My Angel Valeria

My Angel Valeria
CANGGUNG



Mobil yang dikemudikan oleh Ben sudah melaju meninggalkan Rainer's Resto, membawa Arga, Vale, serta Vaia.


Arga yang duduk disamping Ben, berulangkali menengok ke jok belaang, dimana Vale sedang duduk sambil memangku Vaia yang sepertinya sudah mengantuk. Arga masih mencerna tentang apa yang terjadi pada dirinya hari ini.


Tadi pagi, Arga datang ke Rainer's Resto sebagai tamu undangan dari pernikahan Vale dan Kyle. Lalu mendadak, Kyle memaksa Arga dan sedikit membentaknya agar menggantikan posisi Kyle dan menjadi suami untuk Vale. Kyle juga terus saja menyebut-nyebut nama Vaia dan meminta Arga melakukannya demi Vaia.


Kenapa ini begitu membingungkan?


Dan hingga resepsi pernikahan tadi, semua anggota keluarga Rainer sikapnya abiasa aja pada Arga seolah tak terjadi apa-apa. Bahkan Papa Theo juga tak berkomentar appaaun tentang Arga yang tiba-tiba menggantikan posisi Kyle di pernikahan sang putri.


Perasaan Arga benar-benar tak enak sekarang?


Mobil sudah masuk ke halaman rumah Rainer.


"Sudah sampai! Silahkan turun, pengantin baru!" Ucap Ben setengah berkelakar.


Arga turun terlebih dahylu dan langsung mengambil Vaia yang sudah tertidur dari pangkuan Vale. Arga amembawa masuk putrinya tersebut dan Vale mengekor di belakang Arga.


"Bang! Vaia mau dibawa kemana?" Tanya Ben saat Arga hendak membawa Vaia masuk ke kamar tamu yang memang Arga tempati selama menginap di rumah ini.


"Vale pasti capek, jadi Vaia biar tidur bersamaku di lantai bawah," jawab Arga menatap bergantian ke arah Ben dan Vale.


"Vaia akan mengamuk jika ia tidak tidur di kamarku, Arga!" Ucap Vale yang langsung disambung Ben dengan anggukan kepala.


"Baiklah, aku akan membawa Vaia ke kamarmu, jika kau memaksa," Arga ganti melangkah ke arah tangga menuju ke lantai dua dimana kamar Vale berada.


"Abang juga harus tidur di kamar Kak Vale! Bukankah kalian sudah resmi menjadi suami istri?" Seru Ben seraya terkikik yang langsung membuat Arga menghentikan langkahnya.


Arga suami Vale?


Ini masih seperti mimpi.


"Arga, kenapa berhenti?" Tanya Vale yang kini sudah mengusap punggung sang suami.


Arga tak menjawab dan melanjutkan langkahnya menaiki tangga, menuju ke kamar Vale.


Arga langsung membaringkan Vaia ke atas tempat tidur Vale dan menyelimuti putrinya tersebut.


"Ayah! Bunda mana?" Tanya Vaia yang matanya masih setengah terpejam.


"Bunda disini, Sayang! Tidurlah lagi!" Ucap Vale seraya mengusap lembut kepala Vaia.


"Bunda nggak akan pergi lagi, kan? Bunda akan ikut pulang ke rumah Ayah, kan?" Tanya Vaia lagi yang langsung dijawab Vale dengan anggukan dan senyuman.


"Bunda akan selalu bersama dengan Vaia dan Ayah mulai sekarang!"


Vaia tersenyum bahagia dan kembali memejamkan matanya.


Arga masih menatung di tempatnya semula, merasa bingung harus melakukan apa sekarang. Mendadak Arga merasa canggung dan grogi berada di dekat Vale.


"Kau bisa mandi dulu, Arga!" Ucap Vale setengah berbisik pada Arga.


Ya!


Bagaimana Arga bisa lupa kalau ia harus mandi dulu sebelum tidur. Arga begitu berkeringat setelah acara resepsi tadi.


Arga beranjak dan hendak menuju ke arah pintu kamar, saat Vale kembali menegurnya.


"Kamar mandinya ada di sana!" Ucap Vale menunjuk kd arah pintu berwarna pink di sudut kamar yang mengarah ke kajar mandi di dalam kamar Vale.


"Aku akan mandi di kamar bawah saja, Vale!" Ucap Arga yang kembali merasa canggung.


"Kenapa memangnya?" Tanya Vale tak mengerti.


Gadis itu beranjak dari tempatnya dan menghampiri Arga yang masih mematung di dekat pintu kamar.


"Aku tidak mau membuatmu menjadi tidak nyaman. Maksudku, pernikahan ini terlalu mendadak, dan aku tidak mau memaksamu untuk-" Arga kehilangan kata-kata sekarang karena tatapan aneh dari Vale.


