My Angel Valeria

My Angel Valeria
ARGADIBA



Arga masih berdiri termenung di dekat pom mini yang ada di samping toko miliknya. Pria itu menatap pada Vale yang tengah mendorong ayunan yang kini dinaiki okeh Vaia di bawah pohon rimbun yang ada di halaman rumah.


Vale yang sore ini mengenakan gaun bunga-bunga warna hijau alpukat, sedikit mengingatkan Arga pada Tania.


Ya!


Itu memang gaun milik Tania.


Tak banyak baju Tania yang tersisa dan Arga simpan. Sebagian memang adalah baju-baju kesayangan Tania. Tadinya Arga menyimpan semua baju tersebut, agar Arga bisa tetap memeluknya saat Arga merindukan mendiang istrinya tersebut. Namun sekarang Arga memilih memberikannya pada Vale dan membiarkan gadis itu memakainya saja.


Tania juga sudah bahagia di surga.


Sekuat apapun Arga meratapi kepergian istrinya itu, Tania tak akan hidup lagi sampai kapanpun. Sebaiknya Arga fokus membesarkan Vaia saja sekarang.


"Bukan sebuah dosa jika kau memang jatuh cinta kepadanya, Arga!" Paman Jo menepuk punggung Arga.


Entah muncul darimana sepupu Arga itu hingga tiba-tiba sudah ada di dekat Arga.


"Kenapa kau sudah rapi, Jo? Bukankah seharusnya kau pulang besok pagi?" Tanya Araga tak mengerti.


Paman Jo sudah memakai helm di kepalanya.


"Jadwal pulang aku percepat, karena besok pagi-pagi aku harus mengantar May berbelanja untuk menjamu kau dan Vale dan Vaia," jelas Jo yang kini sudah ganti menyiapkan motornya.


"Sudah seperti tamu agung saja, pakai acara perjamuan," dengkus Arga yang sontak membuat Paman Jo tergelak.


"Ini sudah lima tahun, Argadiba! Saatnya move on!" Paman Jo mengendikkan dagunya ke arah Vale yang madih tertawa bersama Vaia.


"Tania pasti akan mengerti!" Ujar Paman Jo lagi.


"Ya! Tapi yang itu belum tentu mau dengan duda beranak satu," Arga sedikit terkekeh.


"Lagipula, bagaimana kalau ternyata dia sudah punya tunangan atau suami atau bahkan anak? Seperti menggali kuburan sendiri saja!" Sambung Arga lagi yang tak mau berharap banyak.


Rasa kagum atau mungkin rasa cinta pada Vale tentu ada di hati kecil Arga. Pria mana yang tidak akan jatuh hati pada kecantikan Vale dan hatinya yang lembut serta penuh kasih sayang. Dan jangan lupakan sikapnya yang bijaksana serta dewasa dalam banyak hal.


Benar-benar gadis idaman yang sempurna!


Tapi kecil kemungkinan juga, jika Vale itu masih lajang dan belum punya suami. Minimal pacar atau calon suami pasti Vale sudah punya.


Jadi sebaiknya memang Arga tak perlu menyimpan perasaan apapun pada gadis itu. Rasa kagum Arga pada Vake cukuplah hanya Arga yang tahu. Nanati saat ingatan Vale krmbali, Vale juga pasti akan kembali ke keluarganya.


Vaia....


Bagaimana dengan gadis kecil itu jika Vale tak lagi bersama mereka nanti?


Ah, kenapa Arga harus pusing?


Bukankah sebelum-sebelumnya Vaia juga hanya disini bersama Arga?


Dan gadis itu baik-baik aja.


Jadi nanti saat ingatan Vale kembali dan gadis itu pulang ke rumahnya, Vaia juga pasti akan baik-baik saja.


Deru suara motor Paman Jo menyentak lamunan Arga. Sepupu Arga itu sedang berpamitan pada Vale dan Vaia, dan membiarkan motornya tetap menyala hingga menimbulkan polusi asap serta polusi suara.


"Bye, girls!" Pamit Paman Jo sedikit lebay.


"Kita bertemu besok di rumah Paman Jo dan Bibi May!" Ucap Paman Jo lagi yang kini sudah naik ke atas motornya.


"Bye, Paman!" Seru Vaia seraya melambaikan tangannya pada Paman Jo.


Motor Paman Jo segera melaju meninggalkan toko milik Arga, dan terus menjauh, hingga akhirnya menghilang di persimpangan jalan.


Vale dan Vaia sudah selesai bermain ayunan, dan kini dua gadis ituberjalan ke arah toko. Arga yang sejak tadi masih mematung di dekat pom mini miliknya, ikut bergabung bersama Vale dan Vaia masuk ke dalam toko. .


.


.


.


Mungkin kira-kira begini kalau mereka lagi di toko 🙈



Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.