My Angel Valeria

My Angel Valeria
IKATAN BATIN?



Arga tiba di kediaman Rainer setelah jam makan siang.


"Apa kita sudah sampai di rumah Bunda, Ayah?" Tanya Vaia yang suaranya terdengar begitu lirih.


"Iya, Sayang! Kita sudah sampai. Semoga Bunda Vale ada disini, ya!" Harap Arga seraya membunyikan klakson mobil.


Security yang mengenali mobil Arga segera membuka lebar pintu gerbang dan mempersilahkan mobil Arga untuk masuk ke dalam.


Arga baru saja memarkirkan mobilnya di halaman, saat Ben terlihat keluar dari dalam rumah dan langsung menghampiri mobil Arga.


"Bang Arga!" Sapa Ben yang sepertinya terkejut dengan kedatangan Arga yang tiba-tiba.


"Hai, Ben!" Arga hanha membalas sapaan Arga sekeannya, karena pria itu sibuk memeriksa kondisi Vaia yang masih demam.


"Vaia kenapa, Bang? Kok pucat begitu?" Tanya Ben khawatir.


Arga segera memutari mobil dan membuka pintu di bagian Vaia duduk.


"Vaia sakit dan dia-"


"Bunda! Bunda Vale, Vaia mau ketemu Bunda," rengekan Vaia memotong kalimat Arga.


Ben yang sigap segera melepaskan sabuk pengaman Vaia dan membawa gadis lima tahun itu ke dalam gendongannya.


"Badannya panas sekali. Apa sudah dibawa ke dokter?" Tanya Ben yang kini membawa Vaia masuk ke dalam rumah. Arga hanya bisa mengekori adik Vale tersebut sambil menjawab cecaran pertanyaan yang diajukan Ben.


"Sudah dua kali, dan sudah minum obat juga. Tapi demamnya tidak turun-turun sejak beberapa hari yang lalu." Jelas Arga yang masih mengekori Ben


"Bunda! Jangan tinggalin Vaia, Bunda! Vaia nggak nakal! Vaia mau sama Bunda!" Vaia masih terus mengigau.


"Kita akan bertemu bunda, Sayang!" Ucap Ben yang kini setengah berlari menaiki tangga menuju ke kamar Vale di lantai dua.


Ben mendorong pintu kamar Vale dengan kasar dan tentu saja hal itu membuat Vale yang sedang merenung di dalam kamarnya menjadi terkejut.


"Vaia!" Vale langsung menyambut Vaia yang berada di gendongan Ben.


"Vaia sakit dan memanggil-manggil kakak," jelas Ben seraya membaringkan tubuh kecil Vaia di atas tempat tidur Vale.


"Vaia!"


"Bunda!" Tangis Vaia langsung pecah dan bocah kecil itu memeluk Vale dengan erat meskipun badannya lemah.


"Vaia, kamu demam, Sayang?" Vale memeriksa kondisi Vaia yang lemah dan panasnya tinggi.


"Aku membawa obat penurun panasnya, tapi Vaia tidak mau makan," Arga sudah ikut masuk ke dalam kamar Vale dan memberikan sirup penurun panas pada Ben.


"Vaia makan, ya, Sayang!" Bujuk Vale lembut sambil menyingkirkan rambut gadis kecil itu yang berserakan.


"Vaia mau makan sama bunda! Bunda jangan tinggalin Vaia lagi! Ayo kita pulang, Bunda!" Ucap Vaia terbata-bata di sela-sela isak tangisnya.


"Iya, bunda disini nggak kemana-mana. Sekarang Vaia makan dulu, ya!" Bujuk Vale sekali lagi masih dengan nada yang lembut.


Ben sudah keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah untuk mengambilkan makanan untuk Vaia.


"Sudah berapa hari Vaia sakit seperti ini, Arga? Kenapa Vaia jadi kurus begini?" Tanya Vale sedikit mengomel pada Arga karena mendapati Vaia yang badannya menjadi begitu kurus, padahal baru sepekan mereka tak bertemu.


"Lima hari," jawab Arga merasa bersalah.


"Kau tidak membawanya ke dokter?" Tuduh Vale sedikit emosi.


"Aku membawanya ke dokter dua kali. Tapi demamnya tak kunjung turun, dan dia tak mau makan. Dia terus saja mencarimu!" Jawab Arga ikut-ikutan emosi.


"Dan kau tidak menghubungiku?"


