
Kediaman Rainer.
Ben baru saja pulang dari luar kota.
Biasanya kepulangan Ben selalu disambut dengan keceriaan dari Valeria, Mama Airin dan Papa Theo. Namun hari ini, hanya ada keredupan yang Ben temui di rumah sang Papa.
Valeria masih belum diketahui keadaannya, dan Mama Airin tak berhenti bersedih serta menyalahkan dirinya terus-menerus. Wanita yang sudah melahirkan Ben itu bahkan terlihat semakin kurus saja sekarang.
"Ma!" Sapa Ben pada Mama Airin yanag terlihat melamun di halaman belakang.
"Ben! Kau pulang?" Mama Airin mengulas senyum di bibirnya meskipun terkesan dipaksakan. Wanita paruh baya itu memeluk Ben dengan erat karena sudah hampir satu tahun Ben tidak pulang.
Biasanya Ben memang hanya pulang saat sedang libur kuliah. Namun kali ini, Ben pulang dan akan tinggal lagi di rumah ini, karena kuliah Ben juga sudah selesai.
Tadinya, Ben memang akan mulai mengelola Rainer's Resto menggantikan Valeria yang selama ini mengurus restoran milik keluarga Rainer teesebut.
Ben juga sengaja pulang untuk menghadiri pernikahan Valeria. Namun yang terjadi, pernikahan malah ditunda karena Valeria hilang dan belum ditemukan hingga kini. Ini sudah hampir dua minggu sejak hilangnya Valeria.
"Mama sehat?" Tanya Ben cemas. Pemuda itu masih merangkul pundak mama Airin yang sdmakin kurus.
"Mama sehat, Ben! Tapi kakak kamu belum diketahui keberadaannya," mama Airin mulai terisak.
"Ini semua salah Mama, Ben!" Sambung mama Airin yang semakin terisak.
Ben kembali memeluk sang Mama.
"Kak Valeria akan baik-baik saja, Ma! Kita pasti akan segera menemukannya." Ucap Ben berusaha menenangkan sang mama.
Tak berselang lama, Papa Theo datang bersama Kyle dengan wajah yang tertunduk lesu.
Ada apa ini?
"Ben! Kapan kau datang?" Papa Theo yang terkejut segera memeluk anak lelakinya tersebut.
"Baru saja, Pa! Sudah ada kabar tentang Kak Valeria?" Tanya Ben ssgelum gabti menhapa Kyle yang memang datang bersama Papa Theo tadi.
Wajah calon kakak ipar Ben tersebut terlihat lesu.
"Ayo duduk dulu!" Ajak Papa Theo pada Ben dan Kyle.
"Mas! Sudah ada kabar tebtang Valeria?" Tanya Mama Airin setelah melihat kedatangan sang suami.
Papa Theo segera memeluk istrinya tersebut dan membimbingnya untuk duduk di sofa ruang tengah, bersama Kyle dan Ben.
"Jadi begini," papa Theo akhirnya buka suara setelah semuanaya duduk.
Pria paruh baya tersebut mengeratkan dekapannya pada Mama Airin.
"Ada informasi yanag mengatakan kalau Vale naik sebuah bus saat kabur dari rumah Bu Leni hari itu-"
"Apa itu artinya Vale sudah diketahui keberadaannya?" Sela mama Airin penuh harap.
Namun papa Theo menggeleng dan raut wajahnya berubah sedih.
"Bus yang diduga ditumpangi oleh Vale mengalami kecelakaan, lalu jatuh ke jurang-"
"Tidaaaaak!" Jerit mama Airin yang langsung histeris.
"Airin tenanglah dulu!"
"Mama!" Ben dan Theo berusaha menenangkan Mama Airin yang kini menjerit-jerit dan memanggil nama Valeria.
"Valeria pasti tidak naik bus itu, Mas! Valeria pasti naik bus lain dan hanya sedang tersesat sekarang! Valeria tidak mungkin ikut menjadi korban!" Mama Airin masih disteris dan menangis terisak-isak.
"Semuanya juga berharap begitu, Airin!" Papa Theo kembali meraup sang istri ke dalam pelukannya.
"Tidak ada yang wajahnya mirip Vale di antara jasad yang ditemukan. Tapi sebagian jasad memang tidak ditemukan karena hanyut terbawa arus sungai," cerita Papa Theo lagi yang membuat tangis Mama Airin kembali pecah.
