My Angel Valeria

My Angel Valeria
RISAU



Arga dan Valeria tak berhenti tertawa saat dua orang itu turun dari perahu yang sudah berhasil mencapai tepi danau. Keduanya segera berlari ke bawah pohon besar di dekat danau untuk berteduh dari hujan yang semakin deras mengguyur.


"Perkiraan cuacamu salah besar, Arga!" Teriak Vale pada Arga yang hanya tertawa dan menggeleng-gelengkan kepala.


"Ada gubuk tak jauh dari sini. Ayo!" Arga menarik tangan Vale dan mengajak gadis itu berlari menuju ke sebuah gubuk yang memang berada tak jauh dari tempat mereka berteduh tadi.


Ya, meskipun kini mereka berdua sudah sama-sama basah kuyup.


"Kita tunggu hujannya reda dulu, baru nanti kita pulang," ucap Arga seraya menanggalkan kausnya yang basah, lalu memerasnya mungkin agar sedikit kering, kemudian pria itu memakainya kembali.


Vale menggosok-gosokkan kedua tangannya yang basah terkena hujan. Baju Vale yang juga basah kuyup membuat gadis itu sedikit menggigil.


"Kau kedinginan?" Tanya Arga yang sudahbmendekat ke arah Vale dan menghangatkan menggenggam tangan Vale dengan kedua tangannya.


"Apa hujannya akan lama?" Tanya Vale khawatir.


"Entahlah! Cuaca disini cepat berubah. Semoga hujannya segera reda," jawab Arga penuh harap.


Vale menyandarkan kepalanya di pundak Arga yang kini sudah berpindah tempat menjadi di sampingnya.


"Boleh aku tanya sesuatu, Arga?"


"Ya! Mau tanya apa?" Jawab Arga seraya menatap ke arah Vale yang masih menyandarkan kepalanya di pundak Arga.


"Kenapa kau tidak menikah lagi dan mencari bunda baru untuk Vaia?" Tanya Vale dengah nada yang terdengar serius.


"Entahlah," Arga mengendikkan bahunya sekali lagi.


"Aku hanya belum mendapatkan wanita yang tepat," sambung Arga lagi.


"Bukankah kau sudah pernah menanyakan hal ini sebelumnya?" Lanjut Arga lagi yang langsung membuat Vale mengangkat kepalanya dari pundak Arga.


"Benarkah? Aku sedikit lupa," ujar Vale yang kini terkekeh.


Arga mengulurkan tangannya untuk menyingkirkan rambut Vale yang menutupi wajah, lalu menyelipkannya di belakang telinga. Pria itu menatap pada wajah cantik Vale yang hanya diam dan juga sedang menatap Arga sekarang.


"Apa menurutmu, ingatanku akan kembali?" Tanya Vale sedikit pesimis.


"Ingatanmu pasti kembali, Vale! Kau akan pulang dan bertemu keluargamu lagi setelah ingatanmu pulih," Arga mengusap pipi Vale yang sedikit merona merah.


"Lalu bagaimana denganmu dan juga Vaia?"


"Bukankah kita masih bisa saling mengunjungi, jika nanti ingatanmu pulih dan kau pulang kembali pada keluargamu?" Jawab Arga bijak.


"Kau benar!" Vale menggenggam tangan Arga yang tadi mengusap wajahnya.


Hujan akhirnya reda. Vale dan Arga bergegas meninggalkan gubuk untuk pulang ke rumah Paman Jo.


Rumah Paman Jo masih sepi saat Vale dan Arga tiba. Sepertinya Paman Jo, Bibi May, dan Vaia juga terjebak hujan dan belum bisa pulang.


"Sebaiknya kau mandi dan berganti baju, Vale!" Ujar Arga yang langsung membuat Vale mengangguk dan pergi mandi.


Sedangkan Arga yang sudah berganti baju, memilih untuk membuat coklat hangat untuk dirinya dan juga untuk Vale.


****


Vaia, Paman Jo, dan Bibi May baru tiba di rumah saat hari menjelang gelap. Tiga orang itu membawa banyak sekali sayuran segar dan cerita tentu saja.


Vaia tak berhenti berceloteh dan menceritakan tentang acara jalan-jalannya hari ini bersama Paman Jo dan Bibi May. Arga sampai bosan mendengarkan, berbeda dengan Vale yang begitu betah dan selalu menanggapi dengan antusias, cerita-cerita Vaia.


