
Vale masuk ke dalam toko seraya menggendong Vaia yang terlihat lesu. Gadis itu langsung menghampiri Arga yang masih menata barang-barang di rak toko. Hanya tinggal separuh yang belum selesai ditata.
"Vaia kenapa?" Tanya Arga khawatir saat mendapati sang putri yang terlihat lesu dan hanya menyandarkan kepalanya di pundak Vale.
"Vaia mendadak demam. Apa kau punya obat penurun panas?" Tanya Vale yang raut wajahnya begitu khawatir.
"Ada di kotak obat di dekat dapur," Arga mengambil Vaia dari gendongan Vale dan membawanya keluar dari toko. Vale mengikuti langkah Arga yang kini menuju ke rumahnya di seberang toko.
"Bunda!" Panggil Vaia yang kini sudah dibaringkan oleh Arga di atas tempat tidur.
"Bunda disini, Sayang!" Vake menghampiri Vaia dengan cepat dan Arga segera mengambil sirup penurun panas dari kotak obat.
Vale membantu Vaia untuk duduk dan minum obat pelan-pelan. Vale juga harus sedikit membujuk Vaia, karena ternyata bocah kecil itu terus menggeleng dan menolak untuk minum obat.
"Akan ku ambilkan air untuk mengompres Vaia," ucap Arga seraya keluar dari kaamr. Sedangkan Vale masih tak bisa kemana-mana, karena Vaia yang tidak mau ditinggal oleh Vale.
Arga sudah kembali membawa satu baskom air hangat dan handuk kecil untuk mengompres Vale.
"Mungkin dia kelelahan karena membantuku di toko tadi. Maaf," ucap Vale merasa bersalah pada Arga.
"Tidak! Jangan khawatir berlebihan begitu. Demamnya pasti akan segera reda. Hanya perlu terus dikompres saja," jawab Arga berusaha menenangkan Vale.
"Biar aku yang mengompresnya!" Vale mengambil handuk kecil dari tangan Arga dan mulai mengompres Vaia yang terus mengigau.
"Jangan lupa untuk memberinya minum air putih agar dia tidak dehidrasi," pesan Arga pada Vale yang langsung dijawab Vale dengan seabuah anggukan.
Sepertinya Arga memang sudah pengalaman sekali mengatasi deman Vaia. Sangat wajar, mengingat Arga yang sudah menjadi seorang ayah tunggal selama lima tahun. Tidak seperti Vale yang baru kali ini mengurus anak yang sedang deamm. Gadis itu masih terlihat khawatir dan cemas berlebihan.
"Apa tidak apa-apa jika aku tinggal ke toko?" Tanya Arga sedikit ragu.
"Tidak apa! Aku akan mengompresnya terus," jawab Vale memaksa untuk mengulas senyum pada Arga.
"Baiklah! Panggil aku jika ada sesuatu," pesan Arga sebelum berlalu keluar dari kamar dan kembali ke toko.
Vale terus mengompres Vaia agar demam gadis kecil itu segera turun.
****
Arga terpaksa menunda rencananya yang akan mengantar Vale pulang, karena Vaia yang mendadak demam. Arga juga belum memberitahu Vale tentang selebaran yang ia dapatkan di kantor polisi kemarin.
Arga sudah mencoba menghubungi nomor yang tertera di selebaran, namun nomor sedang sibuk saat Arga menghubungi.
"Ayah!" Sapa Vaia yang baru tiba di toko seraya meloncat ke gendongan Arga.
Hari ini Vaia sudah sehat dan tidak demam lagi. Gadis itu sudah kembali ceria seperti biasa.
Vale mengekor dibelakang Vaia membawa sebuah kotak makanan di tangannya.
"Mana Paman Jo?" Tanya Vale seraya membuka kotak makanan di tangannya. Wangi coklat dari brownies panggang yang Vale bawa langsung menguar memenuhi toko Arga.
"Wow! Kelihatan lezat!" Paman Jo sudah muncul dari arah gudang. Sepertinya indera penciuman sepupu Arga itu begitu peka.
"Kau membuatnya sendiri?" Tanya Arga masih memperhatikan brownies yang terlihat menggoda tersebut.
"Ya! Dan aku sedikit mendapat bantuan dari Vaia," Vale mengambil sepotong brownies lalu menyuapkannya pada Arga.
"Enak!" Komentar Arga setelah mencicipi briwnies buatan Vale.
"Enaknya pasti berkali-kali lipat karena disuapi oleh Vale!" Goda Paman Jo yang surah habis tiga potong.
