
"Jadi, kapan rencananya kau akan membawa Valeria pulang?" Tanya Papa Theo membuka obrolan.
Papa Valeria tersebut sedang duduk di halaman belakang dan bermain catur bersama Arga.
"Mungkin lusa, Om!"
"Papa!" Sergah Papa Theo cepat mengoreksi panggilan Arga kepadanya.
Sepertinya Arga memang belum terbiasa dan masih sedikit kaku.
"Iya. Mungkin lusa, Pa!" Arga mengulangi jawabannya seraya tertawa kecil.
"Vale mungkin masih sedikit labil, Arga! Papa harap kau mau membimbingnya dengan sabar," ungkap Papa Theo penuh harap.
"Arga akan berusaha, Pa!" Jawab Arga bersungguh-sungguh.
"Kau bisa menelepon Papa atau Mama kapan saja. Kita sekarang keluarga, jadi jangan pernah merasa sungkan!" Papa Theo menepuk punggung Arga. Dan Arga segera mengangguk seraya mengulas senyum di bibirnya.
"Pa, belum siap-siap?" Mama Airin yang baru muncul dari dalam rumah mengerutkan kedua alisnya pada papa Theo.
"Hanya tinggal ganti baju. Vaia sudah siap?" Papa Theo balik bertanya pada sang istri.
"Mau kemana memangnya, Pa?" Tanya Arga sedikit bingung. Tak ada yang memberitahu Arga kalau sore ini keluarga Rainer ada acara.
"Mau mengajak Vaia jalan-jalan," jawab Papa Theo santai.
"Oma! Kita jadi pergi tidak?" Celoteh Vaia yang berlari-lari kecil menghampiri Mama Airin.
Vale yang mengenakan baju terusan selutut terlihat mengekor di belakang Vaia.
"Jadi, Sayang! Kita tunggu Opa ganti baju dulu, nanti baru kita pergi jalan-jalan, ya!" Jawab Mama Airin seraya mengusap kepala Vaia.
"Opa cepat ganti baju! Katanya mau beliin Vaia mainan dan boneka!" Vaia ganti menarik-narik baju Papa Theo dan memaksa pria paruh baya tersebut untuk segera berganti baju.
"Iya, Princess!" Papa Theo sudah berjongkok dan mencubit gemas kedua pipi Vaia.
"Kok princess? Bukannya kata Opa Vaia ini bidadari kecil?" Protes Vaia merasa tak terima dipanggil princess oleh sang Opa.
"Oh! Iya, Bidadari kecilnya Opa! Opa ganti baju dulu, ya, Bidadari kecil!" Ulang Papa Theo denag nada yang lebay.
"Bukannya bidadari kecilnya Papa itu Vale? Kok jadi Vaia sekarang?" protes Vale yang merasa tak terima disaingi oleh Vaia sebagai bidadari kecilnya Papa Theo.
"Kamu udah punya Arga gitu! Ganti jadi bidadarinya Arga sekarang!" Ujar Mama Airin sedikit berkelakar.
Wajah Vale sontak bersemu merah, dan wanita itu menatap pada Arga yang kini juga sedang menatapnya.
"Ma, Pa! Kenapa lama sekali? Jadi pergi bareng Ben tidak?" Ben yang tiba-tiba muncul ikut menyela.
"Papa kamu ini yang lama! Mama dan Vaia udah siap, kok dari tadi!" Jawab Mama Airin yang sudah menggandeng Vaia dan membimbing gadis kecil itu untuk berpamitan pada Vale dan Arga. Sementara Papa Theo sudah menghilang masuk ke dalam kamarnya.
"Kita tidak ikut?" Tanya Arga menatap pada Vale dan sedikit berbisik.
"Kita kebagian menjaga rumah malam ini!" Jawab Vale sedikit tersipu malu.
"Vaia jalan-jalan dulu, ya, Bunda! Nanti Bunda buatkan adek yang banyak buat Vaia!" Celetuk Vaia yang langsung disambut gelak tawa dari Ben.
Mama Airin sontak memukul anak lelakinya tersebut karena tertawa tanpa terkontrol.
"Ayo buruan, Ben!"
"Iya, Mamaku yang cantik!"
"Mumpung papa nggak ada, Ben godain Mama, ah!" Ben bergelayut manja pada sang Mama dan tiga orang itu berjalan ke arah pintu utama kediaman Rainer.
"Ben! Berhenti bergelayut pada Mamamu begitu!" Tegur Papa Theo yang baru keluar dari kamar. Pria paruh baya itu menyusul Ben, Vaia, dan Mama Airin yang sepertinya sudah sampai ke teras.
