My Angel Valeria

My Angel Valeria
MESRA



Hari yang cukup sibuk di toko milik Arga. Mungkin karena Paman Jo yang belum bisa kembali karena Bibi May yang mendadak jatuh sakit.


Vale dan Arga bergantian menjaga toko milik Arga tersebut melayani para wisatawan yang mampir ke toko.


"Bunda!" Rengek Vaia yang sepertinya sudah bosan bermain sendiri sejak tadi. Bocah lima tahun tersebut juga terlihat sudah mengantuk.


Jam memang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Biasanya Arga sudah menutup tokonya jam segini jika tidak ada Paman Jo. Namun karena masih ada satu bus yang singgah, Arga jadi menunda menutup tokonya.


"Tidurkan Vaia dulu, nanti aku yang akan menutup tokonya," ujar Arga pada Vale yang kini tengah menggendong Vaia yang terus merengek.


"Baiklah! Aku pulang duluan!" Pamit Vale sebelum keluar dari toko dan meninggalkan Arga yang masih melayani beberapa pembeli.


Sampai di rumah, Vale langsung mengganti baju Vaia dan mengajak bocah kecil itu untuk mencuci kaki dan tangan serta menggosok gigi. Lalu Vale membacakan dongeng untuk Vaia dan tak butuh waktu lama, Vaia sudah langsung terlelap.


Vale baru saja akan menyusul Arga, saat pria itu ternyata sudah selesai menutup toko dan pulang ke rumah.


"Vaia sudah tidur?" Tanya Arga pada Vale yang membukakan pintu.


"Ya! Itu apa?" Vale menunjuk ke arah dua bungkus mie yang dibawa Arga dari toko.


"Sesekali makan malam pakai ini tidak masalah sepertinya," jawab Arga seraya mengendikkan bahu.


"Biar aku yang masak." Vale mengambil bungkusan mie tadi dari tangan Arga dan segera membawanya ke dapur.


"Aku akan mandi sebentar!" Pamit Arga yang sudah menghilang ke arah kamar mandi.


Selang lima belas menit, Arga sudah selesai mandi, dan aroma harum mie kuah juga sudah menguar dari arah dapur.


"Sudah jadi?" Tanya Arga yang sudah menyusul Vale ke arah dapur dan berdiri dj belakang gadis itu untuk melihat Vale yang sedang menaburkan bawang goreng di atas mie kuah.


"Ayo, makan!" Ajak Vale seraya membawa dua mangkuk mie tersebut ke meja makan yang masih menyatu dengan dapur. Arga mengikuti langkah Vale dan ikut duduk di samoing gadis tersebut.


"Wow! Mie rebus tapi istimewa ada telur dan sayurnya," puji Arga setelah melihat npmie buatan Vale.


"Biar tetap sehat!" Jawab Vale seraya menepuk punggung Arga.


"Panas!" Ujar Arga setelah mencicipi sedikit mie beserta kuahnya.


"Ditiup dulu!" Vale meniup mienya sebentar lalu menyuapkan mie tersebut pada Arga yang duduk di sebelahnya.


"Enak!" Puji Arga sekali lagi.


"Enak mie-nya atau enak karena disuapi?" Goda Vale yang kini tersenyum pada Arga.


"Makan sambil di suapi rasanya enak," jawab Arga lengkap.


"Aku mau juga disuapi kalau begitu," Vale sudah membuka mulutnya.


Arga segera menyuapkan mie ke dalam mulut Vale perlahan.


"Ya, rasanya memang beda,"pendapat Vale di sela-sela gadis itu mengunyah mie.


"Telan dulu!" Arga menyeka kuah mie yang belepotan di pipi dan disekitar bibir Vale.


Pipi gadis itu sontak bersemu merah dengan sikap manis Arga.


"Kau punya koleksi film apa saja?" Tanya Vale mengalihkan topik pembicaraan.


"Ada banyak di laptop. Kau mau menontonnya nanti?" Tawar Arga sebelum kembali menyuapkan mie ke dalam mulut Vale.


Entah sadar entah tidak, dua orang yang duduk bersebelahan tersebut kini saling suap-suapan dan mie di mangkuk mereka juga sudah hampir habis.


"Aku yang pilih filmnya!" Usul Vale cepat.


"Tentu!" Jawab Arga seraya mengangguk.


Pria itu meraih tisu di ats meja makan dan menyeka sekali lagi sisa-sisa kuah mie di sekitar bibir Vale, karena kini mie di mangkuk Arga dan Vale sudah tandas tak bersisa.


"Kau mau coklat panas, kopi, atau teh untuk teman nonton film?" Tanya Arga yang sudah beranjak dan membawa mangkuk kotor ke wastafel untyk selanjutnya ia cuci.


"Coklat panas seperti yang di rumah Paman Jo kemarin apa ada?" Tanya Vale yang sudah duduk di atas sofa dan mengutak-atik laptop Arga.


"Ada! Mau aku buatkan?" Tanya Arga sekali lagi.


