My Angel Valeria

My Angel Valeria
DIMANA VALERIA?



"Kita harus mencari Vale kemana lagi, Theo! Ini sudah sangat jauh dari rumah Bu Leni," tanya Uncle Devan yang sudah lelah mengemudi dan menyusuri jalanan beraspal yang malah membawa mereka ke dekat pesisir pantai.


Apa mereka tersesat sekarang?


"Bagaimana kalau kita lapor polisi saja, Om!" Kyle yang duduk di jok bdlakang memberikan usul.


"Kyle benar, Theo! Kita lapor polisi saja dan menyerahkan proses pencarian Valeria pada pihak kepolisian." Uncle Devan segera setuju dengan usup dari Kyle.


"Baiklah, jika menurut kalian begitu. Vale gadis yang cerdas, pasti dia juga akan berusaha untuk bisa pulang secepatnya," Papa Theo masih berharap.


Uncle Devan berdecak saat mebdapati jarum penunjuk bahan bakar yang sudah berada di garis merah.


Sial!


"Ada apa?" Tanya Papa Theo pada Uncle Devan yang berdecak berulang kali.


"Kita hampir kehabisan bensin, dan tempat ini sepi sekali!" Gerutu Devan menyampaikan sebuah kabar buruk.


"Tadi Kyle melihat seperti rest area di sebelah sana, Om!" Kyle menunjuk ke arah belakang mobil.


"Baiklah, kita coba putar balik. Semoga yang kau lihat benar adanya," Uncle Devan segera memutar arah mobilnya dan kembali ke arah mereka datang tadi.


Laju mobil sedikit diperlambat agar tempat yang dimaksud Kyle tadi tidak terlewat.


Tiga pria yang bearda di dalam mobil tersebut, memperhatikan denagn seksama, kiri kanan jalan untuk mencari tempat rest area yang dimaksud oleh Kyle.


"Itu, Uncle!" Kyle menunjuk ke sebuah toko yang berjejer dengan tempat pengisian bahan bakar di sebuah ujung jalan. Ada rumah sederhana juga yang berdiri di seberang toko tersebut.


Uncle Dev segera membelokkan mobilnya ke arah tempat pengisian bahan bakar tersebut.


****


Valeria merintih saat merasakan sekujur tubuhnya yang remuk redam begitu ia bangun dari tidurnya pagi ini. Tangan dan kaki Valeria juga kembali sakit saat digerakkan.


"Bunda! Bunda kenapa?" Tanya Vaia yang sejak semalam menemani Vale tidur di kamar ini.


Kata Vaia ini adalah kamar Arga.


Sedikit berantakan di dalamnya, mungkin karena Arga sibuk mengurus toko dan putrinya, hingga pria itu tak sempat mengatur kamarnya.


Vale mendadak gemas dan ingin membereskan kamar ini, tapi Vale masih belum bisa bebas bergerak. Mungkin nanti saat Vale sudah pulih, ia akan membantu Arga menata rumahnya.


"Bunda!" Teguran Vaia menyentak lamunan Vale.


"Bunda baik-baik saja, Sayang!" Vale mengulas senyum di bibirnya dan mengusap lembut kepala Vaia, sebelum kembali meringis menahan nyeri di kakinya.


"Vaia akan memanggil ayah," cetus Vaia seraya turun dari atas tempat tidur dan berlari kecil ke arah pintu kamar.


Vale yang belum bisa banyak bergerak, sekuat tenaga mencoba untuk duduk di atas tempat tidur.


"Vale, hati-hati!" Arga yang baru datang langsung berlari ke atas tempat tidur dan menbantu Vale untuk duduk.


Arga menyibak selimut yang menutupi kaki Vale untuk memeriksa kaki gadis itu.


"Kakimu memar, padahal kemarin belum terlihat," gumam Arga asetelah memeriksa kaki Vale.


"Apa patah?" Tanya Vale khawatir.


"Tidak! Hanya memar ini yang membuatnya rerasa sakit," Arga menunjuk pada memar di kaki Vale.


"Akan ku kompres biar memar dan nyerinya berkurang," ujar Arga lagi yang sudah keluar dari kamar meninggalkan Vale dan Vaia.


