
Vale sedang berlari di dalam sebuah hutan yang gelap. Kakinya melangkah tanoa alas menginkpjak dedaunan baah dan ranting kering hingga tearsa begitu perih. Vale tidak tahu dirinya sedang berlari dari apa, tapi sebuah suara dari dalam hatinya terus menyuruh Vale untuk lari.
Lari, Vale!
Teruslah berlari!
Orang jahat itu ada di belakangmu!
Mereka masih mengejarmu!
Vale masih terus berlari menembus lebatnya pepohonan.
Kakinya terasa perih karena menginjak duri tangan dan kakinya juga perih karena tergores ranting-ranting pepohonan.
Vale menoleh ke belakang untuk melihat orang-orang yang mengejarnya. Tapi tak ada siapapun. Vale sendirian, tidak ada yang mengejarnya.
Lalu kenapa Vale harus berlari?
Pertanyaan Vale belum menemukan jawaban, saat kaki gadis itu kehilangan pijakan dan tubuhnya terasa melayang ke bawah. Tangan Vale menggapai-gapai mencari pegangan.
Tidak ada!
Vale terjatuh!
Vale benar-benar terjatuh!
"Tolong aku!" Jerit Vale yang masih memejamkan matanya dan bergerak-gerak dengan gelisah di atas tempat tidur.
Vaia yang tidur bersama Vale tentu saja merasa terkejut dan takut. Gadis itu turun dari atas tempat tidur dengan cepat dan berlari keluar dari kamar untuk menemui sang Ayah yang tidur di sofa dekat kamar.
"Ayah!" Vaia mengguncang tubuh Arga yang masih terlelap.
"Ada apa, Vaia? Ini masih gelap. Tidurlah lagi!" Ucap Arga dengan suara serakmp khas orang bangun tidur.
Pria itu sedikit menggosok matanya yang masih mengantuk.
"Bunda, Ayah!" Lapor Vaia dengan raut wajah ketakutan.
"Bunda kenapa?" Arga sudah bangkit dan ganti duduk di sofa.
"Ayah lihat sendiri!" Vaia menunjuk ke arah pintu kamar yang setengah terbuka.
Arga bergegas bangkit dari atas sofa dan berjalan cepat menuju ke kamarnya yang kini ditempati oleh Vale.
Dan saat Arga masuk, Vale sudah duduk di atas tempat tidur dengan nafas terengah-engah dan wajah yang dipenuhi peluh. Gadis itu menatap pada Arga serta pada Vaia yang bersembunyi ketakutan di belakang Arga.
"Vaia, apa bunda menyakitimu?" Tanya Vale khawatir karena melihat raut ketakutan di wajah Vaia.
Vaia menggeleng, masih sambil memeluk kaki sang ayah.
"Ada apa?" Tanya Arga tak mengerti.
Pria itu segera membawa Vaia ke dalam gendongannya dan memberikan segelas air putih pada Vale.
"Aku bermimpi buruk," jawab Vale yang sudah selesai meneguk air di gelasnya hingga tandas. Gadis itu juga berulang kalo menarik nafas panajnag demi menormalkan detak jantungnya yang masih memacu dengan cepat.
"Vaia!" Vale meraih Vaia dari gendongan Arga dan memeluk gadis kecil tersebut.
"Bunda minta maaf, ya!" Ucap Vale merasa bersalah pada Vaia yang kini hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Vaia hanya kaget, Bunda," cicit Vaia yang masih membenamkan tubuh kecilnya di pelukan Vale.
"Vaia mau lanjut tidur di kamar Vaia?" Tawar Arga pada Vaia yang masih betah dipeluk oleh Vale.
Gadis kecil itu menggeleng.
"Vaia mau tidur sama bunda lagi, Ayah! Tapi ayah juga tidur disini, biar bunda nggak mimpi buruk lagi," pinta Vaia yang langsung membuat Arga terkejut.
Vaia menggeleng.
"Muat! Tempat tidurnya lebar! Ayah bisa tidur di sebelah sana!" Vaia menunjuk ke arah sisi tempat tidur yang masih kosong.
