
Tengah malam Vale terbangun dari tidurnya dengan tubuh penuh peluh karena bermimpi buruk tentang Vaia.
Vale bahkan tak berani lagi memejamkan matanya setelah itu dan terus terjaga semalaman. Pernikahannya dengan Kyle akan dilaksanakan lusa, namun pikiran Vale tak bisa lepas dari memikirkan Vaia dan Arga.
Vale mendadak merasa bingung pada hati dan pikirannya sendiri.
Vale seakan sudah kehilangan fokus pada hubungannya bersama Kyle. Tapi Vale juga tak mungkin membatalkan pernikahan ini begitu saja. Ada banyak hati yang harus dijaga. Ada dua keluarga yang hubungannya akan hancur jika Vale membatalkan pernikahan ini secara tiba-tiba.
Keluarga Kyle sudah mau menerima Vale apa adanya, meskipun ucapan Mom Bi tempo hari sempat membuat hati Vale sedikit goyah. Tapi bukankah Kyle sudah meyakinkan kedua orangtuanya dan mereka sudah percaya sekarang?
Jadi sebaiknya Vale melupakan kata-kata Mom Bi tempo hari.
Flashback dua hari sebelumnya.
Vale masih setengah terpejam karena kepalanya yang masih sakit, saat samar-samar Vale mendengar Kyle yang sedang bicara dengan seseorang di telepon. Kyle memang masih berada di kamar Vale dan menjaga Vale yang sakit.
"Hanya demam dan pusing biasa kata dokter, Mom! Mungkin besok sudah baikan."
"Kau tidak minta Vale melakukan tes? Mungkin dia hamil."
"Apa maksud Mom? Kyle dan Vale tidak pernah berbuat hal-hal yang melanggar norma! Kyle bukan pria brengsek seperti Sean!"
"Bukan denganmu, tapi dengan Arga! Vale tinggal selama sebulan di rumah Arga dan gadis itu hilang ingatan. Apapun bisa terjadi, Kyle!"
"Maksud Mom, Vale berselingkuh dengan Arga di belakang Kyle begitu?"
"Vale kehilangan ingatannya dan tidak ingat kalau dia sudah punya calon suami. Pria dan wanita dewasa tinggal bersama di sebuah rumah, lalu saling merasa nyaman, lalu jatuh cinta."
"Kyle percaya pada Vale, Mom!" Suara Kyle sedikit ragu saat mengucapkannya.
"Vale dan Arga tidak mungkin bertindak sejauh itu. Arga hanya merawat Vale dan tidak mungkin melakukan hal lain pada Vale."
"Baiklah kalau menurutmu begitu, Kyle! Tapi ada baiknya kau tanyakan dulu baik-baik pada Vale sudah sejauh apa Vale menjalin hubungan dengan Arga. Maksud Mom, jangan sampai hal ini menjadi duri dalam rumah tanggamu nanti bersama Vale saat ternyata kau mendapati hal-hal yang di luar dugaanmu."
"Kyle akan membicarakannya dengan Vale nanti, Mom."
Vale kembali memejamkan matanya dan pura-pura tidur saat Kyle selesai bicara dengan Mom Bi di telepon.
Flashback off
Kyle nyatanya tidak pernah membahas atau bertanya pada Vale tentang sejauh apa hubungan Vale dan Arga selama sebulan mereka bersama setelahnya. Dan persiapan pernikahan Vale dan Kyle terus berjalan, meskipun Vale masih harus bedrest dua hari ini.
Mom Bi dan Dad Nick juga sempat menjenguk Vale ke rumah dan sikap mereka biasa saja seolah tak terjadi apapun. Sikap Kyle juga tak berubah sedikitpun pada Vale, jadi Vale memilih melupakan kata-kata Mom Bi yang sempat berprasangka buruk pada Vale. Dan Vale kembali memantapkan hatinya untuk Kyle.
Fokus pada Kyle, Vale!
Berhentilah memikirkan Arga ataupun Vaia!
Kyle calon suamimu!
Vaia pasti sudah baik-baik saja sekarang dan mungkin sudah lupa pada Vale.
Vaia akan mendapatkan Bunda lain yang lebih baik dan lebih menyayanginya.
Dan soal mimpi buruk Vale, itu pasti hanya bunga tidur karena Vale terlalu khawatir pada Vaia dan terlalu memikirkan kata-kata Mom Bi tempo hari.
Ya ampun!
Kenapa pikiran Vale malah jadi kalut begini?
