
Arthur Company
Kyle sedang membereskan meja kerjanya, saat ponsel di sakunya berdering nyaring.
Om Theo menelepon!
"Sore, Om!" Sapa Kyle pada calon mertuanya tersebut.
"Kyle, apa Valeria masih di kantormu?"
"Vale sudah pergi ke Resto setelah makan siang, Om. Apa dia tidak pamit?" Jawab Kyle cepat.
"Kau mengantarnya?"
"Vale naik taksi karena saya ada meeting tadi," jelas Kyle yang mulai merasa khawatir.
"Vale tidak datang ke resto sejak pagi. Dan ponselnya tidak aktif sekarang."
"Apa? Tapi tadi saya sangat yakin kalau Valeria menerima telepon dari karyawannya yang mengatakan kalau sedang ada masalah kecil di resto. Jadi Vale buru-buru pergi naik taksi," Kyle menceritakan kronologi kejadian sebelum Valeria keluar dari kantornya.
"Ya. Dan Vale tidak pernah sampai di resto."
"Sudah menghubungi semua teman Valeria, Om?" Tanya Kyle yang sudah benar-benar khawatir.
"Sudah semua. Dan Vale tak ada dimana-mana."
Suara Om Theo terdengar putus asa.
"Vale pasti ada di suatu tempat, Om!" Kyle masih berusaha berpikir positif.
"Apa kita harus lapor polisi sekarang, Kyle?"
"Belum ada 24 jam. Kita cari tahu dulu, Om!" Saran Kyle cepat.
Om Theo langsung berpamitan dan menutup telepon.
Kyle sendiri langsung menuju ke ruangan security untuk melihat dari CCTV kantornya, dengan siapa Valeria pergi siang tadi.
****
Rainer's Resto
Kyle datang tergesa ke Rainer's Resto, setelah mendapat kabar dari Om Theo kalau ada salah satu karyawan Resto yang sempat melihat Valeria turun dari taksi di depan Resto.
"Bu Valeria turun di depan Resto dan tidak masuk ke halaman parkir. Lau berbicara oada seorang ibu-ibu. Saya pikir mungkin teman atau keluarganya. Dan setelahnya saya tidak tahu karena saya hanya melihat sekilas dan langsung masuk ke dalam." Jelas karyawan tersebut pada Papa Theo, Mama Airin dan Kyle.
"Pa!" Mama Airin terlihat sangat cemas.
Papa Theo yang sama cemasnya berusaha untuk menenangkan sang istri.
"Apa tidak ada CCTV yang mengarah ke depan resto, Om?" Tanya Kyle yang langsung membuat Om Theo berpikir sejenak.
"CCTV hanya sampai halaman parkir. Tapi mungkin bisa kita lihat, karena seingat Om kameranya mengarah ke jalan di depan Resto juga di dekat papan reklame, " jawab Om Theo yang langsung membuat tiga orang tersebut bergerak ke ruangan CCTV.
"Valeria naik taksi dari Arthur Company pukul 13.25. Jadi kita buka rekaman antara jam 13.30 sampai 14.00," tutur Kyle pada operator di ruangan CCTV.
Om Theo benar. Ada satu kamera CCTV kafe yang mengarah ke jalan di depan resto tepatnya di jalan masuk dekat papan reklame.
"Itu Valeria!" Tunjuk Kyle cepat saat melihat seorang gadis turun dari taksi tepat di depan jalan masuk ke Rainer's Resto.
"Ada ibu-ibu yang menghampirinya. Sama seperti kata karyawan tadi," gumam Papa Theo masih menyimak gambar di layar monitor.
"Apa gambarnya bisa diperbesar, Pak?" Tanya Kyle pada operator.
Gambar segera di perbesar meskioun sedikit pecah. Terlihat Valeria sedang adu debat dengan ibu-ibu tua yang menghampirinya. Lalu datang seorang pria tua juga yang mebekap Valeria dan Valeria pingsan seketika. Lalu ada lagi seseorang yang sepertinya supir mobil yang membawa pasangan orangtua tadi membantu memasukkan Valeria ke dalam mobil.
"Ini penculikan!" Sergah Papa Theo seraya mengepalkan tangannya.
Tapi siapa orang jahat yang sudah menculik Valeria?
Papa Theo tak pernah punya musuh selama ini.
Sementara itu Mama Airin sudah beringsut mundur saat mrlihat dua orang yang membekap dan menculik Valeria. Mama kandung Valeria itu menutup mulutnya dengan telapak tangan dan menangis terisak.
