
Vale masih menemani Vaia yang kini sibuk dengan kertas gambar dan pensil warna. Padahal siang tadi, bocah ini begitu lemas dan pucat. Namun sekarang, Vaia sudah sumringah, ceria, dan bisa menggambar.
"Vaia mau kuenya lagi?" Tawar Vale pada Vaia karena sepotong kue yang tadi Vale suapkan untuk Vaia sudah tandas tak tersisa.
"Mau minum susu!" Vaia menunjuk ke gelas susu di atas nakas. Bergegas Vale mengambilnya untuk Vaia.
"Vaia udah sehat, Bunda! Besok kita pulang, ya!" Ucap Vaia setelah meneguk setengah gelas susu.
Vale diam sejenak karena hatinya terasa mencelos.
Pulang?
"Bagaimana kalau Vaia tinggal disini saja bersama Bunda?" Vale memberikan opsi untuk Vaia.
Vale sangat yakin kalau Kyle tak akan keberatan jika Vale mengajak Vaia tinggal bersama mereka nanti. Vale tak mungkin membatalkan pernikahannya dengan Kyle, dan Vale tak bisa juga ikut pulang ke rumah Arga dan selalu mendampingi Vaia.
Jadi satu-satunya jalan tengah adalah Vale harus mengajak Vaia tinggal bersama dirinya dan Kyle. Vale akan bicara pada Arga nanti. Ayah kandung Vaia itu pasti akan mengerti. Bukankah ini semua demi Vaia?
"Vaia nggak mau tinggal disini! Vaia mau pulang ke rumah Ayah bersama Bunda dan Ayah! Kita tinggal bertiga lagi seperti dulu, ya, Bunda!" Jawab Vaia dengan bibir yang merengut.
Keras kepala seperti Arga!
Inilah sifat seorang Valeria kecil.
"Vaia janji tidak akan jadi anak yang nakal, Bunda! Vaia akan jadi anak yang baik dan njrut sama Bunda! Bunda jangan lama-lama disini! Vaia mau Bunda pulang ke rumah! Vaia sayang bunda!" Vaia melingkarkan kedua lengannya di leher Vale dan berucap dengan nada penuh permohonan.
"Bunda nggak bisa lagi pulang me rumah ayah dan tinggal disana, Vaia! Bunda akan menikah dengan Om Kyle besok. Maafkan Bunda, Sayang!" Jawab Vale dengan airmata yang sudah bercucuran di kedua pipinya.
"Kenapa Bunda nggak mau menikah dengan Ayah dan menjadi bunda untuk Vaia? Apa Bunda nggak sayang sama Vaia?" Suara Vaia terdengar lirih karena gadis itu kini juga sudah berurai airmata sama seperti halnya Vale.
"Bunda sayang sama Vaia! Tapi bunda nggak bisa lagi tinggal di rumah Vaia bersama Ayah dan Vaia." Vale merapikan anak rambut Vaia yang berserakan.
"Vaia saja yang tinggal bareng Bunda bagaimana? Bareng Om Kyle juga," bujuk Vale sekali lagi dengan nada yang lembut.
Vaia menggeleng dengan cepat dan tetap pada pendiriannya.
"Vaia nggak mau jauh-jauh dari Ayah. Kalau Vaia ikut Bunda disini, nanti kalau Ayah sakit siapa yang merawat dan menjaga? Nanti bunda yang di surga akan marah kalau Vaia ninggalin Ayah sendirian di rumah."
Vale benar-benar kehilangan kata-kata sekarang.
Mustahil rasanya mengajak Vaia tinggal bersamanya, karena meskipun gadis kecil ini sering berdebat dengan Arga, rasa cinta dan sayangnya ke Arga ternyata melebihi apapun.
"Kita bereskan dulu perlengkapan gambar Vaia, ya! Vaia udah ngantuk belum?" Vale memilih untuk mengalihkan pembicaraan saja, karena semakin Vaia mengajaknya pulang ke rumah Arga, semakin hati Vale tearsa sakit.
Vale menyayangi Vaia dan sungguh tak keberatan menjadi bunda sambung untuk gadis kecil ini. Tapi hal itu mustahil terjadi. Vale tidak mungkin membatalkan pernikahannya dengan Kyle sekalipun sekarang perasaan Vale ke Kyle sudah jauh berbeda.
Tapi Vale sudah terikat janji untuk tetap menikah dengan Kyle. Jadi siapa yang peduli dengan hati dan perasaan Vale sekarang?
"Vaia mau bobok sama Bunda!" Vaia mengeratkan pelukannya pada Vale seolah takut jika ia kembali dipisahkan dari Vale.
