My Angel Valeria

My Angel Valeria
OBAT NYAMUK



"Jadi bagaimana? Vale sudah bertemu keluarganya?" Tanya Paman Jo dari seberang telepon.


"Ya! Vale sudah bertemu keluarganya, dan sudah menemukan ingatannya kembali," jawab Arga yang kini masih berada di kamarnya.


Vaia masih berenang di halaman belakang bersama Ben.


Ada Kyle dan Vale juga tadi di halaman belakang, meskipun pasangan yang sebentar lagi akan menikah itu tak ikut berenang, tapi mereka ikut bersenda gurau bersama Vaia dan Ben.


"Kau sudah melamarnya?"


"Melamar siapa maksudmu? Vale sudah punya calon suami dan akan menikah sebentar lagi!" Jawab Arga dengan nada ketus.


"Sayang sekali! Jadi, kau sedang patah hati sekarang?"


"Tidak usah sok tahu! Aku akan pulang besok pagi bersama Vaia. Tapi mungkin sore baru tiba," Arga nengganti topik pembicaraan dan enggan membahas tentang Vale lagi.


"Baiklah! Santai saja."


"Tapi ngomong-ngomong, apa Vaia sudah siap berpisah dari bundanya? Vaia terlihat sangat akrab dan begitu bergantung pada Vale" nada bicara Paman Jo berubah khawatir.


"Siap tidak siap harus siap! Vale akan menikah sebentar lagi. Jadi Vaia harus mulai melupakan Vale saat aku sudah mengajaknya pulang nanti. Vaia akan terbiasa nanti," jawab Arga tegas dengan penuh keyakinan.


"Baiklah kalau menurutmu begitu! Aku mengirimkan list beberapa barang untuk kau beli mumlung kau ada di kota."


"Akan ku carikan nanti. Aku tutup dulu teleponnya, Jo!"


Arga mengakhiri teleponnya pada Paman Jo, karena Vaia yang tiba-tiba sudah masuk ke dalam kamar, masih mengenakan baju renangnya yang di lapisi dengan handuk.


"Ayah menelepon siapa?" Tanya Vaia yang langsung meloncat ke dalam gendongan Arga.


"Paman Jo!" Jawab Arga sedikit merapikan rambut basah Vaia.


"Vaia!" Panggil Vale yang kini sudah menyusul Vaia masuk ke dalam kamar Arga.


"Vaia mau mandi sama ayah, Bunda!" Jawab Vaia seraya melingkarkan lengannya pada Arga dan bergelayut manja pada ayahnya tersebut.


"Aku akan memandikannya," ujar Arga menimpali permintaan Vaia.


"Baiklah kalau begitu. Bunda akan mengambilkan baju ganti untukmu," kata Vale akhirnya seraya keluar dari kamar Arga dan menuju ke kamarnya karena semua baju dan keperluan Vaia ada di kamar Vale.


"Nanti setelah mandi, Bunda dan Om Kyle mau mengajak Vaia jalan-jalan. Ayah ikut juga, ya!" Pinta Vaia seraya berceloteh saat Arga mulai memandikan putrinya tersebut.


"Ayah di rumah saja, Vaia!" Tolak Arga selembut mungkin. Namun bibir putri Arga yang berusia lima tahun tersebut langsung merengut tak terima.


"Ayah harus ikut! Pokoknya Vaia mau ayah ikut!" Paksa Vaia yang mulai mengeluarkan jurus bersedekapnya.


"Kau bisa ikut, Arga! Jangan membuat putri kecil ini merajuk!" Sahut Vale yang tiba-tiba sudah ikut masuk ke dalam kamar mandi dan mencolek hidung Vaia.


"Aku harus mencari beberapa barang titipan Jo," Arga mencari alasan dan menatap pada Vale yang kini sudah ikut memandikan Vaia.


"Mencari apa memangnya? Nanti bisa sekalian kita cari sekalian jalan-jalan," jawab Vale enteng.


"Geli, Bunda!" Kikik Vaia saat Vale menggosok belakang telinga dan bagian luar telinga bocah lima tahun tersebut.


Vale terlihat telaten sekali saat memandikan Vaia.


Arga lanjut mengguyur badan Vaia yang sudah disabuni oleh Vale dengan air hangat dari shower kamar mandi.


"Sudah selesai!" Ucap Arga setelah memastikan tak ada sisa sabun yang tertinggal di tubuh sang putri.


Vale meraih handuk dan membalutkannya ke tubuh mungil Vaia, lalu menggendong bocah itu keluar dari kamar mandi yang bearda di dalam kamar Arga.


Baju Vaia sudah siap di atas tempat tidur, dan Vale segera memakaikannya dengan cekatan.


"Kau tidak mandi, Arga? Bukankah kita akan pergi jalan-jalan?" Tanya Vale seraya menatap pada Arga.


