
Vale membawa beberapa kotak berisi makanan ke halaman rumah, dimana ada mobil Arga yang sudah terparkir di sana.
Dan Arga yang sedang memasukkan beberapa barang ke dalam mobil karena hari ini, Arga, Vale, dan Vaia akan pergi ke pantai.
"Aku bingung harus pakai baju yang mana," ujar Vale yang kini ikut memasukkan kotak berisi makanan ke dalam mobil.
Arga memindai penampilan Vale yang mengenakan celana jeans selutut dan sebuah kaus tanpa lengan.
"Kulitmu akan terbakar, jika memakai baju tanpa lengan begini," ujar Arga seraya menunjuk ke arah lengam Vale yang terpampang nyata.
Vale hanya mengendikkan bahu.
Arga segera melepaskan kemeja warna abu-abu yang ia kenakan dan memakaikannya ke tubuh Vale.
"Begini lebih baik!" Ucap Arga yang kini tersenyum setelah memindai kembali penampilan Vale.
Sedangkan Vale hanya berdiri mematung, menatap pada tubuh Arga yang kini hanya tertutupi kaus tipis warna abu. Bahkan kaus itu tak mampu menyembunyikan jajaran otot kekar milik Arga di bagian dada dan punggung yang membuat Vale harus menelan saliva berkali-kali.
Bukan kali ini saja sebenarnya.
Beberapa hari yang lalu, saat Vale belum bisa berjalan, dan Arga terpaksa menggendongnya dari sofa hingga ke kamar, Vale juga merasakan perasaan tak karuan ini.
Vale seperti gadis polos yang belum pernah melihat pemandangan seperti ini saja!
****
Lima belas menit perjalanan ke pantai, begitu riuh dengan celotehan Vaia yang seakan tak ada habisnya.
Gadis kecil itu terus bercetita tentang pantai yang akan merrka kunjungi lalu tentang Vaia yang katanya akan membuat istana pasir dan mencari kulit kerang untuk dironce menjadi kalung. Arga memilih untuk fokus pada jalan di depannya dan enggan menanggapi celotehan sang putri.
Sedangkan Vale yang duduk di samping Arga, terlihat sangat antusias dengan apapun yang diceritakan oleh Vaia.
Mereka bertiga sudah tiba di pantai pasir putih yang terlihat begitu indah sekarang.
"Wow! Pantai yang sangat indah," ucap Vale seraya menatap kagum pada gulungan ombak yang berkejar-kejaran di bibir pantai. Lalu pasir putih yang terhampar, terlihat berkilauan tertimpa cahaya matahari.
"Vaia mau berenang! Vaia mau berenang!" Teriak Vaia seraya melompat-lompat dengan penuh semangat.
"Kau mau menemaninya?" Tanya Arga pada Vale sambil sedikit terkekeh.
Vale hanya menggeleng seraya tersenyum pada Arga yang kini sudah menanggalkan kausnya.
Oh, ya ampun!
"Aku yang akan menemaninya kalau begitu," ucap Arga lagi seraya memberikan kausnya pada Vale.
"Ayo, Sayang!" Arga membawa Vaia naik ke atas pundaknya lalu pria itu berlari menerjang ombak dan menjatuhkan dirinya ke dalam air laut yang biru.
Vaia dan Arga sepertinya menikmati sekali acara berenang di pantai mereka.
Sedangkan Vale hanya ducuk di ayas pasir putih sambil menatap pada ayah dan anak yang masih sibuk bermain ciprat-vipfatan air tersebut.
"Ayo ikut, Bunda!" Vaia tiba-tiba sudah menghampiri Vale dan menarik-narik tangan Vale agar ikut bergabung. Namun Vale hanya menggeleng-gelengkan kepala.
"Ayo, Bunda!" Ajak Vaia yang pantang menyerah.
"Ayo, ikut!" Arga ikut menghampiri Vale dan mengangkat tubuh Vale ke atas pundaknya lalu membawanya ke arah ombak.
"Arga!" Vale memukul-mukul punggung Arga mengajukan protes.
Dasar pemaksa!
"Byuur!"
Baiklah! Sekarang Vale sudah ikut basah sama seperti Arga dan Vaia.
"Arga!" Vale mendelik ke arah Arga.
"Apa? Tidak ada orang ke pantai yang hanya duduk diam di atas pasir sepertimu tadi!" Jawab Arga mencari pembenaran.
"Dasar!" Vale mencipratkan air laut ke arah ayah kandung dari Vaia tersebut.
Dan tiga orang itu terus menikmati hangatnya air laut hingga matahari bergulir ke arah barat.
"Aku tidak bawa baju ganti," ucap Vale yang kini sudah duduk kembali di atas pasir sambil menyuapi Vaia yang sepertinya sudah lelah bermain air laut.
"Nanti juga kering. Atau kau bisa memakai kausku tadi," jawab Arga enteng.
"Lalu kau?" Vale mengernyit bingung ke arah Arga.
"Aku pulang begini saja juga tak masalah," jawab Arga santai.
"Bunda, lihat! Istana Vaia sudah jadi," Vaia menunjukkan bangunan istana pasir yang ia bangun sembari Vale menyuapinya tadi.
"Wah, bagus sekali istana pasirnya!" Vale menanggapi dengan antusias hasil karya anak Arga tersebut.
"Bagaimana kalau kita berfoto bersama istana pasir sebelum pulang?" Cetus Arga yang tiba-tiba mendapatkan ide.
"Vaia mau! Vaia mau!" Jawab Vaia bersemangat.
