
"Bunda, Vaia boleh berenang?" Tanya Vaia saat melihat jernihnya air kolam renang di halaman belakang rumah Vale.
"Vaia nggak bawa baju renang, ya?" Vale terlihat berpikir.
"Nanti sore saja renangnya bersama Om Ben atau Ayah, ya! Sekarang Vaia menggambar saja dulu bersama Bunda!" Usul Vale yang langsung membuat Vaia mengangguk dan menurut.
Vale membantu menyiapkan buku gambar serta peralatan menggambar Vaia. Dan seperti biasa, Vale akan memberikan contoh terlebih dahulu objek yang ingin digambar Vaia, lalu setelahnya Vaia akan mengikuti apa yang sudah di contohkan oleh Vale dan menambahkan kreasinya sendiri ke dalam gambar.
"Pelangi ada tujuh warna, ya! Nanti Vaia tambahkan awan, lalu matahari, lalu mau ditambah apa lagi?"
"Ditambah gambar rumah Ayah! Lalu ada ayunan di halaman!" Jawab Vaia antusias.
"Ini juga ayunan," Vaia menunjuk ke arah kursi ayunan yang memang berada di halaman belakang.
"Waaah! Ayunan di rumah Bunda lebih bagus!" Vaia berulang kali berdecak kagum.
Vale segera bangkit berdiri dan mengajak Vaia naik ayunan. Vale memangku putri Arga tersebut sambil mengajaknya berceloteh. Seorang maid datang membawakan kue coklat, aneka biskuit, serta susu untuk Vaia yang terlihat senang sekali.
"Wow! Gambar siapa ini? Cantik sekali?" Kyle yang baru datang langsung mengambil gambar Vaia dan memujinya berulang kali.
"Itu gambar Vaia, Om!" Vaia turun dari pangkuan Vale dan mengambil gambar yang dipegang oleh Kyle lalu menunjukkan satu persatu nama benda di dalam gambar.
Kyle yang kini sudah mengambil tempat duduk di samping Valeria, mengulurkan lengannya untuk merangkul Vale dan menyimak dengan seksama penjelasan serta celotehan dari Vaia.
"Ini pelangi! Kata Bunda ada tujuh nanti warnanya. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu."
"Lalu yang ini awan dan ini mataharinya. Vaia yang gambar sendiri semuanya, Om!" Cerita Vaia dengan begitu semangat.
"Benarkah? Vaia keren, bisa menggambar sebagus itu! Om mau juga dong diajarin!" ujar Kyle menanggapi celotehan Vaia dengan sangat lebay.
Vale yang duduk di samping Kyle hanya terkikik kecil dan menyikut perut Kyle karena ekspresi Kyle yang terlalu lebay dalam menanggapi cerita Vaia. Kyle merapatkan rangkulannya ada Vale dan semakin menarik gadis itu ke arahnya.
"Trus ini rumah siapa?" Tanya Kyle selanjutnya menunjuk ke bangunan rumah dengan pohon di depannya yang ada di dalam gambar Vaia.
"Ini rumah Ayah, dan ini pohon besar yang ada ayunannya di depan rumah ayah!" Jawab Vaia sedikit bercerita.
"Wow! Keren gambar Vaia! Ayo di warnai, nanti biar bisa dipajang dan di tempel di tembok!" Puji Kyle sekali lagi seraya memberikan arahan pada Vaia.
"Oke, Om!" Vaia kembali ke meja kecil yang ada di dekat ayunan, dan mulai mewarnai gambarnya.
Vale dan Kyle masih duduk berdampingan di atas ayunan.
"Nggak ke kantor?" Tanya Vale membuka obrolan dengan Kyle.
"Sudah di handle semua oleh Daniel. Aku libur seharian, biar bisa kesini dan berduaan denganmu," Kyle mengeratkan dekapannya pada Vale dan mencium kening calon istrinya tersebut.
"Mesum!" Vale mencubit perut Kyle.
"Siapa yang mesum? Kan cuma cium kening, nggak cium yang lain," kilah Kyle yang kini ganti menangkup wajah Vale dengan gemas.
"Kau menggemaskan! Jadi tak sabar pengen cepat-cepat nikahin kamu."
