
Valeria memeluk Mama Airin dan Papa Theo secara bergantian seraya berpamitan kepada kedua orangtuanya tersebut.
"Tetap jaga kesehatan, jadi istri yang baik untuk Arga serta Bunda yang baik untuk Vaia!" Pesan Mama Airin yang langsung dijawab Vale dengan anggukan kepala.
"Dan segera kabari Mama dan Papa jika ada apa-apa atau jika ada kabar baik tentang adiknya Vaia!" Timpal Papa Theo ikut memberikan pesan pada Valeria.
"Iya, Ma, Pa!" Vale memeluk kedua orangtuanya sekali lagi.
"Kami pamit, Ma, Pa!" Arga ikut berpamitan pada Mama Airin dan Papa Theo.
"Selalu sabar membimbing Vale, ya, Arga!" Pesan Papa Theo padasang menantu.
Arga mengangguk dan segera menyusul Vale yang sudah masuk ke dalam mobil. Ben dan Vaia juga sudah duluan naik ke mobil pick up Arga.
Mama Airin dan Papa Theo melambaiakn tangan ke arah mobil Arga yang mulai melajau meninggalkan kediaman Rainer.
****
Matahari sudah bergulir ke arah barat, saat mobil Arga tiba di rumah sederhananya yang berseberangan dengan toko milik Arga. Mulai hari ini, rumah arga akan semakin berwarna karena kini Arga memiliki dua Valeria dan mungkin akan ada beberapa Valeria lagi ke depannya yang akan membuat rumah Arga semakin ramai.
"Ben! Kita sudah sampai!" Arga membangunkan Ben yang tertidur di sampingnya. Sedangkan Vale yang duduk di bangki belakang, sudah turun duluan menggendong Vaia yang juga tertidur.
"Sudah sampai?" Ben mengucek matanya dan melihat ke rumah Arga yang meskipun tak sebesar rumah Papa Theo, namun terlihat begitu asri dan nyaman.
"Ini rumah Bang Arga?" Tanya Ben berbinar tak percaya.
"Ya. Hanya rumah sederhana. Semoga kau betah menginap disini," jawab Arga sedikit merendah.
"Ini keren, Bang! Brn bakal betah sekali! Mama dan Papa harusnya ikut kesini juga, pasti mereka tidak aka mau pulang," ujar Ben yang segera menyusul Arga turun dari mobil.
Vale yang sudah berada di teras, terlihat sedang mengobrol bersama Paman Jo yang langsung menyambut kedatangan keluarga kecil Arga.
"Aku akan membawa Vaia masuk," ujar Vale setelah Arga dan Ben ikut ke teras.
"Selamat, pengantin baru!" Paman Jo pangsung memeluk Arga dan ikut berbahagia dengan kabar pernikahan Arga da Vale yang begitu mengejutkan.
"Ini Ben, adik Vale," Arga memperkenalkan Ben pada Paman Jo.
"Oh. Hai, Ben! Aku Jo! Sepupu sekaligus karyawan Arga di toko," paman Jo langsung menjabat tangan Ben dan menunjuk ke arah toko Arga di seberang jalan.
"Itu toko Bang Arga?"
"Iya! Satu-satunya mata pencaharianku di kota kecil ini," jawab Arga kembali merendah.
"Kau nanti bisa tidur di lantai dua toko bersama Jo selama mengibap disini, kau tidak keberatan kan, Ben?" Sambung Arga lagi menjelaskan paad Ben.
"Sama sekali tidak, Bang! Ben senang sekai karena diajak berjalan-jaln ke tempat indah ini!" Ujar Ben yang begitu bersemangat.
****
Hari beranjak malam.
Semuanya kini sudah berkumpul di ruang makan rumah Arga yang tak begitu besar dan sedang menikmati makan malam yang disiapkan oleh Vale.
"Kau harus membawa Vale ke rumah, Arga! Aku belum memberi tahu Mah tentang kabar pernikahanmu dengan Vale," ucap Paman Jo membuka obrolan.
"Besok saja kita mengunjungi Bibi May bagaimana?" Usul Vale meminta persetujuan Arga.
"Tidak masalah! Sekalian kita ajak Ben juga biar bisa ke perkebunan dan peternakan bersama Vaia dan Paman Jo," Jawab Arga yang langsung setuju.
