My Angel Valeria

My Angel Valeria
RENGEKAN VAIA



"Aku mengkhawatirkanmu, Vale!" Kyle berjongkok di hadapan Vale dan meraih tangan gadis itu lalu mengecupnya beberapa kali.


"Aku baik-baik saja, Bang! Dan Abang lihat, aku sudah pulang dengan selamat," Vale mencoba mengulas senyum di bibirnya.


Tok tok tok!


"Apa aku mengganggu?" Suara dari ambang pintu kamar, menbuat Vale dan Kyle menoleh bersamaan.


"Ben! Kau pulang?" Ucap Valeria tak percaya yang langsung beranjak dari duduknya dan memeluk adik tersayangnya tersebut.


"Ben sudah pulang dua minggu yang lalu, Kak! Tapi Kakak yang tidak ada di rumah," jawab Ben yang balas memeluk erat Valeria yang kini tingginya hanya sebahu Ben. Padahal dulu Valeria lebih tinggi dari Ben.


Aneh sekali!


"Baiklah! Silahkan dilanjut apapun tadi yang kalian lakukan. Ben akan pergi dan menutup pintu," ucap Ben seraya melangkah mundur dan hendak menutup pintu.


"Kami tidak sedang melakukan apa-apa, Ben!" Kilah Kyle sedikit terkekeh pada Ben.


"Oh! Tak perlu malu-malu, calon abang ipar! Bukankah sebentar lagi kalian akan menikah?" Timpal Ben seraya menaik turunkan alisnya menggoda Valeria dan Kyle.


Ben baru saja akan menutup pintu saat tiba-tiba terdengar suara jeritan dari lantai bawah.


Itu suara Vaia!


"Anak siapa yang menjerit?" Tanya Ben bingung.


Vale tak menjawab dan segera keluar dari kamar dengan cepat lalu menuruni tangga menuju ke arah kamar tamu yang ditempati Vaia dan Arga.


"Vaia mau bunda! Vaia mau tidur sama bunda!" Vaia menjerit-jerit tak karuan dan Arga terlihat kewalahan menenangkan sang putri.


"Vaia!" Vale segera meraup Vaia ke dalam pelukannya dan menggendong bocah lima tahun yang sekarang menangis tersedu-sedu tersebut.


"Bunda kemana? Vaia mau bobok sama bunda!" Cicit Vaia di sela-sela tangisnya.


"Nanti Vaia bobok sama bunda, ya!" Vale menyeka airmata yang memenuhi wajah Vaia dan merapikan rambut putri Arga tersebut.


Dan semua pemandangan tersebut tentu saja tak luput dari tatapan semua anggota keluarga Rainer dan juga Kyle tentu saja. Arga jadi tak enak hati pada semua keluarga Valeria karena sikap Vaia yang mendadak menjadi manja pada Valeria dan sulit dikendalikan.


Tapi bukankah selama hampir sebulan ini Vaia memang akrab dan dekat dengan Vale?


Mereka bahkan selalu tidur bersama setiap malam.


"Vaia lapar tidak? Kita makan malam dulu, ya!" Bujuk Vale lembut pada Vaia yang masih sesenggukan.


"Vaia mau menggambar. Tas gambar Vaia kemana?" Rengek Vaia yang tetap berada di gendongan Vale dan enggan untuk turun, sekuat apapun Arga membujuk putrinya tersebut.


"Kita lupa membawa tas gambar Vaia," jawab Arga sedikit meringis pada Vale.


"Ada toko alat tulis di dekat sini," Papa Theo akhirnya buka suara.


"Biar Ben yang pergi dan membelikan peralatan gambar, Pa!" Usul Ben yang sudah setengah berlari ke arah pintu keluar utama.


"Kita bisa makan malam dulu, sembari menunggu Om Ben membelikan peralatan gambar untuk Vaia, ya!" Bujuk Mama Airin pada Vaia yang masih berada di gendongan Vale.


"Vaia mau makan malam pakai kue coklat yang tadi," rengek Vaia manja.


"Masih ada banyak, kok! Ayo kita ambil di meja makan!" Ajak Mama Airin masih mengulas senyum di bibirnya. Vale segera melangkah ke arah meja makan mengikuti Mama Airin masih sambil menggendong Vaia.


Kini hanya tinggal Papa Theo, Arga, dan Kyle yang masih berdiri di depan kamar yang di tempati Arga.


"Maaf soal tadi, Om!" Arga merasa tak enak hati pada Papa Theo sekarang.


Seharusnya Arga tak perlu membawa Vaia kemari dan menitipkan bocah itu di rumah Bibi May saja.


"Tidak apa, Arga!" Papa Theo tersenyum ramah dan wajahnya terlihat santai.


"Oh, ya, Arga. Ini Kyle, calon suaminya Valeria," papa Theo mengenalkan Kyle pada Arga.


Calon suami?


Valeria sudah punya calon suami?


"Dan Kyle, ini Arga! Orang baik yang menemukan dan mengantar Valeria pulang," papa Theo ganti mengenalkan Arga pada Kyle.


Kyle masih menatap dengan seksama wajah Arga karena terlihat tidak asing.


"Apa kita pernah bertemu, Arga? Wajahmu terlihat tidak asing!" Kyle berusaha mengingat-ingat.


Dan wajah Vaia juga terasa tak asing bagi Kyle.


