My Angel Valeria

My Angel Valeria
TITIK TERANG



Arga baru saja akan membuka tokonya, saat pria itu mendapati pintu toko bekas di cungkil dari luar.


Sial!


Bergegas Arga masuk ke dalam toko dan rak toko serta barang-barang di rak sudah jatuh berhamburan di lantai. Sepertinya toko Arga baru saja dirampok semalam. Dan Arga tidak mendengar apa-apa semalam!


Benar-benar sial!


"Ayah! Apa yang sudah terjadi?" Tanya Vaia yang tiba-tiba sudah berada di belakang Arga. Bergegas Arga membawa putrinya tersebut ke dalam gendongan.


"Ada orang iseng yang sudah mengacak-acak toko Ayah," jelas Arga berusaha meredam emosinya di depan Vaia.


"Kau kenapa kesini dan tidak membantu bunda memasak?" Tanya Arga lagi pada Vaia.


"Gula di dapur habis, dan bunda minta Vaia mengambil gula ke toko," jelas Vaia yang masih mengalungkan lengannya ke leher Arga.


"Baiklah, ayo kita cari tahu di rak gula," Arga berjalan ke bagian rak yang berisi kebutuhan pokok. Benar-benar berantakan sekarang.


"Ini dia!" Arga memungut satu bungkus gula yang jatuh ke lantai.


"Antarkan ke bunda, agar masakan bunda cepat matang, dan kita bisa cepat sarapan," titah Arga setelah menurunkan Vale di depan pintu masuk toko.


"Baiklah! Nanti Vaia bantu merapikan toko, Ayah!" Janji Vaia seraya berlari kecil menuju ke arah rumah.


Arga kembali berbalik dan menatap sedih pada barang-barang tokonya yang berserakan. Setelah menarik nafas panjang berulang kali, Arga segera memunguti satu persatu barang yang berserakan di lantai, lalu mengumpulkan dan memisahkan yanag sekiranya rusak dan masih bagus.


Ini benar-benar akan memakan waktu seharian!


"Arga!"


"Oh, astaga!" Vale terlihat berdiri di ambang pintu toko dan terkejut dengan pemandangan di dalam toko.


"Aku rasa tadi malam ada orang iseng yang masuk dan mengacak-acak toko," ujar Arga dengan nada sddih pada Vale.


"Apa ada yang hilang?" Tanya Vale khawatir.


"Mungkin beberapa barang yang hilang. Kalau uang, aku tak pernah meninggalkannya di toko dan selalu menyimpan di rumah," jawab Arga yanag langsung membuat Vale manggut-manggut.


"Perampoknya mungkin kesal karena tidak menemukan uang, jadi mereka mengacak-acak toko," Arga sedikit terkekeh dan meraih satu troli untuk mengumpulkan makanan ringan kemasan yang berserakan di lantai.


"Apa tidak ada CCTV di tokomu?" Tanya Vale yanag sudah membantu Arga mengumpulkan semua barang toko yang berserakan.


"Ada. Nanti kita lihat pelakunya agar aku bisa segera menjebloskannya ke dalam penjara," jawab Arga sedikit kesal.


Vale menghampiri Arga dan merangkul pundak pria tersebut.


"Mungkin sebaiknya kita sarapan dulu. Nanti kita lanjut memberrskan kekacaauan ini, agar emosimu juga sedikit reda."


Vale mengusap dada Arga yang sejenak membuat Arga terdiam. Tatapan keduanya saling bertemu.


"Baiklah, ayo kita sarapan!" Ucap Arga yang masih menatap ke arah Vale. Pria itu sudah bangkit berdiri dan sedikit membantu Vale untuk berdiri juga. Keduanya pun bergandengan tangan menuju ke rumah Arga untuk sarapan.


****


Arga, Vale, dan Vaia sudah selesai sarapan dan kini mereka sedang melihat rekaman CCTV toko.


"Satu, dua, tiga, empat, lima!" Arga menghitung jumlah pemuda mabuk yang mencongkel tokonya, lalu mencari uang yang ada di meja kasir, dan lanjut mengacak-acak toko miliknya.


"Ada lima orang yang mengacak-acak tokomu, Arga!" Vale menatap pada Arga yang masih fokus melihat rekaman tersebut.


"Ya, mereka memang beberapa kali lewat di depan toko. Tapi biasanya tidak pernah sampai merusak begitu," gumam Arga sedikit kesal.


