
Valeria sedang berada di sebuah taman bunga dengan nuansa serba putih yang terlihat sangat asing.
Ini dimana?
Valeria terus menyusuri jalan setapak ng ada di depannya tanoa tahu, jalan itu akan mengarah dan mengantarnya kemana. Valeria berjalan madih sambil menyapukan pandangannya ke kiri dan kanan, namun semua yang terkihat hanyalah kabut tipis berwarna putih dan hamparan bunga yang seperti tak berujung.
Dimana Valeria sebenarnya?
Vale menghentikan langkahnya saat melihat seorng wanita berambut sebahu, sama seperti dirinya sedang duduk di ayunan dan menatap kosong ke depan. Valeria mengenali wajah itu, meskipun belum pernah sekalipun bertemu dengan si pemilik wajah.
"Tania!" Sapa Valeria pada mama dari Vaua tersebut.
Tapi bukankah Tania sudah meninggal?
Lalu kenapa Vale bisa menemui wanita ini sekarang?
Apa Vale juga sudah meninggal?
"Hai, Vale! Aku tak menyangka kita bisa bertemu di sini," jawab Tania seraya tersenyum pada Vale.
Wanita itu masih duduk di tempatnya semula, di ayunan yang ada di taman serba putih tersebut. Dan Vale ikut duduk di bangku yang tak jauh dari Tania.
"Tania, apa kau sedang menemuiku? Atau aku yang memang sudah menyusulmu?" Tanya Vale tak mengerti.
Namun bukannya menjawab, Tania hanya tersenyum lebar dengan pertanyaan Vale yang mungkin terdengar konyol tersebut.
"Kau terlihat sangat akrab dengan Vaia, Vale!" Ucap Tania tiba-tiba bersamaan dengan senyum di bibirnya yang sedikit memudar.
"Vaia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang bunda sejak ia bayi. Vaia juga tidak pernah dekat dengan wanita manapun sebelumnya selain Bibi May." Tania mulai bercerita.
Dan seolah sedang memberikan kesempatan, Vale memilih diam dan menyimak saja.
"Tadinya aku pikir, kau mungkin adalah calon bunda yang baik untuk Vaia. Kau begitu menyayangi Vaia, kau begitu memahami Vaia, aku sangat bahagia karena akhirnya Vaia akan mendapatkan seorang bunda dan hidupnya akan menjadi lengkap."
"Aku tidak bisa menjadi bunda untuk Vaia, Tania!" Sela Valeria dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Maaf, bukan aku tak mau menjadi bunda untuk Vaia, tapi aku tidak bisa!" Suara Valeria tercekat di tenggorokan.
"Ya, aku paham hal itu!" Tania mengulas senyum di bibirnya.
"Kau sudah terikat janji dengan seorang pria dan akan menikah beberapa hari lagi," lanjut Tania yang masih mengulas senyum di bibirnya.
"Vaia akan mendapatkan bunda lain yang lebih baik dan menyayanginya sepenuh hati," ujar Valeria yang airmatanya sudah tak terbendung lagi.
"Vaia sebelumnya tidak pernah dekat dengan seorang wanita, seperti saat Vaia begitu dekat denganmu, Vale."
"Vaia begitu menyayangimu. Dan kau juga begitu menyayangi Vaia. Tapi itu tak bisa kujadikan alasan untuk tetap memintamu menjadi bundanya Vaia. Kau punya hak untuk menentukan jalan hidupmu sendiri," ucap Tania seraya menatap jauh ke depan.
"Dan kau sudah mengambil keputusan untuk menikah dengan pria yang kau cintai. Jadi aku harus menghargainya. Semoga pernikahanmu lancar, Vale!" Tania beranjak dari atas ayunan dan berjalan ke arah kabut yang mendadak muncul.
Wanita itu terus berjalan hingga akhirnya tidak terlihat lagi. Kini hanya tinggal Vale sendiri di tempat ini. Hanya ada Vale dan kesunyian, hingga tiba-tiba Vale bisa mendengar suara mungil Vaia yang memanggil-manggil namanya.
"Bunda! Bunda Vale dimana?"
"Bunda, Vaia mau bobok sama bunda!"
"Bunda! Jangan pergi, Bunda! Vaia mau ikut bunda Vale!"
Suara itu terus terdengar namun Vale tak melihat Vaia dimanapun.
"Vaia! Vaia, kau dimana, Sayang!"
"Vaia!" Vale memanggil-manggil Vaia yang suaranya terdengar semakin pelan dan akhirnya hilang sama sekali.
"Vaia!" Vale tak berhenti memanggil-manggil Vaia yang entah berada di mana.
"Vaia, bunda disini, Sayang! Kau ada dimana?"
Valeria masih mengigau dalam tidurnya dan tak berhebti memanggil-manggil nama Vaia. Demam gadis itu belum turun sejak Audrey mengantarnya pulang siang tadi.
"Vale!" Mama Airin yang sejak siang terus menjaga Vale berusaha membangunkan putrinya tersebut karena terus-terusan meracau dan mengigau memanggil-manggil nama Vaia.
Mungkinkah Vale rindu pada bocah kecil lima tahun tersebut?
"Kyle akan memanggil dokter, Tante!" Ucap Kyle yang sejak tadi juga ikut menjaga Vale dan menyaksikan Vale yang tak berhenti memanggil-manggil nama Vaia.
