
Jam masih menunjukkan pukul 05.30 saat Vale bangun dari tidurnya. Vaia masih terlelap di samping Vale. Segera Vale mengusap pipi Vaia yang menggemaskan dan mencium kening gadis kecil tersebut. Vale juga kembali merapatkan selimut Vaia karena hawa pagi ini dingin sekali.
Setelah sedikit meregangkan ototnya yang sedikit kaku, Vale lanjut keluar dari kamar, dan gadis itu langsung mendapati Arga yang tidur meringkuk di sofa yang ada di ruaang keluarga. Selimut yang dipakai Arga sudah jatuh ke lantai.
Ya ampun!
Segera Vale meraih selimut yang teronggok di lantai dan membentangkannya untuk menutupi tubuh besar Arga yang sepertinya kedinginan.
Apa setiap malam Arga selalu tidur di sofa karena Vale menempati kamar Arga?
Kasihan sekali pria ini.
Kenapa tidak tidur di kamar Vaia saja, dan malah lebih memilih tidur disini?
Masih dengan langkah tertatih, Vale lanjut pergi ke dapur untuk memasak sarapan. Kulkas Arga masih penuh dengan bahan makanan, jadi Vale bisa memasak menu yang lebih bervariasi pagi ini.
Semoga saja Arga dan Vaia akan menyukainya nanti.
****
"Arga!"
Panggilan dari Paman Jo langsung bisa membuat Arga terjaga dari tidurnya.
"Kau bangun kesiangan!" Kekeh Paman Jo lagi yang kini lanjut berjalan ke arah dapur menghampiri Vale yang masih berkutat dengan kompor, panci, dan bahan masakan.
"Kapan kau datang, Jo?" Tanya Arga yang masih duduk di kursinya dan mengerjapkan matanya yang masih terasa berat berulang kali.
Aroma masakan yang menguar dari arah dapur langsung memenuhi indera penciuman Arga dan mmembuat cacing-cacing di perut arga memulai demo mereka.
Vale masak apa?
Kenapa wangi sekali?
"Aku baru saja datang. Dan Vale sudah memasak di dapurmu. Kau yang biasanya bangun pagi, malah masih mendengkur. Tumben sekali!" Jawab Paman Jo yang masih berada di dapur bersama Vale.
Sepupu Arga itu sedang mengobrol bersama Vale sambil sesekali mencicipi masakan Vale yang masih ada di atas kompor.
"Aku tidak bisa tidur semalaman," Arga sudah ikut menyusul ke dapur dan menuang air putih ke dalam gelas sebelum meneguknya hingga tandas.
"Vaia juga belum bangun?" Tanya Paman Jo menoleh ke arah Arga.
"Tuan putri itu mana pernah bangun pagi," jawab Arga sedikit terkekeh.
"Sudah siap! Bisa bantu aku membawanya ke atas meja, Paman Jo!" Pinta Vale menunjuk pada satu mangkuk besar sayur serta beberapa lauk yang sudah selesai ia siapkan.
"Dengan senang hati, Nona-"
"Vale! Aku dan Vaia sepakat untuk memanggilnya Vale," ujar Arga cepat menyambung kalimat Paman Jo.
"Valeria? Itu nama putrimu?" Paman Jo sedikit bingung. Pria itu sudah membawa mangkuk berisi sayur ke atas meja maka.
"Aku dan Vaia tak menemukan ide nama panggilan lain. Jadi ya sudah, kami pakai nama itu saja," jawab Arga sedikit terkekeh.
Arga ikut membantu membawakan piring yang berisi lauk dan meletakkannya ke atas meja makan.
"Kau bangun jam berapa?" Tanya Arga sedikit berbisik pada Vale.
"Setengah enam pagi sepertinya," jawab Vale seraya mengendikan bahu.
Paman Jo sudah menyendokkan nasi ke atas piringnya, dan memulai sarapan.
"Bibi May tidak memasak?" Tanya Arga heran karena tidak biasanya sepupunya tersebut datang kesini pagi-pagi buta.
Ya, meskipun jarak rumah Paman Jo dan Arga hanya satu jam perjalanan, tapi tetap saja rasanya aneh kalau Paman Jo datang sepagi ini ke rumah Arga.
"May mana pernah memasak jika aku di rumah? Aku juga yang selalu sibuk di dapur dan memasak untuknya," jawab Paman Jo kembali terkekeh.
