
Mobil Arga sudah tiba kembali di halaman rumahnya.
"Kenapa cepat sekali berkemahnya? Apa ada harimau?" Tanya Paman Jo yang sudah menghampiri mobil Arga dan menggoda Vaia dengan menirukan gerakan harimau.
"Kami menemukan seorang gadis di dalam hutan. Kau bisa membantuku, Paman?" Ujar Arga memberikan laporan.
Arga membuka pintu belakang mobilnya, dan segera menggendong tubuh Vale yang penuh luka masuk ke dalam rumah. Paman Jo membantu membukakan pintu depan rumah Arga dan menyiapkan tempat untuk Vale.
"Bajunya basah, Arga! Kau harus menggantinya, lalu membersihkan luka-luka di sekujur tubuhnya itu!" Paman Jo memberikan arahan.
Arga berpikir sebentar.
"Baju-baju lama Tania sepertinya masih ada di atas. Aku akan mengambilnya."
Arga sudah beranjak dan hebdak naik ke tangga yang menuju ke pavilium rumahnya, saat terdengar klakson bus dari depan rumahnya
Bim bim!
Beberapa bus pariwisata terlihat memasuki tempat persinggahan disamping toko milik Arga yang berada di seberang rumah.
"Paman! Kau urus saja wisatawan itu! Aku akan mengurus gadis ini," ucap Arga sebelum menghilang di ujung tangga.
"Baiklah! Kau yang mengurusi bidadari dan aku yang mengurus wisatawan. Pandai sekali kau membagi pekerjaan!" Gerutu Paman Jo yang sontak membuat Valeria kecil terkikik.
"Mau Vaia bantu, Paman?" Tawar Valeria kecil pada sang paman yang hampir keluar dari rumah.
"Dengan senang hati! Ayo Nona kecil!" Paman Jo melambaikan tangan pada Valeria kecil yang langsung berlarian menyusul langkah sang paman.
Paman dan keponakan itu segera menuju ke toko yang merangkap menjadi tempat persinggahan bus di seberang rumah Arga.
****
Arga sudah turun dari pavilium rumahnya membawa beberapa baju untuk Vale yang belum sadarkan diri.
Setelah meletakkan baju untuk Vale, Arga lanjut mengambil air hangat dan lap untuk membersihkan tubuh serta luka-luka di tubuh Vale dan tak lupa bapak satu anak itu juga mengambil kotak P3K untuk mengobati luka-luka Vale.
"Gadis yang malang! Bagaimana dia bisa tersesat dan tergeletak dengan tubuh penuh luka begini di dalam hutan?" Arga bergumam sendiri seraya membersihkan tubuh Vale dengan telaten.
Arga mengamati dengan seksama wajah cantik yang terdapat lebam di beberapa bagian tersebut. Belum lagi kedua pergelangan tangan Vale yang terlihat bengkak dan membiru.
"Kenapa nasibmu malang sekali, Nona?" Arga tersenyum tipis dan lanjut membuka baju yang dikenakan Valeria untuk ia ganti dengan baju yang kering dan bersih.
Pria itu lanjut mengobati luka di kepala dan di seluruh tubuh Valeria.
"Bunda sudah bangun, Ayah?" Tanya Valeria kecil yang sudah kembali ke dalam rumah, bersamaan dengan bus pariwisata yang juga mulai meninggalkan toko Arga.
"Belum. Mungkin harus kita bawa ke rumah sakit. Tapi jauh sekali rumah sakit dari sini," jawab Arga sedikit bingung.
"Dia korban kecelakaan?" Tanya Paman Jo yang juga sudah menyusul Valeria kecil masuk ke dalam rumah.
"Entahlah. Kalau dilihat dari luka di pergelangan tangannya dia lebih mirip korban penculikan yang melarikan diri. Mungkin dia jatuh dan terpeleset dari atas bukit." Arga mengendikkan bahu dan menunjukkan lebam biru di pergelangan tangan Vale yang membengkak.
"Ya! Itu seperti bekas ikatan yang sangat kuat. Kita lapor polisi saja bagaimana?" Usul Paman Jo.
"Kita tunggu dia sadar dulu. Baru nanti kita lapor polisi jika kita sudah tahu identitasnya," jawab Arga yang sedikit keberatan dengan usul sang Paman untuk lapor polisi.
"Aku sudah boleh pulang sekarang? Kalian tidak jadi berkemah, kan?" Paman Jo meraih jaketnya dan memakai benda itu dengan cepat.
"Salam untuk bibi May, Paman!" Ucap Valeria kecil yang sejak tadi hanya diam dan sibuk mengusap-usap pipi gadis yang pingsan itu.
"Kapan kau akan kembali, Paman?" Tanya Arga sebelum sang Paman keluar dari pintu.
