
Arga masih mendekap tubuh Vale di dalam bathtube kamar mandi dan jemarinya menyusuri setiap jengkal tubuh Vale yang kini sudah sah menjadi istrinya.
"Mau berendam sampai kapan, Arga? Bukankah katamu tadi hanya sebentar?" Tanya Vale yang mulai mengantuk padahal 'perang' malam ini juga belum dimulai.
"Sebentar lagi," Arga menyusupkan kepalanya kecdalam ceruk leher Vale dan mengendus aroma khas dari tubuh Vale yang berbaur dengan aroma sabun yang wangi.
"Aku sudah kedinginan," ucap Vale seraya mengusap kepaka Arga yang masih berada di ceruk lehernya.
"Kita sudahi sekarang!" Arga meraih shower dan mengguyur tubuh Vale dari sisa-sisa busa sabun. Tangan Arga begitu ahli menyeka setiap jengkal tubuh Vale dan memastikam todak ada sisa sabun di tubuh istrinya tersebut.
"Aku bisa melakukannya sendiri," bisik Vale saat jemari Arga berlama-lama mengusap dadanya.
"Dan aku bisa melakukannya lebih baik darimu."
"Aku kedinginan, Arga!" Desah Vale sekali lagi.
"Baiklah, kita sudahi!" Arga meraih handuk untuk mengeringkan tubuh Vale sebelum membungkus tubuh istrinya tersebut dengan bathrobe.
Arga sendiri hanya mengenakan handuk yang membalut bagian bawah tubuhnya, dan keluar dari kamar mandi.
"Bajuku masih di kamar bawah," ucap Arga yang akhurnya ingat dengan bajunya di kamar tamu.
"Akan kusuruh Ben mengantarnya kesini. Semoga anak itu belum tidur." Vale meraih ponselnya dan menelepon Ben yang kamarnya ada di lantai bawah.
"Ada apa, Kak?"
"Bisa kau antarkan baju Arga-"
"Ada di depan kamar Kakak! Dari tadi Ben ketuk-ketuk nggak ada jawaban. Ben pikir sudah tidur semua bertiga," Ben terkikik di seberang telepon.
"Baiklah! Terima kasih!"
"Kak! Ben sarankan pindah ke kamar sebelah kalau mau lembur! Vaia bisa terbangun nanti kalau ranjangnya gempa bumi!"
"Sok tahu kamu!" Pungkas Vale bersungut-sungut sebelum menutup teleponnya pada Ben dan meletakkan ponselnya dengan kasar ke atas meja rias.
"Bajumu ada di depan kamar kata Ben. Biar ku ambil." Vale hendak beranjak dari duduinya. Namun Arga mencegah dan pria itu mengambil bajunya senduri yang ternyata diletakkan Ben di meja kecil di depan kamar Vale.
Suasana rumah juga sudah sepi dan lantai bawah sudah gelap. Sepertinya semua penghuni rumah sudah terlelap.
Arga memilih mengenakan kaus putih lengan pendek dan sebuah celana rumahan. Sedangkan Vale sudah memakai piyamanya.
"Kita tidur saja! Kau pasti lelah!" Arga menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan tubuh Vale.
Vaia masih terlelap di bagian tepi tempat tidur, Vale berada ditengah, dan Arga di sisi lain, mendekap Vale yang kini tidur menghadap ke arah Vaia.
"Arga!" Bisik Vale seraya mengusap lengan Arga yang mekingkari pinggangnya.
"Kenapa?" Tanya Arga yang ternyata juga belum tidur.
Pria itu menyandarkan dagunya di puncak kepala Vale.
"Ya, aku percaya," jawab Arga yang sepertinya tak terlalu kaget.
Vale segera berbalik dan kini ganti menghadap Arga.
"Apa Tania juga sering menemuimu dalam mimpi?" Tanya Vale penasaran.
"Kadang-kadang saat aku sedang kalut dan tak menemukan solusi untuk masalahku." Jawab Arga yang kini tangannya sudah terulur untuk mengusap wajah Vale dan menyingkirkan anak rambut yang ada di wajah Vale.
"Apa Tania yang menyuruhmu membawa Vaia kembali kesini?"
"Tania dan Paman Jo lebih tepatnya. Mereka berdua mengatakan, jika aku tetap egois dan tidak mau mempertemukan Vaia denganmu, Vaia akan dijemput oleh Tania dan dibawa ke surga," cerita Arga dengan nada sendu.
"Vaia adalah segalanya bagiku. Aku tidak akan bisa melanjutkan hidup jika Vaia meninggalkanku."
Vale mengangguk-angguk merasa paham dengan perasaan Arga saat ini.
Arga pasti sangat menyayangi Vaia seperti Papa Theo yang juga sangat menyayangi Vale.
Cara Arga menyayangi Vaia selalu mengingatkan Vale pada kasih sayang sang Papa yang luar biasa. Mungkin hal itulah yang membuat Vale menaruh hati pada pria di hadapannya ini sekarang.
Pria yang kini menjadi suami Vale.
"Vaia terlihat sangat bahagia malam ini. Dia terus tersenyum sepanjang acara," ucap Vale yang langsung diiyakan oleh Arga.
"Kita akan membuat Vaia terus tersenyum setelah ini," Vale meraih tangan Arga, dan mengecupnya cukup lama.
Arga balas mencium kening Valeria dan mendekap istrinya tersebut.
Setidaknya, bukan hanya Vaia yang bahagia malam ini. Arga juga sangat bahagia malam ini.
"Aku mencintaimu, Arga!" Bisik Vale yang langsung membuat hati Arga menghangat.
"I love you too, Vale!"
.
.
.
Maaf yang kena PHP.
Belum jadi belah duren ternyata 😅😅
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.