My Angel Valeria

My Angel Valeria
KABAR MENGEJUTKAN



"Sudah!" lapor Vale yang sudah selesai mengeringkan rambut Arga dengan handuk.


"Terima kasih, Sayang!" Ucap Arga yang kini lanjut menyisir rambutnya sendiri. Vale mengambilkan baju untuk suaminya tersebut dan meletakkannya di atas tempat tidur, sebelum wanita itu kembali menghampiri Arga dan melingkarkan lenganya ke leher Arga.


"Kau lapar?" Tanya Vale yang lanjut mencium pipi Arga.


"Ya!"


"Mau makan apa? Mie rebus pakai sayur dan telur sepertinya enak," bisik Vale lagi yang mendadak membuat Arga ingat pada makan malam dirinya dan Vale di rumah Arga kala itu.


"Memang kau punya stok mie instan?" Tanya Arga sedikit ragu.


"Sepertinya ada," Vale sedikit berpikir.


"Cepat pakai bajumu! Aku akan ke dapur," pamit vale sebelum kembali mencium pipi Arga. Wanita itu segera keluar dari kamar meninggalkan Arga yang hanya tersenyum melihat kelakuan Vale yang sekarang agresif.


Arga segera memakai baju yang tadi sudah disiapkan oleh Vale. Pria itu baru saja akan keliar dari kamar Vale, saat ponsrlnya yanga da di atas nakas tiba-tiba berbunyi.


Paman Jo menelepon!


Ya ampun!


Arga lupa mengabari sepupunya itu kalau dirinya sudah sah menjadi suami Vale sekarang. Sepupu Arga itu pasti akan sangat terkejut.


"Halo, Jo!" Sambut Arga setelah menggeser tkmbol hijau di layar ponselnya.


"Kau kemana saja? Tiga hari pergi ke kota dan tak memberi kabar. Apa kau baru saja mendapatkan istri baru hingga lupa pada sepupumu ini?" Cecar Paman Jo yang langsung membuat Arga tergelak.


"Ya! Aku baru saja menikah dan punya istri baru. Jadi aku sibuk membuat adik untuk Vaia sekarang, hingga aku lupa memberimu kabar," jawab Arga panjang lebar masih sambil tertawa.


"Lucu sekali leluconmu, Arga! Jadi Vaia bagaimana? Sudah baikan dan sudah sehat?"


"Vaia langsung sehat setelah bertemu dengan Vale. Dan sekarang bocah itu sudah bisa lari-larian, lompat-lompat serta berenang," jelas Arga sedikit bercerita.


"Dimana sekarang keponakan kesayanganku itu? Aku mau bicara."


"Sayangnya, Vaia sedanb dibawa Opanya menginap ke rumah paman dan bibinya Vale," jawab Arga yang sontak membuat Paman Jo berdecak.


"Apa katamu tadi? Dibawa opanya? Maksud kamu?"


"Papanya Vale. Siapa lagi memangnya? Papa Theo srkarang adalah opanya Vaia," jelas Arga denagn nada lebay.


"Kau memanggil Papanya Vale dengan sebutan Papa? Apa aku tak salah dengar?"


"Sayang, Kau sedang apa? Kenapa tidak turun-turun?" Panggil Vale yang suadh kejbali menyusul Arga ke kamar.


"Suara siapa itu, Arga? Seperti suara Vale. Apa dia baru saja memanggilmu Sayang?"


"Ya! Bukankah sudah kukatakan tadi kalau Vale istriku sekarang!"


"Apa!!" Pekikan Paman Jo membuat Arga harus menjauhkan ponselnya dari telinga.


"Aku belum tuli, Jo! Jangan berteriak begitu!" Gerutu Arga sedikig sebal.


"Sedang telepon siapa?" Tanya Vale yang kini sudah mebdekat ke arah Arga.


"Jo. Mau bicara?" Arga memberikan ponselnya pada Vale.


"Halo, Paman Jo!" Sapa Vale pada sepupu Arga tersebut.


"Halo, Vale! Bagaimana kabarmu? Kata Arga kau adalah istrinya sekarang. Apa pria itu sedang mabuk?"


Vale tergelak.


"Tidak sama sekali! Kami memang baru menikah kemarin."


"Serius?"