"Aku akan memberi mereka pelajaran," Arga mematikan laptopnya, lalu memasukkannya ke dalam tas ransel.


"Kau akan ke kantor polisi?" Tebak Vale yang sudah beranjak dari duduknya dan mengambilkan jaket untuk Arga.


"Kau tidak keberatan kan, menjaga Vaia sebentar?" Arga menatap sejenak pada Vale dan meminta kesanggupan gadis tersebut.


"Aku dan Vaia akan ke toko dan membereskan kekacauan tadi," ucap Vale setelah membalas tatapan Arga sejenak.


Arga mengangguk, dan mengusap wajah Vale sebelum berpamitan,


"Aku pergi dulu!"


"Bye, ayah!" Seru Vaia dari teras rumah.


"Bye, Sayang!" Arga melambaikan tangan pada Valia dan Vale sebelum melajukan mobil pick up double kabinnya ke arah kantor polisi yang sedikit jauh dari rumah.


"Ayo kita ke toko dan beres-beres!" Vaia merentangkan tangannya ke arah Vaia, dan gadis kecil itu langsung melompat ke gendongan Vale.


Setelah menutup pintu rumah, Vale dan Vaia segera menuju ke toko untuk membereskan kekacauan yang ada di sana.


****


Butuh waktu tiga puluh menit untuk Arga sampai di kantor polisi yang paling dekat dengan rumahnya.


"Hei, Arga! Lama tak kelihatan!" Sapa seorang polisi yang sepertinya cukup akrab dengan Arga.


"Ya! Aku sibuk di toko, jadi tak bisa kemana-mana," ucap Arga sedikit terkekeh dan segera membuka tas ranselnya, lalu mengeluarkan laptopnya dari dalam tas.


"Ada masalah?" Tanya polisi tadi yang sudah mendekat ke arah Arga.


"Remaja-remaja nakal itu mengacak-acak tokoku semalam," Arga segera menunjukkan rekaman kamera CCTV di tokonya.


"Mereka benar-benar sudah kelewat batas," gumam polisi tadi.


"Ya. Apa aku bisa membuat laporan sekarang agar mereka sedikit jera?" Tanya Arga serius.


Berapa bulan yang lalu kejadian serupa memang pernah menimpa toko Arga, meskipu tak separah kali ini. Namun karena kala itu Arga belum memasang kamera CCTV, laporan Arga tidak bisa di proses karena tidak ada bukti kuat. Dan setelah itu, Arga memutuskan untuk memasang beverapa kamera di toko miliknya.


"Tentu saja! Kami akan segera memberi mereka pelajaran karrna kau sudah membawa bukti yang kuat. Aku pinjam sebentar laptopmu, untuk menyalin rekaman videonya," polisi yang merupakan teman Arga tadi sudah membawa pergi laptop Arga.


Sedangkan Arga masih duduk ditempatnya, saat seorang polisi lain datang membawa beberapa kertas untuk di tempelkan di papan pengumuman orang hilang, atau daftar pencarian orang.


Arga beranjak dari duduknya dan mendadak sedikit penasaran dengan papan tersebut. Arga melihat satu persatu kertas ddngan foto dan beberapa keterangan. Hingga akhirnya netra Arga tak sengaja membaca satu nama yang tak asing dari kertas yang terletak di bagian bawah dan tertindih oleh kertas-kertas lain.


Valeria Rainer?


Arga mengambil kertas itu dengan hati-hati dan pria itu semakin terkejut saat mendapati foto Vale di kertas tersebut. Vale dinyatakan sebagai orang hilang, dan keluarganya memang sedang mencari keberadaan Vale sekarang. Ada nomor telepon dan alamat lengkap Vale di kertas tersebut.


Tunggu!


Jadi nama Vale adalah Valeria?


Kebetulan sekali namanya sama dengan nama putri Arga.


"Arga! Laporanmu sudah selesai!" Panggil teman polisi Arga tadi.


Segera Arga melipat kertas pengumuman yang berisi info tentang Valeria tadi dan memasukkannya ke dalam saku celana.


Setelah menandatangani laporan yang ia buat dan mengambil laptopnya, Arga segera meninggalkan kantor polisi dan pulang ke rumahnya.


Mungkin Arga akan menghubungi keluarga Vale secepatnya.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.