"Kita akan pulang besok pagi-pagi. Sebaiknya kau suruh bocah kecil itu untuk segera tidur!" Bisik Arga pada Vale seraya menunjuk ke arah Vaia yang masih sibuk bercerita tentang mencabut wortel dan memetik tomat.


"Kau juga sebaiknya cepat tidur, dan tak usah lembur main catur bersama Paman Jo!" Ujar Vale seraya menunjuk ke arah papan catur yang di bawa oleh Arga di bawah ketiaknya.


Arga hanya terkekeh dan melanjutkan langkahnya menuju ke teras di mana Paman Jo sudah menunggu Arga dan si papan catur. Vale hanya geleng-geleng kepala dan memilih untuk segera bangkit dari duduknya. Gadis itu mengajak Vaia masuk ke kamar dan tidur.


Bibi May sendiri sudah tidur sejak tadi. Sepertinya istri dari Paman Jo itu benar-benar lelah menemani Vaia hari ini.


Vale merapatkan selimut yang membalut tubuh Vaia dan sedikit bersenandung agar Vaia lekas tidur. Kadang Vale memang bersenandung begini saat menidurkan Vaia. Kadang juga Vale membacakan dongeng pengantar tidur.


"Bunda!" Vaia mengusap pipi Vale dengan tangan mungilnya.


"Iya, Sayang!"


"Bunda akan tinggal selamanya di rumah bersama Vaia dan Ayah, kan? Bunda nggak akan pergi ninggalin Vaia, kan?"


Percakapan Vale dengan Arga siang tadi tentang ingatan Vale yang akan kembali satu hari nanti, mendadak menjadi hal yang merisaukan untuk Vale.


Bagaimana nanti saat ingatan Vale benar-benar sudah kembali, dan Vale harus pulang?


Vale mendadak merasa tak sampai hati meninggalkan Vaia yang begitu menyayanginya.


Dan Vale juga menyayangi bocah kecil ini. Sangat menyayangi!


Vale mengusap wajah mungil Vaia yang sudah terlelap.


"Kau akan tumbuh menjadi gadis periang dan pemberani, Sayang! Sama seperti arti dari namamu, Valeria!" Gumam Vale penuh harap.


Tunggu!


Bagaimana Vale bisa tahu arti dari nama Valeria?


"Papa yang memberikanmu nama Valeria, agar kau menjadi seorang gadis yang kuat dan pemberani."


Sebuah suara mendadak terngiang di benak Vale.


Itu suara seorang pria yang menyebut dirinya sebagai Papa.


Apa itu suara Papa dari Vale?


Vale berusaha untuk mengingatnya. Namun yang terjadi, kepala Vale malah terasa sakit dan terasa ingin meledak sekarang.


Oh, astaga!


Vale memegangi kepalanya yang kini terasa berdentum-dentum menyakitkan, tepat saat Arga masuk ke dalam kamar untuk memeriksa Vaia.


"Vale, kau kenapa?" Tanya Arga cemas pada Vale yang masih memegangi kepalanya.


"Kepalaku mendadak sakit, Ga!" Keluh Vale seraya meringis menahan sakit.


"Minumlah dulu!" Arga mengambilkan segelas air untuk Vale.


"Apa kau sedang mencoba mengingat sesuatu?" Tebak Arga selanjutnya yang sontak membuat Vale meringis.


Arga duduk di tepi ranjang di samping Vale, dan merapikan rambut sebahu Vale yang berantakan.


"Ingatanmu pasti akan kembali, Vale! Tapi jangan memaksanya seperti ini dan menyakiti dirimu sendiri," nasehat Arga bijak.


"Ya!" Vale hanya mengangguk paham.


"Tidurlah, dan jangan berpikir macam-macam," tangan Arga tiba-tiba sudah terulur dan mengusap wajah Vale.


Buru-buru Arga menyingkirkan tangannya dari wajah Vale dan sedikit salah tingkah.


"Maaf!" Ucap Arga cepat.


"Tidak apa! Aku akan tidur," jawab Vale seraya tersenyum.


Arga sudah bangkit berdiri dan Vale segera berbaring di samping Vaia. Nenarik selimut dan menejamkan mata.


.


.


.


Kok Vale sama Arga terus?


Kyle kemana?


Ya kan ini ceritanya Valeria.


Dan Valeria masih hilang ingatan.


Nanti kalau ingatan Vale kembali, pasti Kyle muncul lagi.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.