"Ya! Aku sudah resmi menjadi Bundanya Vale sekarang. Bunda yang sesungguhnya dan bukan bunda jadi-jadian lagi," ujar Vlae sedikit berkelakar.


"Astaga! Ini benar-benar sebuah kejutan, Vale! Selamat untukmu dan Arga, ya!"


"Terima kasih, Paman Jo!" Balas Vale seraya tersenyum dan mengusap lengan Arga yang kini melingkar di pinggangnya.


"Jadi kapan kalian bertiga akan kembali kesini? Aku sudah tidak sabar bertemu dengan kalian, keluarga baru!"


"Mungkin lusa kata Arga," jawab Vale yang masih mengusap-usap tangan Arga.


"Baiklah, aku tunggu!"


"Aku tutup dulu teleponnya karena aku harus menutup toko sekarang! Selamat sekali lagi untukmu dan Arga!"


"Terima kasih, Paman Jo! Sampai jumpa lusa!" Vald mengakhiri teleon pada Paman Jo dan Arga masih menyandarkan krpalanya di pundak Vale.


"Ayo makan!" Ajak Vale pada sang suami.


"Hmmm! Sebentar!" Arga mengecup leher Vale cukup lama dan sukses meninggalkan bekas kemerahan di sana.


"Arga!" Vale memukul lengan Arga karena suaminya itu usip sekali.


"Aku lapar Sayang! Ayo tirin dan makan! Kau tadi jadi memasak mie tidak?" Arga sudah merangkul Vale sekarang dan mengajak istrinya tersebut untuk kekuar dari kamar, menuruni tangga dan langsung menuju ke ruang makan.


Suasana rumah sangat sepi karena memang hanya ada Arga dan Vale di rumah ini.


"Mungkin kuah mie nya sidah bphabis sekarang karena kau sibuk bicara enagn Paman Jo tadi," ucap Vale saat mereka tiba di ruang makan.


"Hanya satu mangkuk?" Tanya Arga mengerutkan kedua alisnya.


"Biar leboh romantis!" Bisik Vale pada Arga dengan nada menggoda.


"Kalau masih lapar? Boleh aku memakanmu?" Goda Arga yang kini sudah duduk di kursi ruang makan. Arga menarik Vale agar duduk dipangkuannya.


"Kau tidak akan bisa makan jika memangkuku seperti ini!" Ucap Vale seraya mencolek hidung Arga.


"Kau yang akan menyuapiku. Bukankah kau istriku?" Arga menaik turunkan alisnya kd arah Vale.


"Dasar!"


Vale sudah mulai menyendok mie dari dalam mangkuk lalu menyuapkannya ke mulut Arga. Selanjutnya Vald menyuapkannya ke mulutnya sendiri.


Terus bergantian, Vale menyuapkan mie untuk Arga dan untuk dirinya sendiri.


Benar-benar romantis!


****


Malam semakin merangkak.


Vale masih bersandar di dada Arga dan pasangan suami istri itu memilih untuk menghabiskan malam mereka dengan menonton film romantis di kamar.


Arga mengusap-usap kepala Vale yang sepertinya mulai mengantuk.


"Kaunakan mengajakku lembur malam ini?" Tanya Vale yang semakin merapatkan tubuhnya ke dada Arga.


"Kau bisa tidur kalau kau mengantuk! Aku bukan seorang maniak, oke!" Arga membenarkan posusi Vald agar istrinya itu nyaman berbaring.


Arga ikut bebaring setelah mematikan layar televisi.


"Kita masih bisa melakukannya besok atau besoknya lagi, atau-"


"Atau kapanpun kita menginginkannya," Potong Vale seraya membenamkan kepalanya ke dada Arga, dan suaminya itu langsung mendekapnya dengan erat.


"Ya, kapanpun kita menginginkannya, karena kita akan selalu bersama-sama setelah ini. Berbagi suka dan duka, berbagi kebahagiaan dan kesedihan, hingga nanti," gumam Arga menyambut kalimat Vale.


Valeria hanya mengangguk-angguk di dalam dekapan Arga, dan wanita itu segera memejamkan matanya. Pergi ke alam mimpi untuk merajut mimpi indah bersama Arga dan Valeria kecil.


.


.


.


Terima kasih sekali lagi yang masih setia mengikuti cerita-cerita receh othor.