Arga segera meminta bantuan seorang pengunjung pantai untuk mengambil foto mereka bertiga.
Vaia mengambil posisi paling dekat dengan istana pasirnya. Sedangkan Vale yang berjongkok di belakang Vaia, mengalungkan lengannya pada putri Arga tersebut. Arga sendiri memilih untuk ikut berjongkok di samping Vale.
Hari sudah beranjak sore, saat mobil Arga meninggalkan kawasan pantai. Tidak ada obrolan apapun selama perjalanan pulang, karena Vaia juga langsung tertidur di jok belakang.
****
Arga yang sedang duduk di belakang meja kasir, melihat-lihat fotonya di pantai kemarin bersama Vaia dan Vale.
"Sudah mirip keluarga cemara, ya?" Goda Paman Jo yang ikut melihat foto-foto laptop Arga tersebut.
"Vale masih belum menemukan ingatannya, Jo," ucap Arga tiba-tiba yang nada bicaranya berubah cemas.
"Lalu apa masalahnya? Vale terlihat nyaman tinggal disini. Apa kau keberatan jika terus-menerus menampungnya?" Tanya paman Jo memasang raut wajah serius.
"Bukan itu. Hanya saja, aku takut jika Vale terlalu lama disini, Vaia akan semakin bergantung kepadanya," Arga menatap pada rak-rak toko di hadapannya.
"Dan kau akan jatuh cinta kepadanya?" Tebak Paman Jo yang langsung membuat arga berdecak.
"Aku tidak berpikir sejauh itu!" Sangkal Arga cepat.
"Bibirmu bisa berbohong, Arga! Tapi matamu dan caramu menatap Vale, itu yang tidak akan bisa kau sdmbunyikan!" Paman Jo berucap dengan lebay.
"Memang ada apa dengan mataku?" Tanya Arga pura-pura polos.
"Caramu menatap Vale, sama seperti caramu dulu menatap Tania!" Ujar Paman Jo yang langsung membuat Arga menoleh tak percaya pada sepupunya tersebut.
"Mustahil!" Kilah Arga msihbtak percaya.
"Dan Vale juga selalu menatapmu dengan kagum, jika aku lihat belakangan ini. Aku rasa Vale juga menaruh hati kepadamu," sambung Paman Jo lagi yang seolah sedang memberikan harapan segar pada Arga.
Namun cepat-cepat Arga menepis harapan semu tersebut.
"Kita tidak tahu apa Vale sudah menikah atau belum. Apa gadis itu sudah berkeluarga atau belum. Jadi aku tidak akan berharap apapun," ucap Arga diplomatis.
"Kau yakin? Feelingku mengatakan, kalau Vale itu belum berkeluarga dan msih lajang. Jadi lanjutkan saja hubunganmu bersamanya," saran Paman Jo yang langsung berhadiah sebuah tinjuan dari Arga.
"Hubungan yang mana? Kami tidak sedang menjalin hubungan apapun!" Bantah Arga menolak saran Paman Jo.
"Tidak menjalin hubungan tapi setiap hari selalu bersikap manis menjadi ayah dan bunda untuk Vaia. Kenapa tidak menikah saja sekalian," seru Paman Jo dengan nada lebay.
"Diamlah!"Arga kembali meninju bahu sepupunya tersebut.
"Nanti akhir pekan, May memintamu membawa Vale ke rumah!" Paman Jo menyampaikan pesa sang istri pada Arga.
"Ada acara apa?" Tanya Arga penasaran.
"Makan malam bersama dan kau harus datang!" Paman Jo menepuk punggung Arga.
"Aku berangkat sore saja, bagaimana?" Tanya Arga meminta pendapat pada Paman Jo yang kini sudah berjalan ke arah gudang toko.
"Terserah! Aku pulang Sabtu pagi!" Sahut Paman Jo yang hanya terdengar suaranya dan tak terlihat lagi orangnya.
Ting!
Pintu toko dibuka dari luar. Vale masuk ke dalam toko sambil menggandeng Vaia yang sudah membawa peralatan gambarnya.
"Makan siang sudah siap, Arga! Kau bisa makan dulu bersama Paman Jo. Biar aku dan Vaia yang menjaga toko!" Ucap Vale memberikan laporan pada Arga.
"Baiklah!" Arga hendak menutup laptopnya, namun Vale mencegah dengan cepat.
"Itu foto di pantai kemarin?" Tebak Vale yang sudah ikut melihat ke layar laptop Arga.
"Ya! Mau melihatnya?" Arga sedikit bergeser dan memberikan ruang pada Vale untuk ikut melihat foto-foto mereka di pantai kemarin.
"Jo! Kau mau makan siang sekarang?" Seru Arga selanjutnya pada Paman Jo yang masih bersembunyi di dalam gudang toko.
Sedang apa pria itu?
"Ya!" Jawab Paman Jo yang akhirnya kekuar dari gudang dan berjalan cepat ke arah Arga.
"Cacing-cacing di perutku sudah berdemo hebat! Ayo kita makan siang!" Ujar Paman Jo bersemangat.
"Bunda memasak capcay dan ayam goreng tepung." Celetuk Vaia memberitahu menu makan siang hari ini.
"Wow! Pasti enak! Ayo Arga!" Sahut Paman Jo bersemangat yang langsung keluar dari toko dan menuju ke arah rumah Arga.
Sementara Vale dan Vaia masih lanjut melihat-lihat foto mereka bertiga di pantai kemarin, sambil sesekali bersenda gurau.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.
Kasih punggungnya aja 🤣🤣 Biar kalian baper.