"Ayo duduk dulu!" Vale mengajak Arga untuk duduk di sofa yang ada di kamar tersebut.


Vale dan Arga sudah duduk berdampingan di sofa sekarang. Dan pasangan pengantin baru itu hanya saling diam.


"Apa Om Theo marah besar, soal kejadian hari ini?" Arga akhirnya buka suara.


Vale hanya menggeleng.


"Papa hanya kaget karena mendadak abang Kyle membatalkan acara pernikahan tadi dan memintamu menggantikan dirinya. Tapi Papa benar-benar tidak marah kepadamu, Arga!" Vale meraih tangan Arga dan menggenggamnya dengan erat.


"Tapi papa kamu pasti kecewa karena statusku," ujar Arga yang tiba-tiba merasa rendah diri.


"Sama sekali tidak!" Jawab Vale cepat.


"Papa tidak pernah memandang orang dari status atau kedudukannya, Arga! Yang penting bagi Papa adalah kebahagiaan anak-anaknya," tutur Vale yang masih menggenggam erat tangan Arga.


"Papa mengajakku bicara beberapa hari yang lalu, dan minta aku berkata jujur tentang perasanku kepadamu," Vale memulai ceritanya.


"Karena menurut Papa, aku bukan hanya jatuh cinta pada Vaia, tapi aku juga sudah jatuh cinta kepadamu," kali ini Vale menatap ke arah Arga yang juga tengah menatapnya.


"Hingga akhirnya aku jatuh sakit, itu karena aku terus-terusan memendam perasanku dan tak menceritakannya pada siapapun."


"Jadi itu alasan Papa Theo hanya diam saat Kyle memaksa untuk membatalkan pernikahannya?"


"Sejak awal Papa sudah peka kalau perasaanku pada Abang Kyle sudah berbeda jauh. Tapi Papa juga tidak bisa membatalkan pernikahan itu begitu saja, karena Papa tidak mau merusak hubungan baik keluarga Rainer dengan keluarga Arthur. Papa hanya memintaku menerima dengan lapang dada pernikahan itu dan belajar melupakan kamu serta Vaia pelan-pelan,"


"Papa yang lebih paham dan lebih bisa melihat sesuatu yang sudah terjadi di antara kita berdua, Arga! Bahkan sebelum aku menyadari kalau sebenarnya aku sudah jatuh cjnta kepadamu," Vale menyandarkan kepalanya di dada Arga.


"Aku juga baru sadar kalau aku sebenarnya sudah jatuh cjnta padamu, saat aku melihat gaun pengantin di kamarmu pagi itu, Vale. Hatiku sakit, dan mendadak aku ingin pergi jauh agar aku tak perlu menyaksikan pernikahanmu dengan Kyle," Arga mengusap lembut puncak kepala Vale yang masih bersandar di dadanya.


"Kita sudah saling jatuh cinta tapi kita berdua malah terus menyangkalnya," Vale sudah mengangkat kepalanya sekarang. Gadis itu menatap lekat wajah Arga yang kini hanya tersenyum dan mengangguk-angguk.


"Kau tidak jadi mandi?" Vale mengusap wajah Arga meskipun masih malu-malu.


"Bukankah kau juga belum mandi?" Arga menangkup wajah Vale dan menyatukan dahinya dengan dahi Vale. Wajah istrinya itu sudah bersemu merah sekarang.


Tangan Vale yang tadi berada di wajah Arga sudah turun ke kemeja pria itu dan membuka satu persatu kancing kemeja Arga.


Vale mengusap dada bidang Arga yang kini tak tertutupi apapun.


"Kau pernah menyeka seluruh tubuhku saat aku terbaring lemah di dalam rumahmu yang sederhana. Kau juga yang menggantikan aku baju saat aku tak bisa bergerak saat itu."


"Aku melakukannya sambil memejamkan mataku," kilah Arga sedikit terkekeh.


"Jangan bohong! Kau bahkan juga menggendongku ke kamar mandi dan ke atas tempat tidur saat itu."


"Aku tidak berpikir macam-macam saat itu karena niatku benar-benar hanya ingin menolong dan merawatmu." Ucap Arga bersungguh-sungguh.


"Kalau sekarang bagaimana? Masih tidak berpikir macam-macam juga?" Goda Vale seraya menundukkan wajahnya.


"Sekarang sudah beda cerita! Kau istriku sekarang," Arga membuka kancing gaun Vale yang berada di punggung, lalu mengusap punggung mulus Vale hingga membuat istrinya itu menggelinjang kegelian.


"Ayo mandi dan berendam sebentar!" Bisik Arga seraya mengecup tengkuk Vale.


Vale hanya mengangguk samar dan Arga segera menggendong Vale masuk ke dalam kamar mandi.


.


.


.


Aku skip aja ya adegan nganunya😅😅


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.