Sementara Kyle sejak tadi hanya diam.
Pria itu juga terlihat kalut, mungkin shock dengan kabar baru mengenai Valeria.
"Valeria!" Jerit Mama Airin yang tak berhenti memanggil nama sang putri.
****
"Bye!" Vale melambaikan tangan ke arah Vaia, Bibi May, dan Paman Jo yang pergi menaiki mobil Arga. Kata Arga, tiga orang itu akan berjalan-jalan ke perkebunan.
"Kita mau pergi juga?" Tanya Vale seraya mengerutkan kedua alisnya.
"Ya! Aku akan mengajakmu ke danau yang tak jauh dari sini. Kita bisa naik perahu dan menikmati pemandangan," jawab Arga yang langsung membuat kedua netra Vale berbinar antusias.
"Aku ambil jaket dulu!" Vale sudah berlari ke dalam rumah Paman Jo untuk mdngambil jaket.
Sementara Arga segera menyiapkan motor Paman Jo yang akan ia pakai ke danau bersama Vale nanti.
Vale sudah kembali dan mengenakan jaketnya.
"Aku sudah siap!" Lapor Vale pada Arga.
"Ayo, pergi!" Arga mengendikkan dagunya ke arah motor Paman Jo.
"Kita naik motor?" Tanya Vale yang tiba-tiba sudah menggamit lengan Arga.
"Ya! Danaunya tidak jauh dari sini," jawab Arga seraya tersenyum pada Vale.
Sudah beberapa hari terakhir senyuman di bibir Arga kian lebar. Dan Vale benar-benar menyukainya.
Motor Paman Jo yang dikendarai oleh Arga sudah melaju melalui jalanan yang berkelok dengan pemandangan pepohonan tinggi di kiri dan kanan jalan.
Vale menyandarkan kepalanya di punggung Arga dan mengeratkan lengannya yang melingkar di ponggang Arga, menikmati hembusan angin sepoi-sepoi yang menerpa wajahnya.
Benar kata Arga, danau tujuan mereka memang cukup dekat dari rumah Paman Jo kaena perjalanan tak sampai lima belas menit.
Setelah memarkir motor di tempat yang aman, Vale dan Arga lanjut menaiki perahu untuk menyusuri danau yanag memiliki pemandanagn luar biasa tersebut.
Sepertinya ini memang bukan tempat tujuan wisata karena letaknya cukup tersembunyi dan tidak ada orang selain Arga dan Vale di danau ini.
"Kenapa sepi sekali?" Tanya Vale seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling danau. Vale bahkan bisa mendengar cicit burung dari atas pohon-pohon di sekitar danau.
"Ya, tidak banyak orang yang tahu tempat indah ini memang. Dan aku juga sudah cukup lama tak kesini," jawab Arga yang kini sedang memejamkan mata, menghirup segarnya udara disini.
"Kapan terakhir kau kesini?" Tanya Vale yang mendadak menjadi kepo.
"Sebelum Vaia lahir. Dulu ini tempat favoritku menghabiskan waktu bersama Tania," jawab Arga sedikit menerawang.
"Tania istrimu?" Tebak Vale yang kini sudah menumpukan dagunya di atas tangan.
"Ya."
"Tania langsung pergi setelah melahirkan Vaia. Jadi aku tak pernah ke tempat ini lagi setelahnya," cerita Arga dengan raut wajah sendu.
"Lalu kenapa kau mengajak kesini sekarang?" Tanya Vale penasaran.
Arga mengendikkan bahu,
"Cuacanya sedang cerah. Dan mumpung kita ada disini, jadi sekalian saja aku menunjukkan tempat indah ini kepadamu."
Vale tertawa kecil dan menengadahkan kepalanya untuk melihat langit hari ini yang sedikit mendung.
Tidak!
Itu tidak sedikit!
"Kau yakin cuaca hari ini cerah?" Tanya Vale sedikit khawatir.
"Ya! Mendung itu hanya kamuflase. Sebentar lagi pasti pergi dan tak mungkin turun hujan," jawab Arga penuh keyakinan.
"Baiklah!" Vale tetap saja merasa ragu.
Arga terus membawa perahu yang ia tumoangi bersama Vale ke tengah danau. Dan tepat saat perahu tiba di tengah danau, hujan deras langsung turun mengguyur bumi.
Oh, ya ampun!
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.