Tak berselang lama, Arga sudah kembali masuk ke kamar membawa kantung es batu untuk mengompres kaki Vale. Dan saat Arga sedang sibuk mengompres, perut Vale tiba-tiba berbunyi dengan sangat tidak sopan.


Ya ampun!


"Kau lapar?" Tanya Arga yang raut wajahnya tetap terlihat santai dan biasa saja.


"Sedikit," jawab Vale seraya meringis.


"Vaia juga lapar, Ayah!" Lapor Vaia yang sejak tadi tak beranjak dari samping Vale.


Putri kecil Arga itu sudah seperti ekor bagi Vale saja.


"Ayo, kita siapkan sarapan untuk Vaia dan-"


"Bunda!" Sahut Vaia melanjutkan kalimat Arga.


"Tunggu sebentar, ya, Vale!" Ucap Arga yang tangannya refleks mengusap pipi Vale dengan lembut. Dan Arga seolah tak menyadarinya karena langsung menghilang keluar kamar.


Berbeda dengan Vale yang wajahnya menjadi bersemu merah, dan gadis itu tersenyum sendiri hanya karena pipinya diusap oleh Arga.


Perasaan apa ini?


Kenapa detak jantung Vale selalu memacu dengan cepat, jika Arga berada di dekatnya?


Tak berselang lama, Arga dan Vaia sudah kembali masuk ke kamar membawa satu nampan berisi makanan.


"Hanya roti, buah potong, dan segelas susu. Kau mau makan yang lain?" Tanya Arga seraya menatap Vale yang wajahnya masih merona merah.


"Tidak! Aku sarapan ini saja!" Jawab Vale cepat.


Arga mengangguk dan tersenyum,


"Baiklah!"


"Vaia sarapan bareng bunda!" Ucap Vaia yang mulai menggigit roti isi meses miliknya. Sedikit berantakan. Jadi Vale membantu memotong kecil-kecilmroti Vaia agar gadis itu bisa makan dengan mudah.


Kenapa Arga membiarkan putrinya makan roti utuh begitu, dan tidak memotongnya terlebih dahulu menjadi beberapa bagian?


"Vaia makan sendiri, Bunda!" Tolak Vaia saat Vale hendak menyuapinya. Benar-benar gadis kecil yang mandiri dan tidak manja.


Arga yang melihat keakraban Vale dan Vaia hanya mengulas senyum di bibirnya dan hendak kekuar dari kamar. Namun tiba-tiba, Vale memanggil ayah kandung dari Vaia tersebut.


"Arga!"


"Ya. Kau butuh sesuatu?" Tanya Arga yang tak jadi keluar kamar, dan kini menatap pada Vale.


Vale sedikit ragu untuk mengatakannya. Namun Vale sedikit risih sekarang, dan badan Vale terasa lengket.


"Aku boleh mandi?" Tanya Vale sedikit ragu.


"Kau bisa mandi sendiri?" Tanya Arga nengendikkan dagunya ke arah kaki Vale yang memar tadi.


"Aku rasa bisa. Hanya saja, mungkin aku butuh bantuan untuk ke kamar mandi," Vale sedikit meringis.


"Nanti aku bantu! Habiskan dulu sarapanmu!" Arga tersenyum tipis dan menunjuk ke arah piring yang berisi sarapan Vale.


Vale mengangguk dan ikut tersenyum


****


Vaia berlari kecil ke arah toko, saat melihat ada sebuah mobil yang berhenti di dekat toko sang ayah dan sedang mengisi bahan bakar.


Biasanya orang yang datang, memang akan mengisi bahan bakar sendiri, lalu baru membayarnya.


"Hai, gadis kecil! Dimana orang tuamu?" Tanya seorang pria dewasa pada Vaia yang kini berdiri di belakang meja kasir.


"Ayah sedang membantu Bunda untuk mandi." Jawab Vaia jujur.


"Bunda sedang sakit?" Tanya pria itu lagi mengerutkan kedua alisnya.


"Ya, Bunda tidak bisa berjalan, karena kakinya memar," jawab Vaia sedikit bercerita.


"Kyle! Ada orangnya?" Tanya pria paruh baya lain yang ikut masuk ke dalam toko.


