
Kaki Varo menendang kerikil pasir kuat-kuat. Cerita detail Johan mengenai masa lalu Olivia membuat perasaannya berkecamuk. Varo mendadak ingin menemui Olivia dan mengajaknya bercerita panjang lebar, entah apapun topiknya, tapi Varo berharap itu dapat menjadi alasan bagi Olivia untuk tertawa.
Namun disisi lain Varo sebenarnya sedikit merasa asing dengan perasaannya sekarang. Belum sampai sebulan Varo mengenal Olivia, tapi ia merasa ada sesuatu yang membuatnya ingin memahami perasaan Olivia lebih dalam. Dan yang Varo tidak ketahui, perasaan itu dinamakan sebagai empati. Perasaan lama yang sudah mati dan tidak pernah ia rasakan lagi kini datang menyapa sebagai teman lama.
Tangan Varo lantas bergerak mengambil kerikil lalu melempar sekuat tenaga ke laut untuk melampiaskan perasaan-perasaan aneh di dalam hatinya.
“Varo, kamu ngapain?”
Varo berpaling, ada Nabila berjalan mendekatinya dengan ekspresi heran.
“Lagi megang kerikil kak” jawab Varo salah tingkah.
“Setiap kali aku ketemu kamu. Kamu pasti selalu terlihat lagi ngelakuin hal aneh” tawa Nabila geli.
“Kakak mau kemana? rapi banget” tanya Varo malah mengalihkan pembicaraan.
“Ketemu Rangga. Kamu kalo mau ketemu Olivia, sana, dia lagi buat coklat” beritahu Nabila lalu melambaikan tangan dan melangkah pergi.
Wajah Varo kembali berpaling menatap ke arah lautan luas, ia melemparkan batu terakhirnya dan melangkah menuju kafe. Ada Olivia di dapur sibuk mencampur coklatnya dengan madu. Varo tidak berkata apapun, tubuhnya bersandar di pinggir pintu memperhatikan Olivia dalam diam.
“SHIT!” teriak Olivia kencang ketika balik badan, ia langsung berjongkok di lantai karena gemetar.
“Kamu mau buat aku kena serangan jantung ya?” kata Olivia ketika sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri, ia berdiri dengan ekspresi kesal sementara Varo hanya tersenyum mendekati cewek itu.
“Maaf. Habis kamu kelihatan serius banget, aku jadi nggak enak buat negur”
“Lain kali jangan berdiri diam-diam. Kamu kayak psikopat” omel Olivia. Varo mengangguk patuh lalu berdiri di sebelah Olivia.
“Kamu ngapain?”
“Buat coklat. Cobain deh”
Tanpa basa-basi Olivia menyodorkan sesendok coklat ke dalam mulut Varo. Kening Varo berkerut karena tidak terlalu menyukai rasa manis.
“Nggak enak ya?”
“Enak” angguk Varo. “Cuman aku sebenarnya nggak terlalu suka sesuatu yang manis-manis”
“Kamu kan suka ngerokok dan ujung rokok manis” tawa Olivia geli melihat ekspresi Varo susah payah menelan coklat lumer di dalam mulutnya.
“Rokok nggak buat sakit gigi” jawab Varo. “Aku berhenti makan permen karet karena sakit gigi. Dari situ aku jadi trauma mau makan yang manis-manis”
“Kasihan banget” ujar Olivia.
“Kenapa kasihan?”
“Nggak papa, yang penting bisa tidur nyenyak”
“Dasar!” tawa Olivia.
“Mau aku bantuin nggak?” tanya Varo ketika Olivia terlihat sedikit kesulitan menutup kotak coklatnya. Olivia menggeleng memberikan tanda agar Varo berdiri tenang, ia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat kemudian berpaling pada Varo.
“Mau coklat hangat?” tawar Olivia.
Varo buru-buru menggeleng. “Oliv, kita di daerah pantai, siang bolong panas, dan kamu nawarin coklat hangat. Yakin?”
“Alah, kamu kalo ditawarin kopi mendidih juga mau paling” dengus Olivia bercanda. “Aku buat pake es kalo kamu nggak mau yang anget.”
Kepala Varo mengangguk sambil tersenyum lebar, ia menarik sebuah bar stool dan duduk memperhatikan Olivia bekerja dalam diam. Tangan Varo mengetuk-ngetuk pelan meja bar dapur, ia setengah mati menahan diri untuk tidak kembali berdiri di samping Olivia dan menyentuh rambut cewek itu. Varo tidak mengerti mengapa, tapi akhir-akhir ini ia seperti terobsesi untuk menyentuh rambut Olivia, terutama ketika cewek itu mengikat rambutnya sembarangan, membuat beberapa helai rambut jatuh mengenai wajah cantiknya.
“Kamu kenal Johan dari kapan?” tanya Varo membuka percakapan meskipun ia sudah mengetahui jawaban atas pertanyaannya.
“Dari kecil kita udah main bareng. Kalo dipikir-pikir setengah hidup aku dihabiskan bersama Johan” jawab Olivia setengah bercanda, ia menyodorkan es coklat pada Varo dan coklat hangat untuk dirinya.
“Kalian dekat berarti...” gumam Varo membuat wajah Olivia berpaling ke arahnya.
“Jangan mikir yang aneh-aneh”
“Aku nggak mikir yang aneh-aneh”
“Oh ya?” Olivia menarik bar stool dan duduk di dekat Varo. “Ekspresi kamu kayak lagi mikir yang aneh-aneh soalnya”
“Kalo gitu coba tebak dari ekspresi aku, apa yang kemungkinan sedang aku pikirkan sekarang?” tantang Varo.
Hening, Olivia melemparkan tatapan serius saat menatap Varo. Matanya betul-betul memperhatikan wajah cowok itu membuat Varo menjadi sedikit salah tingkah.
Wajah Olivia kemudian berpaling dan bahunya terangkat sebagai tanda tidak ada jawaban atas pertanyaan Varo. Olivia menyesap coklatnya lalu bersenandung pelan.
“Mata kamu cantik” gumam Varo keceplosan. Olivia kembali berpaling menatapnya dengan ekspresi bertanya karena tidak mendengar baik apa yang dikatakan Varo. Cowok itu lantas menggeleng langsung meneguk coklatnya dan diam-diam tersenyum kecil.
Bisa-bisanya gue kebawa suasana, batin Varo tertawa. Ia tidak bohong, tapi tatapan Olivia sebelumnya membuat Varo bisa memperhatikan dengan detail wajah cewek itu. Mata, hidung, dan yang paling menarik perhatian adalah bibir. Varo penasaran, bagaimana rasanya apabila ia menyentuh bibir itu?
Apakah kesadarannya akan keluar sama seperti tadi?
“Varo mau cupcake nggak? Baru di buat tadi, gratis buat kamu” tawar Olivia memecah keheningan diantara mereka. Varo mengangguk diam-diam dari ujung matanya memperhatikan gerak-gerik Olivia.
Rasa-rasanya Varo tidak ingin lagi mencari jawaban atas pertanyaan mengenai Olivia, seperti yang selalu muncul di kepalanya. Ia hanya ingin menikmati alur sambil berharap Olivia bukan hanya sekedar seseorang yang lewat begitu saja di kehidupannya.