Kyle merogoh ponsel di sakunya dan segera menghubungi dokter yang menjadi langganan keluarga Rainer dan juga keluarganya.
Kyle sendiri masih tak berhenti bertanya dalam hati, kenapa Vale tak berhenti memanggil nama Vaia sejak tadi?
Apa benar Vale rindu pada Vaia?
Sudah sejauh apa memangnya hubungan antara Vale dan Vaia?
Namun jika dilihat dari sikap Vaia ke Vale saat gadis kecil itu menginap di rumah ini beberapa hari yang, mereka memang benar-benar seoerti ibu dan anak kandung. Vaia terlihat begitu bergantung pada Vale, dan Vale juga yang selalu bersikap penuh keibuan pada Vaia.
"Ma! Vale dimana?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Vale langsung membuat lamunan Kyle menjadi buyar. Pria itu segera menghampiri tempat tidur Vale, dan calon istrinya itu sudah membuka mata dan berhenti mengigau.
"Kau di rumah, Vale! Kau demam sejak tadi siang," jawab Mama Airin menjrlaskan pada Vale.
"Abang Kyle di sini juga?" Tanya Vale pada Kyle yang kini sudah mendekat ke arahnya.
Kyle meletakkan punggung tangannya di atas kening Vale.
"Panasmu masih tinggi. Aku sudah memanggil dokter, mungkin akan datang tak lama lagi," ucap Kyle yang hanya dijawab Vale dengan anggukan samar.
Kyle benar.
Tak berselang lama, dokter keluarga sudah datang dan segera memeriksa Vale.
Kata dokter, Vale hanya demam biasa mungkin karena sedang banyak pikiran.
Apa ini ada hubungannya dengan pernikahan Vale dan Kyle yang hanya tinggal menghitung hari?
Atau Vale memang sedang memikirkan hal lain yang tak ia ceritakan pada siapapun?
****
Rumah Arga
Arga mengambil termometer dari ketiak Vaia dan memeriksa kembali suhu badan putrinya tersebut. Demam Vaia masih belum turun, padahal ini sudah hampir tiga hari. Vaia tak pernah demam sampai berhari-hari begini.
Arga juga sudah membawa Vaia ke dokter kemarin dan melakukan cek darah. Namun tak ditemukan penyakit serius apapun dan kata dokter, Vaia hanya demam biasa.
Namun kenapa demam Vaia tak kunjung turun?
Arga memijit pelipisnya sendiri dan merasa bingung harus bagaimana. Pria itu merapatkan selimut Vaia dan kembali mengompres sang putri yang kembali terlelap setelah sarapan dan minum obat.
Arga benar-benar rindu pada keceriaan Vaia yang biasanya akan berceloteh sepanjang hari tanpa henti. Sejak kembali dari kediaman Rainer, keceriaan Vaia seolah menguap pergi. Dan sekarang putri Arga ini malah sakit, semakin membuat hati Arga ikut sakit dan sedih.
Suara deru sepeda motor Paman Jo yang terdengar dari luar toko menyentak lamunan Arga.
Arga memang membawa Vaia ke toko dan membaringkan putrinya itu di sofa dekat meja kasir. Arga tetap harus membuka toko dan menjaga Vaia. Jadi ia terpaksa melakukan ini semua.
"Pagi!" Sapa paman Jo yang kini sudah masuk kecdalam toko.
"Pagi, Jo!" Jawab Arga dengan raut wajah lesu.
"Vaia kenapa?" Tanya Paman Jo saat netranya menangkap Vaia yang tidur berbalut selimut di sofa. Wajah keponakannya itu juga begitu pucat.
"Vaia demam sudah tiga hari. Aku juga sudah membawanya periksa, namun masih belum ada kemajuan apapun," cerita Arga dengan nada sedih.
"Bunda! Bunda dimana?" Vaia kembali mengigau dan memanggil-manggil sang bunda.
"Bunda Vale jangan pergi! Vaia nggak nakal! Kenapa bunda nggak mau jadi bundanya Vaia lagi?"
Paman Jo dan Arga saling bersitatap mendengar igauan Vaia yang terdengar mengiris kalbu.
"Dia selalu memanggil Vale sejak hari petama demam," cerita Arga lagi pada Paman Jo.
"Kau tidak coba menghubungi Vale, Arga?"
"Bukankah sudah kubilang, aku tak menyimpan nomor Vale dan keluarganya! Bagaiaman aku harus menghubungi Vale?" Jawab Arga sedikit emosi.
"Aku rasa, Vaia rindu pada Vale, Arga! Putrimu tidak butuh obat apapun dari dokter! Vaia hanya butuh bertemu Vale!" Pendapat Paman Jo dengan nada tegas.
"Tidak!" Sergah Arga keras kepala.
"Vaia akan sembuh tanpa harus bertemu Vale!" Sambung Arga lagi yang tetap keras kepala.
"Teruskan saja sikap keras kepalamu itu! Jika hal buruk terjadi pada Vaia kau akan menyesal seumur hidup!" Pungkas paman Jo sebelum pria itu menghilang ke gudang toko.
Arga menyugar kasar rambutnya merasa bingung harus bagaimana sekarang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.