"Aku tidak mau Vaia terus-terusan bergantung kepadamu! Kau akan menikah dengan Kyle! Jadi aku dan Vaia harus menjauh dari hidupmu!" Jawab Arga mencari pembenaran.


Vale terdiam karena kalimat terakhir Arga yang mendadak membuat hatinya menjadi perih.


Arga berniat menjauh dari hidup Vale?


Apa ini alasan Arga membawa pergi Vaia pagi-pagi buta saat bocah itu masih terlelap seminggu yang lalu?


Tapi Arga benar, Vale memang akan menikah dengan Kyle, dan Vale tak memiliki hubungan apapun dengan Arga. Tapi kenapa hati kecil Vale seolah merasa tak terima?


Vale tidak mau lagi berjauhan dari Vaia!


Mama Airin juga ikut mengekor di belakang Ben.


"Ada apa dengan Vaia, Arga?" Tanya Mama Airin setelah Arga menyapa wanita paruh baya tersebut.


"Vaia sakit, Tante!" Jawab Arga lirih.


Vale membantu Vaia untuk duduk dan menyusun bantal agar Vaia bisa bersandar. Vale lanjut menyuapi Vaia dengan hati-hati. Dan tak ada drama paksaan atau bujukan ,karena Vaia langsung mau membuka mulut saat Vale yang menyuapinya.


Hampir setengah mangkuk bubur Vaia habiskan dengan lahap. Gadis kecil itu sudah bisa minum obat sekarang.


Vale lanjut mengompres Vaia yang demamnya sudah sedikit turun.


Sementara Arga sudah keluar dari kamar Vale sejak tadi bersama dengan Ben.


"Kak Vale juga baru sembuh dari sakit. Aneh sekali! Kenapa Vaia dan Kak Vale bisa sakit berbarengan?" Cerita Ben yang sontak membuat Arga terkejut.


"Vale sakit?"


"Iya, tiga hari yang lalu Kak Vale demam tinggi. Dan kata mama Kak Vale terus-terusan memanggil nama Vaia saat mengigau," jawab Ben kembali bercerita pada Arga.


Tiga hari yang lalu, Arga juga terjaga semalaman karena Vaia demam tinggi dan putri Arga itu terus meracaukan nama Vale.


Apa ini hanya sebuah kebetulan?


Atau demamnya Vaia dan Vale memang berhubungan?


Tapi Vale bukan bunda kandung Vaia. Bagaimana bisa ikatan batin di antara mereka berdua begitu kuat?


Bahkan mereka baru mengenal selama sebulan.


"Semoga Vaia sudah sehat besok, agar Abang dan Vaia bisa ikut datang ke acara pernikahan Kak Vale dan Abang Kyle besok sore!" Ucap Ben penuh harap.


Namun ucapan Ben cukup bisa membuat Arga terkejut.


"Vale akan menikah besok?" Tanya Arga dengan raut wajah terkejutnya.


Bodoh!


Seharusnya Arga tak datang hari ini!


"Ya, Kak Vale akan menikah dengan Abang Kyle besok sore. Makanya tadi Ben pikir Abang datang kesini karena menerima undangan dari Kak Vale," jawab Ben sedikit terkekeh.


Arga hanya menggeleng dan berusaha menelan ganjalan pahit yang mendadak menghimpit tenggorokannya. Arga bahkan tak memiliki perasaan apapun pada Vale, lalu kenapa Arga harus terkejut begini mendengar berita pernikahan Vale dan Kyle yang ternyata akan dilangsungkan besok?


"Vale sudah tidur dan demamnya sudah turun," lapor Vale yang baru saja turun dari tangga.


Vale melempar tatapan tajam pada Arga seolah Vale sedang marah pada pria itu karena tak buru-buru mengantar Vaia bertemu dengan Vale dan membiarkan sang putri menderita selama berhari-hari.


Ayah macam apa sebenarnya Arga ini!


"Sebaiknya Bang Arga juga beristirahat sekarang! Bang Arga pasti lelah setelah mengemudi jauh!" Ben menepuk pundak Arga berusaha memecah kecanggungan yang terjadi di antara mereka bertiga.


Arga hanya mengangguk dan segera mengikuti Ben ke kamar tamu yang dulu juga Arga tempati saat menginap di rumah ini.


Mungkin Arga akan pulang besok pagi saja bersama Vaia jika putrinya itu sudah sehat dan tak demam lagi.


Bukankah pernikahan Vale dan Kyle akan dilaksanakan sore?


.


.


.


Yang merasa nyesel baca karya ini.


Yang merasa kecewa.


Unfav gih!


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.