
"Kau yakin, Va?" Tanya Arga sekali lagi seraya menatap wajah Vale di cermin. Tangan kanan Arga sudah memegang sisir dan tangan kirinya memegang gunting.
Pagi ini, Vale mendadak minta bantuan Arga untuk memotong rambutnya yang bagian bawah, karena kusut tak karuan dan sepertinya tak bisa lagi diselamatkan. Valeria benar-benar frustasi pagi ini karena tak kunjung bisa menyisir rambutnya yang kusut.
"Iya, aku yakin! Kau potong saja sebatas bahu, Arga!" Jawab Vale penuh keyakinan.
"Baiklah!" Arga mulai memotong rambut Vale perlahan, sama seperti saat Arga merapikan rambut Vaia.
"Segini, sudah benar?" Arga menunjukkan sedikit rambut Vale yang sudah ia potong.
"Iya, segitu! Lanjutkan saja!" Jawab Vale mantap.
Arga lanjut memangkas rambut Vale hingga tinggal sebahu. Sedikit membuat pangling karena kini wajah Vale terlihat lebih segar dan lebih cantik.
Vale memang cantik!
"Sudah selesai!" Lapor Arga seraya menyisir rambut Vale dan merapikannya sekali lagi.
"Bagus! Sepertinya kau bisa membuka jasa potong rambut sekarang," kekeh Vale memberikan ide pada Arga.
"Tidak akan ada waktu! Mengurus toko dan Vaia saja aku sudah kewalahan," jawab Arga seraya tersenyum tipis.
"Bunda!" Panggil Vaia yang kini berlari-lari kecil masuk ke rumah.
"Hai!" Vale langsung menyambut Vaia dan membawa gadis kecil itu kd dalam pelukannya.
"Bunda potong rambut?" Tanya Vaia seraya meraup sedikit rambut Vale.
"Ya! Bagaimana menurutmu?" Vale meminta pebdapat dari Vaia.
"Cantik! Bunda semakin cantik!" Vaia mencium pipi Vale.
Sementara Arga sudah selesai membereskan peralatan potong rambutnya tadi.
"Aku akan ke toko membantu Jo!" Pamit Arga pada dua Valeria di tersebut.
"Oke, Ayah! Vaia akan mandi bersama bunda!" Jawab Vaia bersemangat dan kembali melingkarkan lengannya di leher Vale.
"Kita mandi sekarang?" Tanya Vale pada Vaia yang kini mengangguk-angguk.
"Baiklah! Ayo kita mandi!" Vale segera membawa Vaia masuk ke dalam kamar mandi dan memandikan bocah lima tahun tersebut.
****
Selesai menadikan Vaia, Vale mengajak gadis kecil itu menyusul ke toko milik Arga. Baru daja ada barang yang datang, mungkin saja Arga dan Paman Jo butub bantuan untuk menata barang di rak toko atau pekerjaan lain.
"Hai! Sudah mandi?" Sapa Arga yang kini berdiri di elakang meja kasir dan memegang bundelan kertas di tangannya.
"Sudah!" Jawab Vaia yang langsung naik ke atas meja kasir dan bergelayut pada sang ayah.
"Ada yang bisa kukerjakan? Aku bisa menata barang, atau apapun!" Tanya Vale menawarkan bantuan.
Rasanya tidak enak jika Vale hanya bermalas-malasan di rumah Arga seharian tanpa melakukan apapun.
"Kau bisa menata barang di rak sebelah sana, Vale!" Itu suara Paman Jo yang sedang memindahkan kardus-kardus dari dalam gudang dan membawanya ke dekat rak toko.
Beberapa rak memang terlihat kosong dan sedikit berantakan. Mungkin karena beberapa hari kemarin Paman Jo pulang dan Arga sibuk merawat Vale hingga toko ini jadi terbengkalai.
"Baiklah! Aku akan menata barang!" Vale menatap sejenak pada Arga yang tersenyum kepadanya, sebelum berbalik menuju rak yang ditunjuk oleh Paman Jo.