"Lalu kita bisa pacaran berdua di danau," sambung Arga lagi setengah berbisik ke arah Vale.
"Dasar!" Vale memukul lengan Arga dan pria itu hanya terkekeh.
"Ayah dan Bunda mau pacaran? Bukankah Ayah dan Bunda sudah menikah?" Tanya Vaia bingung karena sepertinya gadis kecil itu tak sengaja mendengar bisik-bisik antara Arga dan Vale.
"Ayah dan Bunda mau membuat adik untuk Vaia! Jadi besok Vaia jalan-jalannya sama Paman Jo, Bibi May, dan Om Ben!" Ujar Paman Jo menjawab pertanyaan polos Vaia yang sontak membuat semua orang di meja makan tersebut menjadi tertawa.
Kecuali Vale yang wajahnya bersemu merah.
"Siap, Paman!" Jawab Vaia penuh semangat.
Suasana di meja makan kian terasa hangat denagn obrolan akrab serta tawa canda dari keluarga Arga.
****
Vale segera merapatkan tubuhnya ke pelukan Arga yang sepertinya sedang menonton film di laptopnya.
"Ada surat untukmu," Arga mengangsurkan sebuah amplop pada Vale yang kini mengernyit bingung.
"Surat dari siapa?"
"Dari seseorang yang sudah bahagia di surga," jawab Arga seraya mengecup kening Vale.
Vale segera meraih amplop tersebut dan membaca tulisan di luar amplop.
"Untuk Dia"
Vale membuka amplop tersebut dan mengeluarkan secarik kertas di dalamnya yang penuh dengan tulisan tangan.
Untuk kamu, wanita yang dicintai oleh Arga.
Terima kasih, karena sudah membuat Arga menemukan tujuan hidupnya kembali.
Terima kasih karena sudah membuat Arga kembali bangkit dan merasakan jatuh cinta.
Terima kasih karena sudah membuat jiwa muda Arga kembali berkobar
Dan terima kasih karena sudah menjadi bunda untuk Valeria, putriku.
Tetaplah berada di sisi Arga apapun yang terjadi.
Tetaplah mendampingi Arga di semua keadaan pria itu.
Jadilah bunda yang baik untuk Valeria, karena aku yakin kau pasti adalah seorang wanita baik yang dikirimkan Tuhan untuk putriku.
Bimbinglah Valeria saat ia beranjak remaja dan dewasa.
Dampingi Valeria saat gadis itu menyelesaikan pendidikannya nanti.
Dampingi Valeria di hari pernikahannya kelak, dan ajari Valeria semua hal yang mang pantas Valeria pelajari.
Banyaklah bersabar dalam mendampingi Arga dan merawat Valeria.
Karena aku selalu mendukungmu dari sini.
Kau adalah wanita yang kuat, hebat, dan penuh kasih sayang.
Terima kasih sekali lagi.
Arga dan Valeria adalah segalanya bagiku. Dan kini kau juga segalanya bagiku.
Kita adalah keluarga, bukan begitu?
-Tania-
Vale menyeka airmata yang turun di kedua pipinya.
"Apa Tania yang menulis ini?"
"Ya, dia menulis beberapa surat sebelum melahirkan Vaia. Sepertinya Tania memang sudah punya firasat kalau ia akan pergi meninggalkan Aku da Vaia," Arga mengeratkan dekapannya pada Vale, mengingat kembali momen-momen saat Tania pergi untuk selamanya meninggalkan Arga dan Valeria yang kala itu masih berumur satu minggu.
"Kau ayah yang hebat, Arga!" puji Vale yang langsung membuat Arga mengangguk.
"Dan sekarang, aku ingin kau juga menjadi bunda yang hebat untuk Vaia. Dan untuk anak-anak kita nanti," Arga meraih tangan Vale dan menggenggamnya denga erat.
"Kita akan sama-sama belajar menjadi orang tua yang hebat." Ujar Vale seraya mengecup tangan Arga yang masih menggenggam tangannya.
Arga kembali mengangguk dan segera meraup Vale ke dala pelukannya. Mencecap bibir istrinya tersebut dan kembali mencumbunya hingga pagi menjelang.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.