"Kau harus bertemu dengan wanita itu dan mengajarinya memasak, Vale! Kalian pasti akan cepat akrab!" Paman Jo ganti berbicara pada Vale dan meminta Vale bertemu dengan istrinya yang bernama bibi May itu.
"Nanti aku akan mengajak Vale main ke rumahmu. Biar dia berkenalan dengan Bibi May," tukas Arga sebelum lanjut menyuapkan sendok berisi nasi dan sayur hasil masakan Vale ke dalam mulutnya.
Arga memejamkan mata dan menikmati masakan lezat Vale yang benar-benar memanjakan lidahnya. Sudah lama Arga tidak makan masakan rumah selezat ini. Benar-benar mengingatkan Arga pada Tania yang dulu juga rajin memasak dan apapun yang mendiang istrinya itu masak, selalu terasa lezat di lidah Arga.
Vale segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Vaia.
"Pagi, Sayang! Kau masih mengantuk?" Tanya Vale yang sudah mensejajarkan tubuhnya dengan Vaia.
Gadis kecil itu hanya menggeleng.
"Mau sarapan?" Vale kembali bangkit berdiri, dan membimbing Vaia menuju ke meja makan.
Paman Jo yang sudah selesai makan, segera mengulurkan tangannya ke arah Vaia dan gadis kecil itu langsung melompat ke pangkuan sang paman.
"Kau bertambah tinggi? Atau bertambah gemuk? Atau hanya bertambah usil?" Paman Jo mulai menggoda Vaia yang kini mencebik.
"Paman menyebalkan!" Gerutu Vaia yang masih merengut.
"Vaia!" Tegur Arga karena ucapan Vaia yang kurang sopan.
Vaia gabti merengut pada sang ayaha tanoa menjawab sepatah katapun.
"Apa bunda bermimpi buruk lagi semalam?" Tanya Vaia pada Vale yang tengah memakan sarapannya.
Vale segera menggeleng.
"Bunda tidur nyenyak semalam."
"Berarti nanti malam Ayah harus menemani bunda di kamar lagi, biar Bunda nggak mimpi buruk lagi," cetus Vaia menatap bergantian ke arah Vale dan Arga.
"Memang tadi malam Ayah dan Bunda tidur satu kamar?" Tanya Paman Jo sedikit berbisik pada Vaia.
Vaia mengangguk dengan sangat yakin.
"Tapi tadi pagi, saat Paman datang, Ayah kamu-"
"Auuuuuw!" Paman Jo tiba-tiba menjerit karena kakinya yang berada di bawah meja diinjak oleh Arga. Dan ayah kandung Vaia itu juga sekarang mendelik ke arah Paman Jo sambil mulutnya komat-kamit.
"Paman kenapa?" Tanya Vaia polos.
Vale yang duduk di seberang Paman Jo ikut menatap heran pada Paman Jo yang tiba-tiba berteriak.
"Tidak apa-apa! Hanya tiba-tiba kaki Paman terasa sakit, seperti habis diinjak gajah!" Jawab Paman Jo lebay yang sontak membuat Arga berdecak.
"Lalu Vaia tidur dimana semalam? Di kamar Vaia?" Tanya Paman Jo selanjutnya yang sepertinya semangat sekali membahas perihal tidur bersama tadi malam.
"Di kamar ayah bareng ayah dan bunda," jawab Vaia jujur.
"Hmmm. Kenapa tidak bobok di kamar Vaia sendiri?"
"Jo!" Tegur Arga yang mulai kesal pada Paman Jo yang masih terus saja memabhas soal acara tidur tadi malam.
"Apa? Aku hanya bertanya pada keponakanku?" Sahut Paman Jo memasang raut wajah tanpa dosa.
Pria yang sudah menyelesaikan sarapannya tersebut langsung bangkit berdiri dan membawa Vaia ke dalam gendongannya.
"Ayo kita membuka toko!" Ajak Paman Jo yang suadh melangkah keluar dari ruang makan yang menyatu dengan dapur sambil menggendong Valeria.
"Vaia belum sarapan, Jo!" Ucap Arga dan Vale serempak.
Terang saja, hal itu langsung membuat Paman Jo tergelak.
"Kalian berdua kompak sekali!"
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.