"Kau bisa mengambil barang apapun yang kau perlukan dari sini, Va! Tidak perlu sungkan," ucap Arga sedikit berseru pada Valeria yang sedang menata barang-barang keperluan wanita.
"Ya! Terima kasih!" Jawab Vale yang kembali menatap pada Arga, sebelum kembaki melanjutkan pekerjaannya.
Tak berselang lama ada beberapa pembeli yang datang ke toko. Dan Arga, Valem serta Paman Jo sudah sibuk denagn tugas dan pekerjaan mereka masing-masing.
Vale terus menata dan merapikan rak yang terlihat berantakan, meskipun langkah kakinya masih sedikit terpincang.
Ya!
Kebetulan sekali. Vale memang sedang haus sekarang.
"Terima kasih!" Vale mengulas senyum pada Arga.
"Vaia sedang apa?" Vale ganti menatap pada Vaia yang masih duduk di dekat meja kasir.
"Menggambar! Apalagi memangnya yang dilakukan nona kecil itu?" Jawab Arga yang kini berjalan ke arah Vaia yang masih sibuk dengan kertas gambarnya.
Vale mengekor di belakang Arga dan ikut menghampiri Vaia.
"Lihat gambar Vaia, Bunda!" Vaia menunjukkan gambar pemandangan laut pada Vale.
"Ini laut!" Tebak Vale cepat yang langsung membuat Vaia mengangguk.
"Ini apa? Kenapa gambarmu selalu saja abstrak?" Tanya Arga seraya menunjuk ke satu gambar yang diberi warna kuning oleh Vaia.
"Itu kuda laut, Arga! Dan ini bukan gambar abstrak!" Vale yang menjawab komentar Arga pada gambar sang putri.
"Lihat! Bunda saja bisa tahu apa yang Vaia gambar! Ayah saja yang tidak pernah bisa menebak!" Vaia merengut pada sang Ayah.
"Gambarmu memang abstrak dan tidak jelas! Makanya ayah tidak bisa menebaknya," sergah Arga mencari alasan.
"Bukankah kuda laut itu seharusnya begini," Arga meraih pensil Vaia dan mulai menggambar kuda laut kecil di atas gambar Vaia.
"Ayah, jangan!" Jerit Vaia yang langsung menyentak tangan Arga dan berusaha merebit kertas gambarnya.
"Ayah contohin cara menggambar kuda laut!" Arga tetap bersikeras.
"Ayah!" Jerit Vaia dengan suara yang sudah melengking. Gambar Vaia kini sudah terdapat coretan Arga dan gadis kecil itu langsung menghentak-hebtakkan kakinya ke atas lantai serta terlihat kesal.
"Ayah srlalau menyebalkan! Lihat! Gambar Vaia jadi rusak!" Omel Vaia bersungut-sungut pada sang ayah.
"Ayah hanya ingin mengajarimu menggambar!" Arga masih saja mencari alasan.
"Arga!" Tegur Vale pada pria keras kepala dan kekanakan tersebut.
"Bunda, gambar Vaia rusak!" Vaia mengadu pada Vale dan bergelayut pada leher Vale.
"Nanti kita buat gambar yang baru, ya!" Hibur Vale seraya mengusap wajah Vaia dan merapikan rambut gadis kecil tersebut.
"Tapi jangan dekat-dekat ayah menggambarnya!" Vaia kembali cemberut dan mendelik pada sang ayah.
"Ayah juga nggak mau ngajarin lagi!" Sahut Arga seraya bersedekap.
"Vaia juga nggak butuh ayah ajarin!" Vaia ikut-ikutan bersedekap pada sang Ayah.
Vale benar-benar harus menahan tawanya melihat perdebatan ayah dan anak tersebut.
"Ayo menggambar di rumah sekalian menemani Bunda memasak makan siang!" Vale membantu Vaia membereskan peralatan gambarnya dan menggandeng tangan gadis kecil itu keluar dari toko, dan pulang ke rumah Arga yang ada di seberang toko.
Arga hanya tersenyum tipis menatap Vale dan Vaia-nya yang begitu akrab.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.