"Hanya ada anaknya, Uncle," jawab Kyle seraya mengendikkan bahu.


"Om mau beli apa? Vaia hafal kok semua harga-harganya!" Ujar Vaia seramah mungkin pada dua pria dewasa di hadapannya tersebut.


Kyle dan Uncle Dev segera mengambil beberapa minuman botol dan biskuit untuk mengganjal perut.


"Om Theo dimana?" Tanya Kyle yang tak melihat keberadaan calon mertuanya.


"Tidur sepertinya tadi. Mungkin kelelahan," jawab Uncle Dev seraya menguap lebar.


"Uncle juga terlihat lelah. Nanti biar Kyle yang mengemudi pulang," ujar Kyle mengajukan usul.


Uncle Dev hanya mengangguk den setuju dengan usul Kyle.


Kyle membawa keranjang belanja ke meja kasir dan Vaia segera menghitungnya dengan cekatan.


"Siapa namamu?" Tanya Kyle saat Vaia mengeluarkan kantung plastik untuk membungkus belanjaan Kyle dari bawah meja kasir. Kyle membantu gadis kecil itu memasukkan barang bekanjaannya ke dalam kantung.


"Vaia!" Jawab Vaia singkat.


"Semuanya delapan puluh delapan ribu, Om!" Ucap Vaia selanjutnya setelah melihat angka yang tertera di layar monitor.


Kyle segera mengangsurkan satu lembar uang berwarna merah pada Vaia.


"Kembaliannya untuk Vaia, ya!" Kyle tersenyum pada Vaia.


"Terima kasih!" Vaia balas tersenyum pada Kyle.


"Bye!" Kyle melambaikan tangan pada Vaia sebelum keluar dari toko, dan gadus kecil menggemaskan itu balas melambaikan tangan pada Kyle.


Kyle baru saja akan masuk ke dalam mobil saat pria itu melihat Arga yang baru datang dari rumah di seberang dan hendak masuk ke toko.


"Mas!" Panggil Kyle pada Arga.


Kyle baru ingat kalau ia dan dua pria tua yang kini sedang tidur di dalam mobil, sedikit kehilangan arah tadi. Jadi tidak ada salahnya Kyle bertanya pada pria pemilik toko ini.


"Iya ada apa?" Tanya Arga ramah seraya menghampiri Kyle.


"Arah ke kota-" Kyle menyebutkan satu nama kota dan bertanya jalan yang benar.


"Ikuti saja jalan beraspal itu. Nanti ada persimpangan ambil arah kiri, setelah itu tak perlu belok-belok lagi. Nanti akan ada papan petunjuk di persimpangan selanjutnya," jawab Arga memberikan petunjuk.


"Ambil kiri. Baiklah, terima kasih banyak!" Ucap Kyle seraya mengulas senyum pada Arga.


"Sama-sama!" Arga balas tersenyum pada Kyle.


"Oh, astaga!" Kyke menepuk keningnya senduri dan kembali menghampiri Arga.


"Ini uang bahan bakar! Aku lupa memberikan pada putrimu tadi," Kyle mengangsurkan uang untuk membayar bahan bakar mobilnya pada Arga.


Arga hanya terkekeh dan segera menerima uang yang disodorkan oleh Kyle.


"Terima kasih! Jangan lupa ambil arah yang ke kiri!" Arga mengingatkan Kyle sekali lagi.


"Ya, aku ingat!" Jawab Kyle seraya masuk ke dalam mobilnya.


Tak berselang lama, mobil Kyle sudah meninggalkan kawasan toko milik Arga.


Vaia keluar dari toko dan segera menyapa sang Ayah.


"Bunda sudah selesai mandi, Ayah?"


"Sudah tadi. Sedang duduk sendirian di rumah," jawab Arga yang sudah berjongkok dan mensejajarkan dirinya dengan Vaia.


"Vaia akan menemani bunda kalau begitu!" Ucap Vaia yang sudah berlari menuju ke arah rumah.


Arga hanya geleng-geleng kepala dan tersenyum tipis melihat kelakuan sang putri.


.


.


.


Wkwkwkwk


Kyle lupa nggak nunjukin fotonya Vale ke Arga


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.