"Apa, sih, Bang! Ada Vaia!" Vale menumpukan tangannya di atas tangan Kyle yang masih menangkup wajahnya, dan sedikit memaksa Kyle untuk menurunkan tangan besar tersebut.
Kyle hanya terkekeh dan segera bangkit dari ayunan lalu menghampiri Vaia yang masih asyik mewarnai gambarnya.
Dan semua pemandangan tersebut tentu saja tak luput dari penglihatan Arga yang hanya berdiri mematung di ruang tengah rumah Vale.
Jendela besar di ruang tengah yang mengarah langsung ke halaman belakang, membuat Arga bisa menyaksikan dengan seksama kemesraan antara Kyle dan Vale.
Ya,
Mereka akan menikah tak lama lagi, dan mereka terlihat saling mencintai. Jadi tugasmu sudah selesai, Arga!
Kau tak perlu lagi berada dekat-dekat dengan Vale, dan silahkan pergi menjauh sejauh-jauhnya dari hidup Vale!
Vale akan hidup bahagia bersama Kyle!
Vale akan memiliki kehidupan yang sempurna bersama Kyle yang punya segalanya.
Kau bukan siapa-siapa, Arga!
Kau bukan siapa -siapa bagi Vale!
"Bang! Sudah makan?" Tepukan dari Ben membuyarkan lamunan Arga yang seeang berperang denagn batinnya sendiri.
"Ben!"
Itu suara Valeria!
Gadis itu sudah masuk ke rumah dan menghampiri Ben yang masih berdiri di ruang tengah bersama Arga.
"Ada apa, Kak?"
"Vaia ingin berenang di kolam belakang. Bisa kau carikan baju renang anak-anak dan ban pelampungnya?" Vale memberikan perintah pada sang adik.
"Tidak usah, Vale! Aku akan membawa Vaia pulang sore ini," sela Arga yang sedikit keberatan dengan Vale yang ingin membelikan Vaia baju berenang dan printilannya.
Vale menggeleng keras kepala,
"Aku sudah berjanji akan mengajak Vaia jalan-jalan sore nanti bersama Kyle dan kau juga bisa ikut."
Ikut dan jadi obat nyamuk!
Arga mendengus dalam hati.
"Ben boleh ikut, Kak?" Tanya Ben bersemangat dan sedikit kekanakan.
"Iya, boleh!" Jawab Vale cepat.
"Eh, nggak jadi! Sore nanti Ben ada acara," Ben terkikik dan Vale sontak menoyor kepala adik lelakinya tersebut.
"Jadi beli baju renang untuk Vaia?" Tanya Ben sekali lagi pada Vale.
"Iya, jadi!"
"Tidak usah!"
Vale dan Arga menjawab bersamaan namun dengan jawaban yag berbeda. Ben jadi bingung dan garuk-garuk kepala.
"Iya apa tidak?" Tanya Ben sekali lagi.
"Iya!"
"Tidak!"
Dan Ben kembali harus garuk-garuk kepala.
"Ada apa ini, kenapa ribut disini? Arga, sudah sarapan?" Tanya Mama Airin yang sepertinya baru pulang dari pasar brsama seorang maid.
Mama kandung Valeria tersebut bertanya pada Arga yang masih salah tingkah.
"Belum, Tante! Arga kesiangan," Jawab Arga sedikit tergagap.
"Ayo sarapan dulu! Tante tadi sudah menyiapkan sarapan untukmu," Mama Airin sudah membimbing Arga menuju ke ruang makan.
Kini tinggal Ben dan Vale yang masih berdiri di ruang tengah kediaman Rainer.
"Belikan yang ukuran anak lima tahun dan jangan lupa pelampungnya," titah Vale pada sang adik.
"Nanti siapa yang menemani Vaia berenang?" Tanya Ben kepo.
"Kau!" Jawab Vale seraya menatap tajam ke arah sang adik yang kini terkekeh.
"Huh! Nasib jadi anak bungsu, selalu saja disuruh-suruh!" Celoteh Ben yang sudah berlalu mengambil kunci motornya dan menghilang dengan cepat ke arah pintu utama kediaman Rainer.
.
.
.
Kyle atau Arga?
Othor bingung
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.