berdua ke kantor untuk membicarakan tentang konsep pernikahan mereka.
"Sudah menentukan, jadinya mau tetap tema rustic atau mau ganti ke tema yang lain?" Tanya Audrey pada Vale dan Arga yang hanya diam dan sepertinya irit bicara sekali.
"Tetap pakai tema rustic saja, Audrey. Dan aku mau gaun pengantinnya yang simpel saja. Maksudku, tidak perlu terlalu wah!" Vale merentangkan kedua tangannya memberi isyarat wah yang ia maksud pada Audrey.
"Kenapa tidak mau yang wah, Vale! Itu hari istimewa kita berdua," Kyle merasa sedikit keberatan dengan permintaan Vale.
"Akan melenceng dari tema jika aku mengenakan gaun yang ala princess itu. Jadi aku mau desainnya yang simpel saja, Bang! Biar nggak terlalu ribet juga," tukas Vale memberikan alasan.
"Baiklah! Apapun maumu, karena kau yang akan memakainya," ujar Kyle akhirnya yang memilih untuk mengalah.
"Kita bisa fitting bajunya besok atau lusa. Kau ada acara?" Tanya Audrey pada Vale.
"Besok bisa lusa juga bisa. Aku pengangguran, Audrey," jawaban Vale sontak membuat Kyle tergelak.
"Kau akan mendapat pekerjaan sebagai istri beberapa hari lagi," timpal Kyle yang masih saja tergelak.
"Bukan begitu, Audrey?" Lanjut Kyle meminta pendapat Audrey yang hanya tersenyum sejak tadi menanggapi kelakar dari Kyle.
"Iya benar!"
Kyle meraih satu brosur dari atas meja kerja Audrey karena warnanya yang cukup menarik, lalu membacanya sejenak, sembari menunggu Audrey yang tengah berduskusi dengan Vale masalah gaun pengantin.
"Jadi, WO milikmu sekarang melebarkan sayap dan mengurus event lain selain pernikahan?" Tanya Kyle seraya menunjukkan brosur yang ia baca tadi pada Audrey.
"Ya! Jika perusahaanmu ada acara seperti peresmian, atau pesta pesta lain, kau bisa menyewa jasa kami!" Jawab Audrey seraya tersenyum pada Kyle.
"Akan ada harga khusus jika kau berlangganan!" Imbuh Audrey lagi sedikit berbisik dan terkekeh.
"Baiklah! Akan ku simpan brosurnya, mungkin saja aku butuh," ujar Kyle seraya melipat brosur tadi dan memasukkannya ke dalam saku kemeja.
"Jadi besok, ya! Kita ke butik dan fitting baju pengantin," Vale dan Audrey akhirnya sudah menemukan kesepakatan waktu untuk fitting baju pengantin.
"Oke! Setelah makan siang, kita bertemu di butik," ujar Vale yang sudah bangkit dari duduknya.
Kyle ikut bangkit berdiri dan mengekori Vale yang berjalan beriringan bersama Audrey. Kyle masih sempat mengedarkan pandangannya ke ruangan Audrey yang begitu rapi dan epic.
Setelah basa-basi seperlunya pada Audrey, Kyle dan Vale akhirnya berpamitan dan meninggalkan kantor WO milik Audrey.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.