My Angel Valeria

My Angel Valeria
AKU VALERIA



Valeria mengerjapkan matanya berulangkali dan mendapati mobil Arga yang sudah berhenti entah dimana. Arag juga tak ada di belakang kursi pengemudi. Hanya ada Vaia yang sedang minum susu UHT di jok belakang.


"Ayah kemana, Vaia?" Tanya Vale pada Vaia.


Netra Vale melihat sekilas ke arah pagar besi menjulang yang ada di samping mobil Arga.


Kenapa pagar besi itu terlihat tidak asing?


"Sedang bertanya apa ini rumah orang tua Bunda apa bukan," ujar Vaia menjawab pertanyaan Vale barusan.


"Bunda, apa Vaia boleh keluar? Disini panas!" Keluh Vaia yang memang terlihat berkeringat karena mesin mobil yang mati, otomatis pendingin mobil ikut mati.


"Baiklah, kita tunggu Ayah di luar saja," Vale membuka pintu mobil dan keluar terlebih dahulu. Dan lagi-lagi seperti deja vu, Vale merasa tidak asing dengan kawasan perumahan tempat Vale berdiri saat ini.


"Bunda!" Panggil Vaia karena Vale terlihat melamun.


Vale yang baru tersadar dari lamunannya segera membantu Vaia keluar dari mobil dan menggendong bocah lima tahun tersebut.


Baru saja Vale akan menyusul Arga, tiba-tiba sudah ada seorang wanita paruh baya yang mengahmpiri Vale, disusul seorang pria paruh baya juga. Raut wajah dua orang tersebut tampak terkejut saat melihat Vale.


Pun dengan Vale yang langsung mematung di tempatnya masih sambil menggendong Vaia saat dua orang itu menyebut namanya.


"Valeria!"


Valeria?


Valeria Rainer!


"Papa yang pertama menggendong dan memelukmu saat kau baru lahir ke dunia ini. Papa yang memberikanmu nama Valeria, agar kau menjadi seorang gadis yang kuat dan pemberani."


"Kau adalah putri Papa sampai kapanpun, Valeria!"


"Kau adalah putri Papa!"


"Papa?" Bibir Vale bergumam lirih saat menatap netra Papa Theo yang kini juga sedang menatapnya.


"Akhirnya kau pulang, Vale!" Papa Theo dan Mama Airin langsung memeluk Valeria.


Arga yang sejak tadi mengekori Papa Theo dan Mama Airin, segera mengambil Vaia dari gendongan Vale dan membiarkan gadis itu menumpahkan kerinduannya pada kedua orang tuanya tersebut.


Setidaknya, keputusan Arga untuk tetap mengantar Vale pulang adalah sebuah keputusan yang tepat.


Mama Airin sudah membawa Vale masuk ke dalam kediaman Rainer, sementara Papa Theo menghampiri Arga yang masih menggendong Vaia dan berdiri di dekat mobilnya.


"Masuklah dulu-"


"Arga, Tuan! Nama saya Arga, dan ini putri saya, Valeria," Arga memperkenalkan dirinya dannjuga Vaia pada Papa Theo.


"Jangan memanggilku Tuan, Arga!" Papa Theo menepuk punggung Arga.


"Dan, putrimu bernama Valeria juga?" Tanya Papa Theo menautkan kedua alisnya.


"Panggilannya Vaia," jawab Arga seraya mengangguk.


"Ayo kita masuk ke dalam, Vaia!" Papa Theo mengambil Vaia dari gendongan Arga dan membawa bocah kecil itu masuk ke halaman.


Arga hanya mengendikkan bahu dan lanjut membawa mobil pick up tuanya masuk ke halaman kediaman Rainer yang lumayan luas. Ada dua mobil yang tentu saja berbeda jauh dari mobil Arga terparkir di depan garasi.


Ya, ya, ya!


Vale memang putri dari keluarga berada ternyata.


Tapi Arga masih penasaran tentang mimpi yang diceritakan Vale saat di rest area tadi. Haruskah Arga menanyakannya pada Papa Theo?


Setelah memarkirkan mobilnya di depan garasi, Arga menyusul masuk ke dalam rumah besar Vale.


****


Mama Airin masih duduk dan merangkul Vale dengan erat. Sepertinya mama kandung Vale itu benar-benar mengkhawatirkan kondisi sang putri. Sementara Vaia masih duduk bersama Papa Theo dan menikmati kue yang disajikan oleh maid di rumah Vale.


Vaia memang mudah akrab dengan orang baru, jika itu orang yang baik. Namun jika yang ditemui orang yang berniat jahat, biasanya Vaia akan menunjukkan gelagat kurang nyaman. Arga tidak tahu bagaimana putrinya itu bisa paham dan membedakan mana yang benar-benar orang baik dan mana orang yang hanya berpura-pura baik.


"Kau sudah ingat semuanya, Vale?" Tanya Arga memastikan karena Vale yang teroihat masih linglung dan berulang kali melempar tatapan bingung ke arah Arga.


"Entahlah, aku sedikit bingung," ucap Vale yang terus bergantian menatap pada Arga dan Papa Theo.


"Dokter akan kesini sebentar lagi dan memeriksa kondisimu." Ujar Papa Theo yang kini sedang menyuapi Vaia dengan kue coklat.


"Ayo kita ke kamarmu saja! Kau bisa membersihkan diri dulu dan betistirahat sembari menunggu dokter," ajak Mama Airin lembut.