Kini hanya tinggal Vale dan Arga yang masih saling berdiri di ruang tengah.
"Para maid kemana? Kok sepi?" Tanya Arga memecah keheningan.
"Mereka diliburkan oleh Mama sampai besok," jawab Vale seraya berbalik dan melangkah meninggalkan Arga yang kini menatap punggung istrinya tersebut.
Apa itu artinya hanya ada Vale dan Arga di rumah besar ini?
Arga mengikuti langkah Vale yang kini menaiki tangga. Sedikit berlari, Arga akhirnya bisa dengan cepat menyusul Vale yang berjalan tidak terlalu cepat.
Pasangan pengantin baru tersebut, kini sudah tiba di ujung tangga.
Arga melingkarkan lengannya di pinggang Vale, dan Vale mengusap dada Arga yang masih tertutup kaus berwarna putih. Meskipun tertutup kaus, bentuk bidang dada Arga masih tetap terlihat dan bisa Vale rasakan dengan sangat jelas.
"Apa itu artinya hanya tinggal kita berdua di rumah ini?" Tanya Arga yang kini mendekatkan wajahnya ke wajah Vale dan tangan Arga mengangkat wajah Vale yang tertunduk dan tersipu malu.
"Ya!" Vale ganti melingkarkan lengannya ke leher Arga.
"Kita bisa melanjutkan yang semalam berarti!" Arga sudah membawa Vale ke dalam gendongannya dan berucap dengan mesra.
"Aku tidak tahu caranya," wajah Vale semakin memerah sekarang.
"Aku akan mengajarimu pelan-pelan." Arga melangkahkan kakinya menuju ke kamar Vale dan mendorong pintu kamar hingga terbuka, lalu masuk ke dalam dan menutup pintu dengan kakinya.
"Bagaimana kalau kita menonton film dulu?" Usul Vale setelah Arga mendaratkan tubuhnya di atas ranjang.
"Film apa?"
"Apa saja!" Vale meraih remote di atas nakas dan menyalakan televisi yang ada di dalam kamarnya, mencari film yang sekiranya cocok dengan keremangan kamarnya sore ini, karena Arga baru saja mematikan lampu di kamar Vale dan menutup tirai jendela.
Arga segera naik ke atas ranjang dan merapatkan tubuhnya ke arah Vale yang langsung bersandar di dada Arga. Film sudah dimulai.
Vale semakin merapatkan tubuhnya pada Arga, saat adegan mesra di film yang mereka tonton di mulai. Pasangan di film mulai saling mencium dan menyentuh. Membuat Vale menelan salivanya berulang kali.
"Ada apa?" Tanya Arga pada Vale yang mulai bergerak-gerak gelisah.
Arga mendekatkan wajahnya ke arah Vale dan meraup bibir merekah Vale yang terus saja digigiti oleh Vale sejak tadi.
Arga memberikan kecupan hangat pada bibir Vale, dan diluar dugaan, Vale langsung membalas ciuman Arga hingga wanita itu terengah-engah.
"Pelan-pelan, oke!" Bisik Arga sebelum kembali mengecup bibir Vale. Dan kali ini Vale membalasnya denagn perlahan. Sepertinya istri Arga itu sudah mulai menikmati ciuman di antara mereka berdua.
Tangan Vale refleks menangkup wajah Arga dan semakin memperdalam ciuman mereka.
Sementara tangan Arga sudah bergerilya masuk ke bagian bawah gaun Vale yang memang sudah tersingkap sejak tadi.
Vale semakin bergerak gelisah saat Arga mengusap bagian bawah pusarnya, dan membuat gerakan memutar yang membuat Vale merasakan sensasi geli serta perasaan lain yang sulit untuk dijelaskan.
"Arga!" Desah Vale saat bibir Arga sudah turun dari bibirnya dan ganti menyusuri leher dan tengkuk Vale, meninggalkan beberapa tanda kemerahan di sana.
Arga menarik turun ritsleting gaun Vale dan langsung meloloskan gaun itu melewati kepala Vale. Kini Vale yang hanya mengenakan bra dan underwear, berbaring telentang di depan Arga dan hal itu sukses membangkitkan gairah seorang Arga.
Tapi Arga harus pelan-pelan dan tidak boleh tergesa, karena ini yang pertama untuk Vale. Arga tidak mau menyakiti istrinya ini.
"Jangan menatapku seperti itu, Arga! Aku jadi malu," Vale menyilangkan kedua lengannya di depan dada yang sontak membuat Arga tertawa kecil.