"Bunda nggak akan ngusir Vaia lagi seperti kemarin, kan? Bunda nggak akan menyurih Ayah membawa pulang Vaia pas Vaia tidur, kan? Atau Vaia nggak usah tidur saja, biar Bunda nggak kemana-mana dan nggak ninggalin Vaia lagi?"
Bunda nggak akan kemana-mana, Sayang! Bunda akan bobok disamping Vaia dan memeluk Vaia." Vale mengusap lembut wajah Vaia dan menciuminya dengan penuh rasa bersalah.
"Vaia bobok dulu sekarang, ya! Bunda matikan lampunya sebentar, biar Vaia bisa cepat bobok," ucap Vale yang hendak beranjak berdiri. Namun Vaia masih tak mau turun dari gendongan Vale dan mau tak mau akhirnya Vale membawa gadis kecil itu bangkit berdiri dan mematikan lampu kamar.
Kini hanya tinggal lampu tidur yang menampilkan sinar berbentuk bintang-bintang yang menerangi kamar Vale.
Vaia sudah berbaring di atas tempat tidur Vale, dan Vale ikut berbaring serta memeluk gadis kecil yang badannya terlihat kurus tersebut.
"Besok kita pulang, kan, Bunda?" Celoteh Vaia sekali lagi yang benar-benar membuat Vale kehilangan kata-kata.
"Vaia janji nggak akan jadi anak nakal dan akan nurut sama Bunda sama Ayah. Vaia sayang sama Bunda!" Vaia mencium pipi Vale cukup lama yang tentu saja membuat mata Vale kembali berkaca-kaca.
Hati Vale rasanya sudah tak karuan sekarang.
Vale bingung!
Vale bimbang!
Vale tak tahu harus bagaimana.
Apapun yang akan terjadi besok, Vale tak peduli. Vale hanya ingin memeluk Vaia malam ini dan meluapkan semua rasa sayangnya pada gadis ini.
Arga mungkin akan langsung membawa Vaia pulang besok. Jadi sekarang, Vaia ingin memeluk Vaia hingga puas dan merajut mimpi indah bersama Valeria kecilnya ini.
****
Kyle tak jadi masuk ke dalam kamar Vale dan kembali menutup pintu dengan hati-hati. Pria itu kembali turun ke lantai bawah, saat Kyle mendapati Arga yang sudah ikut duduk di ruang tengah bersama Ben.
Papa Theo sedang duduk bersama Mama Airin di ruang makan, dan sepertinya tengah menelepon seseorang.
"Sudah bertemu Kak Vale?" Tanya Ben saat melihat Kyle yang sudah kembali ke ruang tengah.
"Vale sudah tidur. Jadi aku tak mau mengganggunya," jawab Kyle memaksa untuk tersenyum dan menjawab sesantai mungkin.
"Selamat atas pernikahanmu dengan Vale, Kyle!" Ucap Arga mengulurkan tangannya ke arah Kyle.
Kyle menyambut uluran tangan Arga masih sambil mengulas senyum di bibirnya.
"Terima kasih, Arga! Tapi pernikahanku dengan Vale masih besok sore. Jadi ada baiknya, besok saja kau memberi ucapan selamatnya." Jawab Kyle yang langsung membuat Arga sedikit salah tingkah.
"Kau dan Vaia akan hadir besok sore, kan?" Tanya Kyle selanjutnya yang langsung membuat Arga mengendikkan bahu.
"Entahlah, aku rencanaya akan pulang besok pagi, karena Vaia juga sudah sehat, dan aku masih harus mengurus toko," jawab Arga sedikit ragu.
"Menginaplah satu hari lagi, Bang! Masa Abang tidak mau menyaksikan acara pernikahan Kak Vale dan Abang Kyle?" Timpal Ben memberikan usul pada Arga.
"Ben benar, Arga! Aku akan sangat senang jiia kau mau hadir di pernikahanku bersama Vale besok," ujar Kyle menimpali usul Ben.
"Aku tidak bawa baju untuk ke acara. Jadi-"
"Abang bisa pakai baju Ben! Ukuran kita sama sepertinya," potong Ben santai.
"Lihat! Masalahmu sudah ketrmu solusinya. Jadi datanglah bersama Vaia besok!" Ujar Kyle seraya bangkit berdiri dan menepuk punggung Arga.
Arga hanya mengangguk samar dan bingung harus menjawab apa.
"Kyle!" Panggil Papa Theo dari arah ruang makan.
Segera Kyle menghampiri pria paruh baya tersebut dan berbicara sesuatu, sebelum akhirnya Kyle pamit pulang dari kediaman Rainer.
.
.
.
Kondangannya besok.
Jangan lupa siapin baju dan amplopan
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.