Vale mengusap wajahnya sebelum beranjak dari atas tempat tidur dan membawa gelasnya yang kosong keluar dari kamar. Jam menunjukkan pukul satu malam. Vale menuruni tangga dengan hati-hati dan segera menuju ke dapur untuk mengambil air minum.
"Kak, belum tidur?" Sapaan dari Ben membuat Vale terlonjak kaget.
"Kau mengagetkanku, Ben!" Gerutu Vale sedikit sebal.
Ben hanya terkekeh dan ikut duduk di kursi ruang makan. Memperhatikan Vale yang sedang menuang air minum ke dalam gelasnya.
"Kau punya nomor Arga?" Tanya Vale tiba-tiba pada Ben yang langsung menggeleng.
"Aku mimpi buruk soal Vaia, dan hanya ingin memastikan keadaan bocah itu. Entahlah, aku benar-benar khawatir," ucap Vale mengungkapkan kegelisahannya pada Ben.
"Vaia pasti baik-baik saja, Kak!" Ben menepuk pundak Vale mencoba menenangkan kakaknya tersebut.
Vale hanya mengangguk dan meneguk air minum di gelasnya hingga tandas.
****
"Bunda! Bunda Vale mana, Ayah!" Vaia masih tak berhenti mengigau setiap malam.
Demam gadis kecil itu masih saja naik turun Meskipun Arga sudah membawanya lagi ke dokter.
Ini sudah hampir seoekan dan kondusi Vaia seolah tak ada kemajuan. Gadis itu seakan sedang mengalami tekanan batin yang teramat sangat.
"Vaia tidak butuh obat atau dokter! Vaia membutuhkan Vale, Arga!"
Ucapan Paman Jo kembali berkelebat di benak Arga.
"Kalau Bunda Vale tidak mau menjadi Bundanya Vaia, Vaia mau ke surga saja menyusul Bunda," igauan Vaia kali ini benar-benar membuat Arga menjadi resah.
Apa maksudnya Vaia mau ke surga menyusul bundanya?
Vaia mau menyusul Tania?
"Vaia!" Arga mengguncang tubuh Vaia yang kini wajahnya tampak memucat.
"Vaia bangun, Sayang!" Mohon Arga dengan kepanikan yang luar biasa.
"Vaia kenapa, Arga?" Paman Jo sudah masuk ke kamar Vaia untuk memeriksa keponakannya.
"Entahlah, dia semakin meracau dan demamnya masih tak mau turun," jasab Arga bingung.
"Temui Vale sekarang, Arga! Jangan egois begini!" Ujar Paman Jo memberikan nasehat pada Arga.
"Aku tidak egois! Aku hanya tidak mau mengganggu hidup Vale yang sudah bahagia bersama Kyle sekarang!" Sergah Arga keras kepala.
"Vale tidak mungkin menjadi bunda Vaia sampai kapanpun!" Sambung arga lagi antara marah dan frustasi.
"Aku tidak menyuruhmu menjadi pengganggu hubungan Vale dan calon suaminya. Aku menyuruhmu membawa Vaia bertemu dengan Vale, lalu minta Vale yang bicara pada Vaia dan memberikan pengertian secara baik-baik pada Vaia kalau kini Vale tidak akan bisa lagi menjadi bunda untuk Vaia!"
"Vale lebih paham bagaimana harus membujuk putrimu! Dan Vaia akan mengerti jika Vale yang bicara langsung kepadanya!"
"Ini semua salahmu karena kau membawa Vaia pulang saat bocah itu masih terlelap kemarin. Kau tidak memberi kesempatan Vaia untuk berpamitan pada Vale. Lalu kau membentak-bentak Vaia saat dia menanyakan dimana Vale!"
"Sekarang keputusan ada di tanganmu! Bawa Vaia bertemu Vale, atau kau biarkan bocah kecil yang terluka batinnya itu menyusul bundanya ke surga!" Cecar Paman Jo panjang lebar yang benar-benar menusuk hati Arga.
****
Hari masih gelap dan mentari belum menunjukkan sinarnya, saat Arga memanaskan mesin mobilnya, dan memasukkan semua keperluan Vaia ke dalam mobil.
Arga menyelimuti tubuh sang putri dan menggendongnya masuk ke dalam mobil.
Tak berselang lama, mobil pick up Arga sudah melaju menembus dinginnya udara pagi menuju ke sebuah kota nun jauh disana.
Ini semua demi Vaia!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.