"Aku tidak ikut," jawab Arga cepat.


"Ayah harus ikut!" Sahut Vaia yang kini menatap tajam pada Arga seolah sedang marah.


"Jangan membuat Vaia marah, Arga! Cepatlah mandi dan bersiap!" Vale sudah selesai memakaikan baju Vaia dan sedikit mendorong Arga agar pergi mandi.


Arga hanya bisa menghela nafas dan mengalah tentu saja.


Dua orang Valeria sedang memaksa Arga sekarang. Jadi mau tak mau Arga harus ikut jalan-jalan nanti dan menjadi obat nyamuk untuk Vale dan Kyle.


Memangnya apa yang kau khawatirkan, Arga?


Bukankah kau juga tidak punya perasaan apa-apa pada Vale?


Vale sudah membawa Vaia yang sudah cantik keluar dari kamar Arga dan menutup pintu.


Mereka berdua sama-sama cantik memang!


****


Acara jalan-jalan di mall sore ini benar-benar tersa canggung karena Arga hanya menjadi obat nyamuk untuk Kyle dan Vale.


Vaia juga lebih banyak berada di gendongan Kyle ketimbang Arga karena Kyle terus saja membelikan semua barang yang ditunjuk oleh Vaia. Sekuat appaun Arga mencegah pria kaya itu, rasanya hanya sia-sia karena Kyle tetap keras kepala dan membelikan banyak barang yang menurut Arga tidak terlalu berguna untuk Vaia.


Ya ampun!


Ini benar-benar berlebihan.


"Kau jadi mencari barang untuk Paman Jo, Arga?" Tanya Vale pada Arga yang sejak tadi hanya diam.


"Barang apa?" Kyle ikut bertanya.


"Hanya beberapa kebutuhan elektronik," jawab Arga sedikit mengendikkan bahu.


"Kita cari sekalian sebelum pulang kalau begitu. Ayo!" Titah Kyle yang masih menggendong Vaia yang sepertinya sudah mulai mengantuk.


"Ayah!" Vaia akhirnya ingat pada ayahnya dan mencari keberadaan Arga.


"Vaia mau sama Ayah!" Vaia mengulurkan kedua lengannya ke arah Arga.


Arga yang tanggap segera mengambil Vaia dari gendongan Kyle dan menggendong putrinya tersebut.


"Dia sudah mengantuk," ucap Vale seraya mengusap punggung Vaia yang kini berada di gendongan Arga.


Arga hanya tersenyum dan mengangguk.


****


Jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam, saat Kyle, Vale, Arga, dan Vaia tiba di kediaman Rainer.


Kyle langsung pamit pulang, sementara Arga langsung membawa Vaia yang sudah terlela ke kamarnya.


"Tidak ke kamar atas saja?" Tanya Vale yang sudah ikut menyusul dan membawakan berbagai barang milik Vaia yang tadi dibelikan oleh Kyle.


"Dia sudah tidur nyenyak. Jadi biar-"


"Bunda!" Panggil Vaia yang matanya setengah teroejam mencari-cari keberadaan Vale.


"Vaia mau bobok sama Bunda!" Ucap Vaia lagi masih mencari-cari keberadaan Vale.


"Bunda disini, Sayang! Ayo kita pindah ke kamar Bunda di atas!" Aja Vale yang hendak menggendong Vaia dan membawanya ke lantai atas. Namun Arga mencegah dengan cepat.


"Biar aku yang menggendongnya, Vale!" Pinta Arga yang dengan cepat sudah menggendong Vaia dan membawanya keluar dari kamar. Arga mengekori Vale yang kini naik tangga menuju ke kamarnya.


Vale membuka pintu kamarnya lebar-lebar, agar Arga bisa masuk dan membaringkan putri kecilnya di atas tempat tidur Vale.


Sebenarnya ini kali pertama Arga masuk ke dalam kamar Vale. Kenapa rasanya sedikit grogi?


"Sudah!" Lapor Arga pada Vale yang masih berdiri di ambang pintu.


"Selamat malam, Arga!" Ucap Vale seraya menatap ke arah netra milik Arga yang juga sedang menatap Vale.


"Selamat malam, Vale," balas Arga sama seperti saat mereka berdua akan tidur malam sebulan terakhir di rumah Arga.


Mereka akan saling mengucapkan selamat malam sebelum Vale masuk ke kamar dan Arga tidur di sofa.


Ah, Vale mendadak rindu suasana rumah Arga yang sunyi namun penuh kehangatan.


"Tidurlah, Vale!" Titah Arga tersenyum tipis, sebelum pria itu berlalu dan meninggalkan kamar Vale, lalu menuruni tangga dengan cepat dan tak terlihat lagi.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.