"Mungkin minggu depan! Bye!" Jawab Paman Jo sekalian berpamitan.
"Bye, Paman!" balas Valeria kecil seraya melambaikan tangan pada sang Paman.
Pria yang akrab dipanggil Paman Jo oleh Arga dan Valeria kecil itu sebenarnya adalah sepupu Arga. Paman Jo memang sudah membantu Arga sejak pria itu merintis usaha toko miliknya di tempat ini tujuh tahun yang lalu, tepatnya setelah Arga menikah dengan Tania.
Namun sayangnya, pernikahan Arga dan Tania harus berakhir tragis, saat Tania yang tiba-tiba meninggal satu pekan setelah wanita itu melahirkan Valeria kecil. Arga begitu terpukul. Namun kehadiran Valeria kecil sedikit banyak sudah mengobati patah hati Arga karena kehilangan Tania.
Dan hingga detik ini, Arga memilih untuk menetap disini, membesarkan sang putri sendirian dan seperti enggan menjalin hubungan lagi dengan wanita lain. Atau mungkin Arga hanya belum menemukan wanita yang tepat?
Arga tak pernah mau membahasnya.
Pria itu seakan menciptakan dunianya sendiri bersama Valeria di tempat ini. Arga benar-benar menikmati perannya sebagai Ayah dan Bunda untuk Valeria kecil yang cerewet dan selalu ingin tahu banyak hal.
"Ayah akan mandi sebentar, Vaia!" Arga sudah selesai mengobati luka-luka di tubuh Vale dan segera membereskan kotak P3K serta membawa baskom berisi air tadi.
"Vaia akan menjaga bunda!" Jawab Valeria kecil bersemangat.
Arga hanya tersenyum dan sudah menghilang ke arah kamarnya. Sedangkan Valeria kecil segera mengambil peralatan menggambarnya dan membawa peralatan tersebut ke dekat sofa, dimana Vale yang masih pingsan dibaringkan.
Valeria kecil membenarkan selimut yang menutupi tubuh Vale sebelum lanjut menggambar di atas kertas gambar.
"Air," gumaman lirih yang kekuar dari bibir Vale membuat Vaia menoleh.
"Bunda? Bunda sudah bangun?" Vaia meninggalkan kertas gambarnya dan mendekat ke arah Vale yang menggerakkan kepalanya dengan lemah.
"Air," ucap Vale sekali lagi masih lirih.
Vaia yang seakan tanggap segera pergi ke dapur dan menuang air dari dispenser ke dalam gelas, lalu membawanya ke arah Vale.
Namun sekarang Vaia tidak tahu bagaimana membantu bunda asingnya ini untuk bangun.
Beruntung Arga datang tepat waktu dan sedikit berlari saat mendapati Vaia yang membawa gelas berisi air ke dekat Vale.
"Bunda sudah bangun, Ayah!" Lapor Vaia pada Arga.
"Air," ucap Vale sekali lagi.
Arga segera membantu Vale bangun dengan hati-hati, dan menyusun bantal sedikit tinggi untuk menyangga kepala Vale.
"Vaia, bisa ambilkan sedotan di dapur?" Titah Arga pada sang putri.
"Baik, Ayah!" Vaia langsung berlari ke dapur dan mengambil sebuah sedotan lalu memberikannya pada sang Ayah.
"Minum pelan-pelan!" Arga membimbing Vale untuk minum memakai sedotan. Gadis itu masih terlihat lemah dan sepertinya sangat kehausan.
Air di gelas hampir habis diteguk oleh Vale, sebelum gadis itu kembali meringis menahan sakit disekujur tubuhnya.
"Apa Bunda mau minum lagi?" Tanya Vaia yang sudah mendekat dan menggenggam tangan Vale.
Namun Vale menggeleng dengan lemah.
"Apa kau putriku, Sayang?" Tanya Vale yang suaranya masih terdengar lirih.
"Bukan, Nona! Kami menemukanmu di hutan tadi. Apa kau korban kecelakaan atau penculikan?" Jawab Arga yang sekaligus bertanya asal Vale.
Namun Vale menggeleng dan terlihat bingung.
"Aku tidak ingat apa-apa," jawab Vale yang masih bingung.
"Nama kamu? Pasti kamu ingat, kan?" Tanya Arga lagi penuh harap.
"Namaku?" Vale menatap bingung pada Arga dan juga Vaia.
Vale tidak ingat siapa namanya, dan darimana asalnya. Vale berusaha keras untuk mengingat, namun tetap saja, Vale tidak bisa ingat apapun tentang dirinya sendiri.
"Nona?" Teguran Arga menyentak lamunan Vale.
"Aku tidak tahu siapa namaku."
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
Dukung othor dengan like dan komen di bab ini.