My Angel Valeria

My Angel Valeria
BUNDA SESAK NAFAS, AYAH!



"Sudah selesai?" Tanya Arga pada Vale yang sedang mengemasi baju-bajunya untuk di bawa pulang ke rumah Arga. Rencananya besok pagi mereka bertiga akan berangkat.


"Sudah! Ada dua koper berisi baju kita bertiga," jawab Vale seraya mengambil Vaia dari gendongan Arga.


"Yeayy! Kita pulang ke rumah!" Vaia bersorak senang dan berulang kali mencium pipi Vale.


"Adeknya Vaia udah jadi belum, Bunda? Besok kita bawa pulang juga, ya!" Tanya Vaia dengan mata berbinar yang sontak membuat Vale terkekeh.


"Bunda belum tahu, Sayang! Nanti bulan depan kita cari tahu, ya!" Jawab Vale yang langsung membuat Vaia mengangguk.


"Nanti malam kita lanjut membuatnya, ya!" Bisik Arga yang sontak membuat wajah Vale bersemu merah.


"Kau akan kelelahan! Besok kita harus berangkat pagi-pagi!" Tolak Vale cepat mengemukakan alasannya.


"Ada Ben yang akan aku ajak bergantian mengemudi besok," jawab Arga santai.


"Ben ikut kita pulang?" Tanya Vale tak percaya.


Suaminya ini cepat sekali akrab dengan Ben.


"Ya! Katanya dia mau liburan di sana semingguan. Nanti Ben bisa menempati kamar di lantai dua toko," jawab Arga menjelaskan pada Vale.


"Bagus sekali!" Vale berdecak tak percaya.


"Dua ronde atau tiga ronde?" Bisik Arga lagi yang sudah melingkarkan lengannya di pinggang Vale yang masih mengendong Vaia.


"Dasar mesum!" Vale balik berbisik pada Arga, dan suami Vale itu hanya tergelak.


"Ayah kenapa tertawa? Apa memang yang lucu?" Tanya Vaia penasaran karena sdjak tadi kedua orang tuanya itu terus berbisik-bisik dan bhicara hal yang Vaia tak paham.


"Tidak ada, Sayang! Bunda hanya mengatakan kalau mulai besok dan seterusnya, Bunda akan tinggal bersama kita!" Jawab Arga yang langsung membuat Vaia bersorak senang.


"Ayo turun dan makan malam, agar Vaia bisa tidur nyenyak nanti malam." Ajak Vale selanjutnya yang langsung membuat Arga dan Vaia kompak mengangguk.


Arga mengambil alih Vaia dari gendongan Vale dan mereka bertiga segera turun ke lantai bawah untuk bergabung dengan anggota keluarga Rainer yang lain dan menikmati makan malam.


****


Jam di kamar Vale sudah menunjukkan hampir tengah malam.


Vaia sudah terlelap, dan Vale yang sejak tadi memeluk gadis kecil itu bergeser perlahan serta melepaskan pelukannya pada Vaia.


Vale beringsut mundur saat tubuhnya menabrak Arga yang sepertinya juga sudah terlelap. Vale segera berbalik, setelah sedikit membenarkan selimut Vaia.


Vale mengusap wajah Arga yang tidur nyenyak sekali. Sebuah senyuman tersungging di bibir Vale saat jemarinya menyusuri lekukan wajah Arga.


Setelah puas mengusap wajah sang suami, Vale segera menarik selimut untuk menutupi tubuh Arga yang hanya mengenakan celana pendek dan kaus singlet tanpa lengan. Baru saja Vale selesai menyelimuti Arga, saat tangan Vale tiba-tiba dicekal oleh Arga yang kini tersenyum masih sambil memejamkan matanya.


"Arga! Kau belum tidur?" Tanya Vale gemas.


"Belum dapat jatah. Bagaimana mau tidur?" Jawab Arga yang sudah dengan cepat menarik tubuh Vale hingga istrinya itu kini menindih dada Arga, dan wajah mereka berdua begitu dekat.


"Nanti Vaia bangun kalau kita melakukannya di sini," Vale mengingatkan Arga.


"Nanti kita pindah ke sofa. Sekarang, kita pemanasan dulu," ucap Arga yang segera mengecup lembut bibir Vale.


"Kau cantik, Sayang!" Puji Arga sebelum melanjutkan kecupannya pada Vale.


"Pasti ada maunya," gumam Vale yang sudah membalas kecupan Arga. Pasangan pengantin baru yang sedang dimabuk asmara tersebut kini sudah saling mencecap.


Vale yang berada di atas Arga, sedikit menggelinjang saat tangan Arga sudah menyusup masuk ke dalam piyamanya, lalu menangkup kecua gundukan kenyal milik Vale.


Jari Arga juga mulai memainkan puncak gundukan tersebut hingga membuat gairah Vale kian memuncak dan istri Arga itu kini terengah-engah membalas kevupan bibif Arga yang semakin menggila.


Suasana dikamar benar-benar menjadi panas sekarang, hingga tiba-tiba Vaia mengagetkan Vale dan membuat istri Arga itu berguling hingga nyaris terjatuh dari atas tempat tidur.


"Ayah, itu bunda sesak nafas dan berkeringat! Ayah apain bunda, sih?" Celetuk Vaia yang sontak langsung membuat Arga dan Vale salah tingkah. Masih bagus mereka belum saling menelanjangi tadi.