Vale hanya mengangguk aragu dan menatap Arga sekali lagi sebelum beranjak berdiri dan meninggalkan ruang tamu.


"Vaia boleh menemani bunda ke kamar, Ayah?" Tanya Vaia meminta persetujuan Arga.


"Tidak, Sayang! Kau habiskan dulu kue coklatnya, lalu kita pulang!" Jawab Arga cepat.


"Kenapa buru-buru, Arga? Ini sudah hampir malam, dan kau belum menceritakan kejadian sampai kau bertemu dengan Vale," ujar Papa Theo sedikit keberatan dengan Arga yang ingin buru-buru pulang.


Papa Theo memanggil seorang maid untuk mengantarkan Arga dan Vaia ke kamar tamu yang biasa ditempati oleh siapa aja yang menginap di kediaman Rainer.


Papa Theo sendiri langsung naik ke lantai dua bersama dokter yang baru saja datang.


Ya, Arga memang sangat lelah sekarang karena mengemudi puluhan kilometer dari rumahnya sampai ke rumah Vale. Mungkin tak ada salahnya Arga menginap dulu disini hingga besok.


****


Valeria sudah mandi dan berganti baju, saat dokter masuk ke kamar untuk memeriksanya. Gadis itu hanya diam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Apa ada bagian tubuhmu yang terasa sakit, Vale?" Tanya Dokter yang memang menjadi langganan keluarga Rainer tersebut.


"Sebelumnya saya sering merasakan sakit kepala saat mencoba mengingat sesuatu, Dok!" Vale menunjuk ke arah kepalanya.


"Kata Arga, Vale mengalami amnesia sebelum Arga mengantarnya kesini," ujar Papa Theo menyampaikan sebuah info pada dokter.


"Bagaimana sekarang? Kau sudah ingat semuanya? Atau kau masih lupa-lupa ingat?" Tanya dokter memastikan.


"Saat kemarin Arga bertanya siapa Valeria Rainer, aku tak mengingat apapun. Tapi tadi saat aku melihat wajah Mama dan Papa, aku mendadak ingat dengan namaku sendiri. Dengan rumah ini, dan dengan keluarga ini." Tutur Vale sedikit menerawang.


"Kau punya seorang adik, kau ingat?" Tanya dokter lagi pada Vale.


"Ya! Namanya Bennedic," Jawab Vale yang ternyata ingat pada Ben.


"Kau juga punya seorang calon suami. Kau ingat?" Tanya dokter lagi yang sesaat membuat hati kecil Vale mencelos.


"Ya, namanya Kyle," jawab Vale lirih.


Dokter mengangguk-angguk dan lanjut menuliskan resep obat untuk Vale.


"Apa pernikahan Vale dan Abang Kyle di batalkan, Pa?" Tanya Vale yang ganti menatap pada sang papa.


"Tidak! Hanya ditunda sampai kau ditemukan. Dan karena sekarang kau sudah pulang, Papa akan mengatur ulang pernikahanmu dengan Kyle. Nanti Papa akan menghubungi Audrey dan minta Audrey mengatur lagi semuanya kalau perlu kita percepat saja," ujar Papa Theo berusaha mekegakan hati Vale.


"Dan Papa juga sudah menghubungi Kyle tadi, dia akan tiba-"


"Valeria!" Itu suara Kyle yang rupanya sudah tiba di kediaman Rainer.


Kyle langsung memeluk Vale dan meluapkan rasa rindunya pada gadis tersebut.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Kyle khawatir seraya menangkup wajah Vale dan memindai calon istrinya tersebut dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Valeria baik-baik saja, Kyle! Dia hanya mengalami hilang ingatan sebelumnya. Tapi sekarang Vale sudah mengingat semuanya." Jelas Papa Theo menjawab kekhawatiran Kyle.


Sementara Vale hanya diam membisu merasa bingung dengan perasaannya pada Kyle sekarang.


Vale hanya pergi dan hilang satu bulan, tapi kenapa hati Vale tak lagi merasakan getaran aneh yang dulu pernah Vale rasakan saat bersama Kyle?


Vale merasa hambar.


Dan sekarang, pikiran Vale malah tertuju pada satu pria dan putrinya yang mungkin sudah pergi dari rumah ini, karena Vale sudah menemukan ingatannya.


"Pa, apa Vaia dan Arga sudah pulang?" Tanya Vale tiba-tiba pada Papa Theo yang hendak keluar dan mengantar dokter ke lantai bawah.


"Belum! Mereka sedang beristirahat di kamar tamu." Jawab Papa Theo santai. Pria paruh baya itu lanjut mengantar dokter yang sudah selesai memeriksa Vale untuk turun ke lantai bawah.


Kini hanya ada Mama Airin, Vale, dan Kyle di kamar.


"Siapa Arga dan Vaia?" Tanya Kyle penasaran.


"Orang baik yang sudah menemukan Vale dan mengantar Vale pulang." Jawab Mama Airin menjelaskan pada Kyle yang hanya manggut-manggut.


Mama Airin beranjak dari duduknya,


"Mama akan ke bawah dulu, mengambilkan makanan untukmu," pamit Mama Airin yang segera ikut keluar dari kamar Vale. Meninggalkan Kyle dan Vale di dalam kamar.


.


.


.


Ngapain hayo!


Thor, Vale cepet banget ingatannya balik.


Heleh! Namanya juga sinetron 😂😂


Iyain aja kenapa?


Terima kasih yang sudah mampir.


Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.