"Ya, jika tidak merepotkan," jawab Vale seraya tersenyum pada Arga.


Setelah siap, Arga segera ikut duduk di sofa dan meletakkan coklat panas di meja dekat sofa.


"Sudah dapat filmnya?" Tanya Arga seraya melirik ke layar laptop dan malah mebdapati Vale yang sedang melihat-lihat foto pernikahan Arga dan Tania.


"Itu foto lama," ucap Arga dengan nada sendu.


"Tania cantik! Dan Vaia mirip sekali dengan Tania," pendapat Vale yang masih melihat-lihat foto Arga dan Tania.


"Ya, semua orang juga bilang begitu," jawab Arga lirih.


"Ini danau yang kita kunjungi kemarin," Vale menunjuk ke satu foto dimana Arga dan Tania tengah berpose di tepi danau.


"Ya!"


"Kau belum mengambil fotoku di danau itu kemarin. Padahal pemandangannya cantik sekali," Vale sedikit kecewa sekarang.


"Mungkin kita harus kembali ke sana lagi nanti agar aku bisa mengambil fotomu di tepi danau," ujar Arga memberikan ide untuk sedikit menghibur Vale.


"Baiklah, aku akan menagih janjimu itu kapan-kapan!" Vale merapatkan duduknya ke arah Arga dan memberikan laptop dipangkuannya kepada Arga.


"Dimana film-filmmu?"


Arga segera membuka file koleksi filmnya dan membiarkan Vale yang memilih film apa yang akan mereka tonton malam ini.


"Safe Haven, film tentang seorang wanita yang kabur dari suaminya yang jahat, lalu bertemu single father yang punya dua orang anak, dan akhirnya mereka saling jatuh cinta." Vale memilih satu film berjudul "Safe Haven"


"Hampir mirip dengan kisahku bertemu seorang single father dan putri cantiknya," sambung Vale lagi sedikit terkekeh.


"Ya, tapi Katie di film ini tidak hilang ingatan dan dia memang sengaja kabur dari suaminya yang over posesif," timpal Arga memberikan pendapatnya.


"Tidak! Suami Katie itu bukan over posesif. Tapi psikopat," sahut Vale memberikan pendapatnya sendiri.


"Baiklah terserah saja! Ayo kita fokus menonton dan jangan baper!" Bisik Arga di telinga Vale yang sontak membuat Vale mencubit perut pria di sampingnya tersebut.


Arga hanya meringis dan segera merangkulkan lengannya ke pundak Vale. Sedangkan Vale juga balas menyandarkan kepalanya di dada Arga dengan sangat nyaman. Dua orang tersebut langsung larut menikmati film yang mereka tonton.


Di pertengahan film saat adegan Katie yang berciuman dengan Alex di bawah pohon, Arga sedikit terkekeh dan segera menutup mata Vale dengan telapak tangannya.


"Apa sih, Ga!" Vale berontak dan menyentak tangan Arga.


"Itu adegan dewasa! Jangan melihatnya!" Ujar Arga yang masih terkekeh.


"Kau pikir aku masih bocah? Umurku sudah dua puluh empat tahun!" Sahut Vale yang kembali fokus ke film di laptop Arga.


"Kau ingat berapa umurmu?" Sergah Arga tak percaya.


Vale hanya mengendikkan bahu,


"Aku bermimpi sdang merayakan ulang tahu bersama beberapa orang asing, dan lilinnya berbentuk angka dua puluh empat. Jadi aku pikir, mungkin umurku dua puluh empat tahun," cerita Vale yang semakin merapatkan tubuhnya ke dekapan Arga.


Gadis itu terlihat kedinginan. Jadi Arga segera membentangkan selimut untuk menutupi tubuhnya dan juga tubuh Vale.


"Mungkin usiamu memang masih dua puluh empat tahun. Kau masih sangat muda tapi jiwa keibuanmu begitu besar," gumam Arga yang hanya disambut Vale dengan anggukan samar.


Setelah itu, tak ada lagi obrolan. Arga dan Vale sudah fokus menikmati film yang mereka tonton. Hingga saat film hampir berakhir, Arga merasakan Vale yang sudah bernafas teratur di dalam dekapannya. Gadis itu sepertinya kelelahan mengurus Vaia dan membantunya di toko hingga akhirnya tertidur.


Arga segera bangkit berdiri dan menggendong Vale untuk ia pindahkan ke dalam kamar.


Vaia masih tertidur pulas di atas tempat tidur, dan Arga membaringkan tubuh Vale di sebelah Vaia. Tak lupa, Arga juga menyelimuti dua Valeria tersebut agar tak kedinginan.


Arga mengecup kening Vaia, dan hendak mengecup kening Vale juga. Namun Arga mengurungkan niatnya dengan cepat dan ganti mengusap wajah Vale sekilas saja, sembari mengulas senyum di bibirnya.


Setelah itu, Arga keluar dari kamar dan merebahkan diri di sofa. Ikut tidur dan beristirahat juga agar tubuhnya kembali segar besok pagi dan siap beraktivitas.


.


,


,


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.