"Tapi, Vaia-"
"Pokoknya Ayah harus tidur bersama Bunda dan Vaia!" Vaia memotong kalimat Arga dan tetap keras kepala.
Arga menatap pada Vale dan minta persetujuan Vale, karena tentu saja Arga benar-benar tidak enak hati jika harus tidur satu ranjang dengan Vale. Meskipun akan ada Vaia di antara mereka nantinya.
Vaia hanya mengangguk pada Arga dan segera membenarkan posisi Vaia, lalu menyelimuti gadis kecil tersebut. Vale ikut berbaring di samping Vaia dan mengusap-usap kepala Vaia sambil bersenandung kecil.
"Ayah!" Panggil Vaia pada sang ayah seraya memberikan kode agar ayahnya ikut naik ke atas tempat tidur, dan berbaring di samping Vaia juga.
Arga hanya menghela nafas dan akhirnya pria itu mengambil posisi di sisi lain tempat tidur dan ikut berbaring.
Arga hanya berbaring dan menatap langit-langit kamarnya.
Suasan sudah berubah hening sekarang. Hanya terdengar detak jam yang tergantung di dinding kamar.
"Dia keras kepala," gumam Vale masih mengusap-usap kening Vaia yang kini sudah memrjamkan mata.
Arga menoleh sejenak ke arah Vale dan tersenyum tipis sebelum kembali menatap langit-langit kamarnya.
"Ya,semua orang bilang begitu," ucap Arga masih tersenyum tipis.
"Jadi, kau tadi kenapa sebenarnya?" Tanya Arga selanjutnya tanpa menoleh ke arah Vale.
"Mimpi buruk. Entahlah! Ini sudah yang ketiga kalinya dan tempat kejadian di dalam mimpi selalu saja sama. Di tengah-tengah hutan lebat," tutur Vale mulai bercerita.
"Aku dan Vaia menemukanmu di dekat hutan. Mungkin ada hubungannya dengan kejadian sebelum kau jatuh dari atas bukit dan kehilangan ingatanmu," terka Arga mencari-cari benang merah.
"Entahlah, aku selalu berlari dalam mimpi itu. Tapi aku tidak tahu aku lari dari apa," ujar Vale semakin tak paham. Gadis itu membenarkan selimut Vaia yang sedikit merosot, lalu mencium kening gadis mungil tersebut.
"Tadinya aku dan Jo berpikir kalau kau adalah korban penculikan yang melarikan diri. Kau mau akau antar ke kantor polisi untuk membuat laporan?" Tawar Arga yang langsung disambut Vale dengan gelengan kepala.
"Aku tidak bisa mengingat apa-apa sekarang. Jika aku ke kantor polisi, mereka hanya akan melontarkan pertanyaan yang mungkin tak akan bisa kujawab. Dan itu akan membuat kepalaku sakit," tutur Vale menolak rencana Arga.
"Baiklah, aku tidak memaksa! Aku hanya memberimu ide. Kau bisa tinggal di rumahku sampai kapan pun kau mau," jawab Arga sesantai mungkin.
"Aku akan membantumu beres-beres dan menjaga tokomu atau menjaga Valeria jika kakiku sudah membaik nanti," timpal Vale cepat karena merasa tak enak hati jika terus menumpang hidup pada Arga.
"Santai saja soal itu! Kau bisa lakukan apapun sesukamu di rumah ini. Anggap saja rumah sendiri!" Arga sudah beranjak dari atas tempat tidur dan berjalan ke arah pintu keluar.
"Kau tidak jadi tidur disini?" Tanya Vale sebelum Arga melangkah keluar kamar.
"Aku tidak mau membuatmu merasa tidak nyaman," jawab Arga seraya tersenyum pada Vale.
"Tidurlah! Dan selamat malam, Vale!" Pungkas Arga sebelum benar-benar keluar dari kamar meninggalkan Vale dan Vaia yang sudah terlelap.
Vale masih memandangi arah dimana Arga menghilang. Sesaat terselip sebuah perasaan di hati Vale, yang entah apa namanya.
Vale hanya merasa nyaman dan aman berada di dekat Arga, karena ternyata Arga begitu menjaganya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.