My Angel Valeria

My Angel Valeria
SIAPA SEBENARNYA AKU?



Kau bukan anak kandung papamu!


Kau hanyalah anak hasil pemerkosaan!


Kau itu pembawa sial di keluarga ini! Jadi sekarang kau akan menjadi penebus semua kesialan yang terjadi pada keluarga ini!


Karena kau keluarga ini selalu ditimpa kesialan!


Vale kembali terjaga dari tidurnya saat suara-suara asing itu terus saja berputar-putar di dalam mimpinya. Vale tidak tahu itu suara siapa, karena dalam mimpinya Vale tak melihat siapa-siapa.


Siapa sebenarnya yang merupakan anak hasil pemerkosaan?


Vale?


Lalu siapa yang dimaksud sebagai anak pembawa sial?


Vale?


Apa mungkin karena Vale adalah anak pembawa sial, maka keluarganya membuang Vale ke hutan?


Dan apa mungkin karena alasan itu, tak ada yang mencarinya hingga kini?


Mungkinkah hidup Vale memang semengenaskan itu?


Vale menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan meraih gelas yang ada di atas nakas.


Kosong!


Vale beralih sejenak pada Vaia yang masih terlelap di sampingnya. Hati Vale selalu terasa menghangat setiap melihat Vaia yang tenang dalam tidurnya.


Vale turun perlahan dari atas tempat tidur, serelah membenarkan selimut yang mrmbalut tubuh Vaia. Gadis itu melangkah tanpa suara keluar dari kamar dan Vale langsung terlonjak kaget mendapati Arga yang ternyata belum tidur dan masih menonton film tanpa suara.


"Hai, kau belum tidur?" Sapa Vale pada Arga yang langsung mematikan film yang ia tonton.


"Aku sedang tidak bisa tidur. Jadi aku menonton film," jawab Arga tersenyum tipis pada Vale.


Sepertinya Vale belum pernah melihat Arga tersenyum lebar atau tertawa. Bahkan senyuman pria itu tidak pernah sampai ke mata.


Vale sudah menuju ke arah dapur dan menuang air ke dalam gelas, lalu meneguknya dengan rakus.


"Kau bermimpi buruk lagi?" Tebak Arga menerka-nerka.


"Entahlah! Mimpiku kali ini berbeda dari yang sebelumnya," jawab Vale seraya mengendikan kedua bahunya.


Vale kembali mengisi gelasnya yang kosong dengan air lalu membawanya keluar dari dapur. Vale duduk di sofa di samping Arga, dan meletakkan gelasnya tadi di meja kecil yang tak jauh dari sofa.


"Berbeda bagaimana?" Tanya Arga yang sepertinya semakin penasaran.


"Hanya ada suara di dalam kegelapan yang mengatakan kalau aku hanyalah anak hasil pemerkosaan dan anak pembawa sial," cerita Vale dengan raut wajah sendu.


"Tidak ada yang namanya anak pembawa sial, Vale!" Arga sudah merangkulkan lengannya di pundak Vale dan mengusap-usap punggung gadis itu berusaha untuk menghibur dan menenangkan.


"Bagaimana jika ternyata keluargaku memang tak pernah menginginkan keberadaanku? Bagaimana jika ternyata mereka memang sengaja membuangku?" Suara Vale semakin lirih terdengar dan mata gadis itu sudah berkaca-kaca sekarang.


"Vale," Arga menatap wajah Vale dan menangkupnya dengan lembut.


"Keluargamu tak mungkin membuangmu." Arga menyeka butir bening di sudut mata Vale dengan ibu jarinya.


"Keluargamu pasti sedang mencarimu sekarang. Mereka menyatangimu, dan kau akan segera bertemu dengan mereka!" Ucap Arga berusaha berpikiran positif demi menenangkan Vale.


Meskipun Arga sendiri juga tak tahu apa yang tengah dilakukan keluarga Vale sekarang. Namun Arga tidak mau membuat pikiran Vale semakin kalut.


Vale harus tenang agar ingatannya juga segera kembali.


Vale masih menatap Arga, dan wajahnya sedikit bersemu merah sekarang karena satu tangan Arga yang masih menangkup wajahnya.


"Arga," ucap Vale sedikit berbisik memberi kode pada Arga untuk melepaskan tangannya dari wajah Vale.