Sepupu Arga itu sepertinya doyan sekali dengan brownies buatan Vale. Atau dasarnya memang dia tukang makan?
"Paman! Vaia mau disuapi juga!" Vaia mengulurkan lengannya oada Paman Jo minta digendong dan disuapi.
"Tentu saja, Tuan Putri!" Paman Jo sudah membawa Vaia ke dalam gendongannya, dan mengambil beberapa potong brownies lagi lalu membawanya menjauh dari Arga dan Vale yang masih suap-suapan. Seolah paman Jo sedang memberi kesempatan pada dua sejoli tersebut.
****
Arga sudah memberitahu Vale dan Vaia semalam, kalau pagi ini Arga akan mengajak kedua Valeria tersebut bepergian jauh. Jadilah, Vale dan Vaia bangun sedikit pagi hari ini dan bersiap-siap.
"Kita akan kemana, Ayah?" Tanya Vaia pada Arga yang sedang memanaskan mesin mobil.
"Mengantar bunda pulang ke rumahnya," jawab Arga seraya tersenyum pada Vaia.
Arga menatap sejenak pada Vale yang kini sedang menuju ke toko untuk mengambil beberapa makanan ringan sebagai bekal di perjalanan.
Semoga alamat yang akan Arga kunjungi hari ini benar-benar adalah keluarga Vale.
"Bukankah rumah bunda disini? Memangnya bunda mau pupang kemana?" Mimik wajah Vaia sudah berubah sedih.
"Bunda punya rumah dan keluarga, Vaia! Jadi kita akan mengantar bunda bertemu keluarganya." Arga berjongkok untuk menyejajajrkan posisinya dengan Vaia.
"Seperti halnya Vaia yang punya Ayah, Paman Jo, dan Bibi May. Bunda juga punya. Dan mereka sedang menunggu bunda pulang sekarang karena bunda sudah lama pergi dari rumah," jelas Arga mencoba memberi pengertian pada Vaia.
"Tapi nanti bunda akan pulang ke sini lagi, kan, Ayah?" Tanya Vaia penuh harap.
"Kita lihat saja nanti, ya!' Jawab Arga yang sebenarnya juga bingung.
Mungkinkah Valeria akan kembali mengunjungi gubuknya setelah ingatannya kembali nanti?
Mungkinlah Vale akan tetap ingat pada Arga dan vaia setelah ingatannya kembali?
"Sudah mau berangkat?" Paman Jo menepuk pungyung Arga dan menghampiri sepupunya tersebut.
Vale masih belum kembali dari toko.
"Aku titip toko. Tapi kalau kau mau pulang, juga tak masalah! Kau tutup saja tokonya!" Pesan Arga pada sang sepupu.
"Aku bukan pemalas, oke! Kau sudah sering menitipkan toko jelekmu itu kepadaku, dan aku apa pernah mengeluh?" Jawab Paman Jon sedikit sinis.
"Ambil ini!" Paman Jo mengangsurkan sebuah kotak cincin pada Arga
"Apa ini?" Tanya Arga tak paham.
"Kalau mereka benar adalah keluarga Vale, tidak ada salahnya kau langsung melamar Vale dan meminta izin untuk menikahi gadis itu. Aku lihat kau dan Vale sudah saling jatuh cinta," tutur Paman Jo berpendapat.
"Kau gila! Aku tidak mau!" Arga mengembalikan kotak cincin pada Paman Jo dengan kasar.
Sepupu Arga itu tergelak.
"Sudah bawa saja! Ini sudah lima tahun dan Vaia butuh seorang bunda sebelum gadis itu beranjak remaja! Kau tidak mungkin mengajari Vaia saat dia mencapai pubertas dan mendapat tamu bulanan!" Sergah Paman Jo memberikan sederet alasan.
"Kau menyebalkan, Jo!" Gerutu Arga berusaha meredam emosinya karena kini Vale sudah kembali.
Arga bergegas menyimpan kotak cincin yang tadi diberikan Paman Jo. Arga tak akan memberikannya pada Vale. Biar saja cincin itu memfosil di saku Arga.
"Aku sudah mengambil semua yang kita perlukan!" Vale menunjukkan tas kain yang cukup besar di tangannya.
"Baiklah, ayo kita berangkat!" Arga membuka pintu mobil dan segera membantu Vaia duduk di carseat-nya.
Vale sendiri langsung duduk di samping kursi pengemudi.
Setelah semuanya siap, Arga segera melajukan mobilnya meninggalkan rumah serta tokonya.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.