My Angel Valeria

My Angel Valeria
MARAH



Mobil Arga sudah menempuh jarak lumayan jauh. Jam di arloji arga juga dudah menunjukkan jam sepuluh pagi. Tadi Arga berangkat dari rumah Vale pukul tujuh pagi. Itu artinya, tiga jam sudah Arga mengemudi dalam diam.


Vaia yang duduk di sebelah Arga mulai menggeliat dan sepertinya bocah lima tahun itu akan bangun sebentar lagi.


"Bunda!" Panggil Vaia dengan suara serak dan mata yang masih setengah terpejam.


"Bunda!" panggil Vaia sekaki lagi karena tidak ada jawaban.


"Kau sudah bangun, Vaia?" Arga akhirnya bertanya pada sang putri yang kini sedang menggosok-gosok matanya.


"Bunda mana, Ayah?" Tanya Vaia setelah mata gadis kecil itu terbuka dan mengedarkan pandangannya ke kabin mobil yang hanya terdapat dirinya dan juga sang ayah. Bunda Vale tidak ada!


"Kau lapar? Ada banyak makanan di kursi belakang. Kita berhenti sebentar di depan agar kau bisa sarapan," tutur Arga yang tak kunjung menjawab pertanyaan Vaia tentang keberadaan sang bunda yang jelas-jelas tidak ikut mereka pulang.


Vale bukan bunda untuk Vaia lagi mulai detik ini!


"Bunda mana, Ayah?" Tanya Vaia sedikit membentak karena Arga yang tak kunjung menjawab pertanyaannya.


"Bunda sudah di surga!" Jawab Arga tegas.


"Bunda Vale! Bunda Vale di mana?" Vaia mengulangi pertanyaannya dan mata gadis lima tahun itu mulai berkaca-kaca sekarang.


Arga menepikan mobilnya sebelum menjawab pertanyaan dari Vaia.


"Bunda Vale mana, Ayah? Vaia mau sama bunda!" Rengek Vaia yang kini sudah menangis tersedu-sedu.


"Vaia, dengarkan Ayah! Bunda Vale bukan lagi bundanya Vaia! Bunda Vale akan menikah dengan Om Kyle sebentar lagi dan bunda Vale tidak akan pulang bersama kita lagi ataupun tinggal di rumah kita lagi! Bunda Vale sudah pulang ke rumahnya!" Jelas Arga dengan nada tegas seraya menatap tajam pada sang putri yang masih berurai airmata.


"Ayah yang tidak mau mengajak bunda pulang! Kenapa ayah meninggalkan bunda di rumah besar itu? Ayo kita kembali dan menjemput bunda!" Vaia menarik-narik lengan Arga dan merengek minta kembali ke rumah Valeria.


"Kita sudah jauh, Vaia! Bunda sudah pulang ke rumahnya dan tidak akan ikut kita lagi! Cobalah untuk mengerti!" Suara Arga sudah meninggi dan tangisan sang putri kian menjadi.


"Vaia mau bunda! Vaia mau bunda!" Vaia berusaha membuka pintu mobil. Namun sejak tadi Arga sudah sigap mengunci semua pintu mobil agar Vaia tidak berusaha kabur.


"Vaia mau bunda, Ayah! Vaia mau bunda!" Jerit Vaia seraya meronta-ronta di carseat-nya.


Arga memejamkan matanya sejenak, dan menghirup nafas dalam-dalam.


"Vaia, sudah cukup! Kita tidak akan kembali dan kita akan pulang ke rumah! Bunda Vald bukan bundanya Vaia lagi! Jadi duduk diam dan berhenti meronta!" Cecar Arga dengan nada galak pada sang putri.


Arga mengambil kotak susu dan kue coklat yang tadi dibawakan Mama Airin dari dalam tas bekal dan memberikannya pada Vaia yang kini sudah berhenti meronta.


Namun wajah gadis itu terlihat sangat marah pada Arga, dan Vaia menolak makanan yang disodorkan oleh Arga.


"Ayah akan menaruhnya disini!" Arga meletakkan susu dan kue diatas dashboard mobil.


"Kau bisa mengambilnya kapan saja jika kau lapar atau haus," sambung Arga lagi yang sudah kembali melajukan mobilnya membelah jalanan beraspal.


Vaia masih diam dan bersedekap. Selama perjalanan, gadis itu tak lagi berceloteh ataupun bicara sepatah katapun. Vaia hanya diam dan merengut.


Matahari sudah bergulir ke sebelah barat, saat mobil Kyle tiba di halaman rumahnya.


Paman Jo langsung menyambut sepupu serta keponakannya tersebut.


"Wah wah! Yang habiz bepergian jauh!" Paman Jo membuka sabuk oemngaman Vaia dan membantu gadis kecil itu untyk turun.


"Ada apa dengan Vaia?" Tanya Paman Jo tak mengerti.


"Dia mau bundanya," jawab Arga lirih seraya menurunkan barang-barang dari atas mobil.


"Kau teleponkan Vale coba!" Usul Paman Jo memberi saran pada Arga.


"Tidak! Vale akan mrnikah denagn calon suaminya, dan aku tidak mau Vaia terus bergantung pada gadis itu! Vaia akan lupa pada Vale tak lama lagi!" Jawab Arga tegas menatap tajam pada Paman Jo yang kini mrngangkat kedua tangannya.


"Baiklah! Aku hanya memberimu saran! Aku akan ke toko saja melayani pembeli!" Paman Jo berlari ke arah toko lagi karena ada sebuah bus yang berhenti di toko.


Arga lanjut menurunkan semua barang yang dibawakan oleg keluarga Vale, dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Vaia tak terlihat lagi dan pintu kamar gadis lima tahun itu tertutup rapat. Vaia tidak pernah menutup pintu kamar sebelumnya.


"Vaia, apa kau lapar?" Arga mengetuk pintu kamar sang putri, namun tak ada jawaban.


"Vaia!" Panggil Arga sekali lagi seraya membuka knop pintu kamar tersebut.


Vaia terlihat duduk di tepi tempat tidur dan menatap kosong ke arah jendela kamar.


"Vaia!" Arga duduk di sebelah Vaia dan merangkul sang putri yang hanya diam membisu.


"Vaia mau makan?" Tanya Arga lembut.


"Vaia mau makan bareng bunda!" Jawab Vaia yang masih keras kepala.


Arga menghela nafas dalam-dalam dan mengusap wajahnya sendiri, berusaha mengumpulkan kesabaran.


"Vaia, Ayah minta maaf jika tadi ayah betkata kasar kepadamu! Tapi satu hal yang harus kau ingat, bunda tak akan pulang lagi ke rumah ini! Bunda Vale itu bukan bundanya Vaia! Dia akan menikah dengan Om Kyle!" Cecar Arga mencoba memberi pengertian pada Vaia.


"Vaia mau bunda!" Ucap Vaia sekali lagi yang seakan tak punya kalimat lain untuk diucapkan.


Kenapa putri Arga ini keras kepala sekali?


"Terserah saja! Bunda Vale tidak akan pernah menjadi bundamu, Vaia!" Arga yang sudah hilang kesabaran langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Vaia.


"Ayah akan menyiapkan makan malam di meja! Kau bisa makan kapan saja jika kau lapar!" Pungkas Arga sebelum keluar dari kamar sang putri.


"Vaia tidak akan makan sebelum bertemu bunda!" Teriak Vaia dari dalam kamarnya yang hanya diacuhkan oleh Arga.


.


.


.


Puas kalian, wahai tim Kyle-Vale?


Terimakasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.