
Vale baru selesai memandikan Vaia, saat pintu kamarnya diketuk dari luar.
Bergegas Vale membuka pintu dan mendapati Arga yang kini berdiri di depan pintu kamarnya.
"Vaia sudah bangun?" Tanya Arga to the point.
"Iya, sudah! Aku baru selesai memandikannya," jawab Vale seraya menatap Arga dengan tatapan sedih.
"Bisakah kau membujuk Vaia agar mau pulang pagi ini?" Pinta Arga sedikit memohon pada Vale.
"Kau akan membawa Vaia pulang pagi ini?" Tanya Vale dengan raut terkejut.
"Aku tidak mau kesorean sampai di rumah," jawab Arga memberi alasan.
Arga hanya tak sanggup jika harus melihat Vale bersanding denagn Kyke di pelaminan. Semalaman Arga tak bisa memejamkan matanya karena terus saja mrmikirkan Vale yang akan menikah denagn Kyle hari ini.
Nyatanya, bukan hanya Vaia yang sudah jatuh cinta pada kelembutan hati Vale. Namun Arga diam-diama juga sudah jatuh cinta pada calon istri Kyle ini. Namun Arga cukup tahu diri dan memilih untuk membuang jauh perasaannya pada Vale.
Toh Vale juga pasti sangat mencintai Kyle. Jadi kenapa Arga harus mencari penyakit dengan mrnyimpan perasaan yang tak mungkin terbalas ini?
"Ayah! Kenapa Ayah sudah rapi?" Tanya Vaia yang rupanya sudah selesai memakai bajunya sendiri. Vaia mengulurkan tangannya pada Vale dan minta digendong.
"Kita pulang sekarang, ya, Vaia!" Bujuk Arga lembut seraya mengulurkan lenagnnya pada Vaia dan hendak mengambil Vaia dari gendongan Vale.
Namun Vaia menolak dan malah melingkarkan lengannya ke leher Vale serta menyembunyikan wajahnya di pundak Vale.
"Vaia maunya pulang bareng Bunda."
"Bunda akan pulang bareng Vaia dan ayah, kan?" Vaia ganti meminta kesanggupan Vale yang kini matanya berkaca-kaca.
"Bunda sudah berada di rumahnya, Vaia! Jadi Bunda tidak akan pulang bersama kita!" Arga berusaha meredam emosinya yang bergejolak dan kembali membujuk Vaia dengan lemah lembut.
"Bunda akan menikah dengan Om Kyle! Jadi ayo kita pulang, Sayang!" Bujuk Arga sekali lagi. Namun Vaia malah menggeleng-gelengkan kepalanya dengan kuat.
"Vaia maunya pulang bareng Bunda! Vaia maunya Bunda tinggal di rumah lagi bersama Vaia dan Ayah. Biar Bunda bisa mengajari Vaia menggambar, memasak sarapan untuk Vaia, dan membacakan cerita atau bersenandung sebelum Vaia tidur," ucap Vaia yang kini sudah sesenggukan.
"Vaia sayang sama Bunda, Ayah!"
"Bunda akan jadi bundanya Vaia, kan?" Vaia ganti bertanya pada Vale yang sudah menyeka airmatanya dengan cepat.
"Nanti Vaia tinggal bareng Bunda di sini, ya!" Vaia kembali memberikan opsi pada Vaia, berharap Vaia akan setuju kali ini dan tak menolak seperti semalam.
Namun nyatanya, Vaia tetap keras kepala dan tetap pada pendiriannya. Gadis kecil itu menggeleng dengan kuat.
"Vaia biar tinggal disini dulu, Arga! Aku akan membujuknya pelan-pelan nanti. Kyle akan mengerti," Vale meminta pengertian dari Arga.
Arga tak berucap sepatah katapun dan memilih untuk berlalu dari kamar Vale membawa sejuta rasa kesal karena lagi-lagi Arga gagal membujuk putrinya yang keras kepala.
****
Vaia sudah tenang dan sedang menggambar di halaman belakang.
Vale segera membuka ponselnya dan menghubungi Kyle.
"Halo, Vale! Ada apa?" Sapa Kyle dari seberang telepon.
"Kyle, apa kau sedang sibuk sekarang?" Tanya Vale sedikit ragu.
"Tidak! Aku sedang duduk-duduk di rumah dan mengobrol dengan Emily. Ada apa memangnya?"
"Begini." Vale mendadak merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Tapi Vale tetap harus menyampaikan ini pada Kyle agar tak ada kesalahpahaman kedepannya.
"Apa kau keberatan jika setelah kita menikah nanti, Vaia ikut tinggal bersama kita?" Tanya Vale akhirnya.
"Maksudnya tinggal bersama kita? Bersama Arga juga, begitu?"
"Tidak! Bukan begitu!" Bantah Vale cepat.
"Vaia tidak mau jauh-jauh dariku, jadi aku berniat merawat Vaia saja dan mengajaknya tinggal bersamaku. Arga biar pulang ke rumahnya karena dia harus mengurus toko," jelas Vale pada Kyle.
"Kau sudah bicara dan minta izin pada Arga?"
"Sudah!" Jawab Vale cepat.
"Apa Arga sudah bilang setuju?"