Arga menanggalkan kaus dan celananya sendiri, sebelum lanjut menyusuri tubuh Vale yang masih tertutupi baju dalam.
Arga menciumi wajah Vale perlahan, lalu turuh ke leher seputih pualam tersebut, terus turun ke dua gundukan milik Vale yang terlihat begitu menggiurkan.
Arga benar-benar ingin melahap keduanya dan berlama-lama bermain dengan benda kenyal tersebut.
"Arga!" Vale menggelinjang dan semakin bergerak dengan gelisah, saat Arga tak berhenti memainkan lidahnya di kedua puncak gundukan miliknya.
Rasa geli dan nikmat menyusup ke dalam tulang sungsum Vale dan naik ke kepalanya, membuat pandang Vale menjadi berkabut.
Arga yang merasa gemas, menggigit kecil puncak gundukan yang berwarna kemerahan tersebut, yang tentu saja langsung membuat Vale memekik kecil.
Vale menjambak rambut Arga yang kini ganti menciumi perut Vale, terus turun ke pusar, hingga ke bagian pangkal paha Vale.
Arga membuka kedua paha Vale dan tangannya menyusup ke dalam underwear Vale, palu mengusap lembut milik Vale hingga membuat Vale mendesah berulang kali.
Milik Arga juga sudah tearsa sesak dan minta dilepaskan dari kungkungan undewear-nya sekarang.
Arga menyingkirkan penutup terakhir yang menutupi bagian paling intim tubuh Vale.
Kini tak ada lagi penghalang antara Arga dan Vale.
Vale yang menatap milik Arga yang kini sudah menegang sempurna, berulang kali menelan salivanya. Ini kali pertama Vale melihat benda tersebut, dan siapa menyangka kalau milik Arga ternyata sebesar itu.
"Kau takut?" Tanya Arga khawatir.
Vale menggeleng dengan cepat.
"Kau akan pelan-pelan, kan?" Tanya Vale sedikit terbata.
"Ya!" Arga kembali mengecup bibir Vale. Sepertinya pria itu sedang berusaha menyingkirkan kegelisahan Vale.
Arga menekuk kaki Vale dan membukanya sedikit lebar. Namun Arga tak langsung mengarahkan milikya ke dalam milik Vale. Arga memilih untuk memainkan jarinya terlebih dahulu di dalam pangkal paha Vale agar istrinya ini sedikit rileks.
"Masih grogi?" Arga menatap Vale yang kini bergerak-gerak gelisah dan dadanya membusung. Membuat Arga kembali bernafsu untuk melahap gundukan kenyal Milik Vale tersebut.
"Arga," Vale mendesah dan sedikit meracau saat jari Arga bergerak semakin cepat di pangkal pahanya.
Arga merasakan milik Vale yang sudah begitu basah, jadi tanpa berbasa-basi lagi, Arga segera melesakkan miliknya ke dalam milik Vale dan menyentak masuk.
"Arga!" Vale memekik kevil, saat Arga merasakan miliknya yang baru saja merobek sesuatu di dalam tubuh Vale.
Segera Arga membungkam bibir Vale dengan bibirnya, berusaha mengalihkan fokus istrinya tersebut.
"Apa rasanya sakit?" Tanya Arga di sela-sela ciumannya bersama Vale.
"Sedikit."
"Aku akan mulai bergerak," Arga meminta izin.
Sementara Vale hanya mengangguk-angguk dan kembali menarik turun kepala Arga serta meraup bibur suaminya tersebut.
Arga mulai bergerak perlahan, dan Vale yang awalnya terlihat kesakitan kini mulai menikmati apa yang dilakukan oleh Arga.
Vale bahkan ikut bergerak mengikuti gerakan Arga.
Cukup lama milik Arga tenggelam di dalam milik Vale, sebelum akhirnya tubuh Arga yang berada di atas Vale mengejang, dan Vale merasakan sesuatu yang berkedut di dalam area intimnya menyemburkan sebuah cairan yang terasa hangat yang kini memenuhi rahim Vale.
Tubuh Arga yang dipenuhi peluh segera terkulai dan masih menindih Vale.
Vale memeluk erat tubuh kekar sang suami, menyatukan kedua tangan mereka dan menciumi wajah Arga berulang kali.
"I love you, Arga!" Bisik Vale sebelum kembali mendekap erat tubuh Arga.
Vale merasa sangat bahagia sekarang!
.
.
.
🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈🙈
Udah traveling belum pikirannya?
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.