Meskipun gambar wajah pelaku tidak terlalu jelas bagi Papa Theo dan Kyle, namun bagi Mama Airin gambar itu sangat jelas dan Mama Airin langsung bisa mengenali dua orang tua laknat yang sudah menculik Valeria tersebut.
"Tante Airin," Kyle segera merangkul dan menenangkan Mama Airin yang tiba-tiba histeris.
"Airin kau kenapa?"
"Mereka tidak punya hak apa-apa atas Valeria, Mas! Mereka tidak bisa mengambil Valeria!"
"Valeria putriku dan mereka tak punya hak apa-apa! Mereka dulu menolak kehadiran Valeria! Lalu kenapa sekarang mereka menculik putriku?" Kalimat demi kalimat yang meluncur dari bibir Mama Airin langsung bisa membuat Papa Theo menebak siapa yang sudah menculik Valeria.
"Pria itu mati kecelakaan setelah menolak menikahi Airin. Dan keluarga pria itu juga tidak mau mengakui bayi di dalam kandungan Airin. Mereka malah menyuruh Airin menggugurkannya. Benar-benar keluarga laknat!"
Kalimat Bellinda dua puluh tiga tahun yang lalu kembali berkelebat di benak Theo.
Keluarga laknat itu!
Jadi mereka yang sudah menculik Valeria?
"Om, ada apa? Om kenal dengan penculik Vale?" Tanya Kyle bingung karena mendapati raut wajah Papa Theo yang sudah berubah marah.
"Kamu bawa Tante Airin keluar dulu Kyle!" Perintah Papa Theo yang langsung mengambil ponselnya dari dalam saku.
Kyle sudah membimbing Tante Airin untuk keluar dari ruangan sempit tadi, dan mendudukkan calon mertuanya itu di kursi. Lalu meminta salah satu pelayan resto membawakan minum untuk Tante Airin yang masih terus menangis.
"Halo, Dev!" Om Theo sudah menyusul keluar dan sepertinya sedang menelepon Uncle Devan.
"Theo, aku dengar Valeria hilang. Apa sudah ada kabar?"
"Dev, aku minta alamag lengkap keluarga laknat dari pria yang pernah menodai Airin!" Ucap Theo to the point menahan rasa marah srkaligus sesak karena lagi-lagi dirinya harus mengingat luka lama ini.
"Apa maksudmu? Kenapa mendadak minta alamat keluarg laknat itu?"
"Mereka yang sudah menculik Valeria!" Sergah Papa Theo berapi-api.
"Kau yakin? Jangan menuduh sembarangan!"
"Terlihat jelas di layar CCTV resto, dan Airin mengenali wajah mereka berdua!" Jawab Papa Theo tegas.
"Tapi ini sudah dua puluh tahun lebih, Theo! Apa kau yakin mereka masih tinggal di alamat yang sama?" Suara Uncle Devan terdengar ragu.
"Berikan saja alamatnya, Dev! Agar aku bisa secepatnya mencari putriku!" Perintah Theo dengan nada galak dan tegas.
"Baiklah! Aku yang akan mengantarmu ke sana! Tenangkan dirimu itu!"
Papa Theo menutup teleponnya pada Uncle Devan begitu saja dan menyugar rambutnya sendiri dengan kasar. Mama Airin masih sesenggukan dan Papa Theo segera dufuk di samping istrinya tersebut, seraya merangkulkan lengannya demi menenangkan Mama Airin.
"Mereka menemuiku beberapa minggu yang lalu. Harusnya aku memberitahumu, tapi aku bodoh sekali dan malah merahasiakannya darimu," Mama Airin merutuki kebodohannya dan kembali terisak.
"Jadi mereka memang sudah mengawasi Valeria sejak beberapa minggu terakhir," gumam Papa Theo menerka-nerka.
"Mereka sebenarnya siapa Om?" Tanya Kyle yang sejak tadi merasa bingung karena Om Theo terus nenyebut mereka sebagai keluarga laknat.
"Keluarga dari ayah kandung Valeria," suara Om Theo terdengar bergetar.
"Mereka orang-orang yang tak punya hati, Kyle! Dulu mereka menolak kehadiran Valeria dan minta mama Airin menggugurkan Valeria. Dan sekarang saat mereka melihat Valeria yang sudah tumbuh dewasa, mereka malah menculiknya. Benar-benar keluarga laknat!" Sambung Papa Theo dengan nada geram.
Kyle tentu saja ikut geram mendengar cerita dari Papa Theo.
"Valeria akan baik-baik saja, kan, Mas?" Tanya Mama Airin masih sedih.
"Tentu saja Airin! Kita akan segera menemukan Valeria dan membawanya pulang," jawab Papa Theo penuh harap.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.