Tapi dimana?


"Kau pernah mampir ke tokoku dan bertanya arah?" Tanya Arga memastikan karrna eajah Kyle juga terasa tak asing untuk Arga.


Meskipun Arga bertemu banyak orang asing setiap harinya, namun untuk urusan ingat-mengingat wajah, Arga selalu bisa ingat dengan siapapun yang pernah ia temui.


"Ah, iya! Aku ingat!" Cetus Kyle yang akhirnya ikut ingat.


"Kalian sudah pernah bertemu?" Tanya Papa Theo bingung.


Tipa pria dewasa itu kini sudah menuju ke ruang makan menyusul Vaia, Vale dan Mama Airin.


"Saat kita mencari Vale waktu itu, Om! Kita mampir di pom mini milik Arga dan Kyle sempat bertanya pada Arga arah jalan menuju kota," cerita Kyle menjelaskan pada sang calon mertua.


"Vaia yang melayani Om di toko!" Celetuk Vaia yang ternyata juga masih ingat pada wajah Kyle.


"Iya, Sayang! Kita bertemu lagi disini ternyata!" Sahut Kyle seraya mengusap kepala Vaia yang masih asyik menikmati kue coklat yang disuapkan oleh Vale.


"Kalian tidak bertanya tentang Vale waktu itu, padahal Vale sudah ada di rumah dan-" Arga merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya.


Hari saat Arga merawat Vale dan menggendong gadis itu kemana-mana karena Vale yang kakinya terluka dan tak bisa berjalan kembali menari-nari di benak Arga.


Astaga!


Apa yang kau pikirkan, Arga!


Vale sudah punya calon suami yang lebih segala-galanya ketimbang dirimu!


"Tunggu! Jadi saat Vaia mengatakan kalau kau sedang merawat bunda yang sakit itu-"


"Ayah sedang merawat bunda!" Vaia menunjuk ke arah Vale yang duduk di sampingnya.


"Ayah juga menggendong bunda kemana-mana karena bunda nggak bisa jalan. Tapi pas bunda udah bangun dan udah bisa jalan, Bunda rajin memasak untuk Vaia dan Ayah! Vaia jadi tidak perlu sarapan nasi goreng setiap pagi!" Lanjut Vaia berceloteh yang sontak membuat semua orang terperangah.


"Maaf, Kyle! Aku waktu itu benar-benar tidak tahu apa-apa tentang Vale. Aku juga tidak tahu kalau Vale sudah punya calon suami. Dan aku benar-benar hanya merawatnya karena Vale terluka," Arga kembali merasa tak enak hati pada Kyle dan keluarga Vale.


"Dan aku mengalami amnesia, Bang! Jadi aku juga tak ingat apapun tentang diriku." Timpal Vale melengkapi cerita Arga dan sedikit menjelaskan pada Kyle.


"Terima kasih banyak, Arga! Karena sudah merawat Vale dan mengantarnya pulang," ucap Kyle tulus seraya tersenyum pada Arga.


Arga hanya mengangguk dan balik tersenyum pada Kyle.


Ben sudah kembali membawa cukup banyak peralatan menggambar untuk Vaia. Ada crayon ukuran paling besar, pensil, penghapus, dan beberapa buku gambar. Vaia terlihat riang mendapatkan satu set peralatan menggambar yang baru. Gadis kecil itu tak lupa berterima kasih pada Ben yang sudah membelikannya peralatan menggambar.


"Nanti Vaia bobok sama bunda, ya!" Rengek Vaia lagi yang kembali bergelayut pada Vale.


"Iya, Sayang! Nanti kita tidur di lantai atas, ya!" Jawab Vale dengan sikapnya yang penuh keibuan.


"Jadi, kau hanya tinggal berdua saja bersama Vaia sebelumnya?" Tanya Papa Theo pada Arga yang kini mulai menyantap makan malamnya bersama keluarga Rainer.


"Ya, bundanya Vaia meninggal seminggu setelah melahirkan Vaia," jawab Arga yang langsung membuat semua orang yang duduk mengelilingi meja makan melempar tatapan prihatin ke arah Arga.


"Kau membesarkan putrimu sendirian selama lima tahun?" Tanya Kyle dengan raut wajah tak percaya.


"Vaia adalah segalanya bagiku," jawab Arga tersenyum miris.


"Nama panjang Vaia adalah Valeria juga, Kyle! Kebetulan sekali namanya bisa sama dengan Valeria," papa Theo mencarirkan suasana yang sedikit tegang.


"Oh, ya? Kebetulan sekali, ya! Dan duo Valeria ini juga terlihat begitu akrab!" Kyle terkekeh dan menatap sekilas pada Vale yang memang duduk di sebelahnya masih sambil memangku Vaia.


Vale hanya tersenyum tipis dan malah melempar tatapan pada Arga yang kini duduk di depannya dan juga sedang menatapnya. Namun Arga memalingkan tatapannya dengan cepat dan kembali fokus pada makan malamnya.


Makan malam di kediaman Rainer tersebut terus berlanjut dengan suasana yang penuh kehangatan dan keakraban.


.


.


.


Anggap aja lagi bayar utang karena kemarin othor cuma up 1 eps.


Emily juga up 2x hari ini ya 😍


Hayo semangatin othornya biar besok bisa nulis 5 eps lagi 😅