"Bunda lagi mijitin Ayah, dan ayah gantian mijitin bunda," jawab Arga yang langsung membuat Vaia membulatkan bibirnya.


"Vaia kenapa bangun lagi?" Tanya Vale setelah sedikit merapikan piyamanya serta mengatur deru nafasnya.


"Mau pipis, Bunda!" Vaia memegang perut bagian bawah.


Tak butuh waktu lama untuk Vaia menyelesaikan panggilan alamnya, dan kini gadis kecil itu sudah kembali berbaring di atas tempat tidur.


"Vaia boleh minta pijit juga nggak, Bunda?" Tanya Vaia seraya menguap lebar. Gadis kecil itu sepertinya memang masih mengantuk.


"Boleh! Ayo sini! Mau kakinya atau tangannya yang bunda pijit?" Tanya Vale yang kini sudah duduk bersila disamping Vaia. Arga masih berbaring di belakang Vale dan pria itu mulai memejamkan matanya, entah karena mengantuk atau mungkin karena bosan menunggu jatah dari Vale?


"Bunda mijitinnya sambil peluk Vaia!" Rengek Vaia menepuk bantal disampingnya, meminta Vale ikut berbaring juga.


Vale segera berbaring, ditengah-tengah antara Vaia dan Arga, lalu memeluk Vaia dan memijit kecil kaki Vaia. Pelan tapi pasti, Vaia mulai memejamkan matanya lagi.


Dan, bersamaan dengan Vaia yang sudah mulai memejamkan matanya, keisengan Arga juga dimulai.


Arga sengaja merapatkan selimut yang menutupi tubuhnya dan tubuh Vale, agar tangan Arga bisa menyusup masuk ke dalam celana Vale dan membelai sesuatu di dalamnya yang terasa gemuk dan menggiurkan.


"Vaia belum tidur," bisik Vale pada Arga yang terus memainkan tangannnya di dalam celana Vale.


"Sebentar lagi juga tidur," balas Arga ikut berbisik sebelum bibir pria itu mendarat di tengkuk serta leher Vale. Menciumi leher dan tengkuk Vale hingga membuat istrinya itu kegelian.


Tangan Vale masih memijit kaki Vaia yang sepertinya sudah mulai pulas.


"Arga!" Pekik Vale saat Arga menyentuh area intimnya di bagian yang paling sensitif. Rasanya benar-benar seperti tesengat listrik.


"Kau sudah basah. Ayo kita lanjutkan!" Arga membalik posisi Vale dan mencecap bibir istrinya itu sekilas, sebelum membopong tubuh Vale ke arah sofa lebar yang masih berada di kamar Vale.


Dulu Arga pernah berpikir, untuk apa orang repot-repot menciptakan sofa lebar model begini. Namun kini, Arga sudah tahu fungsinya dan ia akan memakainya bersama Vale.


Arga meletakkan tubuh Vale ke atas sofa denagn lembut lalu langsung menyingkap piyama Vale ke atas dan melahap dengan rakus dua gundukan milik Vale yang puncaknya sudah menegang.


Vale benar-benar sudah bergairah dan Arga menyukainya.


Sementara mulutnya bekerja di atas, tangan Arga juga bergerak menurunkan celana tidur Vale serta celananya sendiri. Tanpa diberi aba-aba, Vale sudah menekukkan kedua lututnya seakan sudah siap menerima milik Arga sekarang.


Sepertinya memang Vale sudah pandai sekarang.


"Jangan berisik!" Pesan Arga sebelum ia menyentak masuk ke dalam milik Vale.


Istrinya itu langsung memekik namun Arga dengan cepat membungkam mulut Vale dan melihat awas ke atas tempat tidur.


Vaia masih terlelap.


"Maaf!" Cicit Vale sebelum membalas kecupan Arga dan sekuat tenaga menahan diri untuk tidak berteriak meskipun Vale merasa ingin meledak sekarang.


Arga terus bergerak sambil tak berhenti mencecap dan mengecup seluruh area tubuh Vale yang sudah dipenuhi peluh.


Tubuh Arga sendiri juga sudah sudah penuh dengan peluh, meskipun kamar Vale ini ber-AC.


Arga mempercepat gerakannya, saat merasakan milik Vale yang semakin menjepit dan menyedot-nyedot miliknya.


Vale menarik kepala Arga dengan cepat dan langsung meraup bibir suaminya itu dengan dalam dan sedikit kasar bersamaan dengan Arga dan Vale yang mencapai pelepasannya bersama.


Arga menatap pada wajah Vale yang masih terengah-engah, mengusap peluh yang membanjiri wajah itu, dan menyingkirkan beberapa anak rambut yang memenuhi wajah Vale.


"Terima kasih, Sayang!" Ucap Arga lembut.


Vale hanya mengangguk karena kini ia tak mampu lagi berkata-kata. Tubuh Vale rasanya begitu lelah seperti habis lari maraton puluhan kilometer.


Vale hanya ingin tidur sekarang.


.


.


.


Sesuai masukan dari kalian, biar yang ini aku tamatin aja. Jadi ini memang mau aku tamatin dulu. Nanti lanjutannya aku sisipan di cerita Audrey-Kyle "Remember Me Please, Hubby!"


Terima kasih yang masih mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.