"Tidak! Maksudku belum. Arga tak menjawab sepatah katapun saat aku meminta izin. Tapi aku rasa Arga akan setuju." Ujar Vale menarik kesimpulannya sendiri.
"Kenapa kau bisa sangat yakin, Vale! Kau tahu kalau Vaia itu segalanya untuk Arga, apa kau tega memisahkan gadis kecil itu dari ayah kandungnya!" Ucapan Kyle terdengar emosi.
"Aku tidak berniat memisahkan mereka! Aku hanya mencari jalan tengah karena Vaia yang tidak mau jauh-jauh dariku. Ke depannya aku akan membujuk Vaia agar mau pulang dan ikut Arga lagi!" Tutur Vale membantah tuduhan Kyle tentang memisahkan Vaia dari Arga.
"Aku tak keberatan sama sekali jika Vaia ikut tinggal bersama denganmu. Tapi rasanya sungguh tidak bijak memisahkan Vaia dari Arga meskipun hal itu cuma sementara." Tutur Kyle panjang lebar yang hanya membuat Vale mengangguk.
"Aku tutup dulu teleponnya, Vale! Kita bertemu sore nanti."
"Baiklah, Bye!" Vale mengakhiri teleponnya pada Kyke bersamaan dengan Vaia yang memanggilnya.
****
Sore menjelang.
Vale sudah mengenakan gaun pengantinnya dan Vaia yang juga sudah mengenakan gaun pengiring yang membuat gadis kecil itu terlihat seperti seorang princess. Namun sayangnya, raut wajah Vaia terlihat murung sejak tadi.
Tepatnya sejak Vale mengatakan kalau ia akan menikah dengan Om Kyle dan bukan dengan Ayah Arga
"Vaia!" Panggil Arga yang baru datang bersama Ben.
Arga dan Ben memang datang belakangan ke Rainer's Resto. Kini ayah kandung Vaia tersebut tampak gagah mengenakan setelan tuksedo warna hitam yang sepertinya adalah milik Ben.
Vaia berlari ke arah sang ayah dan memeluk erat ayahnya tersebut.
"Kenapa Bunda nggak nikah sama Ayah?" Cicit Vaia di dalam pelukan sang Ayah.
Arga tak menjawab dan segera membawa Vaia ke dalam gendongannya.
Pria itu menatap sejenak pada Vale yang tampil sangat anggun dan cantik sore ini. Sangat serasi dengan Kyle yang tadi juga terlihat gagah mengenakan jas pengantin warna putih yang senada dengan gaun pengantin Vale.
"Aku akan membawa Vaia," ucap Arga yang hanya dijawab Vale dengan sebuah anggukan.
"Vaia duduk sama ayah dan Om Ben, ya!" Arga ganti berucap pada sang putri dan membawa gadis kecil itu meninggalkan ruang ganti dan Vale yang kini hanya tinggal sendirian di ruang ganti.
Arga yang menggendong Vaia, bergabung bersama dengan tamu lain yang kini mengelilingi meja dimana Kyle dan Vale akan mengikat janji suci pernikahan.
"Bang Arga!" Panggil Ben yang sudah duduk di kursi barisan depan, yang berhadapan langsung dengan kedua calon mempelai nantinya. Haruskah Arga ikut duduk disana juga?
Tak ada pilihan lain!
Arga akhirnya duduk di samping Ben masih sambil memeluk dan memangku Vaia yang wajahnya begitu sedih. Tak ada sedikitpun senyum yang terukir di bibir bocah lima tahun tersebut.
Ingin rasanya Arga membawa kabur sang putri saja dari tempat ini dan tak perlu menyaksikan acara sakral antara Kyle dan Vale. Tapi rasanya sudah kepalang tanggung.
Nikmati saja, Arga!
Nikmati sakit hatimu!
****
Acara sudah dimulai.
Kyle dan Vale duduk bersebelahan menghadap sebuah meja yang dihiasi bunga-bunga dan Kyle juga sudah siap mengucapkan ikrar suci pernikahan. Karena Vale bukan merupakan putri kandung Papa Theo, jadilah pernikahan kali ini menggunakan wali hakim.
Wali hakim sudah mengulurkan tangannya ke atas meja, memberi kode agar Kyle segera menjabatnya, dan mengucapkan ikrar suci pernikahan.
Namun Kyle tak kunjung melakukanya dan pria itu fokus menatap ke arah Arga yang kini sedang memangku Vaia.
Arga tak sedikitpun menatap ke arah Kyle dan Vale, dan pria itu hanya menundukkan wajahnya. Berusaha menyembunyikan wajah tegarnya. Baiklah, Arga memang terlihat lebih tegar dan lebih kuat. Namun tidak dengan Vaia. Netra gadis kecil itu sudah berkaca-kaca sekarang, dan dia mengeratkan dekapannya pada sang ayah.
Kyle rasa, Vaia akan menangis tak lama lagi.
Kyle ganti menatap pada Vale yang rupanya sedang menatap pada Vaia dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Kyle, cepat jabat tangan Pak Wali hakim!" Bisik Dad Nick yang duduk di belakang kursi Kyle.
Namun Kyle hanya mematung di tempatnya dan masih belum menjabat tangan Pak Wali Hakim.
Tidak!
Ini salah!
Ini sungguh salah!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.