"Ooh! Maaf!" Jawab Arga sedikit tergagap. Pria itu segera menurunkan tangannya dari wajah Valeria.


Sesaat suasana hening.


"Ngomong-ngomong, kenapa kau tidur di sofa dan tidak tidur di dalam kamar Vaia saja?" Tanya Vale yang akhirnya menemukan bahan pembicara baru.


"Maaf, gara-gara aku memakai kamar-"


"Bukan karena itu, Vale!" Arga memotong kalimat Vale dengan cepat dan kali ini ayah kandung dari Vaia itu sudah menatap wajah Vale.


"Sebelum kau tinggal disini dan menempati kamar itu," dagu Arga menunjuk ke arah kamar yang kini menjadi kamar Vale dan Vaia.


"Aku sudah tidur di sofa dan jarang tidak di dalam kamar," lanjut Arga lagi seraya menundukkan kepalanya dan tersenyum miris.


"Itu dulu kamarku bersama Tania, jadi setelah kepergian Tania aku merasa kurang nyaman tidur disana sendiri. Itulah alasanku lebih suka tidur disini," cerita Arga yang kini menatap jauh ke arah jendela besar di ruangan tersebut.


"Maaf, karena sudah membuatmu bersedih, Arga!" Vale meraih tangan Arga dan menggenggamnya bermaksud untuk menyalurkan kekuatan.


Tapi kenapa Vale malah merasakan perasaan lain sekarang?


"Tidak! Aku tidak sedih!" Arga memaksa untuk mengulas senyum di bibirnya.


"Bagaimana dengan Jo? Dia tidur dimana?" Tanya Vale lagi karrna tidak melihat Jo di dalam rumah ini.


"Di lantai dua toko. Ada satu kamar disana, dan itu ruangan khusus Jo!" Jawab Arga dengan nada sedikit berlebihan seraya menunjuk ke arah tokonya yang memang terlihat jelas dari jendela besar di ruangan ini.


Vale tidak tahu kenapa Arga membuat jendela sebesar ini di ruangan yang entah apa namanya ini. Mungkin ini adalah ruang tamu yang merangkap menjadi ruang keluarga, karena Vale tidak melihat ada ruang tamu di rumah Arga sejak ia datang.


Memang sudah ada beberapa kursi dan satu meja di teras depan. Apa mungkin karena Arga jarang kedatangan tamu, jadinya ruang tamu Arga di taruh di teras saja?


"Jendelanya sengaja aku buat besar dan lebar, agar saat aku di rumah, lalu ada yang ke toko, aku tetap bisa tahu," tutur Arga menunjuk ke arah jendela besar di depan mereka.


Vale belum melontarkan pertanyaan padahal. Arga malah sudah menjawabnya. Mungkin pria ini punya ilmu membaca pikiran orang lain.


"Sudah malam, sebaiknya kau tidur agar besok tidak kesiangan," Vale sudah bangkit dari duduknya dan menepuk punggung Arga.


"Kau juga sebaiknya tidur, Vale!" Balas Arga yang kini sudah merebahkan tubuhnya di sofa dan menarik selimut.


Vale mengambil gelasnya yang berisi air dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Arga tak berhenti menatap pada punggung Vale, hingga menghilang dibalik pintu kamar.


Selamat malam, Vale!


Selamat malam, Arga!


Arga hanya bergumam sendiri dan sedikit terkekeh sebelum pria itu memejamkan matanya.


****


Apartemen Kyle


Jam sudah menunjukkan hampir tengah malam.


Kyle hanya termenung sendirian di ruang makan apartemennya, tanpa menyalakan lampu. Hanya ada cahaya dari gedung-gedung di sekitar apartemen yang berpendar dan menyusup masuk lewat jendela kaca yang berada di ruangan tersebut.


Kyle menatap pada kotak beludru warna merah di tangannya, sebelum membuka kotak tersebut.


Ada dua cincin disana, dan seharusnya malam ini Kyle sudah menyematkan satu cincin itu di jari manis Valeria. Namun hingga detik ini, Kyle tidak tahu keberadaan Valeria.


Segala upaya sudah dilakukan, termasuk lapor polisi dan membuat berita kehilangan. Namun tetap saja, semuanya masih buntu. Belum ada kabar apapun mengenai keberadaan Valeria.


Dan pernikahan Kyle dan Valeria, mau tak mau harus dibatalkan hari ini.


"Dimana kamu, Valeria?"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.