My Angel Valeria

My Angel Valeria
AYO PULANG, BUNDA!



Malam menjelang di kediaman Rainer.


Audrey datang membawa sebuah gaun pengiring pengantin ukuran anak-anak dan menyapa Ben yang sedang berkutat dengan ponselnya di ruang tengah.


"Malam, Ben! Sedang mencari teman kencan untuk ke acara pernikahan besok?" Sapa Audrey sedikit menggoda adik Valeria tersebut.


"Malam, Kak Audrey! Itu gaun untuk siapa? Bukankah gaun Kak Vale sudah diantar kemarin?" Tanya Ben seraya menunjuk ke arah gaun di tangan Audrey.


"Entahlah! Tadi Tante Airin meneleponku dan bertanya apa ada gaun pengiring pengantin ukuran anak lima tahun. Jadi aku mencari dan membawakannya kesini."


"Kau punya keponakan berusia lima tahun?" Tebak Audrey menerka-nerka.


"Tidak ada! Tapi mungkin gaun itu untuk Vaia. Coba tanya saja pada Mama!" Jawab Ben mengendikkan kedua bahunya.


"Siapa Vaia?" Tanya Audrey karena merasa asing dengan nama itu.


"Putrinya Ka Vale hasil nemu," jawab Ben yang malah berkelakar.


"Gaunnya ada, Audrey?" Tanya Mama Airin yang baru turun dari lantai dua.


"Ada, Tante! Tapi karena Audrey tidak yakin dengan ukurannya, jadi Audrey bawakan tiga gaun. Mungkin bisa dicoba dulu ke anaknya, yang mana yang pas," jelas Audrey seraya mengangsurkan ketiga gaun yang ia bawa pada Mama Airin.


"Baiklah, terima kasih banyak, Audrey!" Ucap Mama Airin seraya tersenyum pada Audrey.


"Vaia udah sehat, Ma? Kok mau dipakaikan gaun pengiring?" Tanya Ben pada sang mama.


"Sudah! Sudah ceria itu anaknya di atas. Sudah bisa menggambar juga," jawab Mama Airin yang langsung membuat Ben manggut-manggut dan bernafas lega.


"Audrey langsung pamit, Tante! Masih harus ke resto mengurus dekorasi dan persiapan untuk besok soalnya," pamit Audrey akhirnya karena merasa urusannya di kediaman Rainer sudah selesai.


"Oh, iya! Sekali lagi terima kasih, ya, Audrey!" Ucap Tante Airin sekali lagi.


"Sama-sama, Tante! Audrey pamit dulu!" Pamit Audrey sekali lagi pada Mama Airin. Tak lupa Audrey juga berpamitan pada Ben yang masih saja sibuk dengan ponselnya.


Audrey berjalan ke arah pintu utama kediaman Rainer sambil memeriksa ponselnya yang tiba-tiba berdering, saat wanita itu tak sengaja menabrak seseorang yang mengenakan kemeja biru garis-garis, yang baru saja masuk ke dalam rumah keluarga Rainer.


"Ups! Maaf, Kyle!" Ucap Audrey cepat yang entah mengapa sering sekali bertabrakan dengan calon suami Vale ini.


"Tidak apa-apa! Kita sering bertabrakan sepertinya!" Jawab Kyle sedikit terkekeh.


"Ya! Aku juga heran," Audrey ikut-ikutan terkekeh.


"Ngomong-ngomong, bukankah seharusnya kau diam di rumah sekarang dan tidak kemana-mana? Kau akan menikah dengan Vale besok! Kenapa malah datang ke rumah Vale begini?" Cerocos Audrey mengomel pada Kyle.


"Aku hanya ingin memeriksa keadaan Vale sebentar dan memastikan kalau dia sudah benar-benar sehat," jawab Kyle memasang raut sajah serius.


"Baiklah, tuan tukang khawatir! Silahkan periksa kondisi calon istrimu!" Audrey memberi jalan pada Kyle dan mempersilahkan dengan sedikit lebay.


"Kau sendiri sedang apa kesini? Apa ada masalah?" Wajah Kyle kembali khawatir.


"Tidak! Aku hanya mengantar gaun untuk keponakan Ben tadi. Namanya Vaia atau siapa tadi, aku juga tidak tahu," Audrey mengendikkan bahunya.


"Vaia ada disini?" Kyle tampak terkejut.


Siapa memangnya Vaia?


Kenapa semua orang mendadak heboh dan terkejut?


"Tanyakan saja pada Ben! Aku mau kembali ke resto mengurus dekorasi!" Jawab Audrey seraya menengok arloji di tangannya.


"Baiklah! Hati-hati, Nona Audrey!" Pesan Kyle sedikit menggoda pemilik WO tersebut.


Gadis itu segera berlalu dari hadapan Kyle dan melintasi teras rumah Vale dengan cepat, lalu masuk ke dalam mobil merah miliknya yang terparkir di halaman.


"Keren juga Audrey! Mengemudi mobil sport sendiri!" Gumam Kyle berdecak kagum, sebelum pria itu lanjut masuk ke dalam rumah Valeria dan menyapa Ben yang masih betah duduk di ruang tengah sejak tadi.


"Ben!" Kyle menepuk pundak calon adik iparnya tersebut, karena Ben menyumpal telinganya dengan earphone.


"Abang sedang apa disini?" Ben terlihat terkejut.


"Vale mana?" Tanya Kyle yang kini sudah ikut duduk di samping Ben.


"Lagi di kamar, bersama Vaia." Jawab Ben seraya melepaskan earphone dari telinganya.


"Vaia dan Arga disini?" Tanya Kyle menyelidik.


"Vaia sakit sudah lima hari dan manggil-manggil Kak Vale terus. Jadi Bang Arga membawanya kesini," cerita Ben yang cukup bisa membuat Kyle terkejut.


Bukankah Vale juga sakit beberapa hari kemarin, dan gadis itu juga memanggil-manggil nama Vaia saat mengigau.


Kenapa bisa kebetulan begini?


Apakah ini yang dinamakan ikatan batin?


"Lalu sekarang bagaimana kondisi Vaia?" Tanya Kyle sedikit cemas.


"Sudah membaik tadi kata Mama. Itu Mama!" Ben mengendikkan dagunya ke arah tangga dimana Mama Airin yang baru turun dari kamar Vale.


"Kyle! Apa Mom Bi tidak mengurungmu di rumah? Kenapa malah kelayapan kesini?" Tegur Mama Airin pada Kyle yang hanya nyengir tanpa dosa.


"Kyle hanya ingin memastikan keadaan Vale, Tante! Apa Vale sudah benar-benar sehat?" Tanya Kyle pada calon mertuanya tersebut.


"Ya, Vale sudah sehat dan siap menikah besok," jawab Mama Airin yang langsung membuat Kyle bernafas lega.


"Kyle boleh menemuinya sebentar, Tante?" Tanya Kyle sedikit memohon pada Mama Airin.


"Sebentar saja, dan cepatlah pulang! Toh besok kalian sudah menikah!" Tutur Mama Airin yang langsung membuat Kyle sedikit tersipu.


"Baiklah! Hanya sepuluh menit paling lama," Kyle sudah menuju ke arah tangga dan setengah berlari menaiki anak tangga.


Pintu kamar Vale sedikit terbuka, namun lampu di dalam kamar dimatikan. Hanya lampu tidur yang masih menyala.


Kyle mendorong pintu itu perlahan, saat Kyle mendengar ucapan memilukan dari Vaia yang sedang berbaring dan dipeluk oleh Vale.


"Bunda, ayo kita pulang ke rumah ayah!"


"Vaia janji nggak akan jadi anak nakal dan akan nurut sama bunda sama ayah. Tapi ayo kita pulang, Bunda! Vaia sayang sama bunda!"


"Bunda